TUGAS KOMPILASI PEMIKIRAN
KOMUNIKASI AJARAN AGAMA HINDU
D
I
S
U
S
U
N
O
L
E
H
NAMA : IDA BAGUS BENNY
SURYA ADI PRAMANA
NIM : 12121111
JURUSAN : S2 KOMUNIKASI HINDU
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia kaya akan budaya karena terdiri
dari berbagai macam suku, ras, adat dan agama. Sejak masuknya budaya agama Hindu
ke Indonesia, terciptalah berbagai macam kearifan lokal. Salah satu ajaran,
yang memuat kearifan lokal khususnya di Bali adalah Kanda Pat. Karena begitu
banyaknya sekte-sekte atau perguruan ilmu kebatinan yang berkembang saat ini,
sehingga menyebabkan banyaknya perbedaan dan simpang siurnya ajaran Kanda Pat.
Bali
yang merupakan salah satu pusat spiritual dunia, berbagai aliran spiritual dan
kebathinan tumbuh dan berkembang di pulau Dewata ini. salah satunya adalah
Kanda Pat, yang merupakan ilmu kebathinan khas Bali yang didalamnya menguraikan
tentang berbagai teori tentang kehidupan manusia dari awal sampai akhir
kehidupannya serta berbagai kekuatan yang diberkahi Dewa untuk melindungi
manusia dari berbagai macam gangguan. hampir semua dukun , balean, dalang, pemangku dan lain lain,
mendapatkan kekuatan bathinnya dari hasil berlatih ilmu yang bersumber dari
Kanda Pat. Namun sebagian dari mereka sangat jarang yang mengetahui tentang asal
usul Kanda Pat tersebut. kalaupun tahu hanyalah sepenggal-sepenggal dan
biasanya mengatakan bahwa Kanda Pat merupakan warisan peninggalan leluhurnya
yang sakti mandraguna. pada umunya masyarakat di Bali mengenal 4 macam Kanda
Pat yaitu : 1 ) Kanda Pat Bhuta, 2 ) Kanda Pat Rare, 3 ) Kanda Pat Sari dan
Kanda Pat Dewa. ada pula sebuah aliran kepercayaan yang sangat terkenal di Bali
yang anggotannya hampir menyebar di seluruh Indonesia yaitu Perguruan Sapta
Kanda Pat Dharma Murti yang menyebut ilmunya bersumber dari 7 ( tujuh ) Kanda
Pat menyebutkan ada 7 macam Kanda Pat yaitu : Kanda Pat Bhuta, 2 ) Kanda Pat
rare, 3 ) Kanda Pat Nyama, 4 ) Kanda Pat Dewa, 5 ) Kanda Pat Subiksa, 6 ) Kanda
Pat Sari , 7 ) Kanda Pat Moksa ( menurut majalah Bianglala edisi I ( mutiara
spiritual Bali ), Perguruan Sapta Kanda Pat Dharma Murti ). Banyaknya versi dari ajaran Kanda Pat ini
menyebabkan masyarakat yang menggemari ilmu kebatinan menjadi bingung, untuk
menentukan asal-usul dari ajaran Kanda Pat ini.
Berdasarkan
latar belakang di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang
berjudul “ Studi Komparasi Ajaran
Kanda Pat Versi Perguruan Seruling Dewata dan Ajaran Kanda Pat Versi Padepokan
Sastra Jendra”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka fokus
permasalahannya adalah :
1. Bagaimana ajaran Kanda Pat
versi Perguruan Seruling Dewata dan ajaran Kanda Pat versi Padepokan Sastra
Jendra?
2. Apa saja perbedaan ajaran
Kanda Pat versi Perguruan Seruling Dewata dan ajaran Kanda Pat versi Padepokan
Sastra Jendra?
C. Tujuan
Penelitian
Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah :
1. Tujuan Umum :
Untuk meningkatkan pemahaman
masyarakat mengenai ajaran Kanda
Pat.
2. Tujuan khusus :
a. Untuk mendeskripsikan ajaran Kanda Pat versi Perguruan Seruling
Dewata dan ajaran Kanda Pat versi Padepokan Sastra Jendra.
b. Untuk
mengetahui perbedaan ajaran Kanda Pat versi Perguruan Seruling Dewata dan
ajaran Kanda Pat versi Padepokan Sastra Jendra.
D. Manfaat Penelitian
Dalam hal ini manfaat yang akan diperoleh dalam
penelitian ini adalah manfaat teoritis dan manfaat praktis :
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan
dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dimana hasil-hasil temuan dalam
penelitian ini dapat digunakan bagi kita semua.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Gde
Pudja Matarampenelitian ini sebagai refrensi bagi peneliti lainnya, khususnya
yang meneliti tentang ajaran Kanda Pat.
b. Bagi Perguruan Seruling Dewata dan Padepokan Sastra Jendra, penelitian ini dapat dijadikan
refrensi untuk mengetahui kandungan dari masing-masing ajaran Kanda Pat.
c.
Bagi masyarakat, penelitian ini merupakan informasi yang berguna.Khususnya,
bagi masyarakat yang menggemari ilmu
kebatinan Kanda Pat.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Profil Perguruan Seruling Dewata
1. Sejarah Perguruan
Seruling Dewata
Perguruan
Seruling Dewata merupakan salah satu perguruan bela diri tertua di Indonesia
disamping mengajarkan ilmu bela diri dan kanuragan.
Perguruan Seruling Dewata juga mengajarkan ilmu agama Hindu, sesuai warisan Yogi dan Yogini zaman dahulu, yang pernah menuntut ilmu di Perguruan
Seruling Dewata. Perguruan ini pada awalnya, merupakan salah satu cabang dari
perguruan bulan. Dimana pada zaman dahulu, ada 2 perguruan Silat besar di pulau
Bali yaitu perguruan bulan dan perguruan matahari. Peguruan Matahari mempunyai
11 aliran dan Perguruan Bulan memiliki 12 aliran, yang salah satunya Seruling
Dewata yang menguasai 72 ilmu silat. Tetapi entah kenapa, 2 Perguruan Silat ini
terjadi persaingan dan dendam turun temurun yang mengakibatkan pertempuran
habis-habisan di gunung Batur selama 7 hari 7 malam yang mengakibatkan punahnya
kedua perguruan tersebut. Tetapi masih ada seorang siswa dari Perguruan Bulan
cabang Seruling Dewata yang masih hidup dan terluka parah yang Bernama I Goplo.
I Goplo kemudian kembali ke pertapaan Perguruan Bulan di gunung Watukaru, guna
menyembuhkan dirinya dan memperdalam ilmu silatnya.
Kemudian
baru pada abad ke V caka datanglah ke
pulau Bali seorang pendeta Budha ahli silat yang masih muda dari India yang bernama
Budhi Darma, dan di Bali dikenal dengan sebutan
Biksu Dharmo, Budhi Darma menguasai Kundalini, Ilmu Kundalini Saktinya sangat sempurna yang di pelajarinya selama 40
tahun dari seorang Maha Guru di India yang bernama Swami
Prajnatara. Di Bali, Budhi Dharma bertemu dengan Ki Goplo yang ahli Filsafat Seruling Dewata, juga ahli Ilmu silat
dan juga ahli Pengobatan . dan keduanya sempat berdikusi dan dari hasil diskusi
tersebut KiBudhi Darma merasa tunduk
kepada kemampuan Ki Goplo dalam ilmu silat,
ilmu pengobatan dan terutama ilmu filsafat, sehingga akhirnya Budhi Darma
sendiri akhirnya berguru kepada Ki Goplo.
Budhi
Dharma berhasil menguasai ke 72 macam ilmu silat dari Perguruan Bulan Sabit
Cabang Seruling Dewata, serta mendirikan Perguruan Silat Baru di pulau Bali
pada abad V Caka, tahun ke 63 ( 641
Masehi ) , bulan ke 11 hari ke 26 dengan namaPaiketan Paguron Suling Dewata , dengan Ki Budhi Dharma sebagai Ketua Angkatan I, Pada tahun 1985, Paiketan Paguron
Suling Dewata bergabung dalam Ikatan Pencak Silat Indonesia dan berubah
nama menjadi Perguruan Seruling Dewata.
2.
Visi,
Misi dan Sesanti Perguruan Seruling Dewata
Dalam melaksanakan proses pembelajaran Perguruan Seruling
Dewata juga memiliki visi, misi dan sesanti
(tata tertib) sebagai pedoman yang harus ditaati oleh seluruh anggota di
Perguruan Seruling Dewata.
Visi Perguruan Seruling Dewata adalah meningkatkan kualitas
dan kuantitas anggota Perguruan Seruling Dewata. Sedangkan misinya adalah
melestarikan dan mengembangkan ajaran-ajaran Perguruan Seruling Dewata. Kemudian sesanti (tata tertib) di Perguruan
Seruling Dewata adalah terdiri dari tujuh janji wajib perguruan, lima perintah
perguruan dan lima larangan perguruan. Tujuh janji wajib itu antara lain : (1)
percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta menjalankan
ajaran-ajarannya, (2) bersikap ramah, sopan, menjaga kehormatan diri serta
membina keluarga dan gotong royong, (3) menjadi contoh dan memelopori
usaha-usaha untuk mengatasi kesulitan-kesulitan masyarakat sekelilingnya, (4)
memupuk rasa persatuan dan kesatuan dilingkungan warga masyarakat dan Perguruan
serta tidak sekali-kali menakuti dan merugikan masyarakat (5) membina sikap satya dalam meningkatkan ilmu
Perguruan dan menjalin hubungan bersifat kekeluargaan sesama Perguruan, (6)
tunduk setia, hormat, serta taat kepada pelatih dan aturan-aturan tata tertib
Perguruan yang berlaku, (7) Menjalankan “Tujuh Janji Wajib” dengan penuh rasa
tanggung jawab. Kemudian lima perintah Perguruan adalah : (1) menghormati
atasan dan tidak meremehkan bawahan, (2) datang ketempat latihan dengan tepat
waktu, (3) latihan dengan serius dan bersemangat, (4) mengulang pelajaran tanpa
henti, (5) tahan terhadap rasa sakit dan rasa lelah. Dan lima larangan
Perguruan adalah : (1) dilarang membantah perintah atasan, (2) dilarang
berkelahi sesama anggota Perguruan, (3) dilarang membuat masalah dengan
Perguruan lain, (4) dilarang bercanda dan tertawa dalam latihan, (5) dilarang
mengajarkan ilmu Perguruan di luar anggota Perguruan.
(Http.www.serulingdewatabali.com.21/04/2011)
B.
Ajaran Kanda Pat Versi Perguruan Seruling
Dewata.
1. Asal-Usul
Kanda Pat .
Untuk mendapatkan kekuatan
gaib yang terdapat dalam himpunan buku Kanda Pat seseorang harus mendapatkan
penugrahan dari Dewa Siwa (Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa), Dewi Durga, Hyang
Saraswati, serta Para Sesepuh Perguruan Seruling Dewata, permohonan panugrahan
ini harus dilakukan oleh salah seorang sesepuh yang memiliki garis Perguruan
yang murni dalam Parampara Paiketan Paguron Suling Dewata agar mendapatkan
kesidhian dalam melaksanakan meditasinya, karena Para Sesepuh Paiketan Paguron
Suling Dewata pada jaman dahulu mendapatkan tuntunan Meditasi Kanda Pat dari
Dewa Siwa ( Hyang Widhi ) serta mendapatkan panugrahan teori Kanda Pat yang
terdapat dalam 18 Kanda Pat dari Tuhan sebagai Dewi Durga serta mendapatkan
bimbingan secara langsung dalam pelaksanaan meditasi kanda Pat dari Hyang
Saraswati. Para siswa pada generasi berikutnya yang melakukan Meditasi Kanda
Pat harus mendapat panugrahan , tuntunan dan perlindungan serta panyupatan dari
Para Sesepuh Perguruan Seruling Dewata agar medapatkan keberhasilan dalam
melakukannya, (disadur dari buku serial Kanda Pat, Meditasi MaduKama, ditulis
oleh sesepuh Generasi IX, Ki Nantra) Tuntunan meditasi Kanda Pat mempelajari 18
Kanda Pat, dan 55 bentuk meditasi ), tuntunan meditasi Kanda Pat didirikan di
Desa Kukuh, Kerambitan, Bali, tanggal Februari 2004 ).
Sementara itu menurut
Parampara dalam Perguruan Seruling Dewata mengenal 18 Kanda Pat , adapun ke 18
Kanda Pat tersebut adalah : 1. Kanda Pat Madu Kama 2. Kanda Pat Sari, 3. Kanda
Pat rare, 4 . Kanda Pat sari, 5. Kanda Pat Nyama, 6. Kanda Pat Manusa Prakerti,
7. Kanda Pat Muka, 8. Kanda Pat Pengarada, 9. Kanda Pat Krakah, 10. Kanda Pat
Presanak, 11. Kanda Pat Madu Pemurtian, 12. Kanda Pat Keputusan, 13. Kanda Pat
Pasuk Wetu, 14. Kanda Pat Subiksa, 15. Kanda Pat Suksma, 16. Kanda Pat Moksa,
17. Kanda Pat Dewa, 18. Kanda Pat Tanpa Sastra.
adapun ke 18 ( delapan
belas ) Kanda Pat ini diperoleh dari usaha semadhi yang dilakukan olah 21 orang
yogi dari Perguruan Seruling Dewata yang di perintahkan langsung oleh sesepuh Generasi II , Ki
Mudra sekitar saka warsa 796 , adapun ke 21 (dua puluh satu) yogi
namanya disebutkan dibawah ini , adapun tujuan ke 18 Yogi ini melakukan
meditasi selama 18 hari tanpa makan dan minum adalah untuk mendapatkan rahasia
serta kekuatan gaib agar bisa mengimbangi serta mengalahkan Sekta Durga dan
Bairawa yang telah berkembang di masyarakat Bali Dwipa saat itu yang hampir semuanya bersifat merusak dan negatif.
akhirnya setelah melakukan
meditasi yang khusyuk, tekun tahan terhadap godaan , serta melihat kesungguhan
hati semua Yogi tersebut, mereka semuanya akhirnya mendapatkan anugrah oleh
Betari Durga serta Dewa Siwa, Para Yogi ( 18 orang ) yang mendapatkan
penugrahan dari Betari Durga maupun Betara Siwa ( 3 orang ) setelah melakukan
meditasi dan semadhi selama 108 hari agar mendapatkan rahasia kekuatan bathin
yang mampu menanggulangi kekuatan sesat para penganut Sekte Durga dan Sekte
Bairawa yang saat itu berkembang sangat pesat di Bali Dwipa , adapun para Yogi
Paiketan Paguron Suling Dewata yang mendapatkan penganugrahan Kanda Pat dari
Betari Durga adalah sebagai berikut : 1. Ki Dangka (Kanda Pat Madu Kama), 2. Ki
Umbalan (Kanda Pat Sari), 3. Ki Sadra (Kanda Pat rare), 4 . Ki Bakas (Kanda Pat
sari), 5. Ki Teleng (Kanda Pat Nyama), 6. Ki Juntal (Kanda Pat Manusa
Prakerti), 7. Ki Wirat (Kanda Pat Muka), 8. Ki Manggal (Kanda Pat Pengaradan),
9. Ki Wirada (Kanda Pat Krakah), 10. Ki Reka (Kanda Pat Presanak), 11. Ki
Dangki (Kanda Pat Madu Pemurtian), 12. Ki Biksa (Kanda Pat Keputusan), 13. Ki
Ruga (Kanda Pat Pasuk Wetu), 14. Ki Manot (Kanda Pat Subiksa), 15. Ki Darja (Kanda
Pat Sukma), 16. Ki Bergu (Kanda Pat Moksa), 17. Ki jaka (Kanda Pat Dewa), 18.
Ki Canging (Kanda Pat Tanpa Sastra).
kadang kadang satu Kanda
Pat memiliki beberapa nama yang berbeda namun isinya sama. Kanda Pat ini
berisikan berbagai teori tentang kehidupan manusia dari awal kehidupan sampai
akhir kehidupan serta berbagai kekuatan yang di berkahi Dewa untuk melindungi
diri dari berbagai gangguan.
ke 18 ( delapan belas yogi
ini di diksa atau di inisiasi oleh Betari Durga ) , sementara untuk menghindari
hal hal yang tidak di inginkan seperti misalnya menyalah gunakan ajaran Kanda
Pat yang telah diturunkan oleh Betari Durga, akhirnya Betara Siwa segera
memberikan Panugrahan kepada 3 orang Yogi lainnya yaitu : 1 ) Ki Bagus, 2 ) Ki
Meranggi, 3 ) Ki Bantiran mereka di berikan " Tuntunan Samadhi kanda Pat
", untuk menuntun orang yang mempelajari Kanda Pat agar tidak salah jalan
serta salah arah. jadi tentang Kanda Pat kelengkapannya ada " Teori Kanda
Pat " sebanyak 18 macam Kanda Pat yang diturunkan oleh Betari Durga dan
ada " Tuntunan Samadhi Kanda Pat ", yang diturunkan oleh Betara Siwa
yang berisikan pedoman, panduan , tata cara berlatih Kanda Pat agar tidak
" Sesat " dan " Salah Arah " . sementara ada tiga Yogi yang
mendapatkan penganugrahan Tuntunan Semadhi Kanda Pat dari Hyang Siwa adalah
sebagai berikut : KI Bagus, Ki Meranggi dan Ki Bantiran.
2. Jenis-Jenis Kanda Pat.
1). Meditasi Kanda Pat Madu Kama
Kanda
Pat Madu Kama terdiri dari 21 bentuk meditasi dan dari 21 bentuk meditasi
kebanyakan yang besifat negatif dan sementara ada 3 ( tiga ) meditasi lainnya
yang yang berisfat positif yaitu ( Meditasi Kanda Pat Madu Kama, Meditasi Kanda
Pat Panunggalan Semara, dan Meditasi Kanda Pemutus Semara ) ketiganya yang
harus dikuasai agar tidak bisa di ganggu oleh mereka yang menguasai 18 kanda
Pat Madu Kama yang sifatnya negatif , salah satu Kanda Pat Madu Kama yang
bersifat positf adalah Meditasi Kanda Pat Madu Kama, berikut penulis akan
memberikan dan mengenalkan salah satu Meditasi Kanda Pat Madu Kama yang penulis
sadur dari Serial Kanda Pat seri II, Meditasi Kanda Pat Madu Kama yang ditulis
oleh Sesepuh Generasi II, Ki Nantra. dalam buku teori Kanda Pat Madu Kama
dijelaskan bahwa kita sebagai manusia sebenarnya sudah ada sejak orang tua kita
baru menginjak remaja, pada waktu itu kita berwujud Cinta Kasih ( Smara ), inti
sari penjelasannya adalah sebagai berikut : ketika Bapak kita masih teruna (
muda ), dan ibu masih teruni ( muda ), ketika itu kita sebagai manusia sudah
ada dalam wujud Sang Hyang Smara dan dengan kekuatan Cinta Kasih ( Smara ),
kita mempersatukan keduanya, sehingga kemudian antara Bapak dan Ibu yang masih
remaja ( taruna - taruni ), mulai muncul rasa saling tertarik satu sama
lainnya, dilanjutkan dengan bercakap cakap dan saling bertegur sapa, serta
mengungkapkan rasa cinta kasih , yang nantinya di lanjutkan ke jenjang
pernikahan , setelah melalui proses pernikahan tentunya dilanjutkan dengan
keduanya melakukan hubungan intim berdasarkan cinta kasih sejati yang sering
disebut dengan " Mada Kama atau Kama Lulut " semua proses tersebut
diatas diceritakan secara lengkap dalam buku Kanda Pat Madu Kama, yang mana
inti sari dari semuanya itu adalah Cinta Kasih dan Kasih Sayang yang disebut
Smara.
kekuatan cinta kasih (
smara ) dapat merubah orang jahat menjadi baik demikian juga dapat merubah
orang baik menjadi jahat. kekuatan cinta kasih dapat membuat orang takut
menjadi berani dan begitu pula sebaliknya dapat membuat orang yang berani
menjadi penakut. kekuatan cinta ( smara ) dapat membuat orang yang malas
menjadi rajin atau sebaliknya orang yang rajin tiba tiba menjadi malas , cinta (
smara ) bisa orang yang kuat menjadi lemah atau begitu pula sebaliknya orang
yang lemah tiba tiba menjadi kuat , kekuatan cinta dapat membuat orang yang
pendiam menjadi banyak bicara atau sebaliknya orang yang banyak bicara menjadi
sedikit bicara atau pendiam, kekuatan cinta dapat membuat orang sehat menjadi
sakit atau sebaliknya orang yang sakit menjadi sehat, Kekuatan cinta ( smara )
dapat membuat orang yang bermusuhan menjadi bersahabat dan sebaliknya orang
yang bersahabat menjadi bermusuhan. kekuatan cinta dapat membuat orang yang
waras menjadi gila dan sebaliknya orang yang gila menjadi waras, dan tentu
banyak lagi lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang sering kita
temui di masyarakat.
Meditasi II dari Tuntunan
Meditasi Kanda Pat yang dinamakan Meditasi Madu Kama bertujuan menguatkan atau
meningkatkan kekuatan Cinta Kasih ( Smara ) mengarahkan hal hal yang positif
pada diri manusia serta menekan dan memunaskan hal hal yang bersifat negatif
pada diri manusia dan pada puncaknya kekuatan ( tenaga ) Cinta Kasih ( smara
ini ), diarahan untuk membuat " Dewa Sih, Manusa Sih, Bhuta Sih, Gumatap
Gumitip Sih, Kumangkang Kumingking Sih ", kekuatan cinta kasih ( Smara ) ,
membuat semuanya sih pada diri kita, tidak mengganggu kita, bahkan semuanya
muncul keinginan melindungi diri kita dari berbagai gangguan serta menolong
kita saat di butuhkan.
`Mantram Meditasi Kanda
Madu Kama : “Sanghyang Smara Reka..megenah ring .Siwa Dwara, Sanghyang smara
Renes megenah Ring Netra, Sanghyang Smara Lana megenah ring Karna, Sanghyang
Smara Gina magenah ring tangan., sanghyang smara ratih megenah ring cangkem”.
Mantram Meditasi Kanda Pat
Penunggalan Smara : “Ong niat ingsut ngrangsukang yoga semadhi Panuggalan
smara, patunggengan Sang Hyang Semara Ratih. Mogi mogi jabang bayini sianu kara
jabang bayine sianu matunggalan dadi siji, Prabaya daya panunggalan smara
humancar ring dasa penjuru mileh”.
Meditasi Panunggalan
Semara, melalui meditasi Kanda Pat Penuggalan Semara kita mengarahkan "
kekuatan cinta kasih dan kasih sayang " atau " Bayuning Smara "
yang terhimpun melalui Meditasi Madu Kama. untuk memperkuat tali ikatan Cinta
Kasih dan Kasih Sayang pasangan suami istri atau calon suami istri, mencegah
terjadinya perselingkuhan, mencegah perceraian, memusnahkan guna guna yang
mempengaruhi salah satu pasangan . segalanya tidak berarti apa apa jika suami
istri kacau, hancur karena perselingkuhan atau perceraian, apa itu harta
kekayaan, kesehatan, semuanya tidak berarti lagi jika keluarga kacau. Meditasi
Penunggalan Smara ini adalah cara menjaga keutuhan atau kerukunan keluarga,
pemunah berbagai guna guna, pagedeg, pemalas dsb.
Mantram Meditasi Pemutus
Smara : “Ong Namao Siwa Ya, Ong niat ingsun ngrangsukang yoga Samadhi Pemutus
Smara, Prabawa daya Pemutus Semara muncrat mumbul anyaputin jagat Bhuana anerus
mapupul maring raga amancut amutus sehananing gamia gemana, anyolong samara”.
Meditasi Pemutus Semara ,
melalui Meditasi Kanda Pat Pemutus Smara mengajarkan kepada siswa berlatih
mengarahkan Cinta Kasih dan Kasih Sayang atau " Bayuning Smara ",
untuk memutuskan " Hubungan Cinta Kasih Sumbang atau Menyimpang "yang
membuat leteh atau sebel Desa Pekraman atau Klesa Desa, sekaligus menyucikan
desa pekraman dari keletehan. kekuatan penyucian Meditasi Pemutus Smara ini
setara dengan upakara " Prayascitaning Gumi ", adapun hubungan cinta
Sumbang atau Menyimpang yang dapat diputuskan oleh Meditasi Pemutus Semara ini
diantaranya : Gamai Gemana = Hubungan cinta antara anak dengan orang tua ,
Salah Timpal = hubungan intim dengan binatang , Nyolong Smara = Perselingkuhan,
Arabining Wong Arabi = memperistri orang yang sudah berisitri, Angrusak Kanyaka
= Memperkosa Gadis, Sira Apadu Muka = Hubungan intim Sejenis wanita dengan
wanita ( lesbian ), Sira Magait = Hubungan sejenis laki laki dengan laki laki (
Homoseksual ), Kakung Jaruh dan Wadon Jaruh = kakek atau Nenek yang suka
mencari pemuda atau gadis, Kamaning Layon = Hubungan intim dengan Mayat,
Kamatarutinuwuh = Hubungan intim dengan pohon atau tumbuh tumbuhan,
Kamararekumara = hubungan intim dengan anak di bawah umur.
2). Meditasi Kanda Pat Butha
Kanda Pat Bhuta terdiri
dari 27 bentuk meditasi , dari 27 bentuk meditasi tersebut kebanyakan bersifat
negatif atau merusak, sementara 3 ( tiga ) yang baik yaitu ( Meditasi Kanda Pat
Somyaning Butha , Meditasi Kanda Pat Penundung Butha dan Meditasi Kanda Pat
Pemrelina Butha ) , ketiga Meditasi Kanda Pat Bhuta yang baik ini harus di kuasai
agar tidak bisa ganggu oleh mereka yang menguasai Kanda Pat Bhuta yang bersifat
negatif .Menurut tutur yang terdapat dalam pustaka suci bahwasanya di dalam
raga manusia terdapat unsur kekuatan Dewa dan unsur kekuatan Butha dan apa yang
terdapat di Buana Agung ( alam Semesta ), juga terdapat dalam Buana Alit ( diri
kita ), sebaliknya juga begitu, salah satu diantara tersebut adalah tentang
Butha, bahwasanya didalam diri manusia terdapat Butha begitu juga di Buana
Agung atau Alam Semesta yang bahkan jumlah butha di Buana Agung jemlahnya
ribuan jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang ada di dalam diri manusia
atau dalam buana alit. sedikit pengetahuan Bhuta yang ada dalam diri manusia (
Buana Alit ) dan Butha yang ada di alam semesta ( Bhuana Agung ), di jelaskan
dalam Pustaka Kanda Pat Bhuta sebagai berikut : pada saat manusia berada
didalam kandungan ( duk manusa kantun ring telengin cecupu manik ), kita
memiliki empat saudara sejati " Catur Sanak ", yang bernama I Anta -
I Preta - I Kala - I Dengen . selanjutnya ketika manusa lahir : I Dengen
menjadi Yeh Nyom selanjutnya menjadi I Bhuta Petak , selanjutnya menjadi I
Bhuta Janggitan selanjutnya menjadi I Bhuta Anggapati, Sedangkan I Kala menjadi
Getih selanjutnya menjadi I Bhuta Abang selanjutnya menjadi I Bhuta Karuna
selanjutnya menjadi I Bhuta Merajapati , sedangkan I Preta menjadi Lamas
selanjutnya menjadi I Bhuta Ireng selanjutnya menjadi I Bhuta Taruna
selanjutnya menjadi I Bhuta Banaspati, sedangkan I Anta menjadi Ari Ari
selanjutnya menjadi Bhuta Kuning, selanjutnya menjadi Bhuta Lembukania,
selanjutnya menjadi Bhuta Banaspati, disamping bhuta yang ada didalam diri
manusia ( Bhuana Alit ), juga terdapa Bhuta Kala yang ada di alam semesta (
Bhuana Agung ), malahan jumlahnya jauh lebih banyak dari pada yang ada di
Bhuana Alit , Bhuta yang ada di alam semesta jumlahnya ribuan dan di pimpin
oleh 108 Butha dan 108 Kala , 108 Bhuta ( diantaranya adalah Bhuta Bucari,
Bhuta Ulu Singa, Butha Ulu Gajah, Bhuta Ulu Wresabha , Butha Ulu Sliwah , Bhuta
Kalika , Bhuta Basang Basang , dan yang lainnya , sementara 108 Kala (
diantaranya adalah Sang Kala Bucari, Sang Kala Dangastra , Sang Kala Mreka ,
Sang Kala Sada , .Sang Kala Guna Guna , dan yang lainnya ).
Mantram Meditasi Panundung
Bhuta : “Ong Namo Siwa Ya, ong Niat ingsun ngrangsukang yoga Samadhi Penundung
Bhuta kang umalah para Bhuta Kala pegawe ala kabeh, Ong tumurun Betara Rudra
lan Betara Kala saking ambara ngelayang masusupan ring angga sariranku, mayoga
betara Rudra lan Betara Kala ring sariran ngulun mijil aken geni murub ring
siwardwara, ring soca”.
Meditasi Kanda Pat
Panundung Bhuta ini mengajarkan pada kita cara untuk mengarahkan kekuatan Bhuta
dalam diri kita untuk mengusir para Bhuta yang tidak mau berdamai dan sering
mengganggu kita sekeluarga agar pergi dari pekarangan rumah yang kita tempati.
Pada saat proses pengusiran para Bhuta akan merasa kesakitan seperti di timpuk
batu, atau dilempar dibanting dipukul dengan tongkat dan semuanya menjerit
kesakitan pada saat pembacaan mantram ini.
Mantram Meditasi Pemrelina
Bhuta : “Ong Namo Siwa Ya, ong Niat ingsun ngrangsukang yoga Samadhi Pemrelina
Bhuta kang mralina para Bhuta Kala pegawe ala kabeh luwirnia agringin jadma
manusa, ngawe lara, adenda atma, angamet jiwa, amateni amejah jadma manusa. ong
Bethara Rudra mesusupan ring angga sariran ngulun rumasuk saking siwadrawa
anerus ring usus, anerus ring tangan tengen .ong Bethara Kala masusupan ring
sariran ngulun , rumasuk saking siwadwara anerus ring uluhati anerus ring
tangan kiwa”.
Meditasi ini mengajarkan
kepada para siswa cara mengarahkan kekuatan Bhuta yang ada pada diri kita untuk
membunuh dan menghancurkan para Bhuta yang suka mengganggu manusia yang setelah
di usir datang balik atau kembali mengganggu kita sekeluarga agar semuanya
mati, musnah terbakar tanpa bekas, jadi abu.
3). Meditasi Kandat Pat Rare
Kanda Pat Rare, terdiri
dari 19 bentuk meditasi , dari 19 bentuk meditasi tersebut kebanyakan bersifat
negatif atau merusak dan tiga yang bersifat potisif yaitu ( Meditasi Kanda Pat
Pengancing Garba, Meditasi Kanda Pat Pemungkah Lawang, Meditasi Kanda Pat
Pengempon Rare ), ketiga meditasi yang bersifat positif ini harus dikuasai agar
tidak bisa di ganggu oleh mereka yang menguasai Meditasi Kanda Pat Rare yang
bersifat merusak.
Dalam meditasi " Pengancing
Garbha ", dalam meditasi ini para siswa di latih bagaimana mengarahkan
unsur kekuatan yang ada pada diri manusia ini agar dapat menutup pintu rahim
wanita dan secara gaib untuk menolong orang yang sering keguguran dan susah
atau gagal mempunyai anak. menjadi kuat rahimnya dan dapat hamil seperti wanita
umumnya serta dapat mempunyai anak secara normal.
Mantram Meditasi Kanda Pat
pengancing Garbha :“Ong Namo Siwa Ya, Ong Niat Ingsun ngrangsukang yoga samadhi
Pengancing Garbha kang anyesep, anyineb, angubet, angancing lawan cacupu
pangakan maisi manik kemala winten wong istri manak seranta. Ong sang kama bang
sang kama petak aja sira mider sah saking”.
Sementara "Meditasi
Pemungkah Lawang" dalam meditasi ini para siswa di latih bagaimana
mengarahkan kekuatan bathin untuk membuka garbha wanita yang melahirkan agar
tidak mengalami kesulitan dalam melahirkan atau mendapatkan kemudahan dalam
melahirkan, dan berbagai gangguan niskala yang berusaha mengganggu keselamatan
ibu dan anak atau keduanya dapat di musnahkan.
Mantram Meditasi Kanda Pat
Pemungkah Lawang : “Ong Namo Siwa Ya, Ong Niat Ingsun ngrangsukang Yoga samadhi
Pemungkah Lawang kang amungkah lawang, amungkah garbha wong istri manak
seranta. Ong Kuncang kancing idep aku Betara Siwa angelus akna kancing wesi,
kancing jagat, kumaca kumadik Ung. Ang. Enggang”.
Yang terakhir dari Kanda
Pat Rare ini adalah " Pengempon Rare " , dalam meditasi ini para
siswa dilatih bagaimana mengarahkan kekuatan bathin unutk melindungi bayi atau
rare secara niskala dari berbagai gangguan ilmu hitam.
Mantram Meditasi Kanda Pat
Pengempon Rare : “Ong Namo Siwa Ya, Ong Niat Ingsun ngrangsukang yoga samadhi
Pengempon rare kang anungkupin , angempu pepageh ring sang rare. Ong Sang Hyang
Kumara metemahan Manik Gumulung anungkupin sang rare rumasuk ring gedong batu
masekap magenah ring tengahing segara sunia tan kasusupan ndening Batara Durga
lan Betara Kala”.
4). Meditasi Kanda
Pat Sari
Dalam meditasi Kanda Pat
Sari terdiri dari 33 bentuk meditasi , dari ke 33 bentuk meditasi tersebut
kebanyakan bersifat merusak atau negatif, sementara ada 3 bentuk meditasi Kanda
Pat Sari yang bersifat positif yaitu ( Meditasi Sarining Merta, Meditasi
Sarining Ucap, Meditasi Sarining Raksa ), dimana ketigannya harus di kuasai
agar tidak di ganggu oleh mereka yang telah berhasil menguasai Kanda Pat Sari
lainnya yang bersifat merusak.
Tuntunan Meditasi Kanda
Pat Sari Saring Merta , dalam meditasi ini para siswa dilatih bagaimana
mengarahkan kekuatan bathin unutk menghidupkan atau nguripang merta dalam diri
yang merupakan penugrahan yang bermanfaat dalam kehidupan , sementara dalam
Meditasi Kanda Pat Sarining Ucap, para siswa dilatih bagaimana mengarahkan
kekuatan bathin unutk menghidupkan atau nguripang kekuatan ucapan agar ucapan
kata-kata mengandung keuatan gaib yang maha dahsyat sehingga apa yang di
ucapkan dipercaya banyak orang dan apa yang dikatakannya di turuti oleh banyak
orang dan kekuatannya melebihi kekuatan sihir , dan apabila seseorang telah
berlatih dengan sempurna apa yang di ucapkannya akan terjadi, makanya
disarankan bagi mereka yang menguasai Meditasi Kanda Pat Sarining Ucap ini
haruslah berhati hati dalam dalam ucapannya. sementara Meditasi kanda Pat
Sarining Raksa, yang merupakan Meditasi Kanda Pat ke tiga yang bersifat
positif, dalam meditasi ini para siswa dilatih bagaimana para siswa mengarahkan
kekuatan bathin, untuk melindungi atma ( Raksa Atma ), untuk melindungi jiwa (
Raksa Jiwa ), melindungi Sabda ( Raksa Sabda ), melindungi Bayu ( Raksa Bayu ),
dan melindungi Idep ( Raksa Idep ), sehingga kelima unsur kekuatan utama (
atma, jiwa, sabda, bayu, idep ) yang ada pada diri manusia menjadi sangat kuat
dan kokoh dan tidak mudah di ganggu oleh orang lain dengan kekuatan ilmu
hitamnya.
5 ) Meditasi Kanda
Pat Nyama
Kanda Pat Nyama terdiri
dari 36 bentuk Meditasi, dari 36 bentuk meditasi tersebut kebanyakan bersifat
merusak atau negatif, dan hanya 3 ( tiga ) dari bentuk Meditasi tersebut
bersifat positif dan harus di kuasai dan di pelajari , ketiga tersebut adalah (
Meditasi kanda Pat Catur Sanak Raksa Kemit, Meditasi Kanda Pat Catur Sanak
Merta Bhuana, Meditasi Catur Sanak Urip Waras ).
Meditasi Catur Sanak Raksa
Kemit misalnya mengajarkan siswa dilatih bagaimana cara memenggil , cara
berkomunikasi memerintah atau memberi tugas kepada Sang Catur Sanak ( Nyama
Catur = empat saudara Sejati ), agar mau membantu kita sesuai dengan kebutuhan
yaitu kebutuhan akan perlindungan gaib ( Ngraksa Kemit ) secara niskala selama
satu hari satu malam untuk diri , keluarga dan harta benda milik kita agar
tidak rusak , hilang dsb, ataupun tugas tugas lain sesuai dengan kebutuhan
kita.
Mantramnya adalah sebagai
berikut : “Ong Niat Ingsun ngrangsukang yoga semadhi Catur Sanak Raksa Kemit
kang rumaksa kemit jiwa ragaku serahina wengi ih cai nyama catur Catur,
Anggapati, Merajapati, Banaspati, Banaspatiraja”.
Meditasi Catur Sanak
Mertha Bhuana, mengajarkan kepada siswa dilatih bagaimana cara memanggil , cara
berkomunikasi memerintah atau memberi tugas kepada sang Catur Sanak (nyama
Catur = empat saudara sejati), agar mau membantu kita sesuai dengan kebutuhan
yaitu kebutuhan akan untuk membantu dalam mencari harta berana, rejeki, sandang
pangan secara niskala di alam semesta atau mertha bhuana.
Mantramnya adalah sebagai
berikut : “Ong Niat Ingsun ngrangsukang yoga semadhi Catur Sanak Mertha Bhuana
kang angisep sarining merta bhuanan ih cai nyama catur Catur, Anggapati,
Merajapati, Banaspati, Banaspatiraja”.
Sementara Meditasi Catur
Sanak Urip Waras, mengajarkan kepada siswa dilatih bagaimana cara memanggil,
cara berkomunikasi memerintah atau memberi tugas kepada sang Catur Sanak (
nyama Catur = empat saudara sejati ), agar mau membantu kita sesuai dengan
kebutuhan yaitu kebutuhan akan untuk membantu mencapai kesehatan, kesembuhan
dalam kehidupan ini (Urip Waras), sehingga dalam kehidupan ini kita selalu
dalam keadaan sehat dan jarang terkena penyakit.
Mantramnya adalah sebagai
berikut : “ih cai nyama catur. Catur, Anggapati, Merajapati, Banaspati,
Banaspatiraja. Anggapati magenah ring jantung , metu saking netra anerus ring
tengen warasakna sekancan pinakit kinardin Dewa, Pitara, Pastu, Kutuk, Sumpah,
Cor, Kapadrawa Dewa Pitara, Teka Waras”.
6 ) Meditasi Kanda
Pat Manusia Prakerti
Kanda Pat Manusa Prakerti
terdiri dari 18 bentuk Meditasi , dari 18 bentuk meditasi tersebut kebanyakan
bersifat negatif, hanya 3 Meditasi yang bersifat positif dan yang harus di
kuasai dan di pelajari seperti ( Meditasi Pengampak Sabda Pawetuan Manusia
Prakerti, Meditasi Penebasan Oton Manusa Prakerti, Meditasi Penyampet Sorong
Manusa Prakerti ), melalui meditasi ini , yang diakhiri dengan Pediksan,
seorang mempunyai wewenang secara niskala membuka sabda rahasia manusia dengan
prakerti ( sifat bawaan ), orang yang lahir pada hari tertentu, bagaimana
perawakannya, bagaimana sifat-sifatnya, bagaimana rejekinya, sakit apa saja
yang akan menimpanya, siapa bhuta kala yang bertugas menagih hutang secara
niskala, jika melakukan " Pengelukatan Penebasan Oton ( bayuh Oton ),
mantram apa yang dipakai dalam pengelukatan, berapa kali harus melukat
penebasan oton dalam hidupnya, 1 kali, 2 kali , 3 kali dsb .
Mantramnya adalah sebagai
berikut : “Ong Hyang Widhi, Hyang Yamadipati ngulun minta waranugraha, wenang
ngewacakang indik pawetuan manusa lan pekerti kabeh, sane kesejatiannia
kapingit olih Dewata kabeh, tan keneng aku raja pinulah, luputa ngulun ring
sekancan pastu kutuk, kapedrawwa dewa muang Pitara”.
Sementara Meditasi Penebasan
Oton Manusa Prakerti, melalui meditasi ini yang diakhiri oleh Pediksan,
seseorang mempunyai wewenang untuk melakukan pengelukatan penebasan oton (
Bayuh Oton ), Bagaimana langkah langkah yang harus dilakukan dalam melakukan
pengelukatan penebasan oton, Mantram pengelukatan apa yang harus dibacakan
terhadap orang yang lahir pada hari tertentu seperti mislanya pengelukatan Siwa
Geni, Baruna Geni, Wana Gemana, Marga Gemana, Tirta Gemana, Setra Gemana dan
yang lainnya.
Mantramnya adalah sebagai
berikut : “Ong niat ingsun ngrangsukang yoga samadhi Penebasan Oton Manusa
Prakerti kang ngawiwenang ngelaksanayang indik upakara pengelukatan penebasan
oton manusa prakerti, Ong Hyang Widhi, Hyang Yamadipati, ngulun minta
waranugraha wenang ngelaksanayang penebasan Oton Manusa Prakerti inggih punika
Pengelukatan Siwa Lingga”.
Meditasi Penyampet Sorong
Manusa Prakerti , adalah 3 Meditasi yang bersifat positf yang juga harus
dikuasai, karena dengan meditasi ini diakhiri dengan Pediksan, seorang secara
niskala mempunyai wewenang untuk melakukan upacara " Penyampet Sorong
", diajarkan dimana letak lubang " Sorong " yang harus di tutup
(sampet), mantram apa yang dipakai dalam kegiatan Penyampet Sorong , seperti
Mantram Surya Siu, mantram Penyampet Sorong serta sarana apa yang dipakai dalam
kegiatan penyampet sorong : Tulang Bulusan, Tulang Tribulus, Ong di Kloping,
Kangkang Yuyu Batu, Gigi Kakia Pera.
Mantramnya adalah sebagai
berikut : “Ong Hyang Widhi, Hyang Yamadipati ngulun minta wara nugraha, wenang
ngelaksanayang Penyampet Sorong rikala ngelaksanayang Pengelukatan Penebasan
Oton Manusa Prakerti inggih punika wenang ngewacakang Mantram Surya Siu,
Mantram Sucita, Mantram Penyampet Sorong Sane kesejatia kapingit “.
7). Meditasi Kanda
Pat Madu Muka
Dalam Pustaka Kanda Pat
Muka ini ada 18 bentuk Meditasi, 15 bentuk meditasi bersifat merusak tatanan
kehidupan manusia sedangkan 3 bentuk meditasi bersifat menunjang tatanan
kehidupan manusia sehingga perlu dipelajari dan diamalkan dalam kehidupan
manusia yaitu Meditasi Tri Maya Sakti Murti, Meditasi Panca Ratna Wijaya Murti,
dan Meditasi Dasa Surya Sumedang Murthi.
Meditasi Tri Maya Sakti
Murti , mengajarkan siswa bagaimana cara menyatukan , memadukan kekuatan dan
menggabungkan kekuatan bathin diri kita sendiri dengan kekuatan Ibu dan Bapak ,
sehingga terbentuk suatu kekuatan baru yang memiliki kekuatan yang luar biasa
yang di namakan " Bayuning Tri Maya Sakti Murti ", dengan kekuatan
gabungan ini kita mendapatkan anugrah dirgayusa , kita mampu mengatasi dan
menawarkan wisya, cetik, kita dijauhkan dari segala macam penyakit, serta
kekuatan gabungan ini mampu menjaga kesucian dengan menghilangkan segala sebel
kandel, mala-papa petaka-lara -roga wigna dan sebagainya.
Mantramnya adalah sebagai
berikut : “Ong niat ingsun ngrangsukang Yoga Samadhi Tri Maya Sakti Murti kang
anugrahaken dirgayusa, tan keneng sehananing wisya, cetik, racun, lan tan
keneng sehananing pinakit, angruat dasa mala, sebel kandel, papa petaka, lara
roga wigna. Ong idep aku Sang Hyang Kundi Swara matunggalan aku maring”.
Meditasi Panca Ratna
Wijaya Murti , mengajarkan siswa bagaimana cara menyatukan , memadukan kekuatan
dan menggabungkan kekuatan bathin diri kita sendiri dengan kekuatan Sang Panca
Maha Bhuta, sehingga terbentuk suatu kekuatan baru yang memiliki kekuatan yang
luar biasa yang di namakan " Bayuning Panca Ratna Wijaya Murti ",
dengan kekuatan gabungan ini kita mempunyai kemampuan baru , kemampuan tambahan
yaitu mampu melukat diri , mampu menawarkan wisya, cetik, mampu memusnahkan
segala sebel kandel-mala dan leteh, mampu mengalahkan satru musuh, mampu
memusnahkan kesaktian , kadigjayaan , kawisesan musuh musuh kita, mampu
mengusir dusta durjana , mampu mengusir dan memusnahkan pepasangan ,
pependeman, bebai, desti teluh , teranjana, mampu memusnahkan pagedeg, pemalas,
mampu menjaga rare ( anak-bayi ) dan orang hamil dan mampu mengembangkan "
sarwa swagina " segala macam kemampuan pekerjaan yang kita lakukan.
Mantramnya adalah sebagai
berikut : “Ong niat ingsun ngrangsukang yoga samadhi Panca Ratna Wijaya Murti
kang kang anglukat gering sarat, anawar wisya, cetil, upas, racun , amunah
sumpah cor, upadrawa dewa muang pitara, anglebur sebel kandel , mala dan leteh
ring angga sarira, angalahaken satru musuhku kabeh, amunah sarwa kawisesan,
kadigjayaan , anulak dusta durjanan amunahaken pepasangan pependeman , bebai,
desti, teluh teranjana amunah guna guna pemales lan pagedeg anguruip”.
Meditasi Dasa Surya
Sumedang Murti Mengajarkan siswa bagaimana cara menyatukan, memadukan kekuatan
dan menggabungkan kekuatan bathin diri kita sendiri dengan kekuatan Dewata Nawa
Sanga , sehingga terbentuk suatu kekuatan baru yang memiliki kekuatan yang luar
biasa yang di namakan "Bayuning Dasa Surya Sumedang Murti", dengan
kekuatan gabungan ini kita mempunyai kemampuan baru , kekuatan tambahan yaitu
mampu menyerap dan memunahkan segala kekuatan lawan yang ingin mengganggu kita,
apakah itu ajian, kawisesan, kadigjayaan,
kesakten, lawan yang ingin mengganggu kita secara tiba tiba merasakan
berbagai ilmu yang dimilikinya punah dan tidak berfungsi dihadapan kita. kita
dikagumi dan dihormati oleh para Dewa, Manusia, dan Para Bhutakala, para Jin,
Setan , Pri Prayangan, Samar, tidak
berani dekat dengan kita, dan yang terlalu dekat dengan kita akan lumpuh
ditanah kehilangan segala daya piala dan kekuatannya, kekuatan gabungan ini
mampu memusnahkan dan menghilangkan berbagai unsur negatif yang ada dalam diri
kita seperti sad Ripu ( enam musuh dalam tubuh ) , Sapta Timira ( tujuh
kegelapan ) serta sifat sifat keraksasaan yang berkembang dalam diri kita.
Mantramnya adalah sebagai
berikut : “Ong Niat Ingsun Ngrangsukang Meditasi Dasa Surya Sumedang Murti,
kang angisep lan amunahaken, sehananing ajian, kadigjayaan, kawisesan lan
kesakten satru musuhku, watek para Dewa, Manusa pada asih, watek para leak, jin
setan, pri prayangan, kaisep daya pialania pada nembah, pada melayu, amunah,
angeseng sad ripu, sapta timira”.
8 ) Meditasi Kanda Pat Pengaradan
Dari
sekian banyak bentuk meditasi yang sebagian besar merusak tatanan kehidupan
manusia, terdapat 3 yang bersifat postif yang harus di pelajari, yaitu :
Pengaradan Bhuta, Pengaradan Manusa dan Pengaradan Dewa. Pengaradan Bhuta.
melalui meditasi ini kita diajarkan dan dilatih bagaiman menyerap, menarik dan memasukan kekuatan Bhuta agar menyatu dengan kekuatan manusia selanjutnya diarahkan pada penggunaan yang bersifat mulia berdasarkan tuntunan dharma”.
melalui meditasi ini kita diajarkan dan dilatih bagaiman menyerap, menarik dan memasukan kekuatan Bhuta agar menyatu dengan kekuatan manusia selanjutnya diarahkan pada penggunaan yang bersifat mulia berdasarkan tuntunan dharma”.
Mantramnya
adalah sebagai berikut : “Ong niat ingsun ngrangsukang yoga semadhi Pengaradan
Bhuta kang angisep lan nunggalakna sehananing daya sakti para Bhuta kala Kabeh
kang luluh masaria tunggal ring ingsun prasida ta ngulun muncar mumbul ikanang
bayu. Ong Sanghyang Kunda Meles angurip Mantramku asing mati bangun pada
kaurip. teka urip. teka urip. teka urip”.
Sementara Pengaradan
Manusa , kita di latih dan di ajarkan bagaimana menarik, menyerap dan memasukan
kekuatan manusa yang digjaya, mumpuni dengan diri kita, kalau kita menyerap
kekuatan Ki Gajah Mada, misalnya maka segala macam ilmu yang dimilikinya ketika
beliau hidup akan terwujud dalam diri kita sehingga kemampuan , kedigjayaan,
kawisesan, kasidian, kesakten kita akan meningkat pesat dalam waktu yang
singkat. selanjutkan kekuatan itu dikendalikan dan di arahkan tentunya untuk
tujuan yang mulia sesuai dengan tuntunan dharma.
Meditasi pengaradan Dewa,
melalui meditasi ini kita di ajarkan dan dilatih bagaimana caranya menyerap
kekuatan para Dewa, seperti misalnya kekuatan Dewa Siwa, kekuatan Dewa Wisnu,
kekuatan Dewa Surya dan sebagainya , setelah kekuatan di gabungkan itu menyatu
dengan diri selanjutnya dikendalikan dan di arahkan untuk tujuan uang mulia
sesuai dengan tuntunan Dharma.
9). Meditasi Kanda Pat Krakah
Dalam
Pustaka Kanda Pat Krakah ini ada 12 bentuk meditasi, dimana 9 ( sembilan ),
bentuk meditasi yang bersifat negatif atau merusak tatanan kehidupan manusia
dan ada 3 ( tiga ) bentuk meditasi yang bersifat menunjang tatanan kehudupan
manusia sehingga perlu dipelajari dan di amalkan , ketiga bentuk meditasi
tersebut adalah Meditasi Jnana Siddhi, Meditasi Pustaka Jati, Meditasi Jarwa
Dirga Utama .
Meditasi
jnana Siddhi, mengajarkan pada umat manusia bagaimana caranya Nyurat ( membaca
/ menulis ), dan bagaimana caranya Ngwacen ( membaca ), tanpa kesalahan
berbagai bentuk rerajahan dan sastra jendra, serta bagaimana caranya agar
manusia mendapatkan suatu kekuatan gaib berupa kemampuan berhak membuat dan
membaca berbagai bentuk rerajahan dan sastra jendra tanpa terancam ( bebas ),
dari pastu kutuk dan rajapinulah.
Meditasi
Pustaka Jati, meditasi ini mengajarkan bagaimana manusia atau seseorang mampu
menghidupkan berbagai bentuk rerajahan dan sastra jendra sehingga seolah olah
hidup dan bernyawa sehingga dapat menerima ( diisi ), berbagai macam kekuatan
gaib sesuai dengan yang di kehendaki, serta bagaimana seseorang mampu
memperoleh kekuatan gaib sehingga memiliki daya sakti mampu menghidupkan (
nguripan) berbagai bentuk rerajahan dan sastra jendra dengan terbebas dari
pastu kutuk dan raja pinulah.
Meditasi Jarwa Dirga Pluta, meditasi ini mengajarkan kepada umat manusia tentang bagaimana caranya mengisi berbagai macam rerajahan dan sastra jendra dengan berbagai kekuatan gaib melalui suatu proses yang dinamakan " Pasupati ", serta bagaimana caranya agar seseorang mempunyai kekuatan gaib / kemampuan sehingga berhak ( ngawiwenang ), memasupati berbagai bentuk rerajahan dan sastra jendra dan terbebas dari pastu kutuk dan rajapinulah. .
10). Meditasi Kanda Pat Prasanak
Meditasi Jarwa Dirga Pluta, meditasi ini mengajarkan kepada umat manusia tentang bagaimana caranya mengisi berbagai macam rerajahan dan sastra jendra dengan berbagai kekuatan gaib melalui suatu proses yang dinamakan " Pasupati ", serta bagaimana caranya agar seseorang mempunyai kekuatan gaib / kemampuan sehingga berhak ( ngawiwenang ), memasupati berbagai bentuk rerajahan dan sastra jendra dan terbebas dari pastu kutuk dan rajapinulah. .
10). Meditasi Kanda Pat Prasanak
Dalam
Pustaka Kanda Pat Prasanak ini terdapat 18 ( delapan Belas ), bentuk meditasi ,
dimana 15 ( lima belas ) bentuk meditasi bersifat merusak tatanan kehidupan
manusia , sedangkan ada 3 ( tiga ) bentuk meditasi yang bersifat menunjang
kehidupan manusia dan wajib di pelajari, ketiga bentuk meditasi tersebut adalah
: Meditasi Manusa Cenik Sakti Utama, Meditasi Manusa Sakti Sidhi Mandi, Meditasi
Manusa Sakti Dharma Wisesa.
Meditasi
Manusa Cetik Sakti Utama, meditasi ini mengajarkan pada umat manusia bagaimana
caranya agar melalui meditasi berkomunikasi dengan nyama catur dan prasanaknya
sehingga kita mendapat panugrahan memiliki kekuatan bebas tidak terkena sapa,
pastu, kutuk , sumpah, tulah, tidak terkena santet, desti, teluh , teranjana,
tidak terkena berbagai acep acepan-rerajahan-pepasangan-pependeman, tidak
terkenan sesawangan-gegandu-gentawang-moro-sukik-ikik-parang-gombeng-bebekuk, tidak
terkena berbagai guna guna , guna lanang-guna wadon-guna jawa-guna bali-gunan
sasak-gunan rimrim dsb.
Meditasi
Manusa Sakti Sakti Sidhi Mandi, meditasi ini mengajarkan umat manusia agar
seseorang melalui meditasi berkomunikasi dengan nyama catur dan prasanaknya
mendapatkan panugrahan daya sakti mampu mengungguli segala macam satru musuh,
mengguguli kesakten-kawisesan dan kedigjayaan satru musuh kabeh. sesakti
saktinya musuh tidak mampu mengalahkan kita selama kita menapak di pertiwi.
Meditasi
Manusa Sakti Dharma Wisesa, meditasi ini mengajarkan umat manusia agar
seseorang melalui meditasi berkomunikasi dengan nyama catur dan prasanaknya
mendapatkan panugrahan mampu menyucikan diri sendiri, mampu ngeruat / ngelukat
berbagai macam penyakit, mampu mengobati diri sendiri dan orang lain dari
berbagai macam penyakit edan-buduh-gila-sedeng-gendeng-sableng.
11. Kanda Pat Pemurtian
Dalam
Pustaka Kanda Pat Pemurtian ini terdapat 20 ( Dua Puluh ), bentuk meditasi ,
dimana 15 ( lima belas ) bentuk meditasi bersifat merusak tatanan kehidupan
manusia , sedangkan ada 5 ( lima ) bentuk meditasi yang bersifat menunjang
kehidupan manusia dan wajib di pelajari, kelima bentuk meditasi tersebut adalah
: Meditasi Siwa Geni, Meditasi Banyu Pinaruh, Meditasi Dasa Bayu, Meditasi Sri
Pertiwi, Meditasi Somyaning Sunya.
Meditasi
Siwa Geni, Meditasi ini mengajarkan cara untuk mengendalikan unsur api yang ada
didalam diri, sehingga memiliki kekuatan anti terhadap api dan mampu
mengeluarkan api dari tubuhnya. Meditasi Banyu Pinaruh, Meditasi ini
mengajarkan cara untuk mengendalikan unsur air yang ada didalam diri, sehingga
memiliki kekuatan untuk mampu bertahan hidup didalam air. Meditasi Dasa Bayu,
Meditasi ini mengajarkan cara untuk mengendalikan unsur angin yang ada didalam
diri, sehingga memiliki kekuatan untuk mengendalikan sepuluh Bayu (angin).
Dimana orang tersebut, memiliki stamina yang sangat tinggi untuk melakukan
segala hal. Meditasi Sri Pertiwi, Meditasi ini mengajarkan cara untuk
mengendalikan unsur tanah yang ada didalam diri, sehingga memiliki kekuatan
menyerap sari-sari Bumi. Dimana orang tersebut, mampu bertahan tidak makan dan
minum selama yang ia inginkan. Meditasi Somyaning Sunya, Meditasi ini
mengajarkan cara untuk mengendalikan unsur akasa (ruang kosong) yang ada
didalam diri, sehingga memiliki kekuatan untuk menghilangkan benda-benda yang
dikehendakinya.
12. Kanda Pat Sukma
Dalam
Pustaka Kanda Pat Sukma ini terdapat 18 ( delapan Belas ), bentuk meditasi ,
dimana 15 ( lima belas ) bentuk meditasi bersifat merusak tatanan kehidupan
manusia , sedangkan ada 3 ( tiga ) bentuk meditasi yang bersifat menunjang
kehidupan manusia dan wajib di pelajari, ketiga bentuk meditasi tersebut adalah
: Meditasi Meraga Sukma, Meditasi
Memecah Sukma, Meditasi Pemutus Sukma.
Meditasi
Meraga Sukma, Meditasi ini mengajarkan cara untuk melepas sukma atau roh
seseorang sehingga orang tersebut mampu pergi kemana saja sesuai keinginannya
dan bisa masuk kebadan setiap mahluk yang dikehendakinya. Meditasi Memecah
Sukma, Meditasi ini mengajarkan cara untuk memecah sukma atau roh seseorang,
sehingga orang tersebut bisa ada dibanyak tempat yang berbeda dalam satu waktu
dan apabila salah satu roh atau sukma seseorang tersebut diputus. Orang
tersebut masih hidup, karena sukma yang lain masih ada. Meditasi Pemutus Sukma,
Meditasi ini mengajarkan cara untuk memutuskan Sukma atau roh orang yang
melakukan meraga sukma dan menggunakannya untuk kejahatan. Sehingga, sukma dan
badan seseorang tersebut terputus yang mengakibatkan orang tersebut langsung
meninggal.
13. Kanda Pat Pasek Wetu
Dalam Pustaka Kanda Pat Pasek Wetu ini
terdapat 360 (Tiga Ratus Enam Puluh), bentuk meditasi , dimana 357 (Tiga Ratus
Lima Puluh Tujuh) bentuk meditasi bersifat merusak tatanan kehidupan manusia ,
sedangkan ada 3 ( tiga ) bentuk meditasi yang bersifat menunjang kehidupan
manusia dan wajib di pelajari, ketiga bentuk meditasi tersebut adalah :
Meditasi Durga Maya, Meditasi Durgandini,
Meditasi Siwa Durga.
Meditasi Durga Maya, Meditasi ini mengajarkan
cara untuk memusnahkan ilmu pangleakan atau
aji wegig yang dimiliki seseorang,
bilamana ilmu seseorang tersebut sudah sangat tinggi dan ilmu panglekannya sudah mendarah daging, maka
orang tersebut bisa langsung meninggal. Meditasi Durgandini, Meditasi ini
mengajarkan cara untuk membuat orang yang sedang ngelekas (berubah wujud) tidak bisa kembali kewujud aslinya.
Misalnya seseorang yang belajar pangleakan
berubah menjadi monyet, maka selamanya ia akan menjadi monyet. Meditasi
Siwa Durga, Meditasi ini mengajarkan cara untuk menangkal seluruh serangan yang
digunakan oleh orang yang melakukan pangleakan
sehingga serangannya tidak mempan.
14. Kanda Pat Kaputusan
Dalam
Pustaka Kanda Pat Kaputusan ini terdapat 18 ( delapan Belas ), bentuk meditasi
, dimana 15 ( lima belas ) bentuk meditasi bersifat merusak tatanan kehidupan
manusia , sedangkan ada 3 ( tiga ) bentuk meditasi yang bersifat menunjang
kehidupan manusia dan wajib di pelajari, ketiga bentuk meditasi tersebut adalah
: Meditasi Kaputusan Bhuta, Meditasi
Kaputusan Manusa, Meditasi Kaputusan Dewa.
Meditasi
Kaputusan Bhuta, Meditasi ini mengajarkan cara untuk mendapatkan panugrahan atau kesaktian yang
didapatkan melalui hasil pertapaan para Bhuta
atau raksasa. Misalnya, kita mampu mendapatkan kesaktian yang didapatkan oleh
pertapaan Hinyarakasipu. Meditasi Kaputusan Manusa, Meditasi ini mengajarkan
cara untuk meandapatkan panugrahan atau
kesaktian yang didapatkan melalui hasil pertapaan para manusia. Misalnya, kita
mampu mendapatkan kesaktian yang didapatkan oleh pertapaan Bhagawan Wyasa.
Meditasi Kaputusan Dewa, Meditasi ini mengajarkan cara untuk mendapatkan panugrahan atau kesaktian yang
didapatkan melalui pertapaan Para Dewa. Misalnya, kita mampu mendapatkan
kesaktian yang didapatkan melalui pertapaan Dewa Siwa.
15. Kanda Pat Subiksa
Dalam
Pustaka Kanda Pat Subiksa ini terdapat 3 ( tiga ) bentuk meditasi yang bersifat
menunjang kehidupan manusia dan wajib di pelajari, ketiga bentuk meditasi tersebut
adalah : Meditasi Pranayama Tri Bhuana, Meditasi Catur Sanak, Meditasi Panuntun Sukma.
Meditasi Pranayama Tri Bhuana mengajarkan cara untuk, melatih pernapasan untuk
menghimpun tenaga dalam dan tenaga bathin melalui pernapasan segi tiga. Yaitu
dengan cara menarik napas, menahan dan membuang napas dalam waktu yang lama
sesuai kemampuan. Meditasi Catur Sanak mengajarkan cara untuk, melatih
pernapasan untuk mewujudkan kenginan melalui pernapasan segi empat. Yaitu
dengan cara menarik napas, menahan napas, membuang napas dan menahan napas.
Meditasi panuntun sukma yaitu tehnik pernapasan, untuk menuntun roh menjelang kematian. Yaitu dengan cara, apabila kita
sudah mampu mengetahui bahwa ajal kita sudah dekat. Kita bisa segera melakukan
meditasi dengan duduk bersila dan menarik napas panjang kemudian menutup
sembilan lubang yang ada di dalam diri. Kemudian menuntun atma kita menuju Siwa Dwara.
16. Kanda Pat Dewa
Dalam Pustaka Kanda Pat
Dewa ini terdapat 3 ( tiga ) bentuk meditasi yang bersifat menunjang kehidupan
manusia dan wajib di pelajari, ketiga bentuk meditasi tersebut adalah :
Meditasi Puja Dewa, Meditasi Senjata Nawa Sanga, Meditasi Meraga Dewa.
Meditasi Puja Dewa adalah
meditasi khusus tingkat tinggi yang sangat rahasia. Melalui meditasi ini siswa
diajarkan memuja 3339 (Tiga Ribu Tiga Ratus Tiga Puluh Sembilan) Dewa. Dengan
memuja, para Dewa memberikan berkah kesucian sehingga kita semakin lama semakin
suci.
Meditasi Senjata Nawa
Sanga, dengan meditasi ini seseorang mendapatkan berkah boleh menggunakan
senjata Nawa Sanga/ senjata para Dewa lainnya untuk melindungi umat dan dharma.
Dilengkapi dengan cara memohon, nguripan,
masupati serta cara melepaskan senjata Nawa Sanga. Senjata para Dewa ini
sangat dahsyat dan berbahaya tidak pernah gagal, tidak akan lenyap sebelum
menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya.
Meditasi meraga Dewa
adalah Meditasi khusus tingkat tinggi yang sangat rahasia. Melalui meditasi ini
siswa diajarkan untuk menstanakan para
Dewa didalam tubuh sehingga ketika meninggal menjadi berbadan Dewa dan bisa
tinggal di alam para Dewa.
17. Kanda Pat Moksa
Dalam
Pustaka Kanda Pat Moksa ini terdapat 3 ( tiga ) bentuk meditasi yang bersifat
menunjang kehidupan manusia dan wajib di pelajari, ketiga bentuk meditasi
tersebut adalah : Meditasi Adi Moksa, Meditasi Kelepasan, Meditasi Jiwan Mukti.
Meditasi
Adi Moksa, melalui meditasi ini seseorang yang telah berlatih ilmu kematian
dengan baik (dharmaning kepatian), ia telah menyiapkan diri untuk mati,
sehingga dengan penuh kesabaran dan senyuman duduk menunggu kematian. Setelah
mengetahui beberapa saat lagi hari kematiannya, kundalini dinaik-turunkan seribu kali berturut-turut, maka
suhu/panas tubuh meningkat 1000 kali lipat sehingga tubuhnya meledak menjadi
debu dan secara bersamaan lewat ledakan itu Sang Hyang Atma mendapat kekuatan
melesat cepat menyatu dengan Brahman, inilah moksa yang sempurna.
Meditasi
Kelepasan, melalui meditasi ini seseorang yang telah berlatih ilmu kematian
dengan baik (dharmaning kepatian), ia telah menyiapkan diri untuk mati,
sehingga dengan penuh kesabaran dan senyuman duduk menunggu kematian. Setelah
mengetahui beberapa saat lagi hari kematiannya, ia menghimpun segala prana yang ada dalam dirinya kemudian
dipusatkan di Pusar. Sehingga tubuhnya meledak dan Atma menyatu dengan Brahman.
Meditasi Jiwan Mukti, melalui
meditasi ini seseorang yang telah berlatih ilmu kematian dengan baik
(dharmaning kepatian), ia telah menyiapkan diri untuk mati, sehingga dengan
penuh kesabaran dan senyuman duduk menunggu kematian. Setelah mengetahui
beberapa saat lagi hari kematiannya, ia melakukan pembacaan Bhagawad Gita
dengan pranayama sebanyak 18 bab. Dimana ia melakukan konsentrasi di
ujung hidung. Sehingga atma menuju Brahman.
18. Kanda Pat Tanpa Sastra
Walaupun
dikatakan tanpa sastra, tetapi juga terdapat teks yang menyatakan : “Sejatining
Manusa ie dadi bhuta, manusa, Dewa lan Brahman”. Yang artinya Manusia
sebenarnya dapat bersifat bhuta,
manusia, Dewa bahkan Tuhan. Dalam Pustaka Kanda Pat Tanpa Sastra ini terdapat 3
( tiga ) bentuk meditasi yang bersifat menunjang kehidupan manusia dan wajib di
pelajari, ketiga bentuk meditasi tersebut adalah : Meditasi Manunggal Bhuta,
Meditasi Manunggal Dewa, Meditasi Manunggal Brahman.
Meditasi
Manunggal Bhuta : dalam meditasi ini siswa diajarkan cara untuk memanggil raja
para bhuta untuk masuk kedalam diri
apabila, bertempur menghadapi para bhuta.
Meditasi Manunggal Dewa : dalam meditasi ini siswa diajarkan cara untuk
memanggil Dewa Siwa untuk masuk kedalam diri, sehingga bisa memerintah para
Dewa. Meditasi Manunggal Brahman adalah meditasi khusus tingkat tinggi yang
sangat rahasia, melalui meditasi ini seseorang mampu melindungi diri dan
keluarganya dari berbagai gangguan yang tertinggi dan terkuat di jagad raya
ini. Pada saat ngrangsukan meditasi
ini. Kekuatan Tuhan dan kekuatan orang tersebut menyatu tak dapat dibedakan dan
dipisahkan. Selama berabad-abad ilmu ini dianggap ilmu tertinggi dalam
Perguruan Seruling Dewata.
C.
Profil Padepokan Sastra Jendra
Drs.
I Wayan Yendra/Mangku Alit Pekandelan. Lahir di Surabaya 19 Juli 1959. Alumnus
Fakultas Ilmu Komunikasi jurusan ilmu hubungan masyarakat Universitas Dwijendra
Denpasar tahun 1992. Selama mahasiswa aktif menulis di mingguan pedesaan prima,
harian Bali post, harian Nusa, mingguan Karya Bakti, menjadi fotografer
berbagai tempat dan acara. Menjadi cameramen video di berbagai tempat dan
acara. Menjadi pemimpin redaksi majalah spiritual Bianglala tahun 1996-2001.
Dan pernah menjadi penulis di tabloid Bali Mula
Kemudian
ikut aktif pada organisasi-organisasi spiritual seperti Sai Studi Group tahun
1992-1993. Di persatuan Ananda Marga sekitar tahun 1994. Selanjutnya mengikuti
kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh paguyuban peminat spiritual Bali
tahun 1996-2000. Dan akhirnya menerima wahyu, lalu mendirikan Perguruan
Spiritual sendiri yang diberi nama Padepokan Sastra Jendra (Perguruan Kanda Pat
Bali). Bergerak di bidang meditasi, pengobatan dan pencerahan sampai saat ini.
D.
Ajaran Kanda Pat Versi Padepokan Sastra Jendra
1). Kanda Empat Rare
a. Perkawinan
Sesungguhnya,
terbentuknya suatu keluarga dimulai sejak adanya upacara perkawinan. Karena
upacara perkawinan merupakan titik awal dari kedua mempelai mengikat secara
lahir dan batin, membentuk keluarga baru dan hidup bersama. Perkawinan adalah
suatu pesaksian secara sekalah-niskala dari seorang pria dan seorang wanita,
bahwa keduanya telah mengikat diri menjadi suami istri, dan segala resiko dari
segala perbuatannya itu menjadi tanggung jawab bersama.
Jadi,
perkawinan ialah hubungan antara seorang pria dan wanita, untuk bersama-sama
mencukupi kebutuhan suami-istri, berkeluarga dan berkawan. Berkeluarga adalah
hubungan suami istri, berkeluarga, dan berkawan. Berkeluarga adalah hubungan
suami istri untuk bersama-sama mencukupi kebutuhan rasa hait. Maka, perkawinan
merupakan hubungan pria dan wanita yang rumit.
Perkawinan
menjadi pangkal peristiwa hidup lainnya. Bayi atau rarelahir berasal dari perkawinan. Tidak ada bayi atau rarelahir berasal dari batu. Tidak ada
seorang wanita melahirkan bayi atau raretanpa
perkawinan dengan seorang pria. Kelahiran adalah awal peristiwa hidup
seseorang. Setiap barang yang berawal, pastilah berakhir. Manusia berasal dari
kelahira, dan berakhir pada kematian. Jadi, tidak ada barang yang lahir tanpa
mati.
Rare atau bayi yang lahir, makin lama
makin besar, lalu dewasa, dan kemudian kawin. Maka perkawinan menjadi pangkal
dan tujuan peristiwa hidup lainnya. Setiap kelahiran, pasti didahului dengan
perkawinan. Perkawinan berasal dari hasrat hidup, yang pada pokoknya ialah
ingin melestarikan raga dan jenis keturunannya. Maka kedua macam kebutuhan itu
meresap dalam rasa manusia. Hasrat hidup untuk melestarikan raga, menyebabkan
manusia memerlukan makan, pakaian, dan pemukiman, itulah yang disebut pangupajiwa.
Sedangkan
hasrat hidup untuk melestarikan keturunan, mendorong manusia untuk bersenggama,
yakni kebutuhan perkawinan. Jadi nafkah dan perkawinan adalah kebutuhan hidup.
Manusia sering mencampuradukkan kebutuhan nafkah dan perkawinan. Kadang-kadang,
ia menitik beratkan perkawinan, kadang-kadang nafkahlah yang lebih
dipentingkan. Padahal, perkawinan dan nafkah, walaupun keduanya bersumber dari
hasrat hidup, namun keperluannya terpisah. Tidak sama. Kebutuhan kawin bukan
kebutuhan nafkah. Begitu sebaliknya. Jika kedua kebutuhan campur menjadi satu,
orang menjadi bingung dan susah.
Kalau
kebutuhan kawin dan nafkah menjadi satu, timbulah perkawinan demi mencari
nafkah, atau nafkah untuk perkawinan. Bercita-cita untuk memperoleh suami atau
istri yang kaya, berarti perkawinan dipergunakan untuk mencari nafkah. Apabila
memperoleh suami atau istri yang kaya, orang mengira dirinya akan turut menjadi
kaya. Kemudian, ia akan dapat mempergunakan harta istri atau suami
semau-maunya. Padahal, jika ia memperoleh suami atau istri kaya, ia akan
diperalat oleh istri atau suaminya, untuk menambah kekayaannya. Hal itu pasti
membuatnya kecewa.
Demikian
pula halnya dengan nafkah untuk perkawinan, dapat menimbulkan penyesalan.
Misalnya, orang yang bercita-cita menjadi seorang kaya, agar lebih leluasa
untuk dapat memilih calon suami atau istri yang dikehendaki. Jika hal itu
terlaksana, istri atau suami yang dipilihnya pasti hanya mencintai kekayaannya,
dan tidak dirinya. Seperti kata pepatah : “Ada uang abang disayang, tak ada
uang abang ditendang”. Hal ini cukup banyak terjadi di masyarakat. Biasanya
terjadi pada perkawinan lintas suku dan agama. Bila kekayaan menghilang, maka
suami atau istri tersayang pun melayang, entah kemana. Lantas, bagaimana
sebaiknya perkawinan itu?
Menurut
Sunardian Wirodono, perkawinan yang baik adalah perkawinan demi perkawinan.
Seperti apakah penjabarannya? Patokan perkawinan, ialah untuk meneruskan
keturunan. Keturunan manusia baru dapat berlangsung, apabila dalam perkawinan
melahirkan bayi atau rare. Jadi,
perkawinan harus melahirkan anak sejenis? Anak-anak itu menyambung jenis orang
tuanya. Dan mereka kelak akan kawin, melahirkan anak lagi. Begitu seterusnya.
Kebalikannya, jika perkawinan tidak untuk melahirkan bayi atau rare, maka jenis keturunan manusia akan
punah. Oleh karena itu, bila dalam perkawinan tanpa alas an yang pantas,
menolak keturunan misalnya, keliru sekali.
Untuk
mewujudkan keluarga bahagia selamat sekala-niskala, perkawinan paling tidak
memiliki lima syarat. Syarat pertama. Perkawinan harus lelaki dan perempuan.
Karena perkawinan lelaki dengan lelaki, atau perempuan dengan perempuan, tidak
akan dapat melahirkan anak atau rare. Tentu
bisa mengangkat anak, tetapi anak siapa jika bukan anak dari perkawinan yang
benar? Kedua, orang dengan orang. Karena kalau orang dengan hewan, tidak dapat
melangsungkan keturunan sejenis. Baik jenis hewan maupun jenis manusia. Ketiga,
harus sudah sesame dewasa. Karena jika salah satunya belum dewasa, perkawinan
tersebut tidak dapat melahirkan keturunan. Keempat, perkawinan harus dilakukan
oleh orang yang masih hidup. Karena jika salah satu mati, perkawinan itu tidak
bisa berlangsung dan menurunkan anak atau rare.
Syarat kelima, perkawinan harus karena rasa suka sama suka. Sebab jika salah
satunya tidak suka, atau kedua-duanya tidak suka. Kawin paksa misalnya, seperti
zaman Siti Nurbaya dulu. Perkawinan tentulah hanya menimbulkan bencana.
Soal
suka dan tidak suka ini, akan berkaitan erat dengan pergaulan. Pergaulan,
mempengaruhi perkawinan. Namun dalam pergaulan birahi, orang terpikat oleh
orang yang sering ditatapnya, atau cocok dengan gambar idamannya. Jika
seseorang gadis hanya bergaul dengan gadis, birahinya akan hinggap pada gadis
itu. Jika pria dengan pria, birahi kasinya akan melekat pada lelaki pula. Ini
birahi yang salah tempat.
Birahi
yang salah tempat ini menimbulkan perasaan yang aneh-aneh. Pria merindukan
pria. Perempuan merindukan perempuan. Hingga bila birahi ini larut, bisa jadi
manusia merindukan hewan, atau lukisan, atau mayat, patung dan sebagainya.
Birahi seperti ini, semata-mata hanya berdasarkan kepuasannya sendiri. Ini
tidak nalar, karena orang yang seperti ini akan menggunakan apa saja untuk
memuaskan yang disenanginya. Nafsu ingin puas sendiri. Merusak hukum alam.
Menurut ajaran Kanda Pat Rare, perkawinan bukanlah dari birahi yang salah, apalagi
birahi yang buta?
Dengan
demikian, dapatlah dimengerti bahwasanya untuk menjalin hubungan yang baik,
hidup selaras, harmonis antara suami dan istri, perlu dipertimbangkan beberapa
hal : Pertama, hubungan itu dibangun atas dasar cinta sama cinta. Kedua, agar
diusahakan mencari pasangan yang selaras, artinya perbedaan fisik maupun
kejiwaannya tidak terlalu mencolok. Misalnya, wajah tidak terlalu berbeda,
pendidikan tidak jauh berbeda. Karena kalau yang satu cerdas dan yang
satunyabego, tentu sulit menjalin komunikasi yang harmonis. Ketiga, punya sikap
tenggang rasa dan toleransi yang tinggi, memiliki kesabaran dan ketabahan dalam
menghadapi masalah kehidupan.
b. Menghitung hari
Dalam
mewujudkan keluarga yang bahagia serta selamat sekala-niskala. Ternyat lima syarat yang telah diajukan di muka,
belum cukup. Masih ada hal lain yang perlu diperhatikan, yaitu menghitung hari.
Menentukan hari baik untuk melaksanakan upacara perkawinan tersebut. Seperti
halnya seorang bayi atau rare, sifat-sifatnya,
karakternya, nasibnya serta masa depannya. Akan turut dipengaruhi oleh hari
kelahirannya. Itulah sebabnya, kalau ada seorang bayi atau rare, yang lahir pada hitungan jelek, Tumpek kandang atau Tumpek
wayang misalnya. Maka orang tua si bayi atau raretersebut, merasa perlu untuk membuat upacara bayuh oton, agar anaknya bisa terhindar
dari mara bahaya.
Begitupun
halnya dengan hari perkawinan anda, baik buruknya akan dipengaruhi juga oleh
hari tersebut. Bila salah menghitung hari, maka keburukanlah yang akan anda dapatkan.
Dan bentuk keburukan itupun bermacam-macam, tergantung tingkat keburukan hari
yang anda gunakan. Pertama, hal yang paling buruk adalah salah satu dari anda
bisa mati muda, atau mati sebelum usia renta. Cara matinyapun aneka rupa. Adak
arena kecelakaan, ada karena sakit yang tak terobati, ada pula karena
mengakhiri hidupnya sendiri, alias bunuh diri.
Kedua,
yang agak ringan, dianggap ringan karena tidak ada matinya. Namun tetap saja
buruk. Karena tidak ada matinya. Namun tetap saja buruk. Kalau bisa, ya di
hindari. Yaitu rumah tangga anda rawan konflik. Dari masalah yang sangat
sepele, sampai kepada masalah yang ruwet, bisa menjadi sumber konflik. Pokoknya
tiada hari tanpa konflik. Bila tidak tahan, maka rumah tangga anda bisa bubar,
alias cerai berai. Ketiga, lebih ringan lagi. Keluarga anda sering
sakit-sakitan, boros, sering kena sial dan sebagainya.
Semua
keburukan akibat salah menghitung hari itu, tidak ada obatnya, disamping juga
sulit dideteksi. Balian sakti sekalipun, tidak akan dapat mengatasi masalah
ini, apalagi bebantenan. Upacara apapun yang anda buat tidak akan menyelesaikan
maslah. Selain pipis telah, masalah tileh. Kecuali, pertama, orang itu memang
harus sakti. Kedua, tau sumber masalah anda. Ketiga, pintar menghitung hari.
Keempat, tentu saja bisa menjawab permasalahan anda. Kalau upacara perkawinan
anda jatuh pada hitungan buruk seperti itu, tentu saja tidak akan mungkin dapat
mewujudkan keluarga bahagia, selamat sekala-niskala.
-
Hari baik
Hari baik adalah hari yang
layak dipakai untuk melaksanakan upacara perkawinan. Di dalam kalender-kalender
Bali sudah dijelaskan semuanya. Sayangnya, mereka yang dianggap tahu masalah
itu, apakah dia sulinggih, pemangku, atau masyarakat yang dituakan dan dianggap
mengerti tentang hal itu, sering tidak dapat melihat semuanya, sehingga
hitungannya menjadi kurang tepat. Paling tidak, dalam menghitung hari, untuk
menentukan dewasa ayu upacara
perkawinan, usahakan memilih hari yang jatuh pada perhitungan-perhitungan ini :
Amerta Danta. Amerta Dewa. Amerta Dewata. Amerta Murti. Amerta Yoga. Ayu Dana.
Ayu Nulus. Dasa Amerta. Dauh Ayu. Darma Bagia. Dewa Mentas. Dewasa Ngelayang.
Dewa Setata. Dewa Wredhi. Dina Jaya. Dirgha Yusa. Kamajaya. Panca Merta. Panca
Wredhi. Purna Suka. Ratu Ngemban Putra. Sadhana Yoga. Siwa Sampurna. Subha
Cara.
-
Hari Buruk
Hari buruk adalah hari
yang hendaknya dihindari untuk di gunakan sebagai hari perkawinan anda.Sebisa-bisanya
jangan dipakai, karena akan mendatangkan banyak masalah dalam keluarga anda.
Yang tergolong hari buruk itu meliputi perhitungan-perhitungan berikut ini :
Panglong 1-15. Uncal balung. Rangda Tiga. Sarik Agung. Sampar Wangke. Tali
Wangke. Salah Wadi. Pati-pata. Mertasula. Lebur Awu. Karna Sula. Carik
Walangati. Dagdig Karana. Pasah. Ingkel Wong. Amerta Papageran. Asuasa. Dina
Carik. Geheng Manyinget. Kala Mangap. Kala Matapak. Kala Mretyu. Kala Ngeruda.
Kala Pati. Kala Pegat. Kala Prawani. Kala Rau. Kala Siyung. Kala Suwung. Kala
Sungsang. Kala Temeh. Kalu Aburau. Pamacekan. Purwanin Dina. Rarung Pagelangan.
Sasih Anglawean. Tanpa Guru. Titi Buwuk. Wulan Tanpa SIrah (bulan tanpa sabtu
kliwon).
Baik-buruknya hari
perkawinan menurut saptawara : minggu = buruk. Senin = menemukan kesenangan. Selasa
= sering bertengkar, sakit-sakitan. Rabu = sangat baik, banyak anak. Kamis =
dikasihi banyak orang. Jum’at = memperoleh kesenangan, kekuasaan dan kemuliaan.
Sabtu = panas membara, senantiasa sengsara. Baik-buruknya hari perkawinan
menurut sasih : Kasa = buruk, sakit-sakitan. Karo = tidak terlalu buruk, tetapi
sengsara hidupnya. Katiga = baik sampai anak cucu. Kapat = baik, bisa kaya,
banyak anak. Kalima = baik, tak kurang makan minum. Kaenem = buruk, mati salah
satu. Kapitu = baik, panjang umur. Kawolu = buruk, seret rejekinya, melarat. Kasanga
= sangat buruk, penyakitan. Kadasa = sangat baik, bisa hidup senang dan mulia.
Destha = buruk, mendapat malu.Sadha = buruk, sakit-sakitan.
Baik-buruknya hari
perkawinan menurut tanggal : tanggal 1 = memperoleh panjang umur. Tanggal 2
tercapai cita-citanya. Tanggal 3 = banyak anak, baik karena anak. Tanggal 4 =
suami nyaris mati. Tanggal 5 = rahayu, panjang umur. Tanggal 6 = mendapat
sengsara. Tanggal 7 = senang dan selamat.Tanggal 8 = sangat buruk, penyakitan,
nyaris mati. Tanggal 9 = buruk, sangat panas, sengsara sekali. Tanggal 10 =
disegani, berwibawa mulia. Tanggal 11 = kurang rejeki. Tanggal 12 = mendapat
kesusahan. Tanggal 13 = mendapat keuntungan dan kenikmatan. Tanggal 14 = sering
bertengkar. Tanggal 15 = mendapat keburukan. Selanjutnya 15 hari berikutnya
disebut panglong, tidak baik untuk dewasa ayu, seperti yang sudah dijelaskan di
depan.
Baik-buruknya hari
perkawinan menurut pertiti semutpada : awidiya = sebagai pedewasaan baik, tidak
menemui kesulitan, dan keluarga akan mendapat kebahagiaan. Bawa = sebagai
pedewasaan buruk, akan mendapat halangan atau kesulitan, pihak lain tidak
bersimpati, tidak memperoleh kebahagiaan. Jaramarana = sebagai pedewasaan
buruk, akan menemui kegeringan, pertengkaran dan kesulitan. Jati = sebagai
pedewasaan cukup baik, pihak lain akan memberi perhatian, dan membantu
sepenuhnya, namun masih dijumpai sedikit kesulitan dan hambatan. Namarupa =
sebagai pedewasaan buruk, akan sukar mendapat kebahagiaan, orang-orang
disekitarnya sering memfitnah, gossip jelek, memalukan dan sebagainya. Samskara
= sebagai pedewasaan buruk, akan menemui kesulitan, kesedihan, pikiran kacau,
menimbulkan konflik. Sedayatana = sebagai pedewasaan cukup baik, walau ada
sedikit gangguan, keluarga dan pihak lain akan setia membantu. Separsa = sebagai
padewasaan amat buruk, akan menimbulkan pertengkaran, kesulitan bingung, tidak
menemukan kebahagiaan sekalipun banyak berkorban. Teresna = sebagai pedewasaan
buruk, banyak musuhnya, akan menghadapi masalah yang serba sulit. Upadana =
sebagai pedewasaan cukup baik, karena pihak lain akan bersimpati, sekalipun ada
sedikit pengorbanan dan pemborosan. Widnyana = sebagai padewasaan baik, para
kerabat akan membantu segala yang dikehendaki, dan akan menemui kebahagiaan.
Wedhana = sebagai padewasaan cukup baik, banyak saudara yang membantu. Walau
ada sedikit kesulitan dan pemborosan, tapi pikiran anda tetap tenang.
Pada kenyataannya, akan
sulit mendapatkan pedewasaan yang benar-benar baik. Apalagi perkawinan anda
akan sulit mendapatkan pedewasaan yang benar-benar baik. Apalagi perkawinan
yang terjadi karena kecelakaan misalnya, artinya sudah terlanjur hamil. Maka
pilihannya adalah yang terbaik, diantara yang terburuk. Maksudnya pilihan hari
yang lebih banyak baik, ketimbang buruknya. Bila tidak ketemu, maka lakukanlah
upacara perkawinan itu, dan nikmatilah hasilnya. Bila hasilnya memang baik ya
sudahlah. Tapi bila hasilnya betul-betul jelek, maka segeralah diperbaiki.
c. Tata Krama Senggama
Tujuan
dari sebuah perkawinan adalah untuk memperoleh anak. Sebab, kelak diharapkan
anak menjadi penyelamat keluarga, membebaskan leluhur dari api neraka? Karena
itulah seoran anak disebut putra, artinya dapat membebaskan orang tua, atau
leluhur dari pendritaan alias neraka. Itulah sebabnya kehadiran seorang anak
begitu penting bagi keluarga Hindu, khususnya Bali. Anak atau rare yang dapat membebaskan penderitaan
keluarga, menjadi tempat berlindung orang tuanya, dan akhirnya kemudian menjadi
penerus keturunan, haruslah anak yang baik, rare
yang utama yang di dalam sastra Kanda
Pat Rare disebut sebagai suputra.
Hal
ini juga terungkap dalam beberapa sastra Hindu sebagai berikut : membuat sebuah
telaga untuk umum, itu lebih baik daripada menggali seratus sumur. Melakukan
yadnya, itu lebih tinggi mutunya, daripada membuat seratus telaga. Mempunyai
seorang putra, itu lebih berguna daripada melakukan seratus yadnya, asalkan
putra utama alias suputra.
Niti Sastra menyebutkan :
“
Sang Hyang Candra teranggana pinaka dipa memadangi rikala ning wangi. Sang Hyang
Surya sedeng prabhasa maka di pamemadangi ri bhumi mandala. Widya sastra
sudharma dipa ri kanang tri bhuwana sumene prahaswara. Yening putra, suputra
sadhu gunawan memadangi kula wandhu wandhawa”.
Artinya :
“Bulan
dan bintang sebagai pelita yang menerangi di waktu malam. Matahari yang sedang
terbit sebagai pelita menerangi seluruh wilayah Bumi. Ilmu pengetahuan, sastra
utama sebagai pelita menerangi ketiga dunia dengan sempurna. Kalau di kalangan
putra (anak) maka anak yang utama (suputra)
menerangi seluruh keluarga”.
Demikian pula di dalam lontar Putra Sasana
dinyatakan :
“Mapa
palaning suputra, pari purna dharmayukti, subhageng rat susilanya, ambek santa
sedu budi, kinasihaning nasemi, pada ngakwa sanak tuhu, sami tresna sih umulat,
apan wus piana ageng widhi, yan suputra unggul ring sameng tumitah”.
Artinya :
“Bagaimanakah
pahala seorang suputrayang sempurna
dan berbuat dharma, termasyur susila dan bagus, hatinya damai dan berbudi
mulia, setiap orang mengasihinya, semua mengaku keluarga, semua jatuh hati
melihatnya, oleh karena Tuhan telah memastikan bahwa, orang-orang yang suputra unggul di antara semua mahluk”.
Untuk
menciptakan atau mendapatkan anak atau rare
yang suputra, amat tergantung
kepada upaya-upaya yang anda lakukan. Dan, salah satu caranya adalah lewat
ajaran Kanda Pat Rare ini. Menurut
ajaran Kanda Pat Rare, prose situ
dimulai sejak anda melakukan senggama atau persetubuhan, tidak boleh asal joss,
tidak boleh sembarangan. Ada tata karma senggama yang harus andajalani. Seperti
contoh kasus berikut ini, dikutipkan dari epos Ramayana dan Mahabharata.Dalam
Ramayana Prabu Dasarata betul-betul mengadakan persiapan matang sebelum
“membuat” anak. Atau sebelum senggama alias bersetubuh dengan istrinya. Jadi,
sebelum Dasarata melakukan “pertemuan” dengan istrinya, beliau dan istri
terlebih dahulu elakukan upacara persembahyangan. Karena motivasi beliau
bersenggama dengan istrinya, adalah untuk mendapatkan anak yang suputra, bukan untuk pemuasan birahi
atau nafsu semata.
Karena
tujuannya untuk mendapatkan anak yang suputra
alias anak yang utama, maka beliau melakukan tata karma senggama, menurut
anjuran para Maha Rsi, maka begitu pula yang beliau peroleh. Empat anak dari tiga
istrinya di memiliki kualitas tinggi. Bahkan anak tertua, yaitu Rama tak lain
adalah titisan Dewa Wisnu. Tentu tak mudah menghadirkan “Wisnu” dalam keluarga,
atau tentu tak mudah usaha yang dilakukan, sehingga dipercaya sebagai ayah Dewa
Wisnu. Jika Wisnu ibarat magnit, maka beliau tentu hanya mau mendekati logam
yang bersih tak berkarat. Dasarata salah satu contoh manusia yang bersih dalam
arti seluas-luasnya.
Contoh
lain, kita bisa melihat pada kasus kelahiran Rahwana dan adik-adiknya. Wisrawa,
seorang bhagawan sakti mandraguna, ketika melakukan senggama dengan Dewi Sukesi,
adalah semata-mata karena dorongan nafsu birahi belaka. Mereka bukanlah
suami-istri, karena kedatangan bhagawan sebenarnya adalah untuk melamar Dewi
Sukesi, atas perintah atau permintaan anaknya Prabu Danapati. Tapi, malah
dikwin sendiri. Akibat perkawinan itu, lahirlah Rahwana, Suparnaka, Kumbakarna
dan Wibisana. Menurut cerita, hanya Wibisana lahir dari “prosedur” perkawinan
yang benar, artinya sah secara filosofis, sosiologis dan yuridis. Karena ketika
akan mengadakan “pertemuan” terakhir itu, sang bhagawan dan sukesi baru sdar,
bahwa perbuatannya yang terdahulu sungguh tidak terpuji, tidak layak dilakukan
oleh seorang bhagawan.
Mereka
baru menyadari, bahwa hanya sepasang suami-istri yang sah, yang bias melakukan
hubungan intim begini. Karena dilandasi oleh kesadaran dan budi luhur, maka
lahirlah Wibisana, manusia bijaksana dan berbudi luhur. Begitu pula dengan
kelahiran Pandawa dan Korawa. Dewi Gandari yang menjadi ibu Korawa, diliputi
perasaan penuh ambisi kekuasaan ketika bersenggama dengan suaminya. Gandari
ingin punya anak banyak, karena ia berpikir dengan jumlah yang banyak pasti
akan kuat. Dengan demikian, harapan Gandari, Kerajaan Astina, yang merupakan
kerajaan adikuasa, akan tetap di pegang oleh anaknya. Harapan Gandari
terpenuhi, ia punya anak 100 orang, sehingga sering disebut seratus Korawa.
Yang menarik adalah kasus
Kunti. Istri pandu ini, oleh seorang resi sakti, diberikan kekuatan kesaktian
untuk memanggil Dewa. Maka, ketika ia ingin anak yang bijaksana, teguh memegang
dharma, ia memohon kepada Bhatara Dharma. Ketika ingin anaknya yang teguh
fisiknya, teguh juga pendiriannya, ia mohon kepada Bhatara Bayu. Begitu pula ia
mohon kepada Bhatara Indra, agar dianugrahi anak yang sakti mandraguna, ahli
dalam ilmu perang, maka lahirlah Arjuna. Bahkan Kunti pun bias memanggil Dewa
untuk kepentingan Madri, istri Pandu yang lain. Madri pun melahirkan anak
kembar, Nakula dan Sahadewa, karena Kunti memohon kepada Bhatara Aswin yang
juga kembar.
Dalam kenyataan hidup di
masyarakat, kita sering melihat banyak anak lahir tanpa tata karma perkawinan
yang benar. Di Amerika Serikat, pernah ada hasil penelitian, bahwa anak yang
lahir dari hasil perkosaan sangat potensial untuk menjadi penjahat. Seperti
disadari, anak yang lahir dari perkosaan tentu anak yang tidak diharapkan. Yang
diperkosa maupun yang emperkosa, tentu tidak memiliki rencana dan persiapan
untuk “membuat” anak. Yang diperkosa tentu memberontak penuh dendam. Begitu
pula, yang memperkosa akan berjuang penuh nafsu untuk melampiaskan nafsu
bejatnya. Maka, hasilnya tentulah seorang anak yang dipenuhi sifat-sifat dendam
dan penuh nafsu.
Bahkan setelah menikah
secara sah, persenggamaan itupun tidaklah dapat dilakukan sebebasnya. Oleh
karena, pada saat-saat tertentu, masih terdapat larangan-larangan untuk
melakukan persenggamaan. Maka dari itu, bagi suami istri perlu memperhatikan
sikapnya masing-masing, agar tidak mempunyai pengaruh yang tidak baik. Menurut
pandangan agama Hindu di Bali, bahwa sesungguhnya sang penganten itu, masih
dikatakan mempunyai sifat-sifat wyawahara
(pertentangan-pertentangan). Wyawaraha
inilah yang meresapi badan dan jiwa pengantin, yang menyebabkan mereka menjadi leteh (cemar)dan cuntaka (cacat). Agar cemar
cuntaka tersebut hilang, maka pegantin itu perlu diupacarai prayas cita (disucikan), dan disertai
dengan pengupakara (sesajen) yang disebut mawidhi-widhana
mesakapan byakala nganten. Penyucian diri sang penganti itu sangat perlu,
untuk menghapus cemer dan cuntaka yang ada pada diri mereka.
Dengan demikian, anak yang diperolehnya nanti itupun akan terlepas dari
kecemaran dan kecatatan.
Didalam lontar
Anggastyaprana disebutkan bahwa kalau “pertemuan” (persenggamaan) tidak diatur
oleh ketentuan-ketentuan, maka tiada bedanya bagaikan pertemuan atau perkawinan
binatang kidang atau menjangan. Selanjutnya disebutkan pula, kalau sang istri
sedang tidak suka untuk digauli, hendaknya jangan dipaksa atau diperkosa,
jangan mencaci-maki dan lain-lain. Begitu pula pada saat si istri sebel ring dewek (menstruasi) jangan
diajak bersenggama. Kalau dipaksa, maka persenggamaan itu leteh dan cuntaka. Seandainya
itu terjadi, dan kebetulan menghasilkan pembuahan, maka anak yang lahir, akan
membawa bermacam-macam penyakit, nakal dan angkuh terhadap ibu bapaknya, sangat
menyusahkan orang tuanya. Akibat lainnya adalah sang istri sering mengalami
keguguran.
Untuk mewujudkan keluarga
bahagia selamat sekala-niskala, sebaiknya
kita memahami tata karma senggama. Disamping yang sudah disebutkan diatas,
yaitu menyangkut pikiran dan perasaan. Masih ada hal lain yang perlu anda
perhatikan seperti berikut : Menurut lontar Smara Kriddha Laksana bahwa sumai
istri yang akan melakukan senggama hendaknya mengucapkan mantra : “Om krong
keretaya sampurana Dewa Manggala ya namah”. Selanjutnya dalam persenggamaan,
agar suami istri memperoleh keturunan atau anak yang bijaksana, maka
mengucapkan mantra : “Om rang Rudra ya namah, idep sira sadkrosa”. Kalau
menginginkan anak yang selalu berhasil dalam hidupnya nanti, penciptaan itu
suami istri hendaknya selalu berbuat baik. Dilarang membunuh mahluk hidup dan
hati senantiasa tentram serta damai. Dan bila ingin punya anak yang pintar,
mantra ini yang diucapkan : “Om srikomadewa ya namah”, syaratnya ialah
suami-istri dalam melakukan “hubungan” itu hendaknya saling asih.
Menurut Gde Puja, M.A
berkaitan dengan masalah tata krama senggama ini menambahkan, sebaiknya anda
tidak melakukan senggama itu pada saat hari-hari berikut ini : a. Hari-hari
suci atau rerahinan jagat, b. Bulan purnama, c. Tanggal ke 14 (prawani) sehari
sebelum purnama/tilem, d. Purwanin dina dan purwanin asih, e. Weton suami atau
istri, f. Pada saat menstruasi untuk masa empat hari. Akan tetapi, bila memang
tidak ingin mewujudkan keluarga bahagia selamat sekala-niskala, dengan anak-anak yang suputra, maka semua aturan itu tidak berlaku. Artinya, bersenggama
semata-mata untuk kesenangan atau pemuasan nafsu belaka, itu boleh dilakukan
kapan saja dimana saja.
Jadi, disamping
pengaruh-pengaruh yang diakibatkan oleh kesalahan menghitung hari, dalam
menentukan hari perkawinan, maka gerak pikiran, sikap, gaya, maupun
sifat-sifatsaat melakukan senggama, juga berpengaruh terhadap bayi. Kwee Tek
Hoay, dalam bukunya penghidupan di Sananya Kubur, menyebutkan bahwa, pada saat
menanam bibit (bersenggama) harus betul-betul memperhatikan kebersihan gerak
pikirannya, agar supaya roh-roh yang tidak baik jangan sampai menjelma sebagai
anaknya kelak.
d. Bayi dalam kandungan
Bayi
dalam kandungan bisa terwujud karena pertemuan antara kama petak dan kama bang, atau
pertemuan antara cukla yang keluar
dari purusa (laki-laki) dan swanita yang keluar dari pradana (wanita). Kama petak adalah air mani laki-laki yang juga disebut cukla, yang denganSang HyangSemara. Sedang kama
bang adalah air mani perempuan yang disebut swanita , disimbolkan dengan Dewi
Ratih. Kama petak dan kama bang
juga disebut cukla swanita, yang disimbolkan dengan Sang Hyang Semara Ratih.Tumbuhnya bayi di dalam kandungan menurut
agama Hindu adalah berkat bertemunya sang cukla
swanita. Pertemuan itu baru dapat dibenarkan secara agama, apabila
dilakukan oleh suami-istri yang sah.
Seperti diketahui, bahwa unsur
kelaki-lakian dan unsure kewanitaan, didalam lontar-lontar di Bali maupun dalam
buku medis yang lain, mempunyai beberapa macam sambutan. Unsur laki-laki itu
disebut kama petak, sukla, kamajaya, Sang
Hyang Semara, sperma, sel mani, airmani. Sedangkan unsure kewanitaan itu
disebut kama bang, swanita, kama ratih,
Dewi ratih,ovum, sel telur dan air mani. Pertemuan sang cukla-swanita dari pria-wanita yang
belum menikah sah, sebelum melakukan upacara perkawinan di anggap “kotor”.
Pertemuan semacam itu disebut capa.
Jika pertemuan capa ini menurunkan
anak, maka anak yang lahir disebut astra.
Anak astra tidak dapat disebut
sebagai keturunan yang utama, karena kelahirannya itu semata-mata berdasarkan
atas kepuasan nafsu birahi belaka (hanak-hanaking
asmara dudu).
Pertemuan antara cukla dan swanita atau sperma dan ovum dari suami-istri, yang diwujudkan
dengan melakukan hubungan senggama atau persetubuhan, mengakibatkan terjadi
pembuahan atau kehamilan. Pertemuan antara sel mani tau sel telur (cukla-swanita) inilah yang kemudian
menghasilkan manik, cikal bakal si
jabang bayi. Sedangkan menurut lontar anggastyaprana, pertemuan kama itu disebut Sang Ajursulang.
Pertemuan itu setelah luluh menjadi satu, disebut Sang Bubur Rumaket. Pada saat itulah datang Sang Hyang Nilakanta
memberikan berkah, sehingga kentalah kama itu bagaikan telur. Telur tersebut
dinamakan Sang Hyang Antigajati. Telur
yang telah dihasilkan di dalam tube
ampulla yang oleh getaran halus selaput lender, pada dinding tube,
menyebabkan telur itu masuk lebih jauh ke dalam tube, dan akhirnya sampai ke dalam rahim. Setelah sampai pada
rahim, telur itu lalu melekat atau membenamkan dirinya, seolah-olah berakar
pada lapisan lendir endometrium. Peritstiwa
ini dinamakan implantasi atau “nidasi”.
Jadi setelah pertemuansperma dan
ovum (cukla-swanita) sehingga terjadi
pembuahan, yang disebut sygote atau
telur yang dihamilkan, atau Sang Hyang
Antigajati, inilah yang dimaksud dengan manik.
Manik ini masuk ke dalam garbha-pradana
(perut sang ibu), dan akhirnya nidasi
(mengendap) di dalam kunda cacupu manik
itu mengalami proses pertumbuhan, semakin hari semakin besar, dan mengubah
dirinya sehingga nantinya berbentuk seorang bayi (rare).
Masih menurut lontar Aggastyaprana,
pertumbuhan embrio atau Sang Antigajati hingga
nantinya mencapai kesatuan tubuh yang lengkap, adalah berkat para Dewa yang
asih dan memberikan berkah, agar embrio atau Sang Antigajati, maka datanglah para Dewa, antara lain : Sang Hyang
Murcohaya, Sang Hyang Taya, Sang Hyang Ngalengis, Sang Hyang Rajatangi, Sang
Hyang Murtining Luwih. Selain itu, datangjuga para Dewa Nawasanga, Sapta Rsi,
Panca Rai, dan Sang Hyang Tiga Wisesa, lalu mewujudkan Sang Antigajti dari manic menjadi
janin (bayi). Pada saat embrio atau Sang
Antigajati diwujudkan sebagai bayi (janin) dinamakan Sang Pratimajati. Jadi, yang dinamakan Sang Pratimajati tiada lain adalah janin itu sendiri, yaitu embrio
atau Sang Antigajati setelah berumur
2 bulan kandungan.
Selanjutnya para Dewa pun bergotong
royong merampungkan proyek tersebut, merampungkan si jabang byi dari manik
hingga menjadi bayi, antara lain : Sang Hyang Akasa memberikan kepala, Sang
Hyang Ajining Akasa memberikan rambut, Sang Hyang Surya-Candra memberikan mata
kiri dan mata kanan, Sang Hyang Baruna dan Sang Hyang Margalaya memberikan
hidung, Sang Hyang Margacraya memberikan kedua lubang telinga, Sang Hyang Yama
memberikan mulut, Sang Hyang Margayama memberikan lubang mulut, Sang Hyang
Parigimanik memberikan gigi, Sang Hyang Rijasi memberikan gusi, Sang Hyang
Maneptan memberikan bibir, Sang Hyang Madulatha memberikan pantat, Sang Hyang
Cittawawaca memberikan perasaan, Sang Hyang Lape memberikan pipi, Sang Hyang
Ngelaning memberikan dagu, Sang Hyang Atunggal memberikan leher, Sang Hyang
Watu Gumulung memberikan “batun salakan”, Sang Hyang Taya memberikan tangan dan
kaki, Sang Hyang Rontek memberikan jeriji, Sang Hyng Pancanaka memberikan kuku,
Sang Hyang Munyang memberikan usehan (pusaran
pada kepala) dan pungsed (pusar pada
perut), Sang Hyang Angantala memberikan hulu hati.
Begitu pula Panca Rsi, turut ambil
bagian dalam membentuk si jabang bayi seperti : Sang Korsika memberikan kulit,
Sang Garga memberikan daging, Sang Metri memberikan otot, Sang Purusa
memberikan sum-sum. Dan ternyata Dewa Nawasangha pun tak mau ketinggalan,
beramai-ramai menyempurnakan wujud si jabang bayi, seperti : Sang Hyang Iswara
memberikan papusuh (jantung), Sang
Hyang Maheswara memberikan paru-paru, Sang Hyang Brahma memberikan hati, Sang
Hyang Ludra memberikan usus, Sang Hyang Mahadewa memberikan ungsilan(buah pinggang), Sang Hyang
Sangkara memberikan limpa, Sang Hyang Wisnu memberikan ampru (empedu), Sang Hyang Sambu memberikan ineban (ubun-ubun), Sang Hyang Siewa memberikan tumpuking hati. Yangbernama tumpuking hati adalah bhayu, yang bernma bhayu adalah atma, dan atma itulah berwujud “Sang Hyang Urip”,
yaitu Dewa yang memberikan kehidupan pada semua mahluk di dunia ini.
e. Panca
mahabutha membentuk bayi
Mengenai proses terjadinya janin
(bayi) sebagaimana di paparkan tadi, ada juga pendapat yang mengatakan bahwa,
kejadian jasmaniah janin (bayi) itu berasal dari unsure-unsur Panca Mahabutha,
dan inti sari dari Panca Mahabutha disebut Panca Tanmatra. Adapun perwujudan
janin (bayi) yang tersisa dari unsur-unsur Panca Tanmatra dan Panca Mahabhuta
adalah sebagai berikut. Panca Mahabutha yang membentuk bayi : 1. Pertiwi, menjadi serba padat, misalnya :
kulit, daging, otot-otot, lemak dan sebagainya. 2. Apah, menjadi serba cair, misalnya : darah, keringat, air kencing
dan sebagainya. 3. Teja, menjadi serba
bercahaya, misalnya : mata, panas badan dan sebagainya. 4. Bayu, menjadi serba bergerak, misalnya : bernafas, berjalan, makan
dan sebagainya. 5. Akasa, menjadi
serba berlubang, misalnya : lubang hidung, lubang telinga, lobang pantat dan
sebagainya.
f. Panca
tanmatra yang membentuk bayi
1. Sabda Tanmatra menjadi telinga
2. Sparsa Tanmatra menjadi kulit
3. Rupa Tanmatra menjadi mata
4. Rasa Tanmatra menjadi lidah
5. Ganda Tanmatra menjadi hidung
Mengenai umur berapa sebenarnya manik dalam kandungan berubah enjadi
bayi, menurut beberapa catatan, baik berupa lontar maupun buku, menerangkan
secara berbeda-beda. Cecangkriman Kanda
Pat, menyebutkan bahwa setelah kandungan itu berumur 2 bulan (karongulan suba meraka manusa).
Sedangkan lontar Kanda Pat Rare, menyebutkan
setelah berumur 5 bulan. Begitu pula keterangan dalam buku Manusa Yadnya,
menyebutkan kira-kira 3 bulan (sawatara tigang sasih). Sedangkan menurut buku
upacara Manusa Yadnya, menyebutkan kira-kira berumur 5 bulan (lebih kurang 6
bulan kalender). Proses perkembangan dan pertumbuhan manik hingga akhirnya menjadi bayi sempurna, hingga siap
dilahirkan, itu disebut Kama-reka. Sebagaimana
diungkapkan dalam buku Manusa Yajna. Begitu pula menurut Drs. I Gusti Ketut
Adia Wiratmaja, bahwa manik yang
mengalami pertumbuhan disebut kama-reka.
f. Kama Reka
Menurut salinan lontar Kanda Pat Rare, proses pertumbuhan manik hingga menjadi janin (bayi)
adalah sebagai berikut : pada saat itu terjadi pertemuan ayah dan ibu
(bersenggama). Ketika itu, benih laki-laki keluar dari ayah dan benih perempuan
keluar dari ibu. Setelah sebulan pertemuan itu berlalu, aka tibul pancaran
matahari dan bulan. Dua bulan pertemuan berlalu, maka timbulah suara, pikiran
dan tenaga. Tiga bulan pertemuan berlalu, maka terbentuklah pancawarna (lima warna). Empat bulan
pertemuan berlalu, maka terbentuklah Dewata
Nawasanga (Sembilan Dewa). Lima bulan pertemuan itu berlalu, terbentklah
bumi dan langit, kemudian bersatu membentuk manusia, bermata, bertelinga,
berhidung, bermulut, bertangan, berkaki, berkemaluan, berpantat, dan pada saat
ini si jabang bayi bernama Sang Hyang
Putih Majati.
Enam bulan ada di dalam kandungan, maka ada saudara
dari jabang bayi, yang keluar dari ayah disebut Babu Lembana.Tujuh bulan di dalam kandungan, maka ada saudara
jabang bayi, yang keluar dari ibu, bernama Babu
Abra. Delapan bulan ada di dalam kandungan, lagi ada saudara jabang bayi,
yang keluar dari ayah bernama BabuUgian. Sembilan
bulan ada di dalam kandungan, keluar lagi saudara si bayi dari ibu, bernama Babu Kadered. Setelah sepuluh bulan ada
didalam kandungan, maka bayi sudah siap untuk dilahirkan.
g. Merawat kehamilan
Bila
seorang istri mulai mengandung, hamil, maka banyak hal yang perlu menjadi
perhatian. Baik oleh si istri yang bersangkutan, maupun oleh sang suami.
Terutama sekali tatkala si istri itu, baru untuk pertma kalinya mengandung.
Artinya hamil baru pertama kali. Diawali dengan nyidam, istri nyidam akan
banyak sekali permintaannya, yang kadang-kadang terasa aneh dan mengada-ada.
Permintaan itu sedapat mungkin dipenuhi. Sebab, jika tidak terpenuhi dapat
membawa efek yang kurang baik terhadap bayi yang sedang dikandungan. Karena
permintaan istri yang nyidam, merupakan
reproduksi keinginan si bayi, akan suatu makanan (zat), demi kelangsungan hidup
dan perkembangan di dalam kandungan.
Dalam
kenyataannya, hidup dan perkembngan seorang bayi selama dalam kandungan, sangat
tergantung dari sikapibunya (orang tuanya). Baik masalah makanan, kesehatan,
maupun dari segi watak atau kejiwaannya. Karena itu, baik fisik maupun kejiwaan
seorang bayi, sangat ditentukan oleh sifat, watak kejiwaan seorang ibu waktu
mengandung.
h. Perawatan sekala
Untuk
mendapatkan seorang bayi yang baik, seorang ibu secara umum dapatlah
disarankan, agar mendapat perawatan dan pelayanan yang cukup baik, antara lain
: perawatan kesehatan dari paramedis, pemenuhan makanan bergizibagi ibu dan
bayinya, serta perawatan mental dan psikologi seperti ajaran-ajaran agama dan
kejiwaan. Sikap lain yang patut diperhatikan tatkala istri sedang hamil antara
lain : Tidak membangunkan istri yang sedang tidur. Kedua, tidak melangkahi (ngungkulin) istri yang sedang tidur.
Sebab pada saat istri tidur, ia mendapat hubungan pemeliharaan secara gaib dari
para Dewa, kala dan pitara (roh leluhur), agar bayi yang dikandungnya itu dapat
hidup dan selamat.
Adapun
Dewa yang memberikan kekuatan gaib antara lain : Sang Hyang Sukana, Sang Hyang
Mertyu Jiwa, Sang Hyang Prama Wisesa, Pitara (roh leluhur), baik dari garis
laki-laki maupun perempuan. Selain itu, dikatakan pula, pada saat si istri yang
sedang hamil itu makan, dilarang anglawatin
(membayangi dengan bayangan badan) terhadap nasi atau makanan yang sedang
dimakannya. Apa sangsinya, jika larangan itu dilanggar? Kalau suami melanggar
larangan tersebut, maka akan mendapat kutuk para Dewa, Kala dan Pitara. Si
istribisa mengalami keguguran, bayinya mati dalam kandungan, sulit waktu
melahirkan, lahir uda dan sebagainya. Disamping itu, pada saat istri hamil,
bila ia sedang makan, hendaknya jangan diajak bicara, apalagi diberi kata-kata
kotor, kasar, keras yang membuatnya tersinggung dan sakit hati. Karena, Sang
Hyang Urip sedangbersemayam pada orang yang sedang makan.
Itulah
sebabnya kemudian muncul mitos yang mengatakan, tidak boleh
membunuh orang yang sedang makan, walaupun dia seorang penjahat atau musuh
sekalipun. Maka dari itu, bagi suami-istri agar semua pikiran, perkataan dan
perbuatan, diarahkan pada ajaran-ajaran kebajikan (dharma), agar terhindar dari
malapetaka, baik bagi mereka berdua, maupun anak yang dikandungnya. Kepada
istri yang sedang hamil, agar suka mendengarkan sekaligus melaksanakan
nasehat-nasehat, membaca kitab-kitab bertuah seperti cerita kepahlawanan, bermacam-macam
sesana (peraturan tingkah laku),
memeriksakan kesehatan jasmaninya, memperhatikan makanan yang sehat dan bergizi
dan sebagainya. Semua aktivitas itu akan berpengaruh, dan menurun pada anak
atau karakteristik bayinya nanti. Demikian pula, si suami hendaknya ikut pula
menjaga kedamaian dan kerukunan rumah tangga, terutama terhadap istrinya yang
sedang mengandung.
Ada lagi, beberapa kegiatan yang
perlu mendapat perhatian, dari suami yang istrinya hamil. Khususnya mengenai
aktivitas yang hendaknya tidak dilakukan selama istrinya hamil. Seperti, jangan
mencambuk sapi tatkala bekerja di sawah. Tidak boleh ngetok lait, atau menyumbat segala bentuk lubang (sombah), karena menurut kepercayaan,
semua perbuatan itu akan membawa efek yang kurang baik bagi calon anaknya.
Dalam
salinan lontar Eka Pertama, disebutkan beberapa sikap bagi suami, sebagai
kepala rumah tangga pada waktu istri hamil. Seorang suami hendaknya melakukan
swadharma agar menurunkan anak yang baik (dharma putra), yaitu tidak
diperkenankan memotong rambut, membangun rumah, menyelenggarakan pengangkatan
anak, membuat tambak (empang) membuat pagar rumah atau pagar ladang,
memperistri wanita lain, selingkuh. Larangan-larangan berlaku bagi suami
tersebut, konon merupakan petuah dari Bhatara Brahma yang disampaikan kepada
Bhagawan Bergu.
i. Perawatan niskala
Disamping
perawatan secara niskala tadi, maka
di dalam usaha memelihara keselamatan bayi selama ada dalam kandungan, perlu
adanya perawatan secara niskala, yaitu
lewat beberapa upacara yang dilakukan. Dan salah satu usaha ke arah itu, adalah
upacara nyidam yang disebut upacara “Pangrujakan”.
Maksud dan tujuan upacara ini adalah, supaya kandungan si ibu itu, supaya
bayi (manik)yang sedang memproses
dirinya di dalam kandungan, menjadi waras, sehat atau terhindar dari hal-hal
yang tidak diinginkan. Didalam buku Manusa Yajna menyebutkan bahwa, supaya bayi
yang ada dalam kandungan menjadi waras, kuat dan dirgayua (panjang umur),
artinya tumbuh dengan normal, perlu ditolong dengan sarana sadrasa yang disebut rerujakan.
Gunanya adalah memberikan alat perekat terhadap manik dalam rahim, yaitu
pada saat si ibu hamil sedang nyidam.
Rujak
yang telah selesai dibuat, lalu dimohonkan restu ke hadapan para Dewa dan roh
leluhur, dengan harapan agar ibu dan bayi yang sedang dikandungnya menjadi
selamat. Selanjutnya adalah upacara “pagedong-gedongan”,
upacara ini baru dapat dilakukan setelah umur kandungan mencapai 5 bulan ke
atas, dimana wujud bayi pada saat itu dianggap sudah sempurna. Upacara pagedong-gedongan, secara rohaniah
adalah suatu usaha pembersihan dan pemeliharaan atas keselamatan si anak dan
ibunya. Yang disertai pula dengan suatu pengharapan, agar anak yang lahir kelak
menjadi orang yang berguna di masyarakat, dan dapat memenuhi harapan orang
tuanya.
Adapun
upacara pagedong-gedongan itu pada
pokoknya terdiri atas : byakala, peras,
daksina, ajuman, prayascita, pagedong-gedongan (gedong), sayut pengambean atau sesayut pemahayu tuwuh.Pagedong-gedongan (gedong)
itu sendiri, adalah sejenis sesajen yang berbentuk sebuh gedong (rumah-rumahan),
yang didalamnya dimasukkan beberapa perlengkapan, seperti misalnya : beras,
sebutir telur ayam, nyuh gading, segulung benang, uang kepeng 225 butir,
dilengkapi dengan beberapa jenis banten lainnya, seperti canang tubungan, dan
beberapa jenis rempah-rempah.
Banten
pagedong-gedongan ini merupakan
simbolik dari perut ibu, yang menggambarkan si bayi beserta saudara-saudaranya
(Sang Catur Sanak). Tujuan banten ini
adalah mengandung arti simbolik, agar kandungan si ibu menjadi selamat, dan
peliharaan keselamatan si bayi agar kuat nidasi,
serta selamat ada dalam kandungan, dapat berproses dengan sempurna sampai
pada saat kelahirannya nanti. Dan terakhir adalah upacara Ngelukat Bobotan. Upacara ini agak jarang dilakukan masyarakat.
Namun, tetap saja saya tulis disini, karena masih berhubungan dengan bayi dalam
kandungan.
Menurut
Ida Padanda Oka Kanitan, kata Ngelukat
Bobotan itu mengandung pengertian, peleburan segala dosa, dan korotan (ngelukat) dari kandungan (bobotan)
seorang ibu. Jadi upacara Ngelukat-Bobotan
ini, adalah suatu upacara yang bertujuan melenyapkan atau melebur segala
noda kotoran (leteh) suatu kandungan
dengan sarana bebantenan, sesajen.
Adapun sesajen (banten) yang digunakan dalam upacara ngelukat bobotan ini, antara lain yang terpenting adalah : air (tirta) penglukatan, canang, peras,
daksina, lis, isuh-isuh, serta banten penglukatan di paon (dapur), biasanya berupa peras pengambeyan. Di haturkan
kehadapan Bhatara Brahma, agar beliau berkenan untuk melebur kotoran, leteh si
ibu hamil. Pengelukatan tersebut secara rohaniah dianggap mengandung suatu
mujijat, yang dapat melebur atau melenyapkan segala noda kotoran, yang mungkin
masih melekat pada ibu yang sedan mengandung. Dengan demikian, diharapkan agar
ibu yang mengandung beserta bayinya itu menjadi bersih dan suci.
Sekarang,
perhatikanlah mantra yang biasa digunakan oleh para pendeta, untuk memuja Tirtha penglukatan tersebut : “Om Sang
Hyang Ayu munggah pritiwi, pritiwi melomba-lomba, angebeking bwana, om
pengelukatan dacamala, kalukat metu sira anadi dewa, kalukat metu anadi
bhujangga, kalukat metu sira anadi jadma manusa, kalukat mameneng kapanggih
sukha sugih, saisining rat bwana kabeh, sapangangoning bumi, kelod kauh yeh
minagaken, cudha dewa, cudavmanusa. Om sa bata a I n ma ci wa ya”.
Dari
makna mantra tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa, tujuannya adalah memohon
keselamatan dan kesucian agar ibu beserta bayinya menjadi selamat, dan bersih
lahir batin. Ucapan mantra itu mengandung pengertian dan pengharapan, agar ibu
dan bayi yang dikandungnya itu mempunyai sifat-sifat Dewa (kebaikan), Bhujangga
(orang yang memiliki ilmu pengetahuan, sastra dan ilmu agama), dan juga
memiliki sifat-sifat kemanusiaan. Disamping juga bertujuan agar hidupnya nanti
memperoleh kesenangan, kekayaan, dengan berbagai isi dunia dan lain-lainnya.
Upacara Ngelukat bobotan ini biasanya
dilakukan bila suatu kehamilan itu mengenai wuku wayang, khususnya Tumpek
wayang. Karena hariyang berwuku wayang di anggap sebagai hari yang jelek,
kotor, leteh. Dan merupakan hari (wuku)nya Bhuta Kala, yang mempunyai
pengaruh-pengaruh negative terhadap kehidupan manusia di Dunia.
j. Kanda empat rare
Yang dimaksud dengan Kanda
Empat Rare disini tidak lain adalah Sang
Catur Sanak dan bayi. Catur Sanak berarti
saudara empat. Rare sama dengan bayi.
Setiap diri manusia mempunyai saudara empat. Ketika manusia masih berupa janin
di dalam perut ibunya, ke empat saudara ini nyata. Kasat mata. Bisal dilihat dengan
mata telanjang. Adapun yang tergolong saudara empat, atau Kanda Empat Rare antara lain : 1. Yeh Nyom (air ketuban), 2. Getih
atau rah (darah), 3. Banah/lamas (bungkus atau lemak pada
kulit) dan 4. Ari-ari (uri/placenta).
Itulah nama-nama saudara empat yang menyertai bayi selama dalam kandungan.
Keempatnya itu merupakan wujud nyata, dapat dilihat pada saatseorang ibu
melahirkan bayinya. Akan tetapi dalam wujud abstrak, keempat saudara ini tidak
dapat dilihat. Namanya pun berubah-ubah, sesuai dengan pertumbuhan si bayi.
Melihat fungsinya, keempat saudara itu besar sekali
jasanya, dalam menjaga serta memelihara si bayi, selama ada dalam kandungan,
sampai saatnya ia lahir ke Dunia. Maka dari itu, tidak salah kalau mereka
disebut Catur Sanak atau Nyama Catur (saudara empat) si bayi,
istilah Balinya Kanda Empat Rare, terhadap
Yeh Nyom, Getih, Ari-ari dan Lamas, karena merekalah yang selalu
menemani dan merawat si bayi. Bahkan menurut mitologi, si bayi telah berjanji
tidak akan melupakan keempat saudaranya itu. Kalau sampai lupa, maka keempat
saudaranya itu tidak akan menjaganya lagi. Janji itu diberikan dengan harapan,
pada saat si bayi lahir agar di tolong mencari jalan keluar, yaitu ada yang
membukakan pintu (yeh nyom), ada yang
memapah dari kiri dan kanan (getih,
lamas) dan ada pula yang mengantar dari belakang (ari-ari).
1.
Yeh nyom
(air ketuban)
Sejak
hamil muda, kira-kira 3 bulan lamanya, sel-sel lapisan amnion, terutama yang meliputi bagian placenta, sudah mengeluarkan
sedikit cairan jernih, yang berkumpul di ruangan amnion di mana janin itu berada. Bertambah tua kehamilan itu, maka
bertambah banyak pula cairan amnion, sehingga
pada bulan ke 10, janin seolah-olah terbenam dalam cairan tersebut. Cairan
itulah yang disebut air tuban atau Yeh
nyom. Fungsi yeh nyom antara lain
: pertama, menjaga supaya jangan sampai da perlekatan antara amnion dengan janin, jika janin tumbuh
menjadi besar. Kedua, menjamin tumbuhnya janin dengan sempurna, dengan tidak
ada rintangan. Ketiga, menjaga agar tali pusar tidak mudah tertekan oleh janin.
Misalnya, kalau perut perempuan hamil itu terbentur, atau mendapat pukulan dari
luar, sehingga janin tidak mendapat kerusakan atau gangguan.
Dan
bila bayi akan lahir, maka lapisan amnion
itu lebih dulu pecah. Bila belum pecah, maka bayi tidak dapat lahir. Itulah
sebabnya, kenapa Yeh Nyom disebut
sebagai pembuka jalan bagi kelahiran seorang bayi.Sehubungan dengan itu,
seorang bidan sering membantu seorang ibu, yang melahirkan, dengan merobek
lapisan amnion, dengan maksud
mempercepat kelahiran bayinya. Disamping itu Yeh Nyom juga berguna untuk melicinkan jalannya bayi keluar dari
vagina seorang ibu. Jadi begitu besar jasa Yeh
Nyom terhadap bayi, baik semasih dalam kandungan, maupun saat kelahirannya
ke Dunia.
2.
Getih
(darah)
Didalam
rahim seorang ibu, ada ruangan-ruangan berisi darah yang berasal dari si
ibu.Ruangan-ruangan itu kemudian disebut intervillair.
Di tengah-tengahintervillair ini
terdapat jonjot-jonjot chorion, yang
tumbuh terus menerus dan bercabang-cabang, seakan-akan sebuah pohon. Sementara
itu, pada tiap-tiap pohon dan cabang, tumbuhlah pembuluh darah, yaitu pembuluh
darah vena dan arteri yang dapat
mengalirkan darah janin. Darah vena berguna untuk mengangkat zat makanan ke
dalam tubuh janin (bayi), dan darah arteri
adalah untuk mengeluarkan ampas pertukaran zat dari tubuh janin (bayi).
Kedua macam darah itu hanya terpisah oleh dinding villus (jonjot-jonjot), dan melalui dinding inilah terjadi
pertukaran zat-zat makanan dari darah si ibu ke darah janin (bayi).
Ruangan
Itervillair itu berada pada placenta.
Dengan demikian, di dalam placenta itu sendiri terdapat beberapa macam
peredaran darah, yaitu melalui pohon dan cabang dari jonjot-jonjot chorion tadi. Darah arteri dari dinding uterus (rahim),
amat banyak melalui deciduas basalis (lapisan
pembungkus telur). Dengan demikian, melalui arteriitu
mengalir darah si ibu, ke dalam ruangan intervellair
yang luas, pada bagian pinggir dari sekeliling placenta. Dan ruangan vena ini disebut“sinus circularis”.Oleh karena banyaknya terdapat jonjot-jonjot horion, maka
pembuluh-pembuluh darah dalam jonjot-jonjot
itu, berkumpul pada bagian placenta
di bawah lapisan amnion. Pembuluh-pembuluh
venaakhirnya meenjadi satu vena yang besar (vena umbilicalis). Dan pembuluh-pembuluh arteriberkumpul menjadi dua pembuluh, yaitu 2 arteri umbilicalis. Ketiga pembuluh darah ini (1 vena umbilicalis dan 2 arteri umbilicalis) akhirnya berpisah
dengan placenta dan menyatu dengan
tali pusar.
Jadi,
begitu besar jasa getih terhadap
kelangsungan hidup janin di dalam kandungan ibunya. Hal ini dapat dilihat
dengan adanya pembuluh-pembuluh darah, seperti vena umbilicalis yang mengalirkan darah dari placentake tubuh janin, melalui tali pusat (pusar) dengan membawa
zat-zat makanan. Dan 2 pembuluh arteri
umbilicalis berfungsi mengalirkan darah dari janin kejurusan placenta, dan di dalam darah ini
terdapat ampas-ampas yang akan dibuang oleh janin ke dalam darah si ibu. Tanpa
darah (getih) manusia takkan bisa
hidup.
3.
Ari-ari
(uri/placenta)
Ari-ari (uri/placenta) ini tidak kalah pentingnya dari saudara-saudaranya yang
lain. Sebagaimana diuraikan I K. Kanta, bahwajanin itu hidup di dalam zat
hormone dalam placenta (ari-ari). Zat
hormon ini, disamping berfungsi schokbeaker, sehingga si bayi tetap aman,
selamat bila misalnya si ibu jatuh, juga berfungsi sebagai pengatur suhu
disekeliling janin (bayi) agar tetap konstan. Placenta dapat dianggap sebagai stasiun pembantu, penyalur
sari-sari makanan dan o2 dari si ibu kepada bayinya, dan juga sebagai
penampung sisa-sisa makan serta CO2 dari bayi untuk diserahkan
kepada darah si ibu. Dalam hal ini tali pusat (pusar) adalah sebagai jembatan
penghubung. Proses inilah yang menyebabkan bayi bias tumbuh dan berkembang,
sehingga akhirnya menjadi sempurna bentuk tubuhnya serta siap untuk lahir.
Kira-kira
akhir bulan keempat, maka sejak itu terbentuklah uri atau placenta(ari-ari)
yang tetap. Mula-mula bentuknya tentu kecil, akan tetapi seiring dengan
tumbuhnya janin, uri itupun tumbuh menjadi besar. Jika diperhatikan, nyatalah
bahwa uri (ari-ari) itu sebetulnya
terdiri dari 2 macam jaringan, yaitu jaringan yang berasal dari telur (janin),
yakni jonjot-jonjot dan chorion frondosum, dan jaringan yang
berasal dari si ibu, yaitu deci dua
basalis. Kedua jaringan itu tumbuh menjadi satu, tak dapat di
pisah-pisahkan, sehingga merupakan suatu benda yang tebal dan bundar bentuknya.
Inilah yang kemudian dinamakan uri. Nama
lainnya adalah placenta, dan di Bali
disebut ari-ari.
Demikian
ari-ari itu terbentuk dan berkembang
di dalam rahim ibu, bersama-sama tumbuh mengikuti pertumbuhan janin itusendiri.
Disamping kegunaan yang telah di uraikan tadi, ari-ari juga berguna sebagai alat pertahanan. Misal, si ibu
menderita suatu penyakit, maka kuman-kuman penyakit di dalam darah si ibu tadi,
tidak mudah masuk kedalam darah anak (bayi). Kecuali untuk penyakittertentu,
umpamanya syphilis, maka ari-ari pun tidak berdaya. Jadi, kalau
orang tuanya syphilis, anaknya pasti syphilis.
4.
Banah/Lamas
(lemak pasa kulit/ cermix caseosa)
Pada
akhir bulan ke lima, sejak terjadinya suatu pembuahan atau penghamilan, maka di
bawah kulit janin, tumbuhlah jaringan lemak (gemuk), sedangkan kulit itu
sendiri, pada bagian atasnya menjadi mati, dan bercampur dengan air tuban (yeh nyom), menjadi semacam gemuk yang
melekat pada badan janin. Dengan adanya jaringan lemak di bawah kulit, maka
janin dapat tumbuh dengan cepat, termasuk pertumbuhan tulang-tulang dan
otot-ototnya. Melihat ajaran kejawen, maka posisi banah/lamas ini diganti oleh tali pusar (puser). Dalam pandangan
jawa : pusar atau wudel. Bahasa Balinya pungsed. Menurut bahasa jawa kuno,
istilah untuk pusar adalah nabi. Sedangkan
pusar sendiri sebenarnya hanya bekas menempelnya tali pusar pada perut, ya tali
pusarlah yang menghubungkan antara perut bayi dalam rahim dengan ari-ari. Ia sebagai alat untuk
menyalurkan makanan dari ibu ke bayi dalam kandungan. Dengan tali pusar itu
bayi mendapatkan pasokan makanan dari ibunya.
Jadi,
bisa dimengerti kenapa kemudian yeh nyom,
getih, ari-ari, dan lamas disebut
saudara empat si bayi. Istilah jawanya, kakang
kwah, adi ari-ari, getih dan puser. Karena
amatlah besar jasanya dalam rangka menjaga dan memelihara ke selamatan serta
pertumbuhan janin. Dalam lontar Madu Kama ada di sebutkan perilaku seorang ibu
yang baru nyidam, dengan adanya manik di dalam kandungan yang makan
sari-sari makanan. Manik ini adalah hasil persenggamaan bapak-ibu, yang
bersemayam di dalam rahim. Manik itu
membentuk huruf wong (Ong), bagaikan kanu, maka keluarlah “Catur Kanu”. Catur artinya empat, Kanu artinya saudara. Jadi Catur
Kanu artinya saudara empat. Nama-nama saudara ini antara lain : Abra,
Kered, Ugyan dan Lemana.
Sedangkan
menurut buku Upacaran Manusa Yajna, nama-nama tersebut sedikit berbeda, akan
tetapi pada dasarnya sama saja, yaitu : Babu Abra, Babu Kakere, Babu Sugian dan
Babu Lembana. Selanjutnya, setelah janin itu berumur 20 hari, nama Catur Kanu itu berubah yaitu : Anta,
Preta, Kala dan Dengen. Yang bernama Anta
adalah ari-ari, yang bernama Preta adalah banah/lamas, yang bernama Dengen
adalah yeh nyom (air ketuban).
Sedangkan bayi itu sendiri bernama I Pung. Setelah bayi itu lahir. Maka
nama-nama itu berubah lagi, yaitu : I Makair, I Mokair, I Jelair/Salahir dan
Salabir, itu diberikan pada saat kepus
pungsed (lepasnya tali pusat si bayi). Sedangkan nama si bayi sendiri ialah
I Tutur Menget.
Setelah
anak itu bisa memanggil bapa dan ibu, bisa berjalan, mulai saat ini mereka
melupakan persaudaraan dan saling berpisah. Mereka pergi menuju tempat
masing-masing. I Salahir pergi ke timur, I Jelair pergi ke selatan, I Makair
pergi ke barat dan I Mokair pergi ke utara. Setelah berada di tempatnya
masing-masing mereka kemudian mendapat anugrah bhetara, sehingga menjadi sakti
dan namanya pun berganti. Yang di timur bernama I Anggapati, yang di selatan
bernama I Mrajapati, yang di barat bernama I Banaspati, dan yang di utara
bernama I Banaspati Raja.
Sesudah
itu Ida Bhatara bersabda, “wahai kamu sekalian pulanglah kamu ke dalam diri
saudaramu I Legaprana. I Anggapati masuk lewat mata, bertempat di pepusuh
(jantung). I Mrajapati masuk lewat telinga, bertempat di hati, I Banaspati
kembali lewat hidung, bertempat di limpa. I Banaspati raja kembali lewat mulut
bertempt di empedu”. Maka dari itu, seseorang hendaknya tidak melupakan Sang Catur Sanak: “Yan sira lali asanak
ring sanakta, sanakta lali asanak lawan kita, ika kengetaken sai-sai”.
Artinya
: Jika seseorang lupa bersaudara kepada saudara empatnya (Sang Catur Sanak), saudara-saudaranya itu lupa pula bersaudara
kepada dia, itu hendaknya di ingat terus menerus. Pada hakekatnya, Sang Catur Sanak itu tidak lain adalah
kekuatan-kekuatan gaib panca mahabhuta, sebagai
bahan dasar pembentukan tubuh manusia. Seperti kekuatan gaib angin, kekuatan
gaib api, kekuatan gaib tanah, kekuatan gaib air, dan kekuatan gaib angkasa.
Bila itu tidak di pahami, kita pun tidak akan mendapatkan kegaibannya.
k. Menanti kelahiran
Setelah umur kandungan
mencapai 9-10 bulan, maka sudah saatnya bayi lahir ke Dunia. Kelahiran ini bisa
berjalan dengan baik, bila mendapat pertolongan dari Sang Catur Sanak. Seperti yeh
nyom sebagai pembuka jalan, getih dan
lamas/puser, yang memapah dari kiri
dan kanan, serta ari-ari yang
mengantar dengan sedikit dorongan dari belakang. Bila tidak begitu, maka
seorang bayi akan sulit dilahirkan. Terkecuali lewat operasi sesar. Tapi, itu
bukan tujuan ajaran Kanda Empat Rare. Ajaran
ini menginginkan seorang bayi bisa lahir normal. Selain itu, menurut kitab
Primbon Betaljamur Adammakna, kelahiran seorang bayi bisa diperkirakan
berdasarkan hari nyakitnya. Pada saat
perut si ibu mulai teras sakit, seperti mau ke WC, seolah-olah mau buang air
besar. Sebagaimana cirri-ciri orang mau melahirkan maka bisa diprediksi
berdasarkan tabel berikut ini :
l. Perhitungan bayi lahir
Minggu = kemungkinan
lahir jam : 6,7,11,1 atau jam 5. Senin = kemungkinan lahir jam : 8,10,1,3 atau
jam 5. Selasa = kemungkinan lahir jam : 7,10,12,2 atau jam 5. Rabu =
kemungkinan lahir jam : 7,9,11,2 atau jam 4. Kamis = kemungkinan lahir jam :
8,11,1,3 atau jam 4. Jum’at = kemungkinan lahir jam : 8,10,12,3 atau jam 4.
Sabtu = kemungkinan lahir jam : 7,9,12,2 atau jam 2.
Perhitungan ini berlaku
untuk hitungan waktu pagi, siang, sore dan malam. Artinya kalau tidak jam 1
pagi, berarti jam 1 siang. Kalau tidak jam 8 pagi berarti jam 8 malam, segitu
seterusnya. Dihitung mulai jam sakit perutnya si ibu hamil. Ingat, perhitungan
ini berlaku untuk situasi normal, artinya kondisi bayi dalam perut tidak
bermasalah, baik menyangkut posisi bayi maupun kesehatannya. Baik-baik saja.
Normal. Perhitungan itupun tidak ketat, tidak saklek, dia punya batasan
toleransi yang benar. Misalnya, menurut perhitungan anak itu lahir jam 1 siang,
maka jam 1 siang itu berlaku mulai 5 menit setelah jam 12, dan berakhir 5 menit
sebelu jam 2 siang. Begitu juga untuk jam-jam yang lainnya.
m. Jata karma
Jatakarma disebut juga tutug sasihan antara umur kandungan 9
sampai 10 bulan, Sang Kamareka dengan
kesaktian Dewa Ciwa, akan lahir melalui Bhagamandala
rahasia Sang Kamareka. Istilah jawanya disebut margahina (jalan yang hina/vagina). Dan saat ini, bayi tersebut
bernama Sang Hyang Kawaspadan. Waktu
sang bayi lahir diikuti atau diprakarsai oleh nyamane catur (saudara empatnya) yang terdiri dari : yeh nyom, getih, ari-ari, lamas/puser. Pada
saat kelahiran bayi ini, dibuatkan suatu upacara kecil seperti : banten pemagpag rare dan dapetan.
Hal lain yang perlu di
perhatikan bagi suami atau bapak si bayi adalah : membersihkan semua kotoran
yang diakibatkan oleh persalinan tersebut. Seperti darah-darah yang melekat
pada kain, yang di pakai untuk melahirkan. Sebaiknya di cuci oleh suami atau
bapak si bayi. Dalam hal ini termasuk juga ari-arinya.
Dan pada saat melakukan itu, tidak boleh ada perasaan jijik di dalam hati.
Lakukan dengan penuh kasih dan sukacita. Walaupun pada kenyataannya, ari-ari itu sudah dibersihkan oleh
dokter atau bidan yang membantu persalinan itu. Tapi sampai dirumah, sebelum di
tanam, sebaiknya dilakukan pembersihan ulang. Ini untuk menunjukkan rasa kasih
dan suka cita anda, kepada anak dan saudaranya itu.
m. Menanam ari-ari
Ari-ari yang sudah dibersihkan di masukkan ke dalam kelapa yang
sudah dibelah dua. Sekarang peranan kelapa ini sudah diganti oleh payuk tanah, yang biasanya langsung anda
dapatkan pada dokter atau bidan di tempat persalinan itu. Atau boleh juga anda
gunakan keduanya. Artinya, ari-ari yang
sudah di tutup payuk itu, dibungkus
lagi dengan kelapa yang dibelah dua, dan ditulis dengan rerajahan, yang disebelah atasnya dengan : “ongkara”, dan yang
sebelah bawah di rajah dengan tulisan : “Ongkara-Angkara-Ahkara”. Kemudian
diisi duri-duri, isin caeraken anget-anget, wangi-wangian dan sedah selasih.
Semua itu kemudian di bungkus dengan kain kasa (kain putih), lalu di tanam
dihalaman depan rumah di samping pintu, bila laki-laki di samping kanan, bila
perempuan disamping kiri. Ingat pengertian samping kanan-kiri ini dilihat dari
dalam rumah.
Sebelum ditanam ucapkan
mantra ini terlebih dahulu, mantra : “Om ibu pertiwi rumahga bayu, rumaga
amwerta sanjiwani, amertani ikang sarwa tunuwuh, si moga-moga dirgahayusa.
Pomo-pomo-pomo”. Setelah itu baru ditimbun (urug) dengan tanah. Diatas timbunan
tanah di taruh batu pipih, dan ditancapkan pohon pandan wong. Di atas batu
tersebut, disajikan nasi kepelan dengan alas don dadap, sedikit lauk-pauk, garam dan arang, lalu disiram air.
Jangan lupa, tancapkan juga kelangsah dan
sanggah cucuk (hiasi dengan bunga
merah), serta baleman dan lampu. Selama 42 hari, tiap malam lampu dinyalakan.
Terhadap bayi dan Sang Catur Sanak buatkan banten dapetan. Ari-ari itu diumpamakan layon (panca mahabhuta). Sanggah Cucuk adalah linggih Sang Hyang
Bhuta-Bhuti/ Bhuta Pati. Sanggah itu setiap hari dibanteni. Canang sari munggah
di sanggah, di bawahnya nasi empat kepel, warna putih, merah, kuning, dan
hitam, atau segehan mancawarna. Dan juga banten saiban. Maksud dan tujuannya,
mendoakan agar sang bayi kedirgayusan, selamat dan panjang umur.
l. Kepus udel
Kurang lebih berumur 1
minggu, maka sisa tali pusat yang menempel pada bayi akan lepas. Ini disebut kepus udel-pungsed-puser. Lalu di
buatkan upacara kekambuhan, dan jugapelangkiran tempat Ida Hyang Kumara.
Digantungkan di atas tempat tidur si rare
atau bayi. Sisa tali pusatnya di simpan dalam tipat kukur, diisi
anget-anget di gantungkan dibagian teben,
atau kaki tempat tidur rare atau
bayi dengan disangsang kain, gelang, cincin, mirah, kembang emas. Dibuatkan
banten canang sari.
Sumber lain
menyebutkan, upacara kepus udel/puser
sering juga disebut dengan “mepenelahan” atau
upacara penelahan. Dari akar kata telah yang
berarti habis. Seperti telah disebut sebelumnya, bahwa bayi dalam kandungan di
jaga oleh empat unsure, yang di sebut Catur
Sanak seperti, yeh nyom, ari-ari,
getih, lamad/puser/pungsed. Tiga saudaranya yeh nyom, ari-ari dan getih, sudah
lepas duluan pada saat bayi dilahirkan. Dan hanya puser/udel yang masih menempel pada bayi. Maka dengan lepasnya sisa tali
pusat/pusar/udel dari si bayi,
berarti habislah bagian-bagian dari Sang
Catur Sanak yang melekat pada bayi. Dari sinilah timbul istilah “mapenelahan” yang berakar dari kata “telah” yang berarti habis.
Upacara “kepus puser”
dilaksanakan pada dasarnya adalah untuk membersihkan jiwa dan raga si bayi.
Dengan lepasnya tali pusar secara jasmaniah si bayi sudah dianggap bersih, dan
secara rohaniah si bayi sudah bebas dari pengaruh Sang Catur Sanak. Jadi upacara ini berfungsi untuk membersihkan.
Mengenai sisa tali pusatnya itu, menurut saya berdasarkan pengalaman, lebih
baik disimpan di satu tempat khusus, yang banyak di jual dipasaran. Diisi
anget-anget, serbuk kemenyan, dan dimantrai mantra pengraksa jiwa. Sperti yang
termuat di buku kanda empat lainnya. Setelah itu di pakai kalung di bayi atau rare. Cara ini, lebih menjamin keamanan
dan keselamatan si bayi atau rare. Karena
bayi yang belum berumur 42 hari, akan banyak sekali mendapat godaan. Baik oleh
para Dewa, para lelembut, para saudara maupun manusia sakti lainnya.
m. Godaan bayi
Begitu bayi lahir, maka
umur satu minggu pertama akan datang para Dewa, yang diutus Sang Hyang Siwa
untuk menggoda bayi. Malam pertama yang datang adalah Batara Kala, berwujud Asu Ajag. Datangnya pada saat matahari
terbenam, sandy kala. Datang
menjilat-jilati si bayi, bila bayi terkejut maka dia akan menangis enggak
karuan alias kakab-kakab. Malam
kedua, datang Bhatara Brahma, berwujud sapi, menggoda dan menjilat-jilati bayi
pada saat semua orang tidur. Bila bayi terkejut maka dia akan menangis enggak
karuan alias kakab-kakab.
Malam ketiga, datang
Bhatara Wisnu, berwujud celeng menggoda bayi. Datangnya pada saat tengah malam,
lalu ia menjilati si bayi. Bila si bayi terkejut dan takut dia akan menangis awur-awuran-kakab-kakab. Malam keempat -petang bengi- datang Bhetare Guru
berwujud burung perkutut. Selanjutnya secara berturut-turut datang Bhatara
Mahadewa berwujud kambing. Bhatara Yama berwujud Sanggira. Bhatara Kuwera
berupa tikur. Bhatara Pritanjala berupa burung emprit. Bhatara Langsur berupa
menjangan. Bhatara Ludra berupa sapi Handini. Bhatara Surya berupa ular.
Bhatara Candra berupa kucing.
Tapi bila si bayi tidak
takut, tidak terkejut, atau malah senang di goda dan dijilati oleh
binatang-binatang itu tadi, maka dia akan tersenyum-senyum, tertawa-tawa, atau
berbicara sendirian. Setelah kepus udel, kepus
puser atau seminggu setelah kelahirannya si bayi, akan lebih besar lagi
godaannya.. Karena bukan para Dewa lagi yang datang, melainkan para lelembut,
roh halus, wong samar dan gumatap-gumitip. Tapi, jangan takut
karena yang datang itu, tidak lain adalah perwujudan dari Sang Catur Sanak si bayi sendiri. Seperti : 1. Kutilapas Kethek
(lutung) perwujudan dari bungkus/lamas. 2. Celeng Demalung perwujudan dari yeh nyom/ketuban.3. Asu Ajeg perwujudan ari-ari.4.Kalasrenggi (banteng)
perwujudan dari getih/darah. 5.
Kalamurti (kebo) perwujudan dari puser/udel. 6. Kalaranding (menjangan)
perwujudan dari ilu/idu/air liur. 7.
Kalawelakas (kidang) perwujudan dari kunir/kunyit.
8. Tikus Jinada perwujudan dari ceplekaning
ari-ari. 9. Taliwangke perwujudan dari ususing
ari-ari.
Begitulah adanya
seorang bayi atau rare, mulai
kelahirannya sampai tutug kambuhan, bulan
pitung dina atau 42 hari, akan selalu di goda oleh para Dewa serta
saudara-saudaranya. Hal ini hendaknya tidak membuat bingung dan takut.
n. Nama karma
Bila si bayi berumur 12
hari, roras lemeng, maka di buatkan
upacara yang disebut “ngelepas hawon”. Fungsi
upacara ini juga untuk melukat, membersihkan
si bayi dari kotoran baik sekala maupun
niskala. Upakaranya pun sangat
sederhana, yaitu membuatkan si bayi pengelukatan,
membuat banten kumara, banten ari-ari (disanggahnya), dan juga membuat
benten tataban yang di tujukan untuk sang numadi.
Banten kumara ditaruh di pelangkiran. Banten untuk sang numadi, yang ditatab di bayi, ditaruh di
tempat tidur. Banten nunas tirta penglukatan di dapur/paon, ada pula yang nunas tirta di sumur/semer. Banten nunas tirta penglukatan ini juga dihaturkan di
Bhatara Hyang Guru.
Upakara/banten nunas
tirta ini sangat bervariasi, tergantung desa
kala patra. Bahkan ada yang hanya dengan canang sari saja, dengan gelas
berisi air dan didoakan dengan bahasa sendiri. Contoh : nunas tirta di paon,
“Ratu Ida Bethare Brahma, titiyang nunas tirta panglukakatan mangda rare
titiyang rahajeng, selamat lan dirgayusa”. Dan banten itu, boleh dihaturkan
oleh siapa saja yang dituakan dirumah itu, kecuali ibu-bapak yang masih
dianggap leteh. Kemudian bayi dilukat
dengan tirta tersebut.
Selain itu upacara roras lemeng ini juga disebut “nama
karma”. Karena pada saat ini si bayi dianggap sudah melewati masa-masa kritis.
Berarti jivatman sudah teguh menyatu
dengan badan, maka si bayi lalu di beri nama. Dan pada saat seperti ini,
biasanya keluarga si bayi akan mencari balian,
nunas baos, bertanya tentang hal-hal yang berkaitan dengan si bayi. Siapa,
apa dan bagaimana si bayi itu. Biasanya ditanyakan, siapakah sang numadi yang bereinkarnasi itu. Pekak,
kumpi, dadong dan sebagainya. Apakah masih punya tunggakan utang pada kehidupan
sebelumnya? Atau apakah permintaannya? Dan pada kelahirannya yang sekarang ini,
apakah sudah membawa nama? Memberi nama seorang anak tidak boleh sembarangan.
Nama adalah doa keselamatan bagi sang anak, memanggil anak berarti mendoakan
keselamatannya. Maka dari itu, nama selain indah juga harus bermakna.
o. Upacara macolongan
Pada saat umur bayi
satu bulan tujuh hari (42 hari) maka akan dibuatkan suatu upacara yang disebut
“upacara macolongan”. Seperti telah
diuraikan, bahwa bayi dalam pertumbuhannya di dalam kandungan, sangat dibantu
oleh empat unsur berdasarkan fungsinya masing-masing. Keempat unsur itu
kemudian disebut“Catur Sanak”berarti
empat saudara, meliputi yeh nyom, getih,
lamad/puser dan ari-ari. Dalam
ajaran Kanda Empat Rare nama saudara
empat ini, akan berganti-ganti sesuai dengan pertumbuhan si bayi, sehingga akan
terdapat banyak nama untuk mereka. Disini, di dalam upacara mecolongan ini Sang Catur Sanak di panggil dengan
sebutan “nyama bajang”.
Yang dimaksud “nyama bajang” adalah semua
kekuatan-kekuatan yang membantu Sang Catur Sanak di dalam kandungan. Menurut
penjelasan beberapa sulinggih “nyama
bajang” ada sebanyak 108, dan salah satu diantaranya bernama “bajang colong”. Nama Bajang Colong inilah yang mungkin
kemudian dijadikan nama upacara tersebut, sehingga disebut “upacara macolongan”.
Setelah bayi berumur
42 hari (satu bulan tujuh hari sejak kelahirannya), maka dianggap sudah
waktunya untuk mengembalikan si “nyama
bajang” itu ke tempat asalnya, karena dianggap tidak mempunyai tugas lagi,
bahkan kadang-kadang malah sering mengganggu si bayi. Dan sebagai pengganti nyama bajang tersebut adalah dua ekor
ayam, satu jantan dan satu betina. Ayam ini pada umumnya disebut “pitik”. Dan pitik ini biasanya tidak
boleh disembelih, karena dianggap sebagai pengasuh si bayi.
p. Banten pecolongan
Banten pecolongan ini
pada dasarnya dipersembahkan kepada “nyama
bajang”. Nama bajang adalah kekuatan yang dianggap membantu Sang Catur
Sanak dalam mewujudkan pertumbuhan si bayi di dalam kandungan. Atas semua
jasanya itu, agar tidak ngerubeda (merusak),
maka perlu diberikan labaan/lelabaan berupa
banten pecolongan. Sedangkan sebagai symbol bentuk perwujudan Nyama Bajang
adalah : 1. Sebuah buki (periuk tanah
yang bagian bawahnya bolong) diberikan kalung tapis. Disebut sebagai bajang
telebingkah. 2. Sebuah pusuh biu (jantung
pisang) diisi pis bolong (uang kepeng) sebanyak 3 kepeng. Disebut Bajang Pusuh. Papah Nyuh (pelepah
kelapa) yang berlubang diisi secarik kain (putih – kuning) dan ditandai tapak
dara dengan kapur sirih. Disebut Bajang
Papah. 4. Dilengkapi sebuah genjer yang
dibuat dari pelepah jaka, dihiasi bunga berwarna merah/bunga kembang sepatu (Pucuk Bang) disebut Bajang Raregek. 5. “Pitik” yaitu
dua anak ayam laki-perempuan yang disebut dengan Bajang Colong.
Dan masih banyak
bajang-bajang yang lainnya. Tujuan upacara ini adalah untuk mengucapkan terima
kasih kepada bajang-bajang tersebut, karena telah membantu merawat si bayi
selama di dalam kandungan, sampai kemudian lahir dan berumur 42 hari. Dan
sekarang tugas mereka telah selesai, maka setelah diberikan lelabaan (upacara pecolongan), mereka
dipersilahkan kembali ke asal masing-masing.
q. Melukat di Brahma
Upacara macolongan ini
biasanya tidak berdiri sendiri, dia merupakan rangkaian upacara yang bertujuan
untuk membersihkan si bayi dan ibunya dan juga bapaknya, dari segala leteh, sebel Kendal/cuntaka papa petaka yang
diakibatkan oleh adanya kelahiran si bayi. Menurut Kanda Empat Rare setelah bayi berumur 42 hari, maka disebut tutug Akambuh. Maka sudah saatnya untuk
mengadakan pembersihan lahir dan batin bagi si ibu dan anaknya, juga bapaknya.
Agar terbebas dari sebel-kendel, cuntaka
papa-petaka. Prosesi ini pada umumnya dilakukan di dapur, dengan istilah “melukat di Brahma”. Kalau tidak di dapur
maka boleh di halaman rumah menghadap ke selatan. Upakaranya, tentu menurut desa kala-patra yang ada.
Diawali dari upacara mebyakala, prayascita, natab, mebakti,
metirta, yang mengandung makna pembersihan secara sekala-niskala, dan mohon keselamatan agar si bayi dan orang tuanya
terhindar dari berbagai gangguan sekala-niskala.
Di sisi lain, sebagai ungkapan rasa syukur kepada sang numadi, khususnya Ida Sang Hyang Widhi Wasa, agar senantiasa
memberikan keselamatan kepada umatnya. Dan sebagai symbol para “nyama bajang” ini tidak lagi menunggui
si bayi, maka sehabis upacara macolongan ini, sanggah cucuk, kelangsah dan segala atribut yang ada di tempat
menanam ari-ari boleh dibongkar, boleh dibersihkan.
r. Upacara tiga bulanan
Setelah bayi berumur
105 hari (kurang lebih 3 bulan) maka dibuatkanlah upacara “nelu bulanin”. Si bayi dan bapak ibunya menghadap para Dewa di
Hyang Kemulan atau merajan. Memohon kepada Betara Siwa Adidaya, agar si bayi
bebas dari segala malapetaka. Secara sederhana upakara tiga bulanan ini
biasanya berupa : banten penglepas
awon/pebyakaonan, banten penyambutan, prayascita, peras seda, pejati,
jejanganan, banten kumara, tataban dan banten
tebasan pengambyean.
1. Tata cara pelaksanaan
Pertama,
pandita/pinandita nuhur Ida Betara.
Kedua, memuja memohon tirta penglukatan. Ketiga, pandita/pinandita memerciki
tirta pada sesajen dan juga si bayi. Lalu dilanjutkan dengan natab penyambutan,
penyeneng dan ditutup dengan nunas tirta betara. Mantra-mantranya : 1. Mantra
penglepas awon = “pukulun bhatara brahma, bhatara wisnu, bhatara iswara,
manusanira si angelepas awon ipun, bhatara tiga pakulun anyuda leteh ipun, teka
sudha, teka sudha, teka sudha, sudha lepas malanipun”. Artinya = Om hyang Widhi
wasa dalam manifestasi sebagai Bhatara Brahma, wisnu, iswara. Hamba-Mu si,
memohon kepada Bhatara tiga agar membersihkan kekotorannya, sehingga menjadi
suci dan bebas dari kesengsaraan atau penderitaan.
2. Mantra Penyambutan =
“pukulun kaki sambut, nini sambut, tanedahan sambut agung, tanedahan sambut
alit, yen lunge mangetan, mangidul, mangulon, mangalor, mwang maring tengah
atmane si jabang bayi, tinututan dening pewatek dewata, pinayungan kala cakra.
Pinageran wesi, sambut ulihakena atma bayu premanane si jabang bayi, amepeki
raga sariranipun”. Artinya : Om Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai kaki
sambut, nini sambut, tanpa kecuali sambut besar dan kecil, perkenankanlah hamba
memohon mengenai roh si bayi, barangkali ia pergi ke timur, ke selatan, ke
barat, ke utara atau ke tengah agar selalu mendapat perlindungan dari para
Dewata, dipayungi oleh Kala Cakra dan berpagarkan besi. Selanjutnya,
kembalikanlah kesempurnaan roh bayi ke badannya.
3. Mantra natab =
“Pukulun kaki prajapati, nini prajapati, kaki citragotra, nini citragotri,
ingsun aneda sih nugraha ring kita sambuta, ulapi atmane si. Menawi wenten ang
ati-ati ring pinggiring samudra, ring tengahing udadi, kategak ring sarwa baksa,
kakurung ring sumur agung, ndawag ulibakena ring awaknia si. Mogi-mogi dipun
tetap medal kukuh, pageh, urip waras lan dirgayusa. Om ayu werdhi, yasa werdhi,
werdhi pradnyan suka sriyem, dharma sentana wredisea. Santute sapta wredhayah”.
Artinya = Om Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai Sang Catur Sanak, seperti kaki prajapati, nini prajapati, kaki
citragotra, nini citragotri (nama lain dari yeh
nyom, ari-ari, getih, lamad/puser), hamba mohon kepada-Mu agar si bayi
menemukan kehidupan yang sejahtera lahir batin, diberikan panjang umur dan
dijauhkan dari penyakit dan mara bahaya.
s. Upacara satu oton
Ketika bayi menginjak
usia 210 hari atau enam bulan pawukon, maka dibuatkan upacara otonan. Upacara
ini bertujuan untuk menebus kesalahan-kesalahan dan keburukan-keburukan
terdahulu, sehingga dalam kehidupan yang sekarang mendapatkan kehidupan yang
lebih baik. Mulai saat ini bayi boleh memakai perhiasan emas, perak atau ratna
mutu manikan. Kalau anak belum punya nama, maka pada saat ini adalah saat terakhir
untuk member nama. Atau kalau mau mengganti nama anak pada saat ini juga
dilukat dan diberi nama baru, yaitu : yeh
nyom disebut Anggapati, Getih/darah
disebut Mrajapati, Ari-ari disebut
Banaspasi, dan Lamad/puser disebut
Banaspati Raja.
Karena tugas mereka
untuk mengemban rare sudah selesai,
maka Sang Catur Sanak kembali ke kahyangannya masing-masing. Antara lain : 1.
Sang Anggapati pergi ke timur. 2. Sang Mrajapati pergi ke selatan. 3. Sang
Banaspati pergi ke barat. 4. Sang Banaspati raja pergi ke utara. Banten yang
dipergunakan biasanya : peras sedan tumpeng 11, dapetan, pengambyean, canang
daksina, suci, banten permarisuda rare dan Sang
Catur Sanak, Byakawon, prayascita, banten turun ke tanah, tedak siten,
banten kumara, dan pengempug atau banten tumbuh gigi.
Pada saat otonan ini
juga dilakukan acara menggunting rambut si bayi, sebagai simbul menghilangkan
dasa mala yang ada pada bayi tersebut. Untuk selanjutnya bayi boleh digundul
kuncung, artinya tidak plontos, rambut disisakan sedikit sebagai penutup
ubun-ubunnya. Pada saat satu oton ini si bayi juga diperkenankan untuk
menginjak tanah, agar mendapat berkah dari Sang Hyang Pertiwi. Dengan banten
tuwun tanah atau tedak siten. Oleh
karena itu, mulai saat ini si anak boleh menginjak tanah, dan mulai saat ini si
anak boleh menginjak tanah, dan mulai saat ini juga si anak boleh diberi makan
nasi.
Selanjutnya si bayi
natab banten ngempugin agar segera tumbuh gigi. Lalu kelapa dan telur yang ada
di banten pengempug itu dipecahkan. Kemudian gusi si bayi digosok-gosokkan
dengan air kelapa dan putih telur tersebut. Ini adalah salah satu mantra
ngempugin. Mantra : “Om Sang Hyang Surya, Brahma endi empug seka wetan untune
si. Wesi kari pinaka untune, bumi kari pinaka gusine, arata jajare kaya walandingan
sinigar, sira bhetari sri angelukata untune si. Tan keneng jamuran, tan keneng
subatahan, munggah untune, Om Maha Bhatari Siwa Bumi Maha Sidhi”. Artinya = Om
Sang Hyang Widhi Wasa dalam wujud Sang Hyang Surya, semoga gigi si. Tumbuh
sehat dan kuat. Mohon Bhatari Sri berkenan mensucikan sehingga giginya
terhindar dari penyakit.
Sedangkan untuk upacara
turun tanah, salah satu bait mantranya berbunyi sebagai berikut : “Turun-turun
si jabang bayi, turun maring lemah, katutan mas picis raja brana”. Artinya =
Maka turunlah si anak menginjak tanah, diikuti oleh segala kebutuhan hidupnya,
berupa mas pipis raja brama, semoga hidupnya selamat dan makmur sentosa.
2). Kanda Empat Bhuta
a. Misteri Dunia Siluman
Yang dimaksud dengan
siluman disini adalah, semua makhluk halus yang hidup dan berada di alam maya,
di dunia niskala. Baik berupa
bebatuan, tumbuh-tumbuhan, binatang, bhuta
kala dan wong samar. Semuanya
siluman. Siluman apapun wujudnya, bisa berubah menjadi wujud-wujud lainnya.
Umpamanya siluman manusia bisa berubah wujud menjadi binatang-binatang, atau
sebaliknya. Siluman binatang bisa berubah wujud menjadi manusia. Namanya juga
siluman. Tapi perubahan itu bersifat sementara, paling lama satu atau dua jam,
dia akan kembali ke wujud aslinya. Memang begitulah sifat siluman.
Siluman juga memiliki
komunitas tertentu, seperti manusia. Mereka memang diciptakan sebagai makhluk
halus. Jadi bukan arwah gentayangan atau setan yang sedang berpura-pura.
Walaupun arwah gentayangan, bisa dikategorikan sebagai siluman. Kalau dia
mengganggu manusia. Tapi, dia bukanlah siluman ciptaan. Ia adalah siluman
migrasi, dari roh manusia yang mati secara tidak wajar. Atau manusia yang
semasa hidupnya memuja siluman, sehingga setelah mati roh-nya menjadi siluman,
atau menjadi budak siluman.
Ada bermacam jenis
siluman. Diantaranya siluman air, siluman pohon, siluman gunung, siluman batu,
siluman binatang, atau siluman gelandangan. Menurut Ki Agung Pranoto. Suku Kubu
di pedalaman Muara Bungo Jambi, dikenal sebagai suku yang sangat menghargai
komunitas siluman dalam lingku kesehariannya. Mereka memelihara bermacam-macam
jimat, dari kulit macan sampai helai bulu burung, yang diawetkan dalam minyak
tertentu. Juga mebunuh binatang, seperti macan, beruang atau babi hutan dengan
pertolongan roh-roh siluman dan bambu runcing panjang.
Konon, Siluman Gunung
Merapi di Yogyakarta sering sekali beranjangsana, (medharma shanty), ke laut
selatan. Menyusuri sungai boyong di kaki merapi yang melintas di kabupaten
Sleman, Sungai Code yang membelah kota Yogyakarta, lalu menyusuri sungai opak
di Kabupaten Bantul. Ketiganya masuk wilayah daerah Istimewa Yogyakarta.
Setelah itu, mereka cerai-berai di Parangtritis. Nyai Gadhung Melati, penguasa
tanah pertanian Merapi akan duduk di atas tandu, di tempat VIP, diiringi oleh
pasukan silumannya, yang berbaris bersap-sap di belakang, sesuai pangkat dan
kedudukannya. Mereka sedang menghadap Kanjeng Ratu Kidul, Ratu Siluman Laut
Selatan.
Sering terdengar alunan
gendhing Jawa dari perangkat gamelan
yang tidak lengkap jumlahnya. Jika pasukan siluman itu sedang menyusuri ketiga
sungai tersebut, menuju Parangtritis. Begitu pula sebaliknya, jika ada utusan
dari Laut Selatan menemui Eyang Merapi, penguasa seluruh wilayah Gunung Merapi.
Secara supranatural, perjalanan mereka terlihat seperti barisan api (endihan) memanjang, berkelak-kelok
dinamis sekali. Mereka biasanya, bergerak jam 18.00 WIB atau jam 02.00 pagi.
Bentuknya mirip orang pawai obor, atau barisan kunang-kunang. “Mereka disebut lampor”, demikian ungkap Ki Agung
Pranoto.
Di dalam Agama Hindu,
khususnya di Bali. Kunjung mengunjungi di dunia siluman itu, diterjemahkan
dengan istilah meajar-meajar untuk Bhetara. Makanya, bila di sebuah pura
ada upacara besar : Dewa yadnya ngenteg linggih lan pedudusan agung, demikian
umpamanya salah satu judul upacara tersebut. Maka, sehabis upakara Bhetara di Pura tersebut akan meajar-ajar ke pura A, pura B dan
sebagainya. Sungguh, betapa tipisnya beda antara Bhetara dan siluman. Sma
dengan beda antara bhuta, manusa dan
dewa (bhuta ya, manusa ya, dewa ya) di dalam diri manusia.
b. Perdagangan siluman
Masih menurut Ki Agung
Pranoto, infrastruktur negeri siluman tidak hanya pasukan siluman semata, atau
bangsawan siluman dan upacara ritual para siluman. Mereka juga mengenal dunia
perdagangan. Membuka pasar-pasar kebutuhan sembako dan kebutuhan mereka
sendiri. Setiap pendaki gunung yang pernah naik ke Merapi, pasti tahu persis
posisi pasar bubrah atau disebut juga pasar setan, yang dibangun dan
ditempatkan secara gaib oleh siluman Merapi, di salah satu pos pendakian dari
arah Kinahrejo, Cangkringan Sleman-DIY. Acapkali pendaki disergap halusinasi,
jika sudah menapakkan kaki di pos tersebut. Letaknya, di jalan menuju puncak
Merapi, setelah kendit Merapi. Mimpi buruk dan rasa cemas yang berlebihan, atau
rasa riang yang luar biasa akan dialami oleh mereka yang melewati, atau
beristirahat di pasar setan tersebut.
Terlepas dari sudut
pandang ilmiah bahwa tingkat oksigen memang menipis di daerah-daerah sekitar
puncak gunung, sehingga mengakibatkan halusinasi dan mimpi-mimpi sejenisnya.
Pura-pura Pasar Agung yang ada di dekat pura-pura puncak di Bali, dilator
belakangi oleh adanya pasar-pasar siluman tersebut. Pada suatu hari pernah ada
pemangku bermimpi masuk ke negeri siluman. Di dalam mimpiseperti melihat Pura
Pulaki Singaraja. Di sekitar pura ada banyak perkampungan siluman. Kehidupan di
negeri siluman sama dengan kehidupan di sekala,
dunia nyata. Pasar salah satunya yang ada di dunia nyata, ada pula di
negeri siluman. Dan pasar siluman yang saya lihat posisinya persis di Pura
Pasar Agung Pulaki Singaraja. Hanya saja kondisi pasar tersebut masih bersifat
tradisional.
c. Bergerak secepat kilat
Selanjutnya Ki Agung
Pranoto berkisah. Syahdan, Panembahan Senopati Ing Mentaram, ketika sering
melatihpasukannya di Pantai Parangkusumo, Bantul-Yogyakarta, juga sering
dianggap melibatkan pasukan siluman. Konon berasal dari pasukannya Kanjeng Ratu
Kidul. Kekasih Ratu Pantai Selatan ini, berlatih silat ketika hari menjelang
senja. Dari jauh, batas antara laut dan pantai memang jadi tidak jelas. Percik
air laut dan lembayung senja, mengubah daya pandang orang terhadap benda bergerak,
jadi bayang-bayangan. Sehingga mirip gerakan siluman.
Rotasi jagat siluman
memang bergerak lebih cepat dari rotasi Bumi kita. Pernah ada kejadian, ada
orang yang hilang selama tiga bulan, lalu kemudian muncul dan bercerita, bahwa
dia selama ini hidup didunia siluman (wong
samar). Menurut penuturannya, dia sudah tinggal selama tiga tahun di Dunia
silumang (wong samar), dan sudah
memiliki istri dan anak. Kemunculannya itupun hanya untuk berpamitan kepada
keluarganya, agar tidakbingung mencarinya lagi. Akhirnya, dia kembali
menghilang sampai sekarang.
Tiga tahun berbanding
tiga bulan, berarti berapa cepatnya pergerakan Dunia siluman. Ini baru salah
satu contoh. Siluman memang bergerak cepat seperti bayangan, karena dia
bergerak pada dimensi Dunia yang lain. Dia tidak mengenal dimensi ruang dan
waktu. Berpindah-pindah secepat kilat. Tapi secepat-cepatnya gerak siluman,
masih lebih cepat pikiran manusia.
d. Siluman Raksasa
Bahwa wujud siluman itu
bermacam-macam. Dan selain yang sudah disebutkan itu, siluman juga ada yang
berwujud raksasa (bhuta). Disebut
siluman raksasa. Pengaruh siluman di Dunia manusia, dari waktu ke waktu agaknya
semakin membius jiwa, membuatorang semakin terlena terhadap jati dirinya.
Manusia jadi lupa kepada Sangkan Paraning
Dumadi. Terhadap hakekat kodrati yang diberikan penguasa alam semesta,
seperti cara berpikir dan rasionalitasnya.
Siluman sudah menyeret
manusia kembali ke alam animisme dan dinamisme. Mereka percaya, pohon, sungai,
batu, gunung, laut, permata, tanah pertanian, tanah tegalan, hutan, pasti ada makhluk halus yang menunggu.
Masing-masing benda itu, jenis makhluk halusnya, maka dirasa perlu diciptakan
sedemikian banyak pula symbol keselarasan. Simbol itu biasanya, diwujudkan
dalam bentuk patung, pretima, topeng
serta upakaranya.
Seperti halnya siluman
raksasa, dia pun dibuatkan symbol-simbol dalam wujud Rangda, Rarung, Lenda,
Lendi dan sebagainya. Kemudian dimohonkan pengurip-urip,
kesaktian atau kekuatan gaib di kuburan. Atau tempat-tempat keramat, angker
lainnya. Kegiatan ini biasanya disebut ngerehin.
Dilakukan pada suatu hari tertentu di tengah malam bhuta, atau gelap
–gulita. Dalam kiwah pewayangan, tidak hanya siluman yang mampu berubah wujud
jadi manusia. Tapi manusia juga bisa menjelma jadi siluman raksasa. Buktinya,
Begawan Wisrawa ketika mesuraga mencari
ilmu sejati, melakukan analisis rahasia filsafat Sastra Jendra Hayuningrat,
yang artinya ajaran suci dari Hyang Maha Tinggi, demi keselamatan seluruh umat
manusia, Wisrawa berubah menjadi raksasa. Gara-garanya, ia tergelincir
kecantikan Dewi Sukesi, calon mantunya sendiri. Dan melahirkan anak-anak
raksasa.
e. Warisan zaman primitif
Leluhur kita pernah
hidup dalam suatu kebiasaan primitif. Diantaranya melakukan suatu rangkaian
upacara magis, mempercayai mitos-mitos tentang keperkasaan leluhur terdahulu,
atau kesaktian para pendiri sebuah desa, tempat dimana mereka tinggal kala itu.
Wujud mitologi itu, sekarang masih dijumpai dalam bentuk petilasan keramat atau
pundhen pada sebuah desa tertentu.
Disamping penghormatan kepada arwah leluhur, mereka juga mempercayai adanya
makhluk halus, yang memiliki daya kekuatan sehingga dapat dijadikan tempat
berkeluh-kesah.
Menurut ilmu
pengetahuan, tradisi budaya semacam itu disebut animisme atau budaya animis,
kepercayaan terhadap roh-roh. Animisme berasal dari bahasa latin Anima, artinya
nyawa. Budaya ini mengakui adanya kepribadian tertentu dalam bentuk symbol
kekuatan tertentu. Misal seekor macan yang selama ini dimitoskan sebagai
penguasa hutan belantara, jika sudah mati maka kulit, taring, kuku bahkan
kumisnya, diyakini masih mengandung aura keperkasaan. Karena itu dianggap perlu
disimpan, diawetkan dan dimanterai dan dijadikan simbol keperkasaan bagi
pemiliknya. Simbol ini diyakini memiliki sebentuk kepribadian. Dalam arti
mengandung kekuasaan tertentu bila dipuja dan dirawat sedemikian rupa.
Dipercaya, bakal member tuah sakti bagi pemiliknya.
Fenomena di atas,
sesungguhnya berangkat dari rasa rendah diri manusia itu sendiri terhadap
binatang, yang dalam hal tertentu memang memiliki kelincahan bergerak, daya
tahan fisik dan kekuatan ajaib yang mustahil dilakukan manusia. Ini terlihat
dari tiap pertarungan yang dilakukannya. Contohnya, dalam pandangan awam,
pertarungan antara Gajah dengan Macan adalah bentuk pertarungan yang fantastis
dan sulit disamai. Pada saat binatang itu sudah mati, maka anggota tubuhnya
buru-buru diambil lalu disakralkan.
Demikian pula dengan
makhluk halus yang menguasai tempat tertentu, yang sering dijuluki sebagai
siluman. Dalam prilaku kesehariannya, manusia primitif berusaha melakukan
hubungan dengan daya kekuasaannya tersebut. Mereka menjalin hubungan mistis,
semata-mata demi terciptanya keselarasan dengan makhluk tanpa bentuk itu. Jadi,
siluman betul-betul ada. Dia warisan nenek moyang pada zaman primitif, ketika
semua orang menganut animisme dan dinamisme. Jauh hari sebelum munculnya
pengertian tentang Sang Hyang Widhi Wasa. Sang Hyang Jagat Pratingkah. Gusti
Kang Murbeng Dumadi, Tuhan Yang Maha Esa.
Pada saat kebudayaan
manusia masih sedemikian primitif. Ketika orang memuja pohon agar tidak marah
karena buahnya dipetikin. Ketika orang memuja arwah leluhur, mewariskan harta
pusaka jimat dan tosan aji secara turun-temurun. Ketika zaman masih sedemikian
kleniknya. Sampai-sampai, jika kala itu menular wabah penyakit grubug istilah
zaman sekarang fluburung, maka semua orang tergopoh-gopoh menyogok para siluman
yang dianggap sedang tidak berkenan. Atau marah kepada manusia. Demikian tulis
Ki Ageng Pranoto.
f. Mithologi kanda pat bhuta
Kanda Pat Bhuta adalah ajaran pengiwa.
Karena dia pengiwa, tentu saja
bersifat wingit, tersembunyi, tenget, angker, misterius, aja wera dan rahasia. Itu pula yang
menyebabkan sangat sulit mencari lontar atau buku yang mengulas tentang Kanda
Pat Bhuta ini. Ajaran Kanda Pat Bhuta bisa
populer justru karena ada banyak mitos yang bercerita tentang itu. Dan oleh
para budayawan, mitos-mitos tersebut diwujudkan dalam bentuk pagelaran seni
tari, seperti tari Barong Ket, tari Barong Landung, tari Calonarang dan sebagainya. Dari
mitologi-mitologi itu. Kalau seorang budayawan bisa mewujudkan ajaran Kanda Pat Bhuta, menjadi sebuah drama
tari atau seni tari.
Yang pertama dipakai
acuan adalah babad Rangda. Babad Rangda ini ceritanya nyaris sama dengan
naskah lontar Tanting mas dan Tanting rat, atau Calonarang versi Bali. Dari babad Rangda itulah kemudian muncul nama Kanda Pat Bhuta, yaitu : 1. Anggapati tempatnya di timur. 2.
Mrajapati tempatnya di selatan. 3. Banaspati tempatnya di barat. 4. Banaspati
raja tempatnya di utara. Manurut Gd. Bandesa, keempat bhuta tersebut
dilogikakan menjadi perwujudan sebagai berikut : 1. Anggapati berarti kala,
atau nafsu di badan sendiri. (Raga di musuh maparo, ringati ya tonggwanya tan
madoh ri awak). 2. Mrajapati berarti penguasa kuburan (Setra ganda mayu),
Durga. 3. Banaspati diwujudkan berupa jin, setan, Tonya (Barong landung),
penjaga sungai atau pangkung tempat keramat dan sebagainya. 4. Banaspati raja
diwujudkan Barong ket, merupakan penjaga kayu atau pohon besar dan hutan
belantara.
Sumber lain menyebutkan
ajaran Kanda Pat Bhutamuncul sesudah
riwayat sudamala, yaitu sesudah Dewi
Durga diruwat menjadi Bhetari Uma, dan kembali ke Siwa Loka. Maka tinggalah jasad beliau dengan segala sifat, tabiat,
dan wataknya dahulu di Dunia ini. Oleh Sang Hyang Brahma, jasad itu kemudian
dihidupkan kembali menjadi Catur Sanak, bernama
Kanda Pat Bhuta.
Setelah itu, mereka
kemudian msaing-masing diberikan tempt serta caranya mempertahankan hidup :
Anggapati = Menghuni badan manusia dan makhluk lainnya, sebagai makanannya, dia
boleh memakan, mengganggu manusia, bila keadaannya sedang lemah dan dipenuhi
oleh nafsu-nafsu angkara murka. Mrajapati = Menghuni kuburan dan perempatan
agung. Sebagai makanannya ialah bangkai, mayat yang ditanam melanggar waktu,
hari-hari yang terlarang oleh kala dan kecaping
aksara, padewasan. Banaspati = Menghuni sungai-sungai, batu-batu besar.
Sebagai makanannya, ialah orang yang lewat atau berjalan atau pun tidur pada
waktu-waktu yang terlarang oleh Kala, misalnya tengah hari (kalitepet) atau sadikala.
Banaspati raja = menghuni kayu-kayu besar, misalnya kepuh rangdu, dan
terutama kayu-kayu yang dipandang angker. Sebagai makanannya, dia boleh memakan
orang yang menebang kayu, atau naik pohon, padawaktu yang terlarang oleh kala
atau kecaping aksara, padewasan.
Keempatnya ini
dinamakan Catur Sanak menurut kitab Kanda Pat, dan diberi nama Kanda Pat Bhuta. Semua siluman, jin,
setan, memedi, tonya, gumatat-gumitit, dan yang lainnya, dibawah kekuasaannya.
g. Mitologi barong ket.
Alkisah, Sang Hyang
Siwa sedang menderita gering yang
parah. Bhetari uma istrinya, diminta untuk mencari obat-obatan ke mayapada.
Maka turunlah beliau ke dunia ini. Tepat pada tengah hari (kalitepet),
sampailah Bhetari uma di Setra Gandamayu (kuburan),
pada sebuah pohon randu beliau berhenti. Dan, karena ada sedikit kesalahan
teknis, membuat pendaratan beliau menjadi tidak mulus, sehingga menimbulkan
suara gaduh dan berisik.
Kebetulan pada saat
itu, adalah merupakan waktu yang terlarang bagi Banaspati Raja, yang kala itu sedang tidur mendengkur di bawah
pohon rangdu. Mendengar suara rebut-ribut dan pada waktu yang salah lagi, waktu
terlarang (nyalah masa), dia bangun dan merasa wajib untuk nadah, atau memangsa orang yang dihadapannya. Lalu dengan garang
menyerang Bhetari Uma. Pertempuran pun terjadi dengan sengitnya. Merasa
kewalahan Bhetri pun mengeluarkan ilmunya, nyuti
rupa, berubah wujud menjadi Bhetari Durga, dengan segala kesaktiannya dia
menggempur balik Banaspati Raja.
Di dalam pagelaran
drama tari barong, kisah ini dilukiskan dengan masuknya pemeran Bhetari Uma ke
dalam rangki, diganti dengan
munculnya Bhetari Durga atau Dewi Durga, lalu menyerang Barong ket, dan dipaksa
masuk ke dalam rangki. Itu artinya
bahwa, merasa kalah sakti dengan Bhetari Durga, Banaspati Raja pun melarikan
diri. Tidak terima dengan kekalahan tuannya, maka rakyat atau pendukung Banaspati Raja pun mengamuk, mengeroyok
Bhetari Durga, membuat rusuh, menghancurkan segala yang ada disekitarnya. Masih
belum puas juga, diapun menyiksa dirinya sendiri. Menusuk-nusuk diri dengan keris,
ngurek atau ngunying (keris dance, kata orang inggris). Mereka akan sadar
kembali setelah puas melampiaskan amarahnya, atau ditenangkan oleh tuannya.
Kisah ini dipentaskan dengan munculnya kembali Banaspati Raja, Barong Ket yang diiringi oleh para pemangku,
kemudian memercikkan tirta sehingga
mereka yang kesurupan menjadi sadar.
h. Wujud dan warna
Di dalam mitologi Barong Landung disebutkan bahwa Banaspati adalah siluman sungai (Tonya
raksasa), bernama Bhuta Awu-awu diusir
dari Bali. Tentusaja melalui pertempuran yang dahsyat dan sengit, dengan
melibatkan berbagai kekuatan ilmu dan ngelmu,
sekala-niskala. Akhirnya BhutaAwu-awu
kewalahan dan lari ke Nusa Penida (Dalem Ped) dan menjadi pepatih bergelar I Ratu Gede Mecaling. Sumber lain
mengatakan bahwa, Banaspati adalah
jelmaan roh manusia yang mati penasaran. Mati secara tidak wajar. Apakah karena
dibunuh, bunuh diri, kecelakaan, mati muda (mati sebelum waktunya) dan
sebagainya. Akan menjadi roh penasaran dan bergentayangan mencari mangsa.
Sebentuk mahluk yang
muncul dari kuburan, antara 1 sampai 40 hari kematian seseorang, berwujud sinar
kehijauan, endihan gadang, melayang-layang
seirama desiran angin. Dari semua mitologi tersebut menyatakan bahwa wujud Banaspati itu berbeda-beda. Ada yang
mengatakan seperti Barong Ket. Yang
lain bilang seperti Barong Landung. Ada
juga yang bilang berwujud Endihan Gadang,
sinar kehijauan. Tapi ada satu hal yang bisa mempersatukan persepsi kita
yaitu : Anggapati warnanya putih tempatnya di timur. Mrajapati warnanya merah
tempatnya di selatan. Banaspati warnanya kuning tempatnya di barat. Banaspati
raja warnanya hitam tempatnya di utara. Warna merujuk kepada symbol sifat dan
karakter dari masing-masing bhuta tersebut. Filosofi empat warna ini juga ada
dalam ajaran lain, missal : tanah, air, udara dan api dalam filosofi Buddha
Zen.
Untuk mewujudkan
keberadaannya secara fisik, maka Kanda
Pat dianggap bertahta dalam darah, oksigen, tulang sum-sum dan kulit daging
manusia. Namun, walaupun demikian, tetap saja ada pendapat yang berbeda.
Seperti ada yang mengatakan bahwa Kanda
Pat Bhuta terdiri atas dengen, yang
berasal dari yeh nyom, air ketuban.
Kemudian kala, yang berasal dari
darah, getih, rah. Bhuta yang berasal
dari lamas dan preta (Anta-preta) yang berasal dari ari-ari. Dan, masih ada yang
lain lagi. Karena ada pula yang menyebutkan, bahwa Kanda Pat Bhuta itu terdiri dari Bhuta petak, putih berwujud dengen
(raksasa) bhuta bang, merah yang
berwujud macan, harimau. Bhuta kuning yang
berwjud Naga, dan Bhuta ireng, selem, hitam
yang berwujud buaya. Bila dapat mengendalikan, kita akan memiliki kekuatan dan
kesaktian dari makhluk-makhluk itu tadi. Itu kata mitos.
i. Ajaran kanda pat bhuta
Ajaran Kanda Pat Bhuta berasal dari ajaran yang
terdapat di dalam lontar Catur Sanak.
Catur berarti empat dan Sanak berarti
saudara. Jadi Catur Sanak berarti
saudara empat, atau ajaran yang mengungkap tentang keberadaan, kawisesaan, dan
kesaktian saudara empat. Beginilah ceritanya, pada waktu manusia lahir ke Dunia
ini, pada saat yang sama lahir pula Sang Hyang Tiga Sakti. Beliau Sang Hyang
Tiga Sakti, amor ring Buwana Agung, kemudian
dipuja oleh semua makhluk di Dunia. Beliau berstana di Pura Desa, Pura Puseh,
dan Pura Dalem. Lalu, disusul dengan lahirnya si jabang bayi yang diiringi oleh
Sang Hyang Panca Mahabhuta.
Sehingga pengertian
dari Kanda Pat Bhuta menjadi sebagai
berikut : Kanda = tutur = petuah =
tetingkah = kesaktian = kawisesan = kasidian. Pat = empat/ Dan Bhuta =
denawa = raksasa. Disebutkan dalam seratkidungan
jiwa wedha, bahwa pada saat manusia lahir ke dunia ini, maka pada saat yang
sama lahir pula para Dewa dan siluman, binatang serta tumbuh-tumbuhan. Dan
ereka semua adalah saudara. Jadi Kanda
Pat Bhuta disini berarti empat macam ajaran, kawisesan, kesaktian, kasidian
dari para siluman raksasa. Sehingga barang siapa yang dapat memahami ajaran
ini, akan memiliki kesaktian, kawisesan, dan kasidian dari para siluman
raksasa. Sehingga barang siapa yang dapat memahami ajaran ini, akan memiliki
kesaktian, kawisesan, dan kasidian dari para siluman tersebut. Akan menjadi
sakti seperti siluman.
Selain pengertian
tersebut di atas, bhuta juga bisa
diartikan sebagai daya, tenaga, atau kekuatan. Jadi bhuta = daya = tenaga = kekuatan yang besar. Sebesar daya tenaga
raksasa. Itulah sebabnya mereka yang kerangsukan
atau kesurupan bhuta, akan
memiliki daya atau tenaga kekuatan raksasa, atau daya kekuatan yang besar.
Hanya saja daya atau tenaga yang besar ini sering tidak terkendali, tidak
terarah. Karena sedang tidak sadarkan diri. Apabila tenaga atau daya kekuatan
yang besar itu bisa dibangkitkan dengan ajaran Kanda Pat ini, denganpenuh kesadaran,sehingga bisa dikendalikan dan
diarahkan dengan baik. Dengan pengertian seperti ini, maka ajaran Kanda Pat Bhuta adalah penengen.
Inilah ajarannya,
ajaran pengiwa dan penengen, rahasiakanlah, jangan
dibicarakan sembarang orang. Ila-ila
dahat, berbahaya. Jangan dilecehkan, bila dilecehkan, musnahlah segala
kegunaannya, dan menjadi bumerang bagi penganutnya. Dan kemudian menyakiti diri
sendiri, seperti gila, marah-marah, boros, sakit mendadak, sakit lepra, buta
serta pendek umur. Demikianlah akibat dari orang yang mempermainkan ajaran ini.
j. Katatwan kanda pat bhuta
Ketahuilah adanya ketatwan kanda pat bhuta, pada saat
manusia masih berupa janin, mayoga ring
gua garban ibunta. Tatwan ika Sang Hyang Rare, nyelang linggih ring Sang
Ibunta, Ibu Pertiwi. Mengandung pengertian bahwa urip itu nyilih ring pertiwi, hidup baan nyilih. Karena itu apa yang ada di Buwana Agung ada juga di Buwana Alit, ring angga sariranta seperti
: Kulit kabeh nyilih saking pertiwi,
bulun mata nyilih ring pada, tulangta kabeh nyilih ring kayu, dagingta kabeh
nyilih ring paras, mulukta kabeh nyilin ring endut, rambut ta kabeh nyilih ring
gule mwang ring awun-awun, cangkemta nyilih ring gua, giginta nyilih ring suket
jurang, matanta nyilih ring surya candra, cunguhta nyilih ring semer, karnanta
nyilih ring jurang rejeng, kejepanta nyilih ring tatit, ambekta nyilih ring
bintang, sabdanta nyilih ring ketug lindu prakasa, angkihanta nyilih ring
anggun kabeh.
Begitulah adanya
ketatwan hidup menjadi manusia. Barang siapa yang tidak memahami akan
kerberadaan tersebtu, akan menjadi musuhlah dia. Bisa menjadi penyakit,
mendatangkan bencana, hidup menjadi susah, banyak masalah.Karena itu, menjadi
orang hidup janganlah sombong, jangan besar mulut, jika berbicara jangan
sembarangan, perkataan terhadap sesame jangan curang-bog-bog-membohongi orang. Jangan pula jail, angkuh, congkak dan
takabur. Hindari semua itu, karena hidup cuma baan nyilih, hanya pinjaman, hanya sementara.
Beginilah keberadaan
beliau Sanghyang Panca Mahabhuta : Ring purwa, ngaran aprag, yeh nyom dadi
kulit, ngaran ibuk, dadi bhuta putih, dadi anggapati, mekrane bayuni mawisesa,
dadi sang kursika, dadi bhatara iswara, sweta warna, magenah ring pepusuhan, mekarana
ada panes-tis. Ring daksina, ngaran getih dadi isi, ngaran I bodo, dadi bhuta
abang, dadi mrajapati, mekrane wanen, dadi sang garga, dadi bhatara Brahma,
merah rupanya, mesuang geni ring irung kiwe-tengen, magenah ring hati, ento
mekarana ada jele-melah.
Ring pascima, ngaran
sugian, mawak ari-ari dadi bhuta kuning, dadi banaspati, mekrana pageh, dadi
sang metri, ring urat dadi bhatara mahadewa, warnanya kuning, megenah ring
karna, ngerungu sabda ala-ayu. Ring utara, malih puser dadi tulang, ngaran Ibaka,
dadi bhuta ireng, ngaran sang basukih, dadi banaspati raja, dadi sang kursia,
ring tulang dadi bhatara wisnu, hitam warnanya, magenah ring ampru, mesuang yeh
ring tinggal, ngawas jele-melah. Ring tengah, raganta ngaran I bagia, dadi sang
pretanjala, dadi bhuta mancawarna, dadi dengen, dadi bhatara siwa magenah ring
jaja, rupanya mancawarna, magenah ring lidah, dadi sabda-sidi ngucap.
k. Mangeregep kanda pat bhuta
Pangeregepe neher sira
mamusti mangeranaksika tur masila marep purwa mwah maduluran : 1. Pejati + toya
anyar 1 gelas. 2. Canang burat wangi. 3. Asep menyan. 4. Segehan mancawarna. 5.
Tetabuhan arak berem. Kadi iki reregepane : “I anggapati regep manjing ring
cangkem, terusang ring papusuhan,
jantung, rumaksa jiwa apang pageh. I mrajapati regep manjing ring irung,
terusang maring hati, ati, rumaksa bayu apang kukuh. I banaspati regep manjing
ring tingal, terusang ring ampru atau limpa, rumaksa idep apang tan obah. I
banaspati raja regep manjing ring karna, terusang sakna maring ungsilan atau empedu,
rumaksa sabda apang dadi sidi ngucap”. Ika kaweruhe pasuk-wetun sanakta kabeh
rinegep sapalakun rahina wengi.
Demikianlah cara angrasuk kanda pat bhuta, sebisa-bisanya
dilakukan pada malam hari. Dan setelah menghaturkan banten atau sesaji yang
disebutkan di muka, serta mantra reregepane
juga sudah diucapkan, maka selanjutanya adalah : lemaskan badan anda,
jangan tegang, santai saja, atur pernafasan yang aris, panjang dan pendeknya
satukan pikiran, jangan bimbang, jangan ragu dan jangan takut. Kalau masih
dihantui perasaan bimbang ragu dan takut, maka anda tidak akan berhasil. Kalau
memang belum yakin, belum percaya diri, sebaiknya memang tidak usah dilakukan.
Karena apapun yang dikerjakan dengan pikiran ragu dan bimbang disamping tidak
ada hasil juga bias menimbulkan penyakit di dalam jiwa anda.
Makanya, barang siapa
ingin menyatukan kanda pat bhuta dengan
dirinya, caranya : “Sambat aranta kabeh, incepang ring hulu angen, kumpulang
ditu rasayang. Suba ditu terusang kuncita, ngaran cekokan sirahe ring ungkur,
beneng ring lelata, ditu cipatyang kayunta, sakeweh ajak arep-sakeneh sida,
dadi pangeraksa jiwa, kasidian, kateguhan, kesaktian, lan matetamban wenang”.
Artinya : Panggil namanya semua, tempatkan di ujung angen-angen, cipta dan
rasakan sendiri disana. Setelah itu jalankan ke kuncita, kecekokan kepala belakang yang lurus dengan selaning lelata, ditengahnya alis kanan
kiri. Menciptalah disana apa yang diinginkan, dimohonkan, segalanya bias. Untuk
pengeraksa jiwa raga, kasidian, kateguhan, kesaktian, dan pengobatan, semuanya bisa.
Setelah itu genahang ring raga, tempatkan di dalam
badan, seperti ini mantranya “Ih I anggapati, manjengakena sira ring cangkem,
anerus ring papusuh. I merajapati, manjingakena sira ring irung, anerus ring
ampru. I banaspati, manjingakena sira ring soca, anerus ring hati. I banaspati
raja, manjingakena sira ring karna, anerus ring ungsilan”. Dan diteruskan
dengan mantra berikut : “I anggapati mungguh ring pempatan, dada, putih
rupanira, I merajapati mungguh ring bahu kiwa, abang rupanira. I banaspati
mungguh ring bahu tengen, ireng rupanira I banaspati raja mungguh ring ungkur,
rupanya kuning.
Lagi ada mantra : “Ih
sanakta kabeh aja sira anglaranira, ingsun aweha mreta ring dyun manic, ameta
mangke amreta saking ibunira, syamukanku mijil ikang mreta. Iki mangke tadah
sajinira, hana kita amreta iki, anahan ajak sanakta kabeh.Mangke alungguha sira
ring ragan ingsun, aja sira papacuhan, pomo-pomo-pomo”. Seperti contoh berikut
yang termuat dalam sebuah lontar, disebutkan bahwa, barang siapa yang sudah
bisa merasakan kehadiran atau kemanunggalannya dengan Sang Catur Sanak, maka dia wajib melakukan “pebresihan” diri,
dengan cara mandi di sungai setiap purnama dan tilem. Lakukanlah ini pada malam
hari.
Caranya : duduk bersila
di tengah sungai dengan air sebatas leher, sikap tangan amustikaranamenghadap keluwan
dan terus mengucapakan mantra : “Ih eling Sang Hyang Dharma, idih larankune
ring pekarangan awak sarirankune, eling Bhatara Catur Buwana, idih larankune
ring awak sarirankune, wastu aku bersih hening, hening, hening, hening. Eling
sang buana sakti. Reksanen awak sarirankune, pomo raksa, pomo raksa, pomo raksa”.
Itulah pebersihan Sang Catur Sanak, dan
kalu sudah mebersih dengan mantra
tersebut diatas, lagi mengucapakn mantra dengan posisi tangan menempel di
pusar. Ini mantranya : “Om am ratna pradipta jagra agni ramaya, surya teja
mahateja rakta warna brahma-rupi. Om bam hredaya swahana ya namo. Om am
caturmuka dadi kunda namo. Om hrang hring nadi saramaya kala ya namo, prameya karang.
Om trigama dupa dipa tayo namah swaha”.
Setelah selesai
mengucapkan mantra tersebut, lalu dilanjutkan dengan mandi keramas yang bersih.
sepulangnya dari sungai, sampai di rumah jangan makan sirih, karena ada pebersihansekali lagi. Sarananya : yeh,
mawadah sibuh, bungan jepun apasang, setelah dipuja, maketis ring awakta, ring
bunbunanta, raris minum, sugyang, pada ping telu. Inilah mantranya : “Ih
anggapati, mrajapati, banaspati, banaspati raja. Suba kehaturan pabresihan
pengening-ngening raganta sami, ayua kita pepancuhan, rumaksa aku apang pageh,
lamun ana wong satru, leak sakti mapagin aku, tulakenta sira ajak makejang”
pomo-pomo-pomo”.
Masalah pebersihanini, melukat atau mandi
keramas, barang kali ada sedikit pertanyaan. Bagaimana kalau di sekitar tempat
tinggal tidak ada sungai?
Jawabannya adalah :
pebersihan, melukat atau mandi keramas itu dapat dilakukan pada sumber atau
mata air yang lain. seperti pancoran, bulakan
atau sendang, tempat-tempat
permandian umum, di danau atau di segara (laut). Dan bila inipun tidak ada,
maka dapat dilakukan di kamar mandi. Tentunya car mandinya juga disesuaikan.
Kalau tidak bisa kumkum ya, jangan kungkum. kalau tidak bisa berendam,
jangan berendam. Cukup ucapkan mantranya saja, setelah itu menghening sejenak,
lalu mandi seperti biasa.
Tidak hanya
purnama-tilem. Cara mandi seperti ini dapat dilakukan bilamana anda merasa kesebelan, cuntaka. Pulang dari melayat,
menengok orang meninggal. Melihat sesuatu yang tidak mengenakkan atau mengalami
kesialan. Misalnya baru sembuh dari sakit, habis kecelakaan dan sebagainya.
l. Kesaktian kanda pat bhuta
Kesaktian Kanda pat bhuta ini berkaitan dengan
fungsinya. Artinya mau digunakan untuk apa? Mohon keselamatan, kerejekian,
kewisesan, keteguhan, pengobatan, atau kesembuhan dan sebagainya. Seorang
pemangku di Bali, sebelum melakukan puja astawa ke Widhi, biasanya memagar
dirinya terlebih dahulu dengan kekuatan mantra-mantra khusus. Biasanya dikenal
dengan istilah mantra tan kodar, artinya
mantra tak terdengar, karena diucapkan di dalam batin.
Berikut adalah beberapa
contoh mantra-mantra kesaktian yang biasa digunakan dalam kanda pat bhuta. Mantra : “Om A Ta Sa Ba I Na Ma Si Wa Ya. Ang Ung
Mang. Ih anggapati, mrajapati, banaspati, banaspati raja. Aja sira lali asanak
ring ingsun, apan ingsun juga tan lali asanak ring sarira. Reksanan jiwa
raganku den becik”. Sesudah itu regep sanakta apang memurti ring awakta, ini
mantranya : “Ih anggapati, mijil sira saking pepusuh, anerus sira ring soca,
alungguh ta sira ring pempatan, dada, merupa putih. Ih I mrajapati. mijil sira
saking ati, anerus sira ring irung, alungguh ta sira ring bahu tengen, marupa
abang. Ih banaspati, mijil sira saking ampru, anerus ring sira ring cangkem,
alungguh ta sira ring bahu kiwa, marupa ireng. Ih banaspati raja, mijil sira
saking ungsilan, anerus sira ring karna, alungguh ta sira ungkur pamanggahan,
merupa kuning. Om siwa. Om sa, ba, ta, a, I”.
Inilah yang disebut
dengan darma idep pageh terus. Dan
kalau sudah bisa merasakan seperti itu, itulah manusia sakti-sakti luwih, semua
musuh akan bakti ring awakta. Ika regeep
den pingit, itu adalah perwujudan Hyang Sada Siwa, Siwa Agung Wisesa,
gegelaran manusia sakti. Dan ini adalah pemnatukan buwana agung ring buwana
alit, ring awak sariranta. Ini wajib diketahui, karena ini adalah dasar
menglesakang salwiring guna pangwisesan. Inilah mantranya : “Ih sang ibu
pertiwi, mantuk ring kulit. Paras mantuk ring daging. Embun mantuk ring otot.
Endut mantuk ring muluk. Kayu mantuk ring tulang. Padang mantuk ring bulu. Gulem
mantuk ring rambut. Gowa mantuk ring cangkem. Sumur, tukad, Sang Hkyang Surya
Candra, kabeh pada mantuk ring netra kalih. Suket-suket mantuk ring gigi. Tatit
mantuk ring kejapan. Iding, parang, rejeng, jurang, pada mantuk ring karma.
Teja mantuk ring alis. Ambara mantuk ring bahu. Akasa mantuk ring usehan”. Ika
wenang kaweruhan makadasar pangregep sekala.
Dan ketahuilah pula
bahwa pada sanakta juga bisa berwujud api. Berwujud gni pangesengan. Bisa digunakan untuk membakar lara petaka, mangeseng salwiring bayu.Karena itu, ika wenang murtyang den pageh, ika maka
dasar sakti mawisesa. Beginilah adanya : “Gni mahabara ring rambut. Gni jayengrat ring tinggal kalih. Gni
rasyamuka ring cangkem. Ika regepan denira, menadi sanunggal, tunggalakena
maring pukuhing jiwanta. Kalau sudah merasa di situ, regep mijil murub makatar-kataran ring arepanta, mijil paketel-tel
masusun, matumpang siyu. Kalau sudah begitu, geseng salwiring kanga rep kageseng”.
Beginilah cara pangeregepannya : teher ta sira asila,
mamusti mangranaksika, tur marep purwa, dulurang canang burat wangi, daksina
pejatian, asep menyan, tetabuhan arak berem. Lelangunin Sang Hyang Mantra,
tuntun deninig idep pageh terus. Bila sudah bisa pageh terus rig paglekase ika, katon rog aprenta kadi gni angabar-abar
matumpang siyu. Begitulah penampakannya bila sudah dapat menghidupkan Sang
Hyang Agni dari Sang Catur Sanak ini. Kalau menghadapi musuh sakti, maka
panggil sanakta kabeh. Mantra : “Ih Anggapati, Mrajapati, Banaspati,
Banaspati Raja, apang prayetna, sira angarepin satru sakti, aja pepancuhan
kengetakena”.
Dan kalau mengobati
orang yang sakit, maka sarananya adalah : yeh
anyar mewadah sibuh, sekar putih, barak, kuning, selem pada mekatih. Mantra
: “Ih Anggapati, Mrajapati, Banaspati,
Banaspati Raja, sira apang preyatna, tohan kawisesan nirane, anambani gering si
apang seger waras, aja sira pepancuhan, pomo, pomo, pomo”. Kemudian tarik
nafas dan tahan sekuatnya, lalu tiupkan ke air tersebut, untuk maketis, minum, sugyan, masing-masing tiga kali.
Selanjutnya ketahuilah adanya pemurtian beliau,
sanak tane patpat same pad sareng mamurti,
termasuk iraga juga mamurti menjadi bhuta, bergelar Panca
Mahabhuta. Dengan perwujudan beliau adalah beruap : pertiwi, apah, teja, bayu, akasa. Dan ari pamurtian ini lahir Sang Hyang Dasaksara seperti : Sa, Ba, Ta, A,
I, Na, Ma, Si, Wa, Ya. Dari Dasaksara lahir
Sang Hyang tiga, Sang Hyang Tri Aksara : Ang, Ung, ang. Dan dari Tri aksara ini
lahirlah Sang Hyang Tunggal, Sang Hyang
Ongkara : Om. Itu semua kemudian menjadi linggan Bhuta, Bhetara dan Dewa.
Dari situlah kemudian
lahir mantra : “Om, sa, ba, ta, a, I, na, ma, si, wa, ya, ang, ung, mang. Om
aku mawak Sang Hyang Tunggal, sakti aku tan kahungkulan, tan keneng tulah mwang
pawastu, tan kena aku aceping Bhutakala, Bhuta dengen, mwang desti, tuju,
teluh, terangjana, guna lanang, guna istri, aku tan kena guna pekaryaning
manusa sakti wisesa, wastu sakuwuning gumi lemah sengit, tela campuh sumpah
supata punah, punah, punah. Om namo namah swaha”.
Dalam sumber lain yaitu
di dalam lontar Kanda Pat Rare ada disebutkan mantra yang berkaitan dengan
Kanda Pat Bhuta ini, secara lebih lengkap sebagai berikut : bila terjadi
perang, kerusuhan, atau perkelahian, maka untuk keselamatan diri dapat
diucapkan mantra ini : “Ih anggapati, iling sira asanak lan ingsun, ingsun tan
lali asanak ring sira, reksanen ingsun, yan ana senjata lelandep, teumepeking
awak sariran ingsun, ampehang aja lali, lah pomo, lah pomo, lah pomo”. “Ih
Mrajapati, iling sira asanak lan ingsun, ingsun tan lali asanak ring sira,
reksanen ingsun, yan ana senjata lelandep tumepeking awak sariran ingsun,
ampehang aja lali, lah pomo, lah pomo, lah pomo”. “Ih banaspati, iling sira
asanak lan ingsun, ingsun tan lali asanak ring sir, reksanen ingsun, yan ana
senjata lelandep, tumepeking awak sariran ingsun, ampehang aja lali, lah pomo,
lah pomo”. “Ih banaspati raja, iling sira asanak lan ingsun-ingsun tan lali
asanak ring sira, reksanen ingsun, yan ana senjata lelandep, tumepeking awak
sariran ingsun, ampehang aja lali, lah pomo, lah pomo, lah pomo”.
Lalu menoleh
kiri-kanan, kemuka dan kebelakang, pada saat mengucapkan mantra ini, nafas
ditahan. Kemudian keluarkan perlahan dari lubang hidung, sambil memperhatikan
lubang hidung mana yang lebih lancar, kanan atau kiri? Kalau yang lancar itu
lubang hidung kanan, maka kaki kanan yang lebih dulu dijalankan, begitu juga
sebaliknya. Dan bila lancar dua-duanya berjalanlah tanpa ragu, tan pejah sira ring payudan, doh ikang
agering, tan wania durga amarani sira. Dan kalau mau tidur, agar bisa tidur
dengan baik, tidak gelisah, tidak terganggu. Bisa tidur dengan selamat dan
bangun pun dengan selamat, sehingga badan menjadi sehat. Maka ucapkan mantra
berikut : “Ih I anggapati, mrajapati, banaspati, banaspati raja, ajak panakta
kabeh, ingsun arep turu, sira atangia, reksanen jiwa ragaku, yan ana wong ala
paksa, leak mawisesa, upassasab, merana gerubug, tulaken ta sira ajak makejang
aja lali, lah pomo, lah pomo, lah pomo”.
Atau kalau ingin
dibangunkan pada jam-jam tertentu disisipkan kalimat, “gugahan aku jam”,
sebelum kata “aja lali” di atas. Dan berikut adalah ajian pamungkas dari Kanda
Pat Bhuta. Tapi ingat jangan dilecehkan, jangan disebarluaskan kepada mereka
yang tidak sepatutnya. Sebab, kalau dilecehkan hilanglah kegaibannya. Ini adalah
ajaran rahasia, ilmu yang dirahasiakan oleh seorang guru. Tidak mudah seorang
guru untuk menurunkan ilmu ini, kecuali beliau sudah paham dan yakin betul akan
sifat dan watak muridnya.
Gunakan ilmu ini hanya
bilamana diperlukan, atau dalam keadaan terpaksa, karena dipaksa oleh suatu
keadaan. Inilah ajian I Bhuta Siu. Mantranya : “Ih anggapati, mrajapati,
banaspati, banaspati raja. Ingsun matek ajian I bhuta siyu, bhuta siyu kangtapa
ing guwargar-bane I bagaspati. Sakehing samar, bhuta-bhuti, kala-kali, luluh
mesarira tunggal ring ingsun. Seakehing satru, leak sakti, mawises, desti,
tuju, teluh, aneranjana. Teka wetan, kulon, kidul lan lor. Pada kamigilan,
keprabawan ajianku I bhuta siyu, kang mrumbul metu maewu-ewu, pake bles-bles
tan keni pati. Temah pada giris lumayu bubar sar-saran. Ya ingsun atining
bumi”.
Selain itu, kesaktian
dari Kanda Pat Bhuta ini, juga bisa dipergunakan untuk keperluan-keperluan
khusus. Seperti contoh berikut ini : apabila ingin sakti dan dicintai oleh
sesame maka siapkan saran banten : rayunan
mancawarna, 1 pajeg, dengan ikan ayam brumbun,
nasi tulung 125 tanding, nasi takilan 216 tanding, dijadikan
masing-masing satu tamas, suci atau soroh,
pras ajuman, canang pasucian, daksina gede sarwa 3 satu, pemanisan, satu
dulang, segehan cacan satu tanding, segehan agung satu tanding,
penyambleh ayam brumbun, tetabuhan
arak berem.
Apabila akan
bertempur, mesiat lemah, mesiat peteng, bertempur
sekala maupun niskala, baik secara nyata maupun tidak nyata, maka bantennya sama
dengan di atas. Dihaturkan dahulu kepada Sang Hyang Panca Mahabhuta. Dengan
menggunakan bahasa Bali, atau bahasa mantra anda sendiri. Mohon diberikan
kesaktian, prajurit siluman dan atau yang lainnya. Setelah dihaturkan, kemudian
sisa dari semua banten dan segehan
ditatab. Jangan terkejut, jangan kaget, dan jangan pula anda menjadi takut.
Bila tiba-tiba merasakan suasana yang berbeda, suasana yang mencekam, yang
membuat bulu kuduk anda merinding. Atau tiba-tiba seolah-olah melihat
penampakan yang menyeramkan, baik suaranya maupun perwujudannya yang aeng. Itu berarti bahwa permohonan anda
telah diterima. Dan anda telah siap untuk menjadi seorang yang sakti seperti
siluman.
Dan bilamana anda
berkeinginan untuk nerang hujan, maka
siapkan saran bantennya : Ajuman pelung 3
tanding, ajuman selem 1 tanding, canang segenep, peras ajengan, canang daksina
gede sarwa 4 satu, suci satu soroh, rayunan pajegan satu tanding,penyambleh ayam samalulung, tetabuhan arak-berem, dengan
sarananya dupa.Caranya : semua banten dihaturkan dahulu kepada Sang Hyang Panca
Maha Bhuta. Dengan menggunakan bahasa Bali atau bahasa mantra anda sendiri.
Memohon agar terjadi hujan, agar turun hujan. Setelah itu anda mandi basah
kuyup seluruh badan, sambil menyembur-nyemburkan air. Dengan menggunakan air kelebutan, atau air sumur.
Selanjutnya, bila adna
berharap bisa mengikat leak atau bebai dari rumah anda. Maka dapat
dilakukan dengan menyiapkana sarana banten sebagai berikut : ajuman berbentuk ular, dengan ikannya
telur mentah, peras ajuman, canang
daksina. Atau anda ingin membingungkan leak,
membuat leak menjadi bingung.
Maka dapat dilakukan dengan sarana banten sebagai berikut : Nasi naga ikannya
telur mentah, lima butir, peras ajengan,
canang daksina. Caranya : haturkan terlebih dahulu semua banten kepada Sang
Hyang Panca Maha Bhuta. Dengan menggunakan bahasa Bali atau bahasa mantra anda
sendiri. Mohonlah sesuai dengan harapan dan tujuan anda.
m. Kanda pat bhuta siluman
Di dalam ajaran kanda
pat bhuta melakukan barter dengan
siluman yang memberikan kesaktian, baik dengan nyawa anda sendiri atau
sogokan-sogokan lainnya, seperti darah binatang misalnya, atau sejenis upakara
tertentu yang dihaturkan pada hari tertentu pula. Itu biasanya tergantung
tinggi-rendahnya kesaktian yang diinginkan. Cara ini kalau di Jawa disebut
dengan prewangan. Dalam anggapan
sebagian masyarakat, mereka yang berhasil menempuh cara ini, biasanya dijuluki
dukun sihir atau ahli nujum. Ilmu gendam, sihir merupakan salah satu contoh
kekuatan siluman. Salah satu jenisnya sering dipraktekan di jalanan, di
pasar-pasar, atau terminal-terminal. Sehingga keeseokan harinya, termuat di
oran atau di televise, ibu ini dan ibu itu, tertipu habis-habisan, tanpa sadar
memberikan perhiasannya dan uangnya kepada si anu, yang sama sekali tidak
dikenalnya. Karena baru ketemu kali itu.
Siluman mengacaukan
kesadaran seseorang dan mendungukan hak asasinya, sehingga korban tidak menolak
jika diminta. Tidak marah walau ditipu. Ketika kesadarannya pulih muncul
penyesalan luar biasa. Namun segalanya sudah terjadi. Kekuatan siluman tidak
abadi. Ia berhasil mengikat kesadaran seseorang hanya untuk beberapa saat. Bisa
dihitung dengan jarak dan waktu. Ketika korban sadar, biasanya pelaku sudah
berjalan ratusan meter. Jarak tertentu ini membuat kuasa siluman tercabut dari
korban. Karena siluman yang tadi menyekap korban harus segera kembali mengikuti
si pelaku kejahatan itu lagi. Karena sudah oncat
maka kesadaran korban kembali pulih. Tidak linglung lagi.
Begitu pula karakter
lain dengan persyaratan waktu. Kesadaran kembali pulih jika kejadiannya sudah
berlangsung beberapa saat, paling lama satu jam. Diantara radius jarak dan
waktu itulah, pengguna ilmu siluman menyelamatkan dirinya dan menghapus
jejaknya. Sehingga mempersulit semua pihak untuk menyelesaikannya. Disamping
korban juga sudah kehilangan memorinya atas kejadian tersebut. Siluman merampas
hak memori kita. Daya ingat kita dan indera penalaran kita. Itulah sebabnya,
mereka yang kesurupan siluman akan kehilangan kesadarannya, dan bertingkah laku
seperti siluman. Kalau yang nyurup itu
siluman celeng, maka dia akan bertingkah
seperti celeng. Dan kalau yang nyurup itu
siluman monyet, maka dia akan bertingkah laku layaknya seekor monyet. Begitu
seterusnya. Maka itu, janganlah bangga bila anda bisa kerauhan. Itu tandanya
betapa rapuhnya jiwa anda, karena bisa dengan mudah dikuasai siluman.
Di Bali kekuatan
siluman ini biasanya dimanfaatkan oleh mereka yang belajar ilmu pengiwa, termasuk Kanda Pat Bhuta ini.
Upacara ilmu pengiwa, biasanya juga
diselubungi kengerian sebagaimana persyaratannya. Persyaratan ilmu pengiwa sangat akrab dengan dunia
kematian. Tidak sekedar canang dan dupa, atau kembang menyan, tapi minimal ada pejatian, segehan agung, bene jejeron celeng
(seperti ati, darah, jantung, usus dan lain-lain semuanya seba sedikit),
juga tetabuhan arak-berem. Jika ilmu pengiwa
yang dipelajarinya itu lebih ekslusif,
maka persyaratannya pun menjadi lebih ekstrim.
Umpamanya : darah tidak boleh lagi dara binatang, melainkan tetesan
darahnya sendiri, juga tetabuhannya tidak lagi arak-berem biasa, melainkan
arak-berem yang beralkohol tinggi, seperti arak api misalnya.
Pemuja Bhetari Durga
pada umumnya juga belajar ilmu pengiwa dalam
kelompok yang sangat eksklusif, yang
umum dikenal dengan istilah leak ugig,
leak wegig, leak pemaron, leak selem, harus berkelana, bergentayangan
berselubung kekuatan gaib saat malam menyelimuti bumi, biasanya pada saat-saat
menjelang rerahinan kajeng kliwon, untuk
memburu darah segar manusia, yang mengalir di tubuh bayi yang baru lahir.
Tujuannya merebut hak hidup anak itu menjadi hak dia. Dalam perburuannya itu,
ia akan merubah wujudnya menjadi api, endihan,
terbang ke sana kemari, menembus langit kelam. Terbang dari rumah yang satu
ke rumah yang lainnya. Dan akhirnya menukik pada sebuah rumah, lalu besoknya
terdenga berita, “yee pianak si anune sube sing nu”, padahal kemarin masih
sehat walafiat, masih segar bugar.
Begitu rentannya
seorang bayi terhadap ilmu hitam, kekuatan hitam. Begitu mudahnya seorang bayi
menjadi korban ilmu hitam, kekuatan hitam. Pemuja Bhetari Durga, atau kekuatan
hitam berbah sakti mandraguna. Jika mati hidup lagi. Karena sudah merebut hak
hidup orang lain lebih dari sekali. Semakin banyak korban, nyawanya semakin
rangkap-rangkap. Itulah sebabnya, bila ada orang terkenal sakti, bisa ngeleak, pasti akan susah mati. Walaupun
sudah jompo, sudah terbaring di tempat tidur, tetap saja tidak mati-mati. Mengapa
demikian? Karena dia sudah tidak murni manusia lagi, dia sudah merupakan
“Manusia setengah siluman”.
Nah, orang-orang itu
hanya bisa mati bila tubuhnya, khususnya organ vital di dalam tubuhnya sudah
benar-benar rusak, tidak berfungsi lagi, maka roh siluman yang bersemayam di
dalam dirinya akan pergi meninggalkannya, maka matilah dia. Yang kedua adalah
dia akan mati bila dalam suatuproses perebutan kekuasaan, dalam perang antar leak, dia dikalahkan oleh leak lainnya, maka matilah dia. Dan yang
ketiga, dia akan mati bila dikalahkan oleh Balian
Penengen, dalam usaha merampas dan mempertahankan hak hidup orang lain.
Tapi untuk kasus ketiga ini, sangat jarang terjadi. Yang sering terjadi justru Balianlah yang dikalahkan oleh leak.
Para pemuja Bhetari
Durga ini seolah-olah bisa hidup abadi. Namun sesungguhnya tidak. Manteranya
yang abadi, ajarannya yang abadi. Dari satu generasi ke generasi berikutnya
tetap sama. Baik format maupun bahasanya. Mencari orang yang berminat membaca
dan mempelajarinya. Menunggu dengan penuh kesabaran di balik pintu dan jendela.
Beredar tanpa kasak-kusuk, bergerak di bawah tanah. Suatu saat kembali dianut
seseorang, secara sengaja ataupun tidak. “Semakin jumawa, semakin sombong, iri,
dan dengki, semakin melekat ilmu hitamnya. Semakin orang tergoda untuk melawan
semakin kokoh pertahanannya”.
Walaupun ajaran kanda
pat bhuta termasuk pengiwa, juga
pemuja siluman. Namun tidaklah dalam kategori berbhaya. Karena itu
persyaratannya tidak sangat berat. Tetapi konsekuensinya, ilmu yang didapat pun
tidaklah terlalu tinggi. Inilah salah satu sebab, kenapa Balian yang mengandalkan ajian Kanda Pat Bhuta ini, selalu kalah
dengan leak. Kanda Pat Bhuta adalah
ajaran pembukaan, ajaran permulaan, sebagai langkah awal,untuk melangkah ke
ajaran yang lebih tinggi, yaitu Kanda Pat Sari dan Kanda Pat Dewa. Adapun cara
untuk mendapatkan kekuatan gaib ini adalah dengan melakukan paserayan, nyeraye, dengan mendatangi
tempat-tempat yang dianggap keramat, tenget,angker.
Pada malam hari menjelang rerahinan
kajeng kliwon, dengan membawa upakara seperti yang telah disebutkan di
muka, dan setelah upakaradihaturkan sebagaimana mestinya, lalu dilanjutkan
dengan memohon panugrahan berupa kawisesan
atau kesaktian. Bisa jadi cara ini tidak cukup hanya sekali, sehingga harus
diulang beberapa kali, sampai mendapatkan apa yang diinginkan.
Kalau diterima anda
akan mendapatkan sesuatu, baik secara langsung maupun tidak langsung. Yang
langsung biasanya berupa benda, bisa berwujud batu permata, taring binatang,
keris kecil, atau sebuah benda yang berbentuk aneh. Kadangkala juga bisa berupa
makanan, kalau dia makanan biasanya berupa manisan, permen. Ada malahan yang
berupa binatang seperti kucing, burung, anjing atau binatang lainnya, yang
diterima pada saat itu juga. Sedangkan yang tidak langsung, biasanya didahului
dengan mimpi-mimpi. Di dalam mimpinya dijelaskan tentang tempat benda tersebut
dan kegunaannya. Kalau dia binatang biasanya akan datang sendiri, atau dijemput
di suatu tempat. Benda inilah yang umum dikenal dengan nama paica, pica.
Agar khasiat atau
tuah pica itu tetap manjur, maka pica harus ditempatkan pada tempat yang
layak. Biasanya di pelangkiran, di sanggah keumulan, pelinggih atau tempat
khusus yang dibuat disertai upacara. Pica
ini harus selalu diberikan sajen, dan
pada hari suci tertentu dikeluarkan untuk dimandikan atau disucikan. Kelemahan
dari pica-pica seperti ini adalah
sifatnya tidak langgeng. Kesaktiannya pun tidaklah tinggi benar, sehingga pada
kasus-kasus tertentu kadang tidak dapat diandalkan. Disamping juga menciptakan
ketergantungan, dan merepotkan diri anda sendiri. Untuk jelasnya adalah sebagai
berikut : Sarana upacaranya = Pejati+toya anyar 1 gelas Canang Burat Wangi +
permen asep, kemenyan atau dupa wangi Segehan mancawarna + be jejeron celeng
tetabuhan arak, berem. Dalam situasi tertentu, agar tidak terlalu mencolok,
maka sarana di atas bisa dikurangi, yaitu anda cukup membawa : Canang burat
wangi atau canang ajuman diisi permen dan sedikit jajan dupa waing, dan
tetabuhan arak-berem.
Di tempat yang sudah
ditetapkan, atau dipilih haturkan upakara yang dibawa, dengan menggunakan
bahasa mantra anda sendiri. Sesuai dengan harapan, tujuan dan keinginan anda.
Setelah itu lalu ucapkan mantra di bawah ini sebanyak 9 x (Sembilan kali).
Mantranya : Om awignamastu nama sidyam, Ong pengenteg bayu dadi langgeng ta
sira angalih pala boga angati-ngati sabda rahayu mangda molih merta kencana,
Ong, ang, ah perama siwa ya namah swaha”. Ingat, mengucapkan mantra sambil
bermeditasi, laksanakan sampai anda menemukan cihna, tanda-tanda atau paica,
pica sesuai dengan harapan atau tujuan anda.
Pada suatu malam, di
sebuah desa di Bangli, ada seseorang kakek yang menceritakan riwayat hidupnya.
Konon pada masa mudanya beliau adalah keluarga miskin. Untuk memenuhi kebutuhan
hidup sehari-hari, maka dia harus keluar masuk hutan, untuk sekedar mencari
baha makan, umbi-umbian, buah-buahan, atau kayu bakar. Sampai pada suatu hari
dia tidak menemukan bahan makanan, dan tidak ada sesuatu yang bisa dimakan.
Maka tiba-tiba muncul pikiran aneh di dalam otaknya. Dengan membawa dupa wangi,
canang burat wangi, sedikit permen dan jajan, tetabuhan arak-berem, diapun
kembali masuk hutan. Tujuannya adalah mencari wangsit, mencari petunjuk hidup
agar bisa hidup layak, dan cukup sandang pangan. Bila tidak mendapatkan wangsit
atau petunjuk gaib, biarlah mati saja di hutan, begitulah tekad beliau. Ibarat
orang bertapa sampai mati. Itulah yang dilakukan.
Singkat cerita, setelah
menghaturkan upakara yang dibawanya, diapun mulai bertapa. Rupanya tapa beliau
tidak sia-sia, karena pada malam ketiga, sayup-sayup terdengar suara dentingan
genta. Tapi tidak jelas darimana datangnya suara itu. Karena seolah-olah
berputar-putar, dan semakin lama semakin keras. Akhirnya, percaya-tidak
percaya, beliau kemudian melihat penampakan tujuh Rsi. Semuanya ngangem genta serta nguncarang weda. Dalam hati beliau bertanya-tanya, “Inikah yang
disebut dengan Sanak Sapta Rsi itu?”. Dan
beliaupun bersujud menghaturkan sembah, serta menyampaikan tujuannya.
Tiba-tiba ada sesuatu
yang jatuh dihadapannya, konon bentuknya seperti permen, tapi bukan permen.
Beliau menganggap itu paica, pica. Karena
takut benda paica, pica itu hilang.
Makan benda paica, pica itu hilang.
Maka benda paica, pica itupun
ditelannya bulat-bulat. Sialnya, setelah menelan benda paica, pica itu dia malah jatuh pingsan. Tak sadarkan diri.
Anehnya, justru di dalam keadaan pingsan itulah dia menerima petunjuk gaib,
terutama hidup dan kehidupan yang harus dijalaninya. Setelah menjalani
kehidupan sesuai dengan arahan yang diterimanya secara gaib itu, maka kehidupan
keluarganya mulai membaik. Artinya sebagai seorang petani kebun, hasil kebunnya
tidak lagi merugi. Melainkan mulai menguntungkan sehingga dia kemudian bisa
memperbaiki rumah, menyekolahkan anak dan sebagainya. Sejak saat itu kehidupan
keluarganya menjadi baik sampai sekarang. Walaupun tidak kaya tapi tidak pernah
kekurangan makan.
Seorang pemangku dari
Gianyar, mendapatkan pica di Pura
Giri Putri di Nusa Penida. Dan setelah itu, dia memang memiliki kekuatan gaib.
Yaitu bisa mengobati berbagai penyakit gaib, penyakit yang tidak terdeteksi
oleh dunia kedokteran. Banyak orang yang sudah disembuhkan. Tapi ternyata
kesaktian pica itu pun terbatas,
karena kemudian anaknya sendiri sakit-sakitan, dan dia tidak mampu
mengobatinya. Sampai akhirnya anaknya itu yang wanita dan masih gadis, kawin
atau menikah dengan adik misannya, penyakitnya itu pun turut dibawa serta.
Seminggu setelah hari pernikahan, penyakitnya itu kumat. Adik misannya minta
tolong agar penyakitnya diobati ke balian.
Sehingga sembuh sampai sekarang.
Kesembuhan anaknya itu
membuat orang tuanya yang pemangku dan
juga Balian itu penasaran. Diapun
minta diperkenalkan dengan seorang balian.
Setelah berkenalan, dia lalu bercerita tentang picanya itu. Yang sebelumnya selalu memperhatikan keampuhannya,
entah kenapa terhadap anak sendiri malah tidak berfungsi. Dia lalu berterima
kasih kepada balianitu dan mengangkat
menjadi kakaknya. Pada tanggal 24 November 2007, pemangku ini pun jatuh sakit. Seminggu kemudian di rumah sakit
tanpa ada perubahan yang berarti, dia pun menyuruh anaknya memanggil balian. Dia mengeluh dan tidak tahan
dengan penyakitnya itu, yang seolah-olah makpak,
menggigit-gigit dirinya. Dia menjadi lumpuh bahkan makan pun susah,
kemudian diobati oleh balian dan
akhirnya sembuh. Karena sudah tidak terlalu sakit lagi, walaupun masih dalam
keadaan lumpuh dia minta pulang paksa dari rumah sakit.
Akhirnya balian itupun diminta kerumahnya, dimana
dia dibaringkan balian itu melakukan
meditasi. Menghayati apa yang sebenarnya terjadi, dan juga memohon kesembuhan
buat mangku tersebut. Pulang dari sana, malamnya balian itu bermimpi bertarung dengan seekor macan. Besoknya balian itu bertanya kepada anaknya,
apakah pica bapaknya seekor macan?
Anaknya menjawab ya. Ada dua kemungkinan kenapa pica macan itu bisa menggigit tuannya. Kemungkinan yang pertama
adalah si pemangku tanpa disadarinya
telah melanggar perjanjian, atau pantangan, atau terlambat dalam member “makan”
pica tersebut. Dan kemungkinan kedua
adalah pica macan itu, telah
dikalahkan oleh manusa sakti, lalu
kemudian diperintah untuk memakan si
pemangku. Di dalam hutan seekor macan boleh bangga karena bisa merajai
seluruh binatang hutan, tapi berhadapan dengan manusia, macan bukanlah apa-apa.
Inilah salah satu sebab, kenapa balian
pica selalu dikalahkan oleh leak.
Ibarat ilmu, paica, pica pun perlu disempurnakan,
dikumpulkan, disatukan agar menjadi kuat dan sakti mawisesa. Dia sudah menerima pica, pica macan siluman, yang merupakan salah satu wujud sakti Bhuta Mrajapati. Seharusnya dia tidak
berhenti di situ. Dia harus mencari wujud-wujud sakti lainnya, seperti siluman
raksasa, detya, denawa. Yang di Bali popular dengan gelar I Ratu Gede Mecaling. Adalah merupakan wujud sakti dari Bhuta Banaspati. Kemudian siluman buaya,
yang merupakan wujud sakti dari Bhuta
Banaspati Raja. Dan siluman Naga, atau ular yangmerupakanwujud sakti dari Bhuta Anggapati.
Maka, barang siapa yang
dapat mengumpulkan, menyatukan, nyungsung keempat paica, pica tersebut, akan menjadi Balian sakti mandraguna, sakti
mawisesa. Menjadi Balian yang
amat sakti yang didalam lontar di sebutkan sebagai : “Ati anta kasub kajana
lumraha pria, pageh kukuhing sandi sakti, weruh ta kia ring sidi ngucap, weruh
tegesing lara muang pati urip, satitah basa batita, weruh ring ngsatawa sidi”.
Tapi kebanyakan Balian di Bali tidaklah
begitu. Baru dapat satu paica, pica saja
sudah sombong, sudah ajum, sudah jadi
Balian.
“Ketahuilah anakku,
bahwa kesempurnaan itu adalah penyatuan, bukan pemisahan. Seperti kau anaaku,
yang akan menjadi semprna justru karena berkumpul kembali, dengan
saudara-saudaramu yang belum sempurna. Seperti Anggapati, Mrajapati, Banaspati,
Banaspati Raja. Unsur-unsur ini tersebar di empat penjuru Dunia, menjadi
makhluk tanpa rupa, yang menunggu penyempurnaannya. Panggilah mereka kembali
nak, agar segera bisa menyatu dengan dirimu. Sudah lama mereka mengharapkan
kesempurnaan, supaya ebur wujud mereka yang tidak sempurna itu. Cintailah
mereka nak, karena sudah lama mereka ingin bersatu dengan jagadmu. Pada
jagadnya sendiri, mereka tidak
berdaya apa-apa, malah makin hari makin sengsara mereka, karena diperalat oleh
kejahatan yang memeliharanya. Mereka adalah kekuatan alam anakku, angin, api,
tanah, air, cintailah alam, maka kekuatan empat saudara alammu akan benar-benar
rumangsuk, masuk ke dalam jagadmu.
Mengertikah kau anakku?”.
n. Sakti seperti siluman
Bila anda sudah bisa
mendapatkan panugrahan, berupa paica,
pica dari siluman, maka anda pun akan menjadi sakti seperti siluman. Di
Jawa kesaktian siluman ini sering dipertontonkan lewat pertunjukkan kuda
lumping. Dimana setelah disurupi oleh siluman, si pemeran kuda lumping akan
kehilangan control dirinya lalu memakan pecahan-pecahan beling, kaca, tanpa
cidera sedikitpun. Di daerah Banten, Jawa Barat, para seniman debus juga kerap
menggunakan kesaktian siluman ini dalam pertunjukkannya. Sehingga dia menjadi
kebal senjata, ora tedas tapak palune
pande. Tidak terluka oleh senjata buatan pande, walau pedang itu setajam
silet sekalipun.
Siluman memang akrab
dengan kanuragan. Setiap perguruan ilmu kanuragan, yang mempertontonkan
kesaktian, kekebalan, pasti menggunakan siluman untuk kesaktiannya. Bila tidak
deimikian, maka pertunjukkan itu hanyalah sekedar permainan. Tidak sungguhan.
Hanya pura-pura. Sekarang perhatikanlah kutipan salah satu mantra yang sering
digunakan pada pertunjukkan-pertunjukkan seperti itu : “Kaki Durga, nini durga
surupana dolananku iki yen ora kok surupake tak tuturake sang hyang wenang
bel-robel setan gundul dadia dolananku iki”. Dari mantra tersebut di atas,
dapat dipastikan bahwa pertunjukan-pertunjukan seperti itu jelas menggunakan
kesaktian siluman, yang di dalam mantra tersebut disebut sebagai setan gundul.
Dimana setan gundul merupakan sisya dari
Nini Bhetari Durga.
Seorang teman
mengaku pernah mempelajari ajaran Kanda
Pat Bhuta ini. Pada saat menjelang ujian akhir, untuk menuntaskan
pelajarannya. Dia diwajibkan untuk bertapa selama tiga malam di kuburan, di
tempat pemuhunan tempat pembakaran
mayat. Setelah malam terakhir, dia merasa ada sesuatu yang jatuh dihadapannya
itu. Tanpa berfikir panjang permen, manisan
itu pun langsung dimakannya. Dan tiba-tiba saja badannya terasa panas,
dadanya berdebaran, keringat dingin membasahi dirinya. Pada saat itu, gurunya
yang memantau dari kejauhan melihat dirinya telah berubah menjadi wujud api.
Oleh gurunya dia dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude (lulus dengan sangat
memuaskan).
Sejak saat hari itu diapun
menjadi sakti mandraguna. Bisa berubah wujud, bisa bergerak cepat. Dengan merubah
wujudnya menjadi raksasa, jarak yang jauhnya empat puluh kilo meter, bisa
ditempuh hanya dengan tujuh langkah kaki saja. Kalau dia ingin berubah wujud
menjadi Jaka Tunggul, cukup hanya
dengan mengangkat lurus satu tangan, mencipta dan merapal mantra, maka kakinya
akan terangkat sejengkal dari atas tanah. Berarti dia sudah berubah wujud.
Disini hendaknya para pembaca bisa maklum yang melihat perubahan itu bukan dia,
melainkan orang lain. Menurutnya, dia sendiri tetap merasa seperti biasa. Hanya
badan terasa panas dan kaki seperti mengambang. Itu saja, katanya.
Tapi kebanggaannya
menjadi orang sakti mandraguna itu, tidaklah berlangsung lama, mungkin sekitar
satu atau dua tahunan. Dia pun mulai bosan, mulai jenuh. Karena ilmu ini mulai
tidak terkontrol, mulai mengganggu dirinya. Karena setiap malam dia diajak
gentayangan, kesana kemari tanpa tujuan. Kalau tidak dituruti, maka dia akan
gelisah, sampai pagi nggak bisa tidur. Sehingga keesokan harinya menjadi lemas,
capai dan loyo. Oleh orang tuanya, dia disarankan untuk melepaskan ilmu itu. “mumpung
belum terlanjur”, katanya. Sebab kalau ilmu itu sampai menyatu dengan hidupmu,
maka kau sudah bukan manusia lagi. Kau sudah menjadi manusia setengah siluman,
sudah menjadi leak wegig. Dan kalau
sudah begitu hidupmu menjadi sia-sia. Bila nanti kau mati, rohmu akan terjebak
di alam siluman, menjadi bdak siluman. Kalau sudah begitu, biarpun nanti diaben
dengan usungan bade setinggi langit,
dengan upakara yang sangat besar, serta memukur
dengan meru tumpang selikur, tetap
saja sia-sia, tidak ada gunanya. Karena tidak akanmembebaskan rohmu dari
sekapan para siluman, dan tidak bisa lagi reinkarnasi jadi manusia lagi. Pada
akhirnya dia memang melepaskan ilmunya itu.
Seorang maling di Jawa,
yang mengerti ilmu hitam, juga akan melibatkan siluman untuk melancarkan
aksinya. Dia akan mengambil tanah kuburan pada hari tertentu, jam tertentu dan
doa-doa tertentu, agar berhasil melakukan pencurian di daerah tertentu pula.
Jika harus melakukan di wilayah lain untuk kesempatan berikutnya, ia tentu akan
mengulang persyaratan yang kemarin. Tanah kuburan lebih berfungsi sebagai
prasarana ajian sirep. Aji sirep yang
paling tersohor adalah aji sirep
begananda, yang dikenal mampu melelapkan seisi rumah, bleksek turu kepati, tidur seperti orang mati, sehingga pencuri
leluasa bergerak. Kekuatan ilmu ini hanya berlaku sampai sebelum fajar
menyingsing. “sadurunge ana lintang rahina metu sakeng wetan”.
Kelemahan lainnya
adalah si maling tidak boleh terangsang, melihat anak atau istri si empunya
rumah, yang tidur terlentang nyaris tanpa busana. Kalau terangsang, apalagi
sampai menggagahinya, maka pengaruh sirepnya akan punah, dan akhirnya
tertangkap basah. Dengan cepat dia bisa berubah wujud, sehingga sulit dikenali.
Karena mukanya sudah bonyok dikeroyok masa. Seorang pemuda dari Tabanan,
mengaku pernah belajar ilmu kanuragan, yang menggunakan siluman untuk
kesaktiannya. Pada tahap akhir ilmunya, dia diwajibkan mengadakan semacam
ritual, dengan menelan pelor sepeda serta meminum darah kambing hitam. Dan
setelah itu dia memang sakti mandraguna dan kebal senjata.
Dia tidak tahu, bahwa
ilmu ini sebenarnya lebih cocok bagi para petarung, para preman atau manusia
yang berwatak brangasan. Karena itu, ilmu ini harus selalu digunakan, artinya
dicarikan musuh lewat pertarungan, untuk membuktikan siapa yang lebih unggul.
Bila tidak, maka ilmu ini akan menjadi musuh bagi pemiliknya. Dan itulah yang
dialaminya. Dua tahun setelah merasa hebat, dia pun mulai sekarat, mulai
sakit-sakitan. Seorang temannya seangkatan dia, sudah mati duluan karena
gurunya sendiri tidak mampu mengobatinya. Dengan gejala sakit yang sama, dia
kemudian mencari pengobatan di beberapa dukun dan balian, juga tidak berhasil. Diapun pasrah menjemput maut.
Sampai akhirnya bertemu
dengan pemangku di desanya yang
kebetulan siswa dari Padepokan Sastra Jendra. Oleh jero mangku itu, dia diantar
ketempat gurunya untuk berobat. Waktu itu gurunya bilang “tidak ada orang yang
bisa mengobati penyakit bapak, kecuali babak sendiri. Di sini saya hanya
memberitahu caranya dan menuntun bapak agar tidak salah jalan”. Dan dia setuju
dengan cara itu. Akhirnya setelah satu bulan dibina, diapun sembuh tanpa obat
apapun. Diapun akhirnya juga menjadi siswa siswa Padepokan Sastra Jendra.
Kemudian ada cerita seseorang dari singaraja. Konon dia pernah membeli sesabukan untuk kekebalan dari seorang balian. Dengan sebuah upacara tertentu sabuk itu pun siap dipakai. Dan di rumah
balian itu langsung diuji coba. Jro Balian kemudian mengasah sebuah
pedang, setelah dirasa cukup tajam pedang itu pun ditebaskan ke tubuhnya.
Bug-bug-bug, tan kerasa apa-apa, kadi
kapuk tibaning wesi, tiga kali tebasan pedang tidak terasa apa-apa, seperti
kapuk dipukul besi.
Dengan perasaan bangga
yang berlebihan diapun cepat-cepat pulang kerumah. Maksud hati ingin segera
memperlihatkan kehebatannya dihadapan teman-temannya. Sepeda motor berlari
dengan kecepatan tinggi, mungkin karena terlalu “pede” sehingga kurang waspada
dan hati-hati. Sehingga akhirnya, sepeda motor menabrak pohon. Dia terlempar di
atas aspal dan tidak bisa bangun. Kelihatannya tidak apa-apa. Kesadarannya
masih utuh, kulit dagingnya memang kelihatan tidak apa-apa, tapi tulang kakinya
patah. Itulah yang menyebabkan dia tidak bisa bangun.
Wedhatama menyebutkan
sebagai berikut : “Kekerane ngelu karang kakarangan saking bangsaning gaib iku
boreh peminipun tan rumasuk ing jasad among aneng sajabaning daging kulup yen
kapengkok pancabaya ubayane mblaenjani”. Artinya : “Mereka yang mengandalkan
ilmu gaib, magis dan lain sebagainya, ibarat menggunakan bedak saja. Bedak
hanya memperindah dan melindungi kulit, dan tidak dapat berbuat lebih dari itu.
Ilmu-ilmu tersebut tidak dapat diandalkan. Karena tidak dapat membantu, pada
saat-saat kritis”.
Ilmu-ilmu magis, klenik
dan lain sebagainya oleh Wedhatama disebut ngelmu-karang-
ilmu yang hanya dikarang-karang, tidak menuntun kepada kesejatian.
Ilmu-ilmu itu hanya seperti mainan, kadang tepat kadang tidak. Jangan terlalu
mengandalkannya. Pada saat-saat yang kritis anda akan kecewa. Mereka yang
memperlihatkan mujijat-mujijat itu tidak dapat membantu anda. Anda harus
belajar hidup mandiri. Tapi bilamana and masih bengkung juga, masih penasaran juga. Dan tetap ingin memiliki
kesaktian siluman, ingin sakti seperti siluman. Maka akan dikutipkan tiga cara
yang dapat anda praktekkan. Pertama adalah cara Bali, kedua adalah cara Jawa
dan yang ketiga adalah cara Padepokan Sastra Jendra.
Cara Bali : di dalam
lontar disebutkan sebagai berikut. Bila berkehendak mengundang siluman, wong samar dan menyuruh mereka membantu
anda, memberikan kesaktiannya kepada anda, sehingga anda bisa memiliki kesaktian
siluman. Bisa sakti seperti siluman. Maka dapat dilakukan dengan menyiapkan
sarana banten sebagai berikut : ajuman
putih, nasi gibungan 2 gibung, be mejangan, nasi takilan 216 tanding, peras
ajuman, canang daksina, tetabuhan arak berem. Caranya : haturkan dahulu
semua upakara kepada Sang Hyang Panca Mahabhuta. Dengan menggunakan bahasa
Bali, atau bahasa mantra anda sendiri. Sesuai dengan permohonan, harapan dan
tujuan anda. Setelah itu panggilan semua makhluk siluman, wong samar, laki dan perempuan agar datang membantu anda. Lakukan
pemanggilan itusecara berulang-ulang. Sampai anda mendapatkan cihna, atau tanda-tanda kedatangannya.
Cara Jawa : Bambang
Harsrinuksmo, di dalam bukunya yang berjudul “mengenal dan menangkal makhluk
halus:, menyebutkan sebagai berikut: Pada garis besarnya ; untuk dapat
berhubungan dengan makhluk halus, siluman, wong
samar itu, minimal harus dipenuhi 2 syarat. Yaitu, syarat materi atau
sarana yang digunakan dan syarat psikologis, termasuk di dalam keteguhan iman
dan penguasaan mantra. Namun, yang penting anda perhatikan adalah syarat
psikologisnya. Orang yang hendak berhubungan atau berdialog dengan makhluk
halus, siluman, wong samar. Hendaknyapunyai
keteguhan iman yang tak goyah oleh kemungkinan adanya bujukan, rayuan, bahkan
juga tipu muslihat makhluk halus, siluman, wong
samar yang diajak berhubungan atau berdialog.
Jelasnya begini : Kalau
anda seorang yang penakut, sebaiknya tidak usah mencoba-coba atau berpura-pura
memberanikan diri. Sebab, banyak di antara makhluk halus, siluman, wong samar yang sukaiseng, suka nakal.
Bisa saja si makhluk halus, siluman, wong
samar itu, tanpa anda duga atau anda harapkan tiba-tiba menampakkan diri
dalam wujud yang menyeramkan. Jika anda memang seorang penakut, apalagi punya
penyakit jantungan, akibatnya bisa fatal.
Kalau anda seorang yang
kurang teguh imannya, dalam kontak, atau dialog itu tanpa anda sadari anda
sudah dikelabui olehnya. Banyak cara yang dapat mereka pergunakan untuk mengelabui
anda. Misalnya, dalam suasana dialog itu, sering kali terjadi percakapan yang
mengasyikkan. Karena makhluk halus, siluman, wong samar akan dengan mudah membaca pikiran anda, harapan dan
tujuan anda. Sehingga tanpa anda sadari, anda sudah berada di bawah angin,
“diatur” olehnya. Disinilah mereka kemudian akan menawarkan berbagai kesaktian
kepada anda. Bila anda menerimanya secara otomatis anda sudah masuk kedalam
perangkapnya. Karena selanjutnya anda akan memuja atau nyungsung si makhluk halus, siluman, wong samar yang member anda paica,
pica kesaktian itu. Dan hal seperti inilah yang umum terjadi di Bali.
o. Materi dan manra
Materi atau sarana yang
paling umum digunakan di Jawa, bila ingin melakukan kontak, atau berdialog
dengan makhluk halus, siluman, atau wong
samar adalah wangi-wangian, kembang
talon, asap kemenyan, dupa. Mungkin juga sedikit jajan, permen, atau kopi.
Fungsi utama wewangian itu adalah untuk membuka kontak atau mencari hubungan
dengan makhluk halus, siluman, wong
samar. Setelah kontak didapatkan, maka untuk “mengikatnya”, sering kali
digunakan daun sirih yang ruasnya saling bertemu. Orang Jawa menyebutnya, sirih temu rose. Ikatan dengan sirih temu rose ini penting, karena jika
idak, kontak dengan makhluk halus, siluman, wong
samar itu akan mudah lepas lagi.
Selain itu, anda juga
harus menguasai mantra-mantra pengundang makhluk halus, siluman, wong samar. Salah satu mantra yang biasa
digunakan oelh masyarakat Jawa Tengah untuk mengundang dan mengadakan kontak
dengan makhluk halus, siluman, wong
samar, adalah sebagai berikut : Badan
halus Dewa alus, Dewane badan alus mara seboa ing nagrsaningsun mara seba mara
sabda mara alus mawar melati kenanga minangka sarana ber-ber ingsun bakal wawan
sabda ber-ber wangsulana pandanginsun. Badan alus Dewa alus, Dewane badan alus
mara eka mara seba ber-ber seba ing ngarsaningsun.
p. Beberapa petunjuk praktis
Pertama, anda harus
lebih dulu yakin bahwa apa pun yang terjadi, apa pun yang anda alami, tak akan
membuat anda goyah iman. Tidak akan membuat ana “tinggal glanggang colong
payu”. Melarikan diri. Kedua, siapkan sarana dan prasarana, lalu bulatkan niat,
niat untuk memanggil makhluk halus, siluman, wong samar dan mengajaknya bekerja sama. Setelah itu, barulah
membaca mantra. Ketiga, sekali lagi, jangan anda goyah bila tiba-tiba melihat
suatubentuk samar-samar (mulanya, bentuk itu agak goyang-goyang, seperti gambr
televise yang kacau, lalu makin lama makin stabil), atau sesuatu yang seperti
asap, atau mendengar suara tanpa wujud. Jangan andatakut, dan jangan pula
gugup, karena itu sebagai tanda, antara anda dengan makhluk halus, siluman, wong samar telah terjadi kontak. Kalau
anda takut atau gugup, maka kontak itu akan segera hilang lagi.
Agar kontak yang telah
terjalin tidak terlepas lagi, maka taruhlah selembar daun sirih yang “temu
rose” di antara kedua telapak tangan anda, dengan bagian ujung daun mengarah ke
pangkal telapak tangan. Bila kontak sudah terbina, maka anda sudah bisa
berdialog dengan akhluk halus, siluman wong
samar.utarakanlah apa maksud dan tujuan anda mengadakan kontak dengannya.
Inginkaya, ingin sakti, ingin naik pangkat dan sebagainya. Jawaban dari pihak
makhluk halus, siluman, wong samar biasanya
akan terdengar melalui telinga batin anda.Itu kalau anda termasuk orang yang
memiliki bakat ketajaman pendengaran batin. Tetapi, kalau anda termasuk orang
yang tajam penglihatan batinnya, maka anda lebih mudah melihat bentuk, wujud
makhluk halus, siluman, wong samar itu,
dan ia akan memberikan jawaban melalui berbagai isyarat yang dapat anda lihat
denga mata bathin.
Cara Padepokan Sastra
Jendra : Mendapatkan kesaktian dari para makhluk halus, siluman atau wong samar, tidaklah susah. Hanya dengan
sedikit keberanian dan sedikit nekat. Anda sudah bisa mendapatkan kesaktian dari
makhluk halus, siluman atau wong samar. Contoh
: Ada seseorang dari Belimbing sari, Melaya, Jembrana, Negara, Bali. Walaupun
dia orang Bali, tapi sejak kakek buyutnya katanya keluarganya sudah memeluk
agama Kristen. Dan mayoritas penduduk di sana memang beragama Kristen. Bahkan
ada sebuah Gereja yang cukup besar berdiri megah di sana. Sebagai seorang
Kristen tentu saja masyarakat di sana, tidak mengenal apaitu yang namanya
upakara apalagi banten.
Kemudian dia berkisah,
pada suatu hari karena ada sedikit kesalahan yang dibuatnya. Dia dimarahi orang
tuanya, dan ada kata-kata dari orang tuanya yang membuatnya sakit hati. Karena
itu diapun ingin mati. Kira-kira jam 11 malam dia pergi ke dalam hutan untuk
mati. Sampai di dalam hutan dia malah menjadi bingung. Cara mati yang bagaimana
akan dilakukannya, karena tidak menemukan jawabannya, dia pun nangis
sesenggukan sapai air matanya menjadi kering. Tiba-tiba saja dia baru menyadari
ada sesuatu yang aneh dihadapannya. Ada sosok tinggi besar dan sangat menyeramkan
berdiri di hadapannya. Di kaget dan mau melarikan diri, tapi kemudian dia
sadar, bukankah dia ingin mati? Maka dipasrahkanlah dirinya kepada makhluk
raksasa yang tinggi besar dan menyeramkan itu. Siap untuk dimakan.
Anehnya raksasa itu
tidak memakannya, malah menyuruhnya duduk. Dan raksasa itu pun berkata, “aku
tahu kesusahanmu, aku tahu perasaanmu. Tapi mulai sekarang jangan takut,
ambilah ini”, kata si raksasa sambil memberikan sesuatu kepada teman tersebut.
Bentuknya seperti batu kecil hitam mengkilat. Si raksasa itu kembali berkata,
“ekarang pulanglah bila nanti ada yang menyakitimu, genggam erat-erat batu itu,
sambil membayangkan wajah orang tersebut, maka orang itu akan celaka dan tidak
berani lagi menyakitimu. Dan sejak itu dia memang menjadi orang sakti, sakti
seperti siluman. Karena setiap orang yang diacep
pasti celaka.
Tetapi beberapa bulan
kemudian keluarganya mulai sial. Pertama neneknya yang tiba-tiba menjadi buta
tanpa sebab. Kedua, ibunya yang kemudian sakit-sakitan da akhirnya meninggal.
Setelah ituadiknya yang paling kecil menjadi idiot. Dan kejadian terakhir yang
paling menyedihkan dirinya, adalah ayahnya yang kedapatan terkapar, bersimbah
darah, tertimpa pohon yang ditebangnya sendiri, dan akhirnya meninggal. Karena
sudah tidak kuat mendapatkan kesialan seperti itu. Orangitu pun meminta tolong balian agar bisa lepas dari kesialan
itu. Maka balian itu pun menyarankan agar
dia mengembalikan paica, pica batu
yang didapatnya di dalam hutan itu. Dia menyanggupinya, dengan catatan diantar
oleh balian tersebut. Kemudian balian itu mengantarnya sampai ke hutan
tempat dimana dia mendapatkan paica,pica tersebut.
Setelah itu dia kembali menjadi manusia biasa, tidak sakti lagi. Tapi
keluarganya tidak lagi mengalami kesialan-kesialan yang tidak masuk akal.
Mengakses kesaktian siluman tidaklah sukar. Tanpa
sarana pun sudah bisa, apalagi ada sedikit sarana dan prasarana yang memadai.
Kemudian ada lagi sebuah kisah di taman beji yang terkenal angker,tenget. Pada suatu malam Sesepuh
Padepokan Sastra Jendra pergi mendatangi tempat tersebut. Dengan sarana canang
dan dupa wangi ia pergi sendiri. Di jaba pura tamanitu ada serumpun pohon
bambu, dan sewaktu melintas di bawah pohon bambu itu, tiba-tiba ada suara-suara
aneh, seperti batang bamboo yang dipukul-pukul dalam irama yang tidak teratur.
Waktu itu ia menoleh sebentar lalu melanjutkan berjalan menuju pintu gerbang
pura.
Di depan pintu gerbang pura taman itu, lagi ada
kejadian. Seekor kelawar menyambar-nyambar dirinya, seolah-olah melarangnya
asuk ke dalam pura. Pura taman itu terletak di bawah tebing, di pinggir kali.
Setelah sampai did ala pura ia pun mulai menyiapkan diri, untuk sembahyang dan
bermeditasi. Pada saat mulai sembahyang dengan mata terpejam. Tiba-tiba tebing
yang ada di atas pura itu meledak! Terdengar suara ledakan diiringi dengan
guguran batu-batu besar dan kecil, berjatuhan dikitarnya. Kemudian dia mendengar
banyak suara langkah kaki mengelilingi, tapi ia tetap bermeditasi. Sampai
akhirnya ia mendengar semacam pertanyaan, apa yang ia inginkan? Di dalam batin
ia menjawab “Saya tidak ingin apa-apa”. Disambung lagi oleh suara itu, kalau
tidak ingin apa-apa pulang saja, jangan di sini, katanya. Akhirnya ia pun
menghentikan meditasi dan kembali pulang.
Yang kedua, di daerah Munggu Badung, ada juga
sebuah pura taman beji yang angker, tenget,
dan dihuni oleh siluman kodok raksasa. Begitu yang tertulis didalam sebuah
media. Karena penasaran sesepuh ini pun mencari pura tersebut dan bertemu. Pada
hari yang telah ditentukan, dengan membawa sarana banten dua buah sodan kecil, dupa
wangi, ia menyambangi pura tersebut. Sekitar jam setengah sebelas malam, ia
sampai di sana. Lalu menghaturkan sesaji sodan dan dupa wangi, selanjutnya
bermeditasi. Setengah jam kemudian ia mendengar suara mendesis, dari angkasa
seperti suara rem angin pada mobil. Dan tiba-tiba dadanya berdebar kencang,
napas seakan-akan sesak, dengan bulu kuduk di badan berdiri semua. Baru kali
ini ia berhadapan dengan siluman yang begitu sakti.
Untungnya kesadarannya masih terjaga dan pikirannya
masih bisa bisa bekerja. Ia lalu merubah pola meditasi yang dilakukan. Tidak
cukup hanya dengan meditasi biasa, tapi meditasi khusus yang disebut dengan
“meditasi kematian”. Dimana tidak setiap saat boleh dilakukan. Kecuali dalam
situasi yang sangat gawat, yang menyangkut hidup dan mati. Setelah melakukan
meditasi yang seperti itu, tidak lama kemudian ia mendengar suara, “kuek” yang
sangat keras dan panjang memekakan telinga. Seperti suara ular, tapi juga mirip
suara kodok. Siapapun yang mendengarnya seakan-akan “bedah kupinge, pecah
tendase”.
Anehnya lagi, walaupun telinganya seperti mendengar
suara bentakan keras seperti itu, tapi batinnya menerima berbeda. Batinnya
mendengar seperti suatu pertanyaan, apa yang kamu inginkan? Kemudian ia
menjawab, “Saya tidak ingin apa-apa, saya hanya ingin berkenalan”. Kembali
terdengar suara “kuek”. Yang artinya, “Kalau memang tidak ingin apa-apa, cepat
tinggalkan tempat ini, rakyatku sudah pada gelisah, karena tidak kuat menahan
panas”, katanya. Ia pun kemudian permisi dan meninggalkan tempat tersebut.
Kemudian ia sering mendapatkan paica. Yang
pertama mengaku utusan dari Bhetara di Besakih, mengantarkan paica, pica berupa dua buah batu
permata. Saut berwarna merah dan satunya berwarna kuning. Konon yang merah
untuk pengobatan, sedangkan yang kuning untuk rejeki. Yang kedua mengaku
utusan-utusan dari Bhetare di Pulai, mengantar satu bendel uang kepeng, pis bolong. Konon berfungsi untuk memperbesar
kerejekian. Karena sudah diantar, dan yang mengantar tidak minta imbalan
apapun, karena tiba-tiba menghilang begitu saja. Maka diterimanya dan disimpan
ditempat yang layak.
3). Kanda Empat Dewa
a. Mitologi 9 Dewa
Bali, dikenal dengan
julukan pulau seribu pura. Dan bila masing-masing pura itu ada satu Dewa yang
distanakan, berarti ada seribu Dewa di Bali. Itulah alasannya, kenapa kemudian
Bali juga diberi julukan Pulau Dewata. Pulaunya para Dewa. Kalau memang demikian,
seharusnya Pulau Bali adalah pulau yang aman tenteram, kerta raharja dan gemah ripah
loh jinawi. Di Bali, pura juga disebut kahyangan
atau parhyangan. Sebagaimana
ditetapkan dalam Keputusan Seminar
Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu, fungsi purayakni sebagai
tempat memuja Hyang Widhi Wasa, dalam setiap Prabawa (manifestasi-Nya) dan Atma
Sidha Dewata (roh suci leluhur). Di Bali, puradikeompok-kelompokkan dengan
tujuan meningkatkan pengertian dan kesadaran umat terhadap pura, sebagai tempat
suci dan menghindari adanya salah tafsir, bahwa dengan adanya banyak pura dan
juga banyak pelinggih di suatu pura, agama Hindu dianggap polytheistic.
Adapun dasar
pengelompokkanpura di Bali, yakni : tattwa Agama Hindu yang berpokok pangkal
pada konsepsi ketuhanan :”Ekam sat wipra bahudha vadanti” (hanya satu Tuhan
Yang Maha Esa orang bijaksana menyebutnya dengan banyak nama), “Brahman Atman
Aikyam” (Brahman dan Atman pada hakekatnya adalah tunggal). Karenaitu,
bilamanaanda sudah memahami ajaran Kanda
Pat Dewa, maka sembahyang di pura ataupun di rumah tidak akan jadi masalah,
hasilnya akan sama saja. Artinya bagi anda yang sudah menguasai ajaran ini,
dalam melakukan sadhana-sembah-bakti kehadiran
ke pura bukanlah persyaratan mutlak.
Untuk mempermudah
pengertian kita, dan berdasarkan arah mata angin, maka ada 9 Dewa yang berkuasa
di jagat ini. Yang masing-masing berstana di 8 penjuru mata angin dengan Siwa
di tengah sebagai pusatnya. Mereka kemudian disebut Dewata Nawa Sangga. Dewata
Nawa Sangga merupakan sembilan Dewa utama dalam agama Hindu. Mereka memiliki
peran yang sangat penting di Dunia ini seperti : Menjadi guru Dewa yang telah
menurunkan berbagai ilmu pengetahuan kepada manusia, serta akan menuntun kita
mencapai moksa. Dewata Nawa Sangga merupakan penguasa di Sembilan penjuru mata
angin. Dan menjadi pelindung serta memberikan vibrasi kesucian di setiap hari.
Dewata Nawa Sangga
terdiri dari tiga kata yaitu :Dewa yang berarti sinar suci Tuhan, Nawa yang
berarti Sembilan dan Sangga yang berarti kumpulan. Jadi Dewata Nawa Sangga
adalah kumpulan Sembilan Dewa utama dalam agama Hindu.
b. Penguasa 8 penjuru mata angin
Adapun posisi Dewata
Nawa Sangga di delapan penjuru mata angin, berdasarkan kekuasaannya,
kendaraannya, warna dan senjatanya adalah sebagai berikut : 1. Dewa Iswara
merupakan peguasa arah timur berkendaraan gajah, warnanya putih bersenjata
Bajra. 2. Dewa Brahma merupakan penguasa arah selatan. Berkendara angsa,
warnanya merah, bersenjata gadha. 3. Dewa Mahadewa merupakan penguasa rah
barat. Berkendaraan Naga, warnanya kuning, bersenjatakan panah Nagapasa.4. Dewa
Wisnu merupakan penguasa arah utara. Berkendaraan Garuda, warnanya hitam,
bersenjatakan Cakra. 5. Dewa Sambu merupakan peguasa arah timur laut.
Berkendaraan Detya, warnanya abu-abu, bersenjatakan Trisula. 6. Dewa Mahesora
merupakan penguasa arah tenggara. Berkendaraan Macan, warnanya merah muda,
bersenjatakan Dupa. 7. Dewa Rudra merupakan penguasa arah barat daya.
Berkendaraan Lembu, warnanya orange, bersenjatakan Moksala. 8. Dewa Sangkara
merupakan penguasa arah barat laut. Berkendaraan Singa, warnanya hijau,
bersenjatakan Angkus. 9. Dewa Siwa merupakan penguasa di pusat jagat,
berkendaraan Lembu Andini, warnanya manca warna, bersenjatakan Padma Trisula.
Untuk mewujudkan
keberadaan beliau secara sekala, dan demi menjaga keamanan serta kesucian Bali.
Maka para leluhur terutama para Maharsi, para Mpu, Dewata Nawa Sangga kemudian
distanakan di Sembilan pura, yang dibangun berdasarkan 8 arah mata angin di
Bali. Berdasarkan hasil “Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Aspek-Aspek Agama
Hindu”, yang berlangsung bulan Mret 1981, dihubungkan dengan konsepsi Padma
Bhuwana, maka terdapat Sembilan Kahyangan Jagat (Pura) di Bali. Yang kemudian
menjadi stana Dewata Nawa Sangga yaitu : 1. Pura Lempuyang di timur sebagai
sthana Dewa Iswara. 2. Pura Andakasa di selatan sebagai sthana Dewa Brahma. 3.
Pura Batukaru di barat sebagai sthana Dewa Mahadewa. 4. Pura Ulun Danu Batur di
utara sebagai sthana Dewa Wisnu. 5. Pura Besakih di timur laut sebagai sthana
Dewa Sambu. 6. Pura Goa Lawah di tenggara sebagai sthana Dewa Mahesora. 7. Pura
Uluwatu di barat daya sebagai sthana Dewa Rudra. 8. Pura Pucak Mangu di barat
lut sebagai sthana Dewa Sangkara. 9. Pura Pusering Jagat di tengah sebagai
sthana Dewa Siwa.
c. Istadewata
Menurut Ngurah Nala, Istadewatadi dalam Kamus
Sansekerta-Indonesia (Astra, 1985), kata ista
bermakna mencari, yang diingini, dicintai. Sedangkan kata dewata diartikan sebagai kekuatan, kesadaran. Menurut Apte (1978), istadewata berarti Dewa yang sangat
dicintai dan dipuja. Dewa yang sangat didambakan dan sebagai pelindung, yang
selalu memberikan pertolongan kepada pemuja-Nya. Jadi, istadewata merupakan istilah untuk Dewa (termasuk Dewi, para Dewa
dan para Dewi) yang sangat dipuja, dan dicintai oleh pemujaNya. Selain itu,
Dewa ini juga berfungsi sebagai pelindung terhadap umatNya. Dewa ini merupakan
Dewa pujaan yang paling diminati, sangat diidam-idamkan sesuai fungsi atau
profesinya atau profesi pemujaNya.
Sedangkan menurut Puja
dkk (1982) dalam Siwa Sasana, memberikan makna yang agak berbeda tentang istadewata. Kata dewata diartikan sebagai Dewanya para Dewa. Bukan berarti banyak
Dewa Dewata kadang pula disebut dengan istilah istadewa atau istadewata. Yang
dimaksudkan dengan Ista Dewata ini adalah Tuhan Yang Maha Pencipta dan Esa,
yang tiada lain adalah Dewa Siwa. Dewata sebagai suatu istilah yang
keberadaannya selalu tunggal, esa, tidak jamak. Ista Dewata merupakan sumber atau asal dari semua ciptaan, baik
alam semesta dengan segala isinya, maupun para Dewa. Ista Dewata adalah titik pusat cakra,
yang dikenal dengan nama windu atau
bindu. Setiap cakra akan mengelilingi windu
sebagai titik pusat putaran.
Umat Hindu di Bali yang
mayoritas menganut ajaran Siwa Sidhanta, menurut mereka yang dimaksud istadewata adalah Dewa Nawasanga
(Nawasangga). Kesembilan Dewa ini adalah para Dewa yang melinggih, bersthana, berada di delapan arah penjuru mata angin
ditambah satu Dewa berada di tengah-tengah. Kedelapan Dewa sesuai arah mata
angin adalah Dewa Iswara malinggih di
timur (purwa), Maheswara di tenggara (agneya), Brahma di selatan (daksina),
Rudra di baraat daya (neriti), Mahadewa di barat (pascima), Sangkara di barat
laut (wayabya), Wisnu di utara (uttara), Sambhu di timur laut (ersania),
ditambah Dewa Siwa yang malinggih di tengah-tengah (madya). Seperti yang sudah
disebutkan di muka.
Kesembilan Dewa inilah
yang dipercayai dan diyakini oleh umat Hindu di Bali, yang dianggap mampu
memberikan kesejahteraan, kedamaian, perlindungan dan pertolongan, serta
menjaga keselamatan umat dari mara bahaya, yang selalu datang dari sembilan
arah penjuru mata angin. Jadi, wajarlah jika para Dewa ini disebut sebagai istadewata oleh mereka, Dewa yang amat
diinginkan serta didambakan keberadaanNya oleh umat Hindu di Bali, yang
diyakini akan mampu menentramkan batin mereka.
d. Bhatara dan Bhatari
Di Bali para Dewa dan
Dewi juga sering disebut dengan bhatara dan
bhatari. Istilah Dewa yang berarti
sinar, kurang akrab di hati masyarakat Bali. Berlainan halnya dengan bhatara. Kata bhatara berasal dari bahasa sansekerta (bhatr), yang bermakna Dewa,
raja, yang dipertuan, pelindung, pengayom. Bhatara
dan bhatari adalah sosok yang saguna, sekala, tampak, berupa Dewa atau
Dewi menjelma ke Dunia berwujud manusia. Bhatara
merupakan sosok lambing maskulin, kejantanan,
pria, laki-laki, lambing keperkasaan. Bhatari
adalah sosok simbol feminism, kebetinaan,
perempuan, wanita, symbol keibuan. Tugas penjelmaannya ini adalah untuk
melindungi umat manusia dari kehancuran. Itulah yang menyebabkan Dewa Siwa
menjadi Bhatara Siwa. Dewa Iswara menjadi Bhatara Iswara. Dewa Brahma disebut
Bhatara Brahma. Dewa Mahadewa juga disebut Bhatara Mahadewa. Dewa Wisnu dengan
panggilan Bhatara Wisnu, dan seterusnya.
e. Sang Hyang
Menurut Kamus
Kawi-Indonesia (Wojosito, Th,-), kata sang
adalah partikel penghormatan, kata tunjuk orang. Menurut Kamus Umum Bahasa
Indonesia (Poerwadarminta, 1998), kata sang
adalah kata penyerta yang menyatakan hormat, dipergunakan di depan nama
Dewa, atau di depan nama benda yang dimuliakan. Kata hyang berarti Dewa, bhatara, atau yang dipuja, yang dihormati. Oleh
sebab itu kata Sang Hyang sering pula dipergunakan sebagai pengganti kata Dewa
atau Bhatara. Contoh, Dewa Siwa disebut Sang Hyang Siwa. Dewa Iswara dihormati
sebagai Sang Hyang Iswara. Dewa Brahma dipuja sebagai Sang Hyang Brahma. Dewa
Mahadewa disebut Sang Hyang Mahadewa. Dewa Wisnu dengan panggilan Bhatara Wisnu,
dan seterusnya.
Selain itu, dalam
bahasa Kawi kata hyang selain identik
dengan Dewa, bisa juga berarti suci. Jadi, tak perlu repot atau menjadi
bingung. Sebutan manapun yang dipakai atau dipilih semuanya benar. Hal ini
berkaitan erat dengan rasa bakti, kemantapan serta penghayatan akan hakekat
Brahman, Hyang Widhi atau Tuhan itu sendiri. Tidak tergantung kepada nama atau
sebutannya.
f. Perang sepanjang masa
Mungkin disini ada
sedikit pertanyaan. Mengapa para Dewa digambarkan sebagai seorang panglima
perang? Apakah mereka akan berperang? Dengan siapa para Dewa berperang?
Perhatikanlah kutipan berikut : Dewa Iswara rupanya putih, senjatanya bajra,
mengendaraigajah. Dewa Brahma rupanya merah, senjatanya gada, mengendarai Angsa.
Dewa Mahadewa rupanya kuning, senjatanya Nagapasah, mengendarai Naga. Dewa
Wisnu rupanya hitam, senjatanya Cakra, mengendarai Garuda. Dewa Siwa rupanya
mancawarna, senjatanya Padma, mengendarai Lembu. Dan masih banyak Dewa-Dewa
lainnya. Semuanya digambarkan membawa senjata dengan pakaian perang, serta mengendarai
binatang. Apakah arti semua ini?
Dalam mitologi Hindu,
ada banyak cerita tentang peperangan antara Dewa-Dewa dengan para raksasa.
Kelihatannya, seakan-akan para Dewa dengan para raksasa itu, terus-menerus
berperang. Bahkan konon, hari raya Galungan dan Kuningan yang merupakan hari
raya besar Hindu di Bali, merupakan hasil peperangan antara Dewa Indra dengan
raksasa Maya Denawa. Karena itu pulalah hari raya itu, disebut sebagai hari
kemenangan dharma melawan adharma.
Menurut Kena Upanisad,
yang diulas oleh Rohit Mehta. Hal ini tidak aneh, karena mereka mewakili dua
pihak yang berlawanan dari pikiran. Dan peperangan yang terus menerus – perang
sepanjang masa – antara kedua itu, merupakan kehidupan pikiran itu sendiri.
Maka dari itu, hendaknya kita tidak lupa bahwa, Dewa-Dewa itu merepresentasikan
pikiran – yang oleh buku-buku keagamaan digambarkan sebagai pikiran lebih
tinggi, atau pikiran positih. Yang bertentangan dengan pikiran lebih rendah
atau pikiran negative, yang direpresentasikan para raksasa. Meskipun Dewa-Dewa
itu digambarkan melambangkan pikiran yang lebih tinggi atau pikiran positif –
mereka tetap merupakan bagian dari kemasan pikiran dengan segala
kemungkinan-kemungkinannya. Artinya tetap ada kemungkinan untuk menjadi sombong
dan tersesat.
Dan contoh cerita
berikut bisa dijadikan gambaran. Saya ambil dari cerita pewayangan yang
berjudul Wahyu Makutarama. Dikutip dari buku “Wayang dan filsafat Nusantara”
tulisan Dalang Ir. Sri Mulyono (Alm.). Alkisah, dalam suatu siding kabinet Astina,
Lesmana mendapat perintah dari ayahnya untuk mencari Wahyu Makutarama ke puncak
gunung Sewalagiri. Lesmana dikawal pasukan lengkap dalam siaga satu, dibawah
pimpinan Panglima perang Basukarna. Namun para Kurawa – pikiran rendah atau
negative – tidak mampu menyingkirkan empat Bayusuta bersaudara, yang menjaga
Suwelagiri. Mereka itu adalah Anoman (melambangkan nafsu putih), Liman
Situbanda (melambangkan nafsu hitam), Garuda Maharimba (melambangkan nafsu
kuning) dan Naga Kewara (melambangkan nafsu merah).
Pendek kata Lesmana
gagal. Mengapa ia gagal? Karena barang siapa ingin mencapai ngelmu kesampurnan, haruslah dapat
menghancurkan dirinya terlebih dahulu. Selama ia belum dapat menghancurkan
dirinya pribadi (egoism), sombong, angkuh, takabur dan masih menyala-nyala
nafsu angkaranya, tidak mungkin dapat mencapai tujuan. Termasuk juga dalam
memahami ajaran Kanda Pat Dewa ini.
Di lain pihak, Arjuna pun mendapat tugas yang sama yaitu mencari Wahyu
Makutarama di puncak Gunung Sewalagiri.
Dikisahkan, Arjuna sedang
dalam keadaan sedih dan gelap hatinya. Karena belum menemukan jalan untuk
memperoleh wahyu. Kegelapan hati dan ketidaktahuan Arjuna ini disimbolkan
dengan adegan Arjuna di tengah hutan lebat belantara. Ia duduk bersila di atas
batu gilang, bagaikan permata lepas dari embannya. Tepekur dengan khusuknya, di
bawah rindangnya pohon beringin. Ia tenggelam dalam renungan menunggu datangnya
terang dan cahaya.
Tiba-tiba terbangun dan
sadar, bahwa ia tidak sendirian. Ia bersama dengan kawan yang bijak; Siapakah mereka
itu? Mereka adalah ualen dan Merdah. Dalam kegelapan, Tualen berfungsi sebagai
Badranaya, yaitu sebagai tuntunan dan pemberi petunjuk. “O, Tuanku”, Tualen
menyapa dengan sopannya : “Dalam mencari wahyu, orang tidak dapat mengandalkan
kuatnya otot, kukuhnya badan dan tajamnya nalar belaka. Tetapi bekal yang utama
dalam olah ngelmu adalah kesentosaan
batin, kemauan dan tekad. Karena itu ikutilah empat petunjukku yaitu, Heneng, Hening, Hawas dan Heling.
Heneng;
artinya
mampu mengheningkan dan melawan getaran kehendak yang jahat, karena itu
hendaknya tuanku, mampu menghindar dari keinginan-keinginan yang menggoda. Hening; artinya, jernihkan pikiranmu.
Jangan sampa dapat dikotori dan bercampur dengan “jlantahnya nafsu angkara”. Hawas; artinya, waspadalah terhadap
hambatan, rintangan dan segala sesuatu yang menyebabkan kegagalan. Heling; artinya, ingatlah bahwa manusia
itu makhluk diciptakan oleh Sang Pencipta. Manusia memang wajib berusaha sekuat
tenaga, namun serahkan hasilnya kepada Sang Pencipta. Karena itu setiap
tindakan yang tuanku lakukan hendaknya disertai doa kepada Sang Pencipta, agar
tuanku diberi kemudahan, petunjuk dan anugrah-Nya.
Petuah tualen tersebut
bagi Arjuna benar-benar merupakan pelita dalam kegelapan. Maka dalam perjalanan
selanjutnya diceritakan, di tengah hutan ang gelap itu Arjuna kemudian dihadang
oleh tiga raksasa, yaitu Bhuta Cakil (melambangkan nafsu kuning), Bhuta Rambut
Geni (melambangkan nafsu merah), dan Bhuta Pragalbo (melambangkan nafsu hitam).
Satu persatu raksasa itu dengan mudah dikalahkan oleh Arjuna. Tingglah raksasa
Pragalbo yang kemudian dengan garang menerkam Arjuna. Tanpa beranjak dari
tempatnya, Arjuna mengayunkan tangan kanannya, menempeleng kepala raksasa
Pragalbo, yang kemudian tersungkur tak berkutik lagi, mati seketika. Kejadian
ini membuat Arjuna menjadi sombong, takabur. Ia sesumbar dan menganggap dirinya
sebagai manusia paling sakti dan tak terkalahkan. Manusia setengah Dewa sakti
manderaguna.
Namun malang bagi
Arjuna, kesombongannya harus dibayar mahal. Karena Betara Guru tidak terima
dengan kesombongan Arjuna, lalu “masuk” ke tubuh raksasa Pragalbo. Pragalbo
bangkit, langsung menggigit Arjuna hingga tewas. Kejadian ini membuat Tualen
marah, maka dihajarlah raksasa Pragalbo habis-habisan, sehingga Bhatara Guru
menampakkan diri. “Kakang Tualen” Bhatara Guru mulai memberikan penjelasan.
“Ketahuilah bahwa ternyata Arjuna kini masih belum dapat heneng dan hening hatinya.
Ia masih diliputi angkara, sifat tergesa-gesa adigang, adigung, adiguna. Kalau sifat ini berkembang tentu akan
mendatangkan malapetaka. Jadi jelas, saat itu perlu dipersiapkan. Dan
percayalah, bahwa Arjuna akan memperoleh wahyu, asalkan ia sabar, tenang, rela
ikhlas dan pasrah”, kata Bhatara Guru.
Singkat cerita, Arjuna
kemudian berhasil mendapatkan Wahyu Makutarama. Untuk merayakan keberhasilannya
itu keluarga Pandawa kemudian menggelar upacara Dewa yadnya, “Ngenteg Linggih
Padudusan Agung”, sebagai rasa terima kasih atas anugrah yang diberikan Sang
Pencipta. Tiba-tiba Tualen bertanya kepada Arjuna, “tuanku berapa banyak Dewa
yang harus dimintai pertolongan oleh pendeta untuk melindungi yadnya, agar bisa
aman dan selamat? Arjuna berkata, “Hanya satu Dewa yang harus dimintai
pertolongan”. Tualen bertanya, “Siapakah Dewa yang satu itu, yang memberikan
jaminan perlindungan sepenuhnya apabila dimintai pertolongan?” Arjuna menjawab,
“Pikiran saja-karena pikiran sesungguhnya tak terbatas-anantam-vai-manah”. SemuaDewa itu hanyalah merupakan produk-produk
pikiran, dan karenanya dengan pertolongan pikiranlah yadnya itu dapat
sepenuhnya dilindungi. Ingat, sebagaimana engkau berpikir, begitulah engkau
menjadi. Begitu kata kitab suci.
Dan di dalam
kitab-kitab Upanisad pun disebutkan “barang siapa yang dapat membebaskan pikirannya
dari pengaruh-pengaruh sattwa, rajas dan tamas. Maka orang itu akan memiliki
pikiran terbuka. Pikiran yang terbuka adalah pikiran yang menyadari, yang telah
dijelaskan oleh pengetahuan. Ini adalah pikiran sensitif, yang siap menerima
bahkan isyarat yang paling samar-samar sekalipun tentang Brahman-ini
sesungguhnya adalah pikiran yang dapat memberikan respons kepada suara
keheningan”. Pikiran yang bebas dari seluruh atributnya pasti akan berhadapan
dengan kekosongan-karena semua proyeksinya telah lenyap. Seluruh kreasi pikiran
hilang-pikiran menghadapi kekosongan, artinya pikiran tanpa aktivitas pikiran
atau pikiran tanpa berpikir. Pikiran plong, kosong. Dan di dalam kekosongan
itulah Brahman bersemayam.
g. Ajaran Kanda Pat Dewa
Menurut beberapa orang
sarjana, para Dewa menyatakan kekuatan-kekuatan alam. Iswara menyatakan angin,
Brahma menyatakan api, Mahadewa menyatakan tanah, dan Wisnu menyatakan air.
Namun, walaupun di dalam agama Hindu, termasuk di dalam ajaran Kanda Pat Dewa
ini. Dikenal banyak Dewa, bukanlah berarti tidak mengakui adanya asas Ketunggalan.
Seperti yang sudah dijelaskan dimuka. “Hanya satu Tuhan Yang Maha Esa orang
arif bijaksana menyebutnya dengan banyak nama”.
Selain itu, di dalam
doa-doa para Arya Weda kita menemukan kecenderungan untuk memuliakan Dewa-Dewa
yang dipuja. Seperti, bila Dewa Wisnu atau Dewa Brahma yang dipuja, maka
Dewa-Dewa tersebut memiliki segala atribut dari Yang Maha Tinggi, atau Tuhan
Yang Maha Esa. Pandangan ini jelas menyangkal adanya kejamakan para Dewa. Akan
tetapi, walaupun hanya ditekankan satu Ketuhanan, berulang-ulang sejenis
trinitas (trimurti) diakui pada Brahma, Wisnu dan Siwa. Sementara Brahman
adalah prinsip penciptaan, Wisnu adalah pemelihara dan Siwa pelebur. Diantara
para Dewa Weda, Wisnu dan Siwa terus bertahan, dan agama Hindu tanpa Wisnu dan
Siwa bukanlah Agama Hindu. Akhirnya, dengan serangkaian perkembangan Wisnu dan
Siwa disamakan dengan Brahman dalam kitab-kitab Upanisad.
Dalam sebuah Upanisad
ada suatu kutipan yang menarik perhatian sebagai berikut : “Para Dewa senang
tersamar sedemikian rupa dan tidak menyukai yang menonjol”. Banyak sarjana yang
tidak memperhatikan kalimat esoterik ini.
Dan bila anda memahami makna kalimat tersebut, anda akan menjadi Manusia setengah
Dewa sakti manderaguna. Artinya, bila anda ingin berhasil menguasai ajaran
Kanda Pat Dewa ini, anda harus memiliki semangat, murah hati, sabar, welas
asih, bijaksana memiliki sifat berkeadilan dan bertoleransi. Jauh dari
keberadaannya sadhana, dan filsafat merupakan pengalaman spiritual. Dalam Kanda
Pat Dewa, simbolis dan kebenaran, esoteris
adalah suatu permainan kecerdasan yang sangat indah dan mempesona.
Pelajaran tentang Kanda
Pat Dewa mempunyai kesulitan yang sama seperti pesonanya. Mempesona karena
beragam keberadaannya. Sulit karena ia merupakan lambang atau symbol.Inilah
ajaran Kanda Pat Dewa yang bermula dari ajaran Kanda Dewa, yang disebut sebagai
saudara Dewa, ne melingga ring Gedong
Kusuma, Ida meraga Sang Hyang Siwa. Dari Sang Hyang Siwa inilah, kemudian lahir
Dewa-Dewa yang lainnya. Seperti, Sang Hyang Rwa Bineda, Sang Hyang Tiga Sakti,
Sang Hyang Panca Dewa, Dewa Nawa Sangga dan sebagainya. Semua itu adalah
merupakan pamurtian atau manifestasi
dari Siwa sendiri.
Pada waktu kita lahir
ke Dunia ini, maka pada saat yang sama lahir pula Sang Hyang Tiga Sakti. Beliau
Sang Hyang Tiga Sakti, amor ring Buwana
Agung, kemudian dipuja oleh semua makhluk di Dunia. Beliau bersthana di
Pura Desa, Pura Puseh dan Pura Dalem, dalam konsep Tri Kahyangan Desa. Yang
tidak lain adalah Siwa sendiri dalam trinitasnya sebagai Brahma, Wisnu dan
Siwa. Bila melayang-layang di ambara beliau berwujud Sang Hyang Agni atau
Brahma, dan yan sira amarga ring soring
pretiwi, beliau berwujud Sang Hyang Wisnu. Di dalam angga sariranta beliau melingga ring bayu, sabda lan idep.
h. Buwana agung dan Buwana alit
Ketika anda akan
menelusuri ajaran Kanda Pat Dewa, maka yang harus anda pahami lebih dahulu
adalah pengertian tentang Buwana agung dan Buwana alit. Buwana agung adalah
jagad Dunia, alam semesta raya, dan Buwana alit adalah “hati nurani” yang
tersimpan di dalam diri manusia. Namun demikian, walaupun disebut Buwana alit
sesungguhnya ia adalah Buwana agung. Mengapa bisa demikian? Karena Buwana Alit,
yang berada pada kedalaman hati nurani manusia akan menggenggam Buwana Agung.
Sebab, meskipun kelihatan kecil, tetapi hati manusia sebenarnya seluas langit
dan Bumi. Dalam istilah Balinya “sing ada gedenan teken keneh”, tidak ada yang
lebih besar dari keinginan manusia.
Termasuk dalam ajaran
Kanda Pat Dewa ini. Karena apa yang ada di Buwana agung, akan kita jumpai pula
di dalam Buwana alit. Seperti Dewa Nawa Sangga misalnya, ada di Buwana agung,
berarti ada juga di Buwana alit. Sebab, pada hakekatnya Buwana agung dan Buwana
alit adalah tunggal. Beginilah keberadaan para Dewa di Bhuwana alit, ring angga sariranta, mantra : “Om
Bhatara Iswara, ring purwa prenahira, rupanira putih, kayangan nira ring
papusuh, senjatanira Bajra. Merunira tumpang lima, babahanira ring kuping tengen,
wetunira ring idep. Om Bhatara Maheswara (Mahesora), ring Gneyan prenahira,
rupanira dadu, kayangan nira ring paparu, senjatanira Dupa, merunira tumpang
kutus, babahanira ring kuping kiwa, wetunira ring cita, lintiran tan salah
cita. Om Bhatara Brahma, ring Daksina prenahira, rupanira bang, kayangan nira
ring ati, senjatanira Danda (Gada), merunira tumpang siya, babahanira ring mata
tengen, wetunira ring panon, lintiran tan salah panon. Om Bhatara Rudra, ring
neriti prenahira, rupanira kuning, kayangan nira ring ungsilan, senjatanira
Moksala, merunira tumpang telu, babahanira ring mata kiwa, wetunira ring tutur.
Om Bhatara Mahadewa, ring Pascima prehanira, rupanira kuning, kayangan nira
ring ungsilan, senjatanira Nagapasah, merunira tumpang pitu, babahanira ring
irung tengen, wetunira ring sabda. Om Bhatara Sangkara, ring wayabya prenahira,
kayangan nira ring limpa, senjatanira Angkus, rupanira gadang, merunira tumpang
besik, babahanira ring irung kiwa, wetunira ring ambek. Om Bhatara Wisnu, ring
utara prehanira, rupanira ireng kahyangan nira ring ampru, senjatanira Cakra,
merunira tumpang papat, babahanira ring cangkem, wetunira ring pangwangan. Om
Bhatara Sambu, ring ersanya prenahira, rupanira biru, kayangan nira ring
ineban, senjatanira Trisula, merunira tumpang nem, babahanira ring pamungkar,
wetunira ring bayu. Om Bhatara Siwa, ring Madya prenahira, rupanira Mancawarna,
kayangan nira ring tumpuking ati, senjatanira Padma, merunira tumpang solas,
babahanira ring papusuh, wetunira ring manah, lintiranira tan salah manah. Om
Bhatara Guru, haneng madyaning awyakti prenahira, wetu nira ring adnyana,
lintiran angadegaken adnyana. Hyang Wisesa wetuning angen-angen ring byantara,
babahanira ring uneng-unengan, lintiran angadegaken adnyana. Hyang Wisesa wetuning
angen-angen ring byantara, babahanira ring uneng-unengan, lintiran angen-angen.
Om, Sang, Bang, Tang, Ang, Ing, Nang, Mang, Sing, Wang, Yang. Amepeki jagat
Buwana kabeh, anilahaken paksane, sakwehing kinaya-upaya, tuju teluh teranjana,
desti, pepasangan, sesawangan, rerajahan, tan tumama ring awak sariranku, apan
aku sarining tunjung putih”.
Bila anda dapat
meyakinkan angrangsukin mantra
tersebut di atas, maka akan banyak sekali kegunaannya, sakwehing gawenya wenang. Dan bila anda hanya akan angrasukin ajaran Kanda Pat Dewa, maka
mantra tersebut diatas menjadi lebih singkat sebagai berikut : “Om Bhatara
Iswara, ring purwa prenahira, rupanira putih, kayangan nira ring papusuh,
senjatanira Bajra, Merunira tumpang lima, babahanira ring kuping tengen, wetunira
ring idep. Om Bhatara Brahma, ring Daksina prenahira, rupanira bang, kayangan
nira ring ati, senjatanira Danda (Gada), merunira tumpang siya, babahanira ring
mata tengen, wetunira ring panon, lintiran tan salah panon. Om Bhatara
Mahadewa, ring Pascima prenahira, rupanira Kuning, Kayangan nira ring ungsilan,
senjatanira Nagapasah, merunira tumpang pitu, babahanira ring irung tengen,
wetunira ring sabda. Om Bhatara Wisnu,ring utara prenahira, rupanira ireng
kahyangan nira ring ampru, senjatanira Cakra, merunira tumpang papat,
babahanira ring cangkem, wetunira ring pangwangan. Om Bhatara Siwa, ring madya
prenahira, rupanira Mancawarna, kayangan nira ring tumpuking ati, senjatanira
Padma, merunira tumpang solas, babahanira ring papusuh, wetunira ring manah, lintiranira
tan salah manah. Om Bhatara Guru, haneng madyaning awyakti prenahira, wetu nira
ring adnyana, lintiran angen-angen. Om, Sang, Bang, Tang, Ang, Ing, Nang, Mang,
Sing, Wang, Yang. Amepeki jagat Buwana kabeh, anilahaken paksane, sakwehing
kinaya-upaya, tuju teluh teranjana, desti. Pepasangan, sesawangan, rerajahan,
tan tumama ring awak sariranku, apan aku sarining Tunjung Putih”.
h. Dewa, Aksara dan Cakra
Dan ketahuilah pula kandaning Sang Hyang Aksara, kawruhake na
lungguhe, pasurupe, hanaring Buwana Alit, ring angga sariranta. 20 akweh ikang aksara, ane dadi bungkahing
sastra, yang kawruhe, away wera, apan mula dahat tutur iki, wenang managa
buwana. Iki luwirnya : ha na ca ra ka = ada utusan, da ta sa wa la = pada
peperangan, pa dha ja ya nya = sama saktinya, ma gab ha tha nga = sama-sama
mati. Disini yang digunakan referensi aksara Jawa. Karena lebih lengkap dan
mudah dipahami. Ke 20 aksara itu menggambarkan suatu proses penciptaan Tuhan,
yang dilewatkan kepada manusia. Maka penjelasannya sebagai berikut : ha na ca
ra ka = Ada utusan, utusan dari Hyang Widhi, dua orang manusia, laki dan
perempuan. Yang dalam mitos cerita Aji Saka bernama Dora dan Sembada. Da ta saw
a la = Membawa pesan atau tugas yang tidak boleh tidak, harus dilaksanakan. Tugas
Dora adalah mempertahankan keris, yang ditipkan Aji Saka kepadanya. Sedangkan
tugas Sembada kembali meminta keris tersebut. Pa da ja ya nya = perintahnya
pasti, “Dora kutitip keris ini kepadamu, dan tidak boleh siapapun mengambil
kembali, selain aku”, kata Aji Saka. Dan setelah itu, Sembada pun diperintah.
“Semada ambilah keris yang kutitipkan pada Dora, jangan pernah kembali tanpa
keris tersebut”, kata Aji Saka pula. Ma ga bat ha nga = Itulah alasannya,
kenapa kedua utusan itu lalu bertempur. Namanya juga murid Aji Saka, pastilah
bukan manusia sembarangan. Karena sama-sama saktinya, maka keduanya pun
akhirnya sama-sama mengalami kematian.
Aji Saka melambangkan
Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa. Dora adalah manusia laki-laki
dewasa, dan Sembada adalah manusia perempuan dewasa. Keris ini adalah symbol purusha = purus = kemaluan laki-laki.
Sedangkan saung keris yang dibawa Sembada, sebagai bukti ia utusan Aji Saka,
adalah simbol predana = vagina = kemaluan
wanita. Bertempur adalah simbol persetubuhan, senggama antara laki-laki dan
perempuan. Sama-sama lelah, karena api asmara yang tadi telah membakar dirinya
telah padam, telah mati. Karena itulah kerajaan Aji Saka bernama Medang
Kemulan, yang berarti Medal Kemulan atau keluar dari kemaluan lewat pergumulan,
persetubuhan.
Dan karena itu pula,
bila tiba-tiba ada seorang wanita remaja ataupun dewasa kedapatan hamil dan
tidak ada yang mengaku bertanggung jawab, maka agar anaknya nanti tidak menjadi
anak bebinjat, dia bisa dikawinkan
atau dinikahkan dengan sebuah keris. Karena keris dianggap simbol purusha. Selanjutnya dikatakan : ha na ca ra ka, unggwanya Wetan (Timur)
adalah kawitan atau wiwitan (permulaan) adanya wujud manusia, pa dha ja ya nya, unggwanya Kulon (barat)
berarti bapak-ibu kelonan (tidur
bersama), da ta sa wa la, unggwanya kidul
(selatan) berarti kemaluan bapak ndudul
(menerobos kemaluan ibu), kemudian si ibu menjadi bunting, hamil dan ma ga ba tha nga, unggwanya Lor (utara)
artinya lahir, melahirkan anak. Dengan adanya kelahiran manusia inilah ajaran
Kanda Pat menjadi ada. Bila tidak ada kelahiran ini, maka ajaran Kanda Pat pun
takkan pernah ada.
Menurut sastra Kejawen,
aksara 20 itu, bila diucapkan secara terbalik, akan menjadi ilmu penolak yang
sangat ampuh. Bisa menolak segala malapetaka. Termasuk menolak tuju, teluh,
teranjana, leak, desti, pepasangan, sesawangan, rerajahan dan sebagainya.
Inilah mantranya : “Nga Tha Ba Ga Ma, Nya Ya Ja Dha Pa. La Wa Sa Ta Da, Ka Ra
Ca Na Ha”. Penjelasannya adalah sebagai berikut : Nga Tha Ba Ga Ma = Tidak ada kematian, Nya Ya Ja Dha Pa = Tidak ada kesaktian, La Wa Sa Ta Da = Tidak ada peperangan, Ka Ra Ca Na Ha = Tidak ada utusan. Pokokne, “jeg sing ada apa de”.
Mantra ini telah diyakini dan dipraktekkan oleh beberapa teman, dan semuanya
mengatkan berhasil.
Lebih jauh penjabaran
aksara 20 dalam kaitannya dengan ajaran Kanda Pat Dewa, adalah begini : Ha Na Ca Ra Ka, Dewanya Bhatara Iswara,
rupanya putih, senjatanya Bajra, tunggangannya Gajah. Da Ta Sa Wa La, Dewanya Bhatara Brahma rupanya Abang, senjatanya
Danda, tunggangannya Angsa. Pa Dha Ja Ya
Nya, Dewanya Bhatara Mahadewa, rupanya kuning, senjatanya Nagapasah,
tunggangannya Naga. Ma Ga Ba Tha Nga, Dewanya
Bhatara Wisnu, rupanya ireng, senjatanya Cakra, tunggangannya Garuda.
Dari aksara 20 (dwi
aksara) inilah kemudian lahir dari Dasaksara, dadi pancaksara, dadi triaksara, dadi Rwabhineda. Sabdaning Pancaksara adalah
Na Ma Si Wa Ya. Catatan : Mang, Ang, Ong, Ung, Yang, Sa, Ba, Ta, A, I,
Na, Ma, Si, Wa, Ya. Semua disebutkan Pancaksara.
Sabdaning Rwabhineda adalah : Ang Ah,
dadi Purusa-Predana, Akasa-Pretiwi, Lemah-Peteng, dan Urip kelawan Pati. Triaksara ring Buwana Alit, Ang ring ati, Ung ring
ampru, Mang ring papusuh. Dan juga, Ang
ring bayu, Ung ring sabda dan Mang
ring idep. Ang berwujud api, Ung berwujud
air, dan Mang berwujud angin. Ang Dewanya Brahma, Ung Dewanya Wisnu, dan Mang Dewanya
Iswara.
Bila ingin nerang
hujan, ring Buwana Agung, Brahma-Iswara,
wetuakena. Apan Trikasara lingganing api, yeh, angina. Ida maraga Brahma,
Wisnu, Iswara. Pada hakekatnya Ida
meraga Sang Hyang Tunggal, malingga ring patining idepta. Yang sira anunggalan
idep, Sang Hyang Triaksara awas ranuhun, apan irika lingganing idep, Sang Hyang
Triaksara awas rumuhun, apan irika lingganing idep, beginilah adalnya, Ang = bayu, Ung = sabda, Mang = idep. Ang
metu ring irung karo. Ang = Brahmaloka, Ung = Wisnuloka, Mang = Siwaloka.
Brahmaloka, tunggalakena ring Wisnuloka, malih Brahmanaloka lan Wisnuloka
tunggalakena ring Siwaloka. Sambil aneleng tungtuning irung, aneleng
tungtunging pamusti. Menyatu di
dalam idep = pikiran. Ang, Ung, Mang = Bayu, Sabda, idep anunggal,
panunggalannya ingaran Sang Hyang Pasupati, sumungsang ring pakukuhing jiwanta.
Yang
sira weruh anipta niki, asing pinuja sidhi palanya, away wera pingita juga. Barang siapa yang
memahami pengetahuan ini akan memiliki kesidian
serta kesaktian. Ajaran ini oleh masyarakat umum dikenal dengan nama, Yoga,
Meditasi dan Samadhi. Namanya berbeda, namun hakekatnya adalah sama saja.
Menurut ajaran Yoga di dalam lapisan tubuh eterik
Manusia, terdapat tujuh Cakra utama yang merupakan linggan para Dewa yaitu
: 1. Cakra Muladara, menjadi linggan Dewa Brahma. 2. Cakra Swadhisthana,
menjadi linggan Dewa Wisnu. 3. Cakra Manipura, menjadi linggan Dewa Rudra. 4.
Cakra Anahata, menjadi linggan Dewa Iswara. 5. Cakra Wisuda, menjadi linggan
Dewa Maheswara. 6. Cakra Ajna, menjadi linggan Dewa Mahadewa. 7. Cakra Sahasara
menjadi linggan Dewa Siwa. Untuk Dewa Sambu dan Dewa Sangkara malingga ring
Cakra kembar, yang merupakan cakra menengah. Dimana Dewa Sambu berada di
sebelah kanan, dan Dewa Sangkara di sebelah kiri. Cakra Kembar berada di kedua
tangan, kedua mata, kedua telinga dan sebagainya.
Tulang punggung yang
dikatakan sebagai poros tubuh. Dari dalam badan halus yang bersesuaian dengan
tulang punggung ini, muncul pusat-pusat kesadaran yang disebut dengan Cakra. Di
dalam tubuh halus (eteris) ada banyak sekali Cakra. Namun hanya ada tujuh cakra
yang dianggap utama, meliputi : Cakra Muladara, bersesuaian letaknya dengan
pantat. Cakra Swadhisthana, bersesuaian letaknya dengan kemaluan. Cakra
Manipura, bersesuaian letaknya dengan pusar. Cakra Anahata, bersesuaian letaknya
dengan tenggorokkan. Cakra Ajna, bersesuaian letaknya dengan pertengahan kedua
alis (selaning lelata). Cakra Sahasara, bersesuaian letaknya dengan ubun-ubun.
Di dalam Sahasara Cakra inilah Siwa bersemayam. Bukan berarti Siwa yang
ditempatkan, tetapi kekuatanNya yang dimanifestasikan di sini. Tuhan tidak
dapat dibatasi di suatu tempat. Tetapi manifestasinya dapat dipusatkan dimana
saja.
Cakra-cakra itu
merupakan pusat energy rohani. Cakra ini tidak tampak dengan mata biasa, karena
cakra itu tidak berbadan fisik, melainkan dilapisan badan halus yaitu badan eteris. Selain itu, dalam anatomi tubuh
halus itu, terdapat juga nadi-nadi tempat aliran energi, yang memiliki hubungan
khusus dengan masing-masing cakra itu. Disebut ida atau pinggala. Kedua
nadi ini, terdapat disebelah kanan dan kiri tulang punggung. Disebutkan bahwa,
pengetahuan tertinggi ditutupi oleh maya sehingga
pengetahuan tertinggi tetap bersembunyi. Yoga
adalah jalan untuk menyingkapkan maya
dan membuka pengetahuan tertinggi itu. Gheranda Samhita mengatakan, “Tidak
ada ikatan yang melebihi kekuatan maya, dan tidak ada kekuatan melebihi Yoga
untuk membasmi ikatan-ikatan itu”. Dia yang tekun berlatih Yoga akan
mendapatkan bermacam-macam siddhi atau kekuatan gaib.
Badan ini adalah sakti,
keperluan badan adalah keperluan sakti. Segala yang terlihat dan berbuat itulah
sakti. Seluruh badan dan pekerjaannya adalah penjelmaan sakti itu. Untuk
menyadari hal ini orang harus menyempurnakan dirinya. Penempatan Dewa pada
bagian-bagian tubuh tertentu, menyimbolkan adanya upaya membuka mengaktifkan,
dan mengaktifkan, dan mengharmoniskan cakra. Semua cakra harus terbuka dan
berfungsi menghisap dan memancarkan energy (prana), mengatur, mempertahankan,
dan mengelola aspek fisik, emosional, mental dan kejiwaan. Sejalan dengan itu,
semakin pandai seseorang memahami kedudukan Dewa di dalam dirinya, berarti ia
semakin mahir mengatur gerakan cakra di dalam tubuhnya, sehingga gerakan cakra
itu semakin harmonis dan sempurna. Seorang siswa Kanda Pat Dewa dalam melakukan
olah meditasi, yoga atau Samadhi harus mampu memasukkan energi (prana)
ketubuhnya secara teratur, agar pengembangan batinnya berjalan dengan baik.
Dengan demikian, gerakan cakra semakin harmonis dan sempurna, sehingga
menghasilkan energi (prana) yang semakin besar. Energi (prana) yang dihasilkan
itulah merupakan modal untuk menjadi Manusia Setengah Dewa Sakti Manderaguna.
i. Ajaran Siwa Guru
Menurut I Wayan
Maswinara, arti sebenarnya dari Siwa adalah pada siapa alam semesta ini
“tertidur” setelah pemusnahan dan sebelum siklus penciptaan berikutnya. Semua
yang lahir harus mati. Segala yang dihasilkan harus dipisahkan dan dihancurkan.
Ini merupakan hokum yang tidak dapat dilanggar. Prinsip yang menyebabkan
keterpisahan ini, daya dibalik penghancuran ini adalah Siwa. Tapi Siwa lebih
daripada itu. Keterpisahan alam semesta berakhir pada pengurangan tertinggi,
menjadi kekosongan tanpa batas, adalah bagian dari keberadaan, dari mana
berulang-ulang muncul alam semesta yang tampaknya tanpa batas. Kekosongan tanpa
batas, adalah bagian dari keberadaan, darimana berulang-ulang muncul alam
semesta yang tampaknya tanpa batas ini, adalah Siwa. Dengan demikian, walaupun
Siwa dilukiskan sebagai yang bertanggung jawab terhadap penciptaan dan
pemeliharaan keberadaan ini. Dalam pengertian ini. Brahma dan Wisnu juga adalah
Siwa.
Dan dalam pengertian
Kanda Pat Dewa ini Siwa tidak lain adalah Brahman itu sendiri, maka wajarlah
kalau semua Dewa lahir dan lebur kembali kepada-Nya. Seperti yang sudah
dijelaskan di muka bahwa. “Brahman dating kepada pemikiran”, Dia tidak dapat
dicapai oleh pemikiran. Tetapi kapankah Dia dating? Dia datang pada saat gejolak
pemikiran tidak ada lagi. Dia hanya datang dalam situasi yang dikendalikan oleh
Siwa. Seperti yang dikatakan oleh Mitologi Hindu, Siwa adalah pengembara di
malam hari Dia dapat dihubungi hanya dalam kegelapan malam. Maka pada malam
harilah, dan hanya disitu saja, Siwa menyampaikan isyarat-isyarat, atau
ajaran-ajaran rahasia lewat saktinya Uma.
Tetapi siapakah Dewi
Uma? Satu diantara arti perkataan Uma adalah malam. Ini juga berarti
ketenangan. Apakah yang lebih tenang dan hening daripada malam hari? Ketika
malam tiba, ada sesuatu yang meresap di dalam kegelapan malam semua kemajemukan
telah lenyap. Pikiran yang terbebaskan dari aktivitasnya pasti berhadapan
dengan malam yang kosong ini. Manusia harus menemukan sifat Brahman secara
langsung dan ini dapat terjadi hanya apabila dalam keadaan pikiran yang
terbebaskan dari semua aktivitasnya, kesadaran manusia itu sendiri tanpa bergeming,
dihadapan malam yang belap dan hening itu. Kemudian sang malam (Dewi Uma)
menyampaikan pemberiannya atau ajarannya kepada manusia. Pemberian, ajaran,
anugrah atau wahyu itu dating tanpa nama dan wujud si pemberi, karena itu
manusia tidak tahu siapa yang telah memberinya, mengajarinya tentang rahasia
kehidupan ini. Tapi manusia meyakini itulah ajaran dari Sang Hyang Siwa Guru.
Inilah ajaran Sang
Hyang Siwa Guru. Ini ilmu pengetahuan suci namanya, jangan diinformasikan kepada
orang lain.Ini cara membuat mantra,yang akan membersihkan badanmu luar-dalam,
lahir-batin. Ajaran rahasia tabik pakulun Sang Hyang Siwa Guru. Dimanakah stana
beliau? Sang Hyang Siwa Guru bertempat dalam jantungmu, dan bila beliau keluar
dari dalam jantungmu, maka ubun-ubunmu itu jalannya, Sang Hyang Siwa
keluar-masuk pada badanmu. Apabila kamu ingin memanggil Sang Hyang Siwa Guru,
sucikanlah badanmu, budimu, dengan teguh satukanlah indriya penglihatanmu,
indriya penciumanmu, indriya pendengaranmu, indriya pikiranmu, kumpulkan dengan
kegaiban pada hatiu hingga bersatu. Bila sudah baikberkumpul dalam rasamu,
bayangkan Sang Hyang Siwa Guru keluar dari jantungmu, jalannya keluar adalah
dari ubun-ubunmu dengan mantra : “Om Siwa astiti ya namah”.
Masukkan pada ujung
hidung, kembalikan pada pangkal tenggorokkan, disana Sang Hyang Siwa Guru di
puja untuk distanakan dengan mantra : “Sa Ba Ta A I Na Ma Si Wa Ya, Namah, Om
Om dewa pratista ya namah, Mang Ung Yang”. Astiti dengan mantra “Sa Ba Ta A I
Na Ma Si Wa Ya, Om Om Dewa pratista ya namah, Ung Ang Ung Mang Namah”. Bila
sudah baik Sang Hyang Siwa Guru berstana pada tenggorokan, bayangkan di atas
perasaanmu pada bulu kaki kanan, sebagai pasepan dengan mantra : “Ang”, namanya
pasepan dalam hati. Bulu puhu namanya adalah bulu kaki kanan, bayangkan Sang
Hyang Siwa Guru menurunkan api di atas, di tengah dan di bawah. Yang berbadan
api di atas adalah darah bening jantungmu. Yang berbadan api di tengah adalah
darah bening hatimu.Yang berbadan api di bawah adalah darah bening tulang
cikta. Ketiga api disatukan dengan mantra dalam hati, mantra : “Ong Ung Pat
namah”.
Bayangkan Sang Hyang
Siwa Guru sebagai penyebab api ini, bernama api penyebab, itu api pada badanmu,
bila sudah besar keluarkan menuju jalan di luar. Sang Hyang Siwa Guru
dibayangkan membakar kotoran badanmu luar-dalam, dan tiga kotoran (trimala)
segala dosamu, makanan dan minuman yang kotor, penyebab ayah-ibu, wawikon, dan
musuhmu dengan mantra : “Om sarira mityukem, tryanta, karamyanem, saptongkara
bayo nahnem, bhojatawuti tatwa, om Kalarudra, phat windhu ya namah”.
Apabila telah dibakar
segala kotoran badanmu luar dalam isaplah di atas perasaanmu pada bulu kakimu,
sebagai pijakan kehidupan (amerta), naikkan pada dubur dengan cara : Ah idep
Sang Hyang Siwa Guru, manjingakena ring
tungtunging grana, ulihakena ring otot kolonganta, sakeng irika anerus anuju
ring tungtunging amprunta. Bila air kehidupan sudah pada empedu, jatuhkanlah
pasepan dalam hatimu, namanya memadamkan api pada pasepan dengan mantra : “Om
Siwa Merta ya Namah, Om Sadasiwa merta ya namah, Om Paramasiwa merta ya namah”.
Bila sudah padam api
itu, keluarkan asapnya api itu melalui alat pelepasan dengan mantra : “Ang
Namah”. Asap api jatuh di barat daya. Bila sudah demikian, bayangkan Sang Hyang
Siwa Guru turun dari kerongkongan, menuju pada tutud ineban terus menuju ujung
jantung. Di sana Sang Hyang Siwa Guru lagi lahir dan hidup. Setelah itu,
bayangkan Sang Hyang Siwa Guru membuat padma badanmu. Peparu adalah daun padma
pada arah Timur, Iswara Dewatanya. Ineban daun padma pada arah selatan, Brahma
Dewatanya. Tutud daun padma adalah arah Barat Daya, Rudra Dewatanya. Ungsilan
daun padma pada arah barat, Mahadewa Dewatanya. Limpa daun padma pada arah
barat laut, Sangkara Dewatanya. Empedu (ampru) adalah daun padma di utara, Wisnu
Dewatanya.Tumpuking hati adalah daun padma di timur laut, Sambhu Dewatanya.
Diantara daun padma, didalamnya sebagai sari dari padma adalahjantungmu, dengan
Sang Hyang Siwa Guru sebagai Dewatanya.
Dan ini pemekaran pada
di 8 penjuru angin dengan mantra : “Om Ang Ung Namah” di barat laut “Om ing ing
namah” di timur laut. “Om ung ung namah” di timur. “Om reng reng namah” di
selatan. “Om leng leng namah” di Barat. “Om Aeng-aeng namah” di utara. “Om un
gung namah” di tenggara. “Om ang ah di barat daya. “Om ah a namah” di tengah
pada jantungmu. Setelah demikian jalankan Sang Hyang Siwa Guru, seperti yang
sudah dijelaskan di muka, menuju ujung hidungmu, dari sana terus ke atas,
tempatkan di ubun-ubun dengan mantra : “Om ang ung mang namah”.
Sekarang bayangkan Sang
Hyang Siwa Guru membuat pada di luar badanmu. Daun padma di timur, Iswara
Dewatanya di bahu kanan tempatnya. Daun padma di selatan. Brahma Dewatanya di
tengkuk belakang tempatnya. Daun padma di barat, Mahadewa Dewatanya, di bahu
kiri tempatnya. Daun padma di utara, Wisnu Dewatanya di tengkuk depan
tempatnya. Pelipismu kanan, daun padma di tenggara, Maheswara Dewatanya. Kepala
di belakang telingamu yang kanan, daun padma di utara, Wisnu Dewataya di
tengkuk depan tempatnya. Pelipismu kanan, daun padma di tenggara, Maheswara
Dewatanya. Kepala di belakang telingamu yang kanan, daun padma di barat daya,
Rudra Dewatanya. Kepala di belakang telingamu yang kiri, daun padma di barat
laut, Sangkara Dewatanya. Pelipismu yang kiri, daun padma di timur laut, Sambhu
Dewatanya. Sebagai asalnya padma, inti jantungmu di tengah, Paramasiwa
Dewatanya. Paramasiwa adalah perwujudn dari Sang Hyang Siwaguru.
Ini pebagian pada di
luar berdasarkan aksaranya : Sang di
timur. Bhang di selatan. Tang di barat. Ang di utara. Ing di
jantung. Nang di tenggara. Mang di barat daya. Sing di barat laut. Wang di timur laut. Yang di
tengah dalam jantungmu ang a dah namanya,
bertempat di jantungmu di bawah. Mang ur
dah namanya, bertempat di jantungmu di atas.
Bila sudahada
padmadiluar dan di badanmu sebagai intinya padma, sebagai stananya Sang Hyang
Siwa Guru lewat mana berliau selalu mencipta dan menjaga. Maka setelah demikian
ucapkanlah pengastawa padma dengan mantra : “Om purwantu Iswara Dewam, agneyan
Maheswara, daksina Bhagawan Brahma, nerityam Rudra mewanca, Pascimantu
Mahadewah, Wayabya Sangkara swaha, utaram Wisnu Dewata, arsanya Sambhu siyana,
Madya SadaSiwa Dewam, anah tayaSiwa swasta, urda Paramasiwanca, sara Dewata
udyane”.
Kemudian dilanjutkan
dengan mengucapkan mantra berikut, mantra : “Om Iswara purwa bajrantu, dupa
gneyan Maheswara, danda Brahma daksinanca, neritya Rudra mosalam, pascima
Mahadewa nagapasah, wayabyam Sangkara angkusrakem, Cakranca Wisnutara desa,
aersania Sambhu Trisule. Om Padma Sadasiwa, adah Siwanca Paramasiwa urdwasta,
guru Trisula daranam”. Dan ini adalah mantra pemujaan untuk sakti beliau,
mantra : “Om Iswara Uma Dewica, Maheswara Laksmi Dewica, Brahma Saraswati Dewi,
Rudra Sentani Dewisca, Mahadewa Sacidewi, Sangkara Mahadewisca, Wisnu Bhatara
Sri Dewi, Sambhudewa Umadewi, madya sawitri gayastra, Uma tatwa Mahadewam, Ung
Ang Ang Ung Ang Ung Ong, Sri Dewi Sangkara Swaha”.
Itulah mantra
pengastawa padma di dalam, namanya padma rangkap. Bila engkau tidak mengetahui pasuk wetudari padma rangkep, sebagai
tempat jiwamu, menyebabkan pendek umur. Tapi bila kamu tahu tentang pasuk wetunya padma rangkep, supaya
selalu waspada, karena amat rahasia, jangan disebarkan kepada orang lain,
jangan sembarangan bercerita karena sangat berbahaya. Ini merupakan ilmu
rahasia Sang Pandita, jarang yang mengerti, karena itu, jangan sembarangan
memberikan kepada orang lain, bisa kuwalat, karena sangat utama, poma-poma-poma. Rahasiakan menjaga dalam
hatimu.
Sekarang ketahuilah
pula tata cara membuatdan meletakkan bhasma
(bija) pada dirimu. Ada tiga tempat meletakkan bhasma atau bija pada dirimu. Pertama, diantara kedua alis mata
atau kening. Kedua, di kerongkongan dan ketiga di hulu hati. Bhasma atau bija ini biasanya dipakai
setelah selesai sembahyang. Yang disebut bhasma
atau bija ini adalah, gosokan cendana ditambah dengan biji beras. Bhasma
atau bija ini taruh di telapak tangn kiri, disana uraikan biji beras tersebut
dengan jari manis dan ibu jari tangan kananmu. Habis itu, katupkan bhasmaatau bija itu dengan tangan
kananmu, lalu diisi mantra. Caranya adalah tangan kanan memegang bhasma atau bija, dialasi dengan tangan
kiri, mantranya : “Om Ung ksaksa Siwa mka bhasmam, ksaksa Iswarandanam, ksaksa
Kumara wijasca, sarwa papa winasanam, ya namah swaha”.
Setelah itu lalu kamu
memakai bhasma atau bija dengan
tangan kananmu, mantranya : Ung ring
lalata-diantara kedua alis, Mang ring
mulakanta-kerongkongan, dan Ang ring
wredaya-ulu hati. Tujuan memakai bhasma
atau bija ini adalah, untuk memperkokoh tempat kedudukan Ida Sang Hyang
Siwa Guru pada badanmu, dan untuk menghilangkan dosa di badanmu. Tan hana wong suasta anulus-tidak ada
manusia yang sempurna, begitu kata orang-orang bijaksana. Karena itu sebagai
manusia, disadari atau tidak kamu tidak akan pernah lepas dari
perbuatan-perbuatan salah atau dosa. Maka dari itu, memohon pengampunan ring
Ida Sang Hyang Siwa Guru, adalah sebuah kebaikan. Pujalah Sang Hyang Siwa Guru
dengan mantra yang utama, karena Sang Hyang Siwa Guru dalah inti dari semua
mantra dan juga mulia.
Dan ini adalah mantra
memohon pengampunan ring Ida Sang Hyang Siwa Guru, mantra : “Om ksama swamam
Mahadewa, Sarwa prani hitang karah, Mamoco sarwa papebyah, Palaya swa Sadasiwa.
Om papoham papa karmaham, papatma papo sambawah, Trahimam pundarikaksa, Kenacin
nama raksatu. Om ksantawiya kayiko dosah, ksantawiya wacika mama, ksantawiya
manasa dosah, tat pramadat ksama swamam. Om hinaraksaram hinapadham, hina
mantram tat hiwaca, hina bhakti hina wredim, Sada Siwa namastute. Om mantra
hinam, kriya hinam, Bakti hinam Mahrswaram, Yat pujinam Mahadewa, Pari purnam
tadas tume. Om ksamaswamam Jagatnatha, Sarwa pap nirastaram, Sarwa karya
minandahem, Prananam sureswaram. Om twam suryatam Siwakara, Twam rupyo bahim
laksana, Twangi sarwa takara, mam karya prajayate. Om ksamamswamam mahasekta,
Yates warya unat makah, Nasa yetsa tanam papam, Sarwa loparyana narana namah
swaha”.
Sehabis memohon ampun
ring Ida Sang Hyang Siwa Guru, atau Ida Hyang Jaganatha, maka setelah itu
pralina Ida Sang Hyang Siwa Guru. Ini caranya mempralina. Tutuplah mata
ketigamu, satukan ujung matamu ketiga diantara kedua alis. Bila sudah menyatu,
bayangkan sudah praline Ida Sang Hyang Siwa Guru, masukkan ke dalam jantungmu,
jalannya masuk dari ubun-ubun, dengn mantra : “OngUng Ang Mang”. Jangan
gegabah, jangan menginformasikan kepada orang lain, karena sangat utama, agar
tidak menjadi kualat oleh Bhataa.
Bila ingin mendapatkan
atau menghidupkan daya mantra, jangan lupa untuk selalu menyucikan diri, dengan
melakukan mandi keramas. Ini adalah mantra untuk mandi keramas, mantra : “Ung
Rang Sri windhu Dewi dibya mahabarem. Ong Gangga Sindhu Saraswati, wipasakosi
kidanam, Yamuna metati sretah, srayunca maha nadhi. Ong tirtha mijil sakeng
lor, angebetaken lara wighna. Ong tirtha mijil sakeng daksina, angeseng,
angempungaken lara roga petaka. Matemahan sang ayu narapati, hening jati sarira
ningsung. Ah Siwadwara upeti pat tastra, sudha ya namah. Ang Ung Mang Tirtha
Gangga pwitrani nama siwaya”.
Selain itu, hendaknya
selalu astiti bakti ring Ida Hyang Widhi, Sang Hyang Siwa Guru, mayoga semadhi
lewat meditasi dengan sarana, dupa, kemenyan, cendana, dan majegau. Jangan lupa
canang burat wangi. Ini caranya, duduk bersila menghadap ke timur dengan kokoh,
menyatukan pikiran, dengan hening, memustikarana dengan mempertemukan ibu jari
tanganmu kanan-kiri, mata dipejamkan dan dikosentrasikan seolah-olah memandang
ujung hidung, pertahankan disana, jangan buyar, jangan goyah, jangan ragu-ragu.
Bila sudah demikian mulailah mengucapkan mantra, memusatkan seluruh kesadaranmu
pada mantra dan juga pada badanmu, sebab Sang Hyang Widhi sebagai badanmu,
jangan gegabah, nanti tidak berhasil mantra itu.
Untuk lebih jelasnya,
inilah cara mengeluarkan Weda mantra. Satukan perasaanmu, bayu, sabda dan
idepmu. Bayu keluar dari jantung, sabda keluar dari hati, dan idep keluar dari
empedu. Itu disatukan lewat perasaanmu pada ujung lidahmu, dari sana keluarlah
Weda mantra, berjalan di tengah lidahmu, terus ke ujung lidahmu, rahasiakanlah,
jangan gegabah. Bilamana menghadapi musuh sakti mawiseesa, lebih-lebih bila
dating ke tempat peperangan, janganlah kamu lupa kepada Ida Sang Hyang Siwa
Guru, pusakan pada hatimu, satukan pada bayu sabda idepmu. Bila sudah baik
penyatuannya, bayangkan Sang Hyang Siwa Guru, pusatkan pada hatimu, satukan
pada bayu sabda idepmu. Bila sudah baik penyatuannya, bayangkan Sang Hyang Siwa
Guru keluar dari dalam jantungmu, jalannya keluar dari ubun-ubunmu dengan
mantra : “Om Siwa astiti ya namah”. Naikkan diantara ke dua alis, bayangkan
dengan berbusana lengkap dan bersenjata, mantra : “Om na anu swaha”, Om namah
swaha astawasat”. Kemudian naikkan ke Siwadwara, ubun-ubun. Bayangkan Sang
Hyang Siwa Guru berkepala lima, masing-masing kepala bermata tiga, bertangan
sepuluh, bermuka manusia setengah Dewa sakti manderaguna, dengan senjata
Brahmastra, bayangkan beliau menjaga badanmu, bila sudah demikian, pujalah Sang
Hyang Siwa Guru berada di ubun-ubunmu.
Dan bila kamu sudah
selesai berperang, kembali kamu memuja Sang Siwa Guru, praline Sang Hyang Siwa
Guru pulangkan ke tempat asalnya di jantungmu. Ini mantra pralinanya, mantra :
“Om Ung Ang Mang”. Ingat, rahasiakanlah, jangan gegabah! Dan janganlah kamu
lupa perwujudan Padma yang ada di luar dan di dalam badanmu, adalah perwujudan
dari Sang Hyang Siwa Guru. Karena Sang Hyang Siwa Guru berwujud Brahma, Wisnu,
Iswara, Maheswara, Mahadewa, Rudra, Sangkara, Sambu, dan
Siwa-Sadasiwa-Paramasiwa. Sang Hyang Siwa Guru adalah perwujudan semua Dewa.
Karena Sang Hyang Siwa Guru sebagai badan yang utama bersemayam di dalam
jantungmu.
Maka barang siapa yang
ingin mempelajari ajaran Kanda Pat Dewa, wajib melakukan upacara ekajati,
mawinten-mensucikan diri setingkat dengan pemangku. Karena ini adalah ajaran
rahasia sang pandita. Namun saying, tidak smua pandita mengetahui hal ini.
Mereka yang sudah tinggi tingkat yoganya, siapapun dia akan dapat menaklukkan
segala bahaya, segala yang galak, segala desti, segala racun, segala banjir,
segala yang menyeramkan, segala yang menakutkan. Karena itu bersumber pada
dirimu. Dengan sebatang dupa dapat melebur segala mala petaka dengan mantra “Om
Ang Namah, Om Ung Namah, Om Mang Namah”. Ini mantra asep pelebur mala namanya.
Yang dimaksud dengan
yoga tingkat tinggi adalah dengan mengaktifkan tri nadimu. Tri nadi adalah
bayu-sabda-idep. Bayu keluar dari jantung, sabda keluar dari hati, dan idep
keluar dari empedu. Bayu-sabda-idep distukan di puncak hati, baik-baik. Bila
sudah baik, bersatu dipuncak hati, itu namana tri sakti. Maka setelah itu,
pujalah Sang Hyang Taya. Dimanakah tempat beliau Sang Hyang Taya? Di pangkal
jantungmu yang dibawah tempatnya, pada bulu kuduk (gigitok), bening warnaya
seperti mata belalang, itulah wujud Sang Hyang Taya.
Selanjutnya satukanlah
Sang Hyang Taya dengan Tri nadimu yang berada di puncak hatimu, bila sudah baik
penyatuannya, maka kembalikanlah ke tengah hati. Bila memang sudah demikian,
isaplah segala yang membahayakan, segala yang menakutkan, segala yang galak,
segala yang menyeramkan, segala racun, segala desti, segala banjir, dengan
menggunakan mantra : “Om Ah Sah Kah Wah”. Bayangkan Sang Hyang Taya Agni
membakar itu semua. Karena Sang Hyang Taya sebagai gurunya bahaya, gurunya yang
menakutkan, gurunya galak, gurunya segala racun, gurunya desti, gurunya banjir,
gurunya segala yang menyeramkan, gurunya segala amarah, dibakar oleh Sang Hyang
Taya.
Bila sudah terbakar
olehnya, berikanlah air kehidupan, bayangkan air kehidupan itu turun diantara
jantungmu, jalannya pada selaput kerongkongan yang tengah, menuju pada
jantungmu, terus ke pelepasan, lalu kehatimu, menuju penyatuan rasa. Dari sini
air kehidupan mengalir menyiramkan api di tengah hatimu. Bila kamu sudah
selesai memberikan amerta pada api itu, bila sudah sempurna api itu, maka
kembalikan Sang Hyang Taya ke tempat asalnya, jalannya lewat otot besar di
belakang, simpanlah pada bulu kuduk (gigitok) sebab Sang Hyang Taya sangat
sakti, ini Yoga sakti namanya, jangan gegabah, rahasiakanlah!
Berikut adalah kutipan
beberapa mantra rahasia untuk berbagai keperluan. Dan ini intisari Kalajastra
namanya, mantrailah setiap hari, jangan berselang, hasilnya kamu akan diajuhi
oleh segala senjata. Ini mantranya : “Om Hrong Kalajastra ya namah swaha”. Ini
adalah mantra pemujaan senjata Sang Hyang Iswara, hasilnya menghilangkan
penyakit dan dosamu, sehingga berhasil kerjamu. Mantra : “Om Ing Sang Iswara ya
namah”. Memujalah menghadap ke selatan, Sang Hyang Brahma pemujaan itu,
hasilnya panjang umurmu, mantra : “Om tang namah swaha”.
Memujalah menghadap ke
barat, pemujaan kepada Sang Hyang Mahadewa, hasilnya dapat menghilangkan
musuh-musuhmu dan juga menghilangkan segala penderitaanmu, mantra : “Om Ang Ung
Mang namah swaha”. Memujalah menghadap ke tengah, ke dalam jantungmu dimana
Sang Hyang Siwa Guru bersemayam, hasilnya dijunjung tinggi oleh masyarakat,
karena manjur ucapanmu-sakti sidi ngucap-awet muda dan panjang umur, sangat
utama, jangan gegabah, mantra : “Om ang Brahma Dewata ya namah, Om Ung Wisnu
Dewata ya namah, Om Mang Iswara Dewata ya namah, Om I Ba Ta A Ung Yang namah,
Om Sa Ba Ta A I Na Ma Si Wa Ya”.
Dan ini adalah pemujaan
Rudra namanya, pakailah setiap hari, panjang umurmu, batal dosamu, segala makananmu
tidak berbahaya, tidak ada guna-guna. Agem-ageman Sang Hyang Bayu ini, juga
disebut Sang Hyang Kutamantra, menjaga Atma, ini mantranya : “Om iskamarakya
jaya dik swaha”. Semua mantra ucapkan pada malam hari, hasilnya tidak akan kena
kerjaan orang yang berbuat jelek, tidak mampu dibinasakan oleh orang, berfungsi
sebagi penolak segala, rahasiakanlah!
j. Kesaktian Kanda Pat Dewa
Yan sira wruh mulaning dadi manusa, ika ingaran jalma luwih,
sekala-niskala. Barang siapa memiliki pengetahuan tentang sangkan paraning dumadi, maka dialah
manusia sakti lahir dan batin. Mengetahui kesejatian yang utama di Buwana Agung
dan Buwana Alit. Waspada di dalam hati, dengan cara mempertemukan kedua mata
dengan mata bumi atau surya. Itulah yang menjadi sidiyaning yoga sandi, atau
rahasia yoga. Carilah air di samudra, jangan digunung, carilah sinar terang di
kalbumu, jangan di muka.
Beginilah caranya :
pertama siapkan sarana canang burat wangi,
dupa wangi telung tanding, idep katur ring Sang Hyang Surya, Candra, Lintang
Taranggana, trinadi suksma, bayu sabda idep, mulih ring sabda, dadi sunya tanpa
maya, mawas ring jro, ika sarining darma terus. Caranya : duduk brsila
menghadap ke timur, idepang Sang
Hyang Tiga mijil ring raga, dan juga dri langit, di iringin oleh Dewata Nawa
Sangga. Mantra : Ang, Ung, Yang, Na Ma Si Wa Ya, Ya Ya Ya. Lakukan ini saat
matahari terbit, atau Surya dawuh tepet, atau sandi kalaning Surya metu,
sekitar jam 06.00 wita. Saat matahari masih berwarna merah. Pandanglah dengan
tajam ring soring raditya, sakeng
tepining aditya mingsor, yan hana katon ocah, seperti maniksepatika, mirip naga, berarti Hyang Bapa mijil mewayang ring langit. Kalau kelihatan seperti
manik, ocah kadi smerti, berarti
Hyang ibu mijil mewyang ring langit. Yan hana katon kadi Windu mawelu pinggirnya
kresna, berarti manusa sakti mijil
ring langit, mewayang ring langit.
Ini adalah tutur menget, pertemuan Siwa, Sadasiwa,
Paramasiwa, menjadi Sah Siwa, mawayang sidi ring langit. Kemudian juga terlihat
adanya wana astadala, memancarkan
cahaya aneka warna. Itu tidak lain adalah Hyang Dewata Nawa Sangga mijil masarira mawayang ring langit. Putihe
Hyang Iswara, dadune Hyang Mahesora, abange Hyang Brahma, tangine Hyang Rudra,
kuninge Hyang Mahadewa, gadange Hyang Sangkara, irenge Hyang Wisnu, pelunge
Hyang Sambu, mancawarnane Hyang Siwa.
Begitulah cirinya manusa sidi, yan sampun wruh ring raga,
sekala-niskala sidi mandi ta kita. Yan dadi yoganira mangkana pingitakena away
wera. Bila sudah memiliki pengetahuan ini maka simpanlah dengan baik. Dan
ini adalah mantra penyimpanannya, mantra : Ang,
Ah Ya Ya Ya. Ini bernama tutur jati, bagi mereka Sang Hyang Wruh ring raga, mawas ring jro, mawas ring jaba,
suda luwih pangawruhing rahayu, tan lali ring raja solah. Makeh wong bakti ring
sira, utama aturu-atangi, menget ring Aji Saraswati, seperti ini. Ada tiga
Dewa malingga ring angga sarira seperti,
Sang Hyang Gurureka malingga ring idep,
Sang Hyang Saraswati malingga ring canteling lidah, mingsor-mingluhur, ring
otot pasimpangan nira. Sang Hyang Kawiswara malingga ring pantaraning papusuh,
ring sabda pasuk wetunya.
Ini adalah mantra
pangrangsukkannya, mantra : “Pukulun Sang Gurureka, Sang Hyang Kawiswara, Sang
Hyang Aji Saraswati, anyusup ring bayu sabda idep, angisisep sastra, angesep
tatwa carita, patastra suda ya namah. Om Saraswati ya namah, Ang, Ah”. Oleh
karena itu, bila ingin panjang umur, maka ucapkanlah mantra ini, mantra : Ang ring nabi (puser), ah ring siwadwara. Tapi bia anda ingin
mati, atau akan mengalami kematian maka mantra tersebut dibalik, mantra : Ah ring nabi (puser), Ang ring Siwadwara. Ini disebut mantra
praline rahasiakanlah.
Malih yan sira arep ngamong Sang Hyang Aji Saraswati, maka selalu
membersihkan diri pada hari-hari purnama, tilem, atau hari-hari suci lainnya,
dengan mantra sebagai berikut : “Om sisigku Sang Hyang Menget tatwa carita, aku
Sang Hyang Sidi, sabdaku sastra sarotama, aku Sang Hyang Aji Saraswati, amengku
tatwa carita. Menget aturu, menget atangi, menget carita patastra, paripurna ya
namah swaha. Om Saraswati ya namah”. Selanjutnya
dikutipkan beberapa mantra yang menjadi rahasia kesaktian dari ajaran Kanda Pat
Dewa ini.
Ini adalah Pengembak
Swara, agar suara kedengaran besar, keras, bergema dan berwibawa. Mantra : “Om
sagara danu maobak-obakan, kadi gelap swaraku, tumurun Sang Hyang
Widiadara-widiadari, tuninggalin awak sariranku, teka pada asih, pada welas
atine wong kabeh, wirya tar-adarat, ya nama swaha”. Caranya : ucapkan mantra tersebut
sambil mengunyah jahe. Ini adalah mantra Pamungkem, agar orang lain tidak
berani berbicara sembarangan dengan kita, atau malah menjadi ngeb, duduk atau berdiri seperti patung.
Mantra : “Om Sang Buta Wadon, matep ma-tan manusane, celek kupinge, tekep matane,
pecik cunguhne, talinin limane, impus batisne, sing andeleng aku, teka bungkem
3x. Caranya : ucapkan mantra ini dikuburan (sema) sebanyak 3x sambil menjumput tanah sema
tersebut 3x. Tanah tersebut ditabur di tempat pertemuan.
Ini adalah mantra Pengebek
Buwana, untuk menghisap budinya orang banyak, dan mengumpulkannya di dalam
diri. Sehingga sepintas orang akan melihat kita seperti orang besar atau
raksasa. Mantra : “Om idep aku anduwat budining wong kabeh, mulih ring Tri
mandalah guying. Budining wong lanang mulih ring kama petak, budining wong
wadon mulih ring kama bang, budining wong kedi mulih ring kama dadu. Sakwehing
jadma manusa, apupul ring awak sariranku, pada mawijah-wijah, tan waneh sira
nggrungu umulat, lah meremnya, Om sidi swaha ya wong”.
Ini adalah mantra
pengingat-ingat, agar tidak mudah menjadi lupa atau pikun. Dan juga berfungsi
supaya mudah untuk menghapal mantra.
Mantra : “Om pada dirang kayu jati, eling mantra, inget ati, inget aturu, inget
atangi, teka inget ring atinku, ika panginget-inget” 3x. Ini adalah mantra
panugrahan berguna untuk berbagai keperluan, asing solah wenang, Siwalingga
Gurureka, pradnyan ta sira. Sarana, toya, kadi tingkahing matoya. Mantra : “Om
Ang Ung Mang, Siwa, Sadasiwa, Paramasiwa, ring bayu sabda idep, wenang ganal
alit, wenang sor luhur paripurna ya namah swaha Ang Ah Sah Siwa yogaya namah
swaha”.
Ini adalah pemandi
suwara, menjadi sidi ngucap, maka ucapkan mantra berikut. Mantra : “Om
bungkahing lidah Sang Hyang kedep, madyaning lidah Sang Hyang sidi, pucuking
lidah Sang Hyang mandi, teka mandi ideping ulun. Om tungtuning bayu,
tungtunging idep, mulih ring tungtungku, sakecapku sidi”. Ini adalah pematuh
desti, leak dan sebagainya, agar tidak mencelakai kita. Mantra : “Om patuh ih
Nini Bhatari Durga, maring setra Gandamayu, matuhang Dewa patuh, manusa, buta,
leak patuh, gumatap-gumitip pada patuh, mematuhang Bhatari Durga”.
Ini adalah pangraksa
jiwa, mantra untuk keselamatan sekala dan niskala. Saran toya, kadi tingkahing
matoya, disucikan dulu dengan mantra berikut ini. Mantra : “Om ingsun
angidepaken Sang Hyang Sucinirmala, licin, pangawakku sakti, tan kataman aku
gering wisya mandi, tan kataman aku satru leak, aku luput licin. Pangawak aji
sapta sunya nirmala, om sri jagat pake byo nama swaha, Ang Ang Ang Ah”.
Ini adalah mantra untuk
keselamatan di jalan, membuat mata orang-orang yang melihat menjadi silau,
ulap. Ini namanya sarining Sang Narayana.
Sarananya paes bayu, air ludah, usapkan di dada. Tentu saja setelah
mengucapkan mantra berikut ini. Mantra : “Om Ang Agni, jalma manusa ulap, Om
desti leak ulap, anguyup ring awak sariranku, sakadi gni ujwala, teka murub”3x.
Ini adalah mantra pengesengan, pengelebur
dasamala ring raga. Juga bisa berguna untuk memusnahkan cetik yang ada di
dalam makanan yang sudah termakan. Ucapkan mantra ini. Mantra : “Om cangkemku
api, upas kalebur ring pawon, sing manjing teka geseng, sing metu teka geseng”.
3x. Dilanjutkan dengan mantra : “Om Bhatara Brahma ring cangkem, Bhatara Rudra
ring weteng, apan Bhatara Rudra maraga sira, sing tumiba teka geseng”3x.
Lanjutkan lagi. “Om sing kesampar, sing kesandung, sing kelangkahan, sing
kainem, aja sira ngeracunin, angarubeda, anyangkala-nyengkali, manggawe ala
ring awak sariranku, apan aku pangawakking Sang Hyang Tunggal”.
Away wera angangge mantra ini, rahasya temen, saletuh-letuh ring raganta pada sirnya dennya. Jangan sembarangan
menggunakan mantra ini. Tidak boleh dipakai guyonan, karena gaibnya akan
hilang. Dan bila menggunakan mantra-mantra ini, ucapkanlah dalam hati, jangan
sampai kedengaran orang lain. Apalagi memperlihatkan diri sebagai orang yang
berilmu, itu tidak boleh. Rahasiakanlah!
k. Rahasia Yoga
Inilah gegelaran manusa sakti, jalma luwih, kawruhakena dening
prayatna, rumegep Sang Hyang Wisesa, tingkahing pati, lawan urip, manusa sakti bernama
I Jaratdrana, ika Wisnu Buwana ngaran.
Yan teka ring patine, jalanang manusa saktine, yang bernama I Jaratdrana ane ada di sor, ne nongos di bongkol tulang
jringe, irika pagenahing atmane, apange matunggung menek, adan atmane I
Belis, ne been apine, ne beduwur yeh, yen
suba yan matungga lan dadi abesik, ya madan Gni Rakasya, margane terus
kematane, away simpang, apan marga utama ya, anggon ngeseng lara, sehananing
lara wenang kageseng denya.
Yan
terka ring pati, majalan makejang, apan tunggal pati lawan urip. Rupan manusa
saktine putih, ne nongos di bongkol tulang jringe. Irika genah Sang Wenara
Petak. Matane tengen mangaran Bhatara Guru, matane di tengah mangaran
Simaralaya, matane di kiwa mangaran indraloka, pasyakan matane di tengah bernama Wisnu Buwana, gegelaran manusa sakti manderaguna manusia
setengah Dewa.
Karena itu, di dalam hidup ini hendaknya dengan
tekun dan sadar selalu membersihkan diri. Mengurangi keangkaraan hati. Dan
bilamana datang dari kematiannya, maka berjalanlah dengan tenang, margannya menek ke pabahane (ubun-ubun),
budinta apang enak, yang sida semangkana,
ya mangaran manusa sakti, ya mangaran manusia setengah Dewa sakti
manderaguna. Yan kita sampun wruh
semangkana, wenang kita mabrata, ngurangin pangan kinum, mwah aturu lan
senggama. Away wera dahat, nadyan kita mati tan pabya, tan urung kita anungkap
swarg luwih. Kalau memang sudah bisa begitu, bila nanti kita mati, walaupun
tanpa di aben, tanpa dibuatkan upakara, kita akan tetap masuk sorga.
Inilah rahasia yoga, kuncinya adalah kesucian hati,
pikiran dan perilaku. Lakunya adalah
mengurangi makan-minum, tidur dan senggama. Membersihkan diri, berarti
menyingkap tirai yang menyelubungi Sang Hyang Atma. Sehingga kita bisa melihat
penampakan-Nya, dan senantiasa mendapatkan berkah-Nya.
Ingat, di dalam ajaran Kanda Pat, Sang Hyang Siwa
atau Dewa Siwa dianggap sama denga Yang Maha Tinggi atau Tuhan yang maha esa,
Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dan di Buwana Agung Dewa Siwa disebut dengan
Brahman. Sedangkan di Buwana Alit ring
angga sariranta, di dalam diri manusia Dewa Siwa disebut dengan Atman.
Atman adalah percikan sinar suci Brahman. Oleh sebab itu, bila kita mendapatkan
penampakan dari Atman. Itu berarti kita juga mendapat penampakkan dari Brahman.
Kalau sudah begitu, pasti memiliki kesucian, kesidian dan kekuatan gaib. Itulah
jalma luwih, atau Brahmana sejati.
Kembali kepada yoga, meditasi atau semadhi.
Penampakan seperti apa yang telah disebutkan di atas, hanya bisa didapatkan
lewat yoga, meditasi atau semadhi yang khusuk dan benar. Sehingga mencapai
titik dimana anda mengalami liyeping
aluyup, antara turu tan turu. Seluruh
kesadaran terkosentrasi ke dalam diri. Dalam cerita pewayangan masalah ini
sering digambarkan dengan kalimat yang indah sebagai berikut : “Anutupi babahan
hawa sanga, manages marang Hyang Suksma
kawekas”. Bila sudah bisa menyatu dalam yoga, meditasi atau semadhi. Maka tidak
lama kemudian byar tampak cahaya biru
keputihan, dan setelah diamati ternyata itu adalah sederetan gunung kapur, atau
gunung yang memancarkan cahaya keputih-putihan.
Menurut sastra Kanda Pat Dewa apa yang tampak tidak
lain adalah cahaya dari ; papusuh, nyali, ati, ungsilan, limpa, babuwahan, usus
gung, urung-urungan, dan peparu, yang dicahayai oleh dasapramana. Maka
terbukalah tirai gaib yang menutupi Atman. Yan
katon metu ring amprunta, kadi tejaning
wulan mawelu, ya Sang Hyang Atma ngaran. Yan saking atinta metu, katon kadi
surya unimba, ya pracayaning uripta. Yang katun metu ring papusuh, katon
ameleng-ameleng angibeki jro garba, mahening kadi surya, itulah cahyaning
Sang Hyang Taya.
Yan katon cahaya
ungu, ring windu sasika, rika selaning alista, itulah parowaning urip, kalawan atma muwang
sadpramana. Ya mawak tunggal, dadi lung jiwa, ya soca tunggal ngaran, ya
jawaning awak, pametunnya saking siwadwara (ubun-ubun). Pametuning atma saking granasika, kadi
anak-anakan mas, angadeg katon ring arepta, iya cahyaning atma ika. Yan katon
kadi danta, merasa suwung ring
sarira, ika hening atinta, ya ingaran sepa-sepi, hening atinta pinaka
suksemaning yoga. Yan sira weruh samangkana, wikan kita pasimpenan turunta, ya
jadma nora mati, matinggal kurungan. Maka sebenarnya tidak ada kematian,
karena selalu hidup dimanapun Sang Hyang Atma berada. Dwaning kari urip, apan wikan ring kapatinta. Duk sira enak aturu ika
ngaran mati, nanging tan mati, apan Sang Hyang Premana manggeh ring raganta.
Untuk mempertahankan kesucian diri, reh sampun angawasang cahyaning Sang Hyang
Atma, maka yang kalaning Purnama, muwang tilem, apang enak budintam aja wor
pitresna, apan tunggal urip lawan pati. Yan sira werus semangkana, nadyan wong
sudra, rinuwat dening batara, sampurna patine reki, atmane wor lan batara. Dalam
kitab Tutur Kalepasan disebutkan : “Dengan cara menahan
nafas-ambegan-sekuatnya, dan didalam batin mengucapkan aksara suci Ongkara. Kemudian pikiran dapat
mewujudkan Panca Dewata, beserta tempat persemayaman beliau. Yang pada akhirnya
segala kekuatan itu diarahkan ke tengah-tengah kepala. Bila hal ini
dilaksanakan, maka tercapailah kamoksan itu.
“Ini adalah jalan utama. Kunci nafasmu. Keluarkan
lewat ubun-ubun. Jangan gelisah dengan datangnya kematian, maka pergilah ke
alam sunya”. Demikianlah yang
dijelaskan oleh para leluhur di jaman dulu. “Barang siapa yang memiliki iman yang teguh-sentosa ing budi teguh, setya tuhu
kautamaning lampah-maka ia akan kembali ke Siwaloka, yaitu alam sunya yang tenang, sangat mulia tak ada
taranya. Itulah yang disebut kamoksan”, begitu kata kitab Buana Kosa.
Hal terpenting yang perlu diperhatikan dalam yoga,
meditasi atau Samadhi ini adalah ketentraman hati. Sebab perasaan yang tenang
merupakan dasar utama, agar bisa mencapai sunya
dalam pikiran. Pada tahap awal belajar, melatih ketenangan dan sunya pikiran inilah yang sulit. Tetapi
pada akhirnya, dengan latihan yang teratur dan tekun, anda akan menemukan cara
tersendiri untuk mencapai sunya atau
pengosongan ini. Pengalaman bahwa pengosongan, suwung, atau sunya ini,
secara total sangatlah sulit dicapai. Karena pada hakekatnya bukan pengosongan,
suwung atau sunya yang terjadi, melainkan kita tidak merasakan keberadaan kita.
Artinya tidak dirasakan adanya-mati raga-atau
mati sajeroning urip.
Pada saat seperti inilah sebenarnya kita mengalami
hubungan dengan dunia gaib. Dimana kita telah mengalami mati raga, yaitu suatu puncak diam, dimana kita sudah tidak
merasakan adanya badan kita, seakan-akan kita sudah tidak berbadan kasar lagi.
Karena pada saat itu kita sedang mengalami kelepasan,
terlepasnya roh dari badan wadag. Itulah kebebasan tertinggi, itulah kamoksan, itulah rahasia yoga, meditasi
atau Samadhi. Tetapi sangat sulit mendapatkannya, karena itu rahasiakanlah.
l. Mati dalam hidup
Tembang raras berkata :
“Tuhan bersembunyi dalam kematian, Dewa dan bhatara tersembunyi dalam hidup.
Keberadaan disini adalah hidup, tetapi hidup diresapi dan diliputi oleh
kematian. Kematian menguasai seluruh kehidupan. Segala sesuatu tunduk kepada
kehancuran (kematian). Hidup ini baik sekali (utama) bisa bersahabat dengan
kematian. Usahakanlah, supaya bisa mati sambil tetap hidup.
Lebih lanjut dikatakan
: “Barang siapa ingat akan kematian, barang siapa dapat mati sambil tetap
hidup, barang siapa menerima bimbingan, agar menjadi jelas baginya segala
peraturan Yang Maha Agung, barang siapa selalu menyadari bahwa ia berada di
tengah-tengah kematian, barang siapa dengan jelas melihat kesempurnaan, hidup
orang itulah luhur, karena hidupnya berkaitan dengan kematian, yang sekaligus hidup
tanpa tunduk kepada kematian, itulah hakekat Hyang Suksma”.
Ungkapan tembang raras
tersebut di atas, merupakan suatu pandangan mengenai “mati sajeroning urip”
(mati ditengah-tengah kehidupan) atau hidup sesudah mati. Kreemer dengan tepat
menjelaskan bahwa dengan ungkapan tadi yang dimaksudkan adalah ekstasis. Mati
terhadap dirinya sendiri berarti hidup dalam kemanunggalan dengan Brahman, dan
ini diteruskan, sesudah kematian jasmani disebut “hidup di tengah-tengah
kematian” (hidup sesudah mati). Karena pengertian mati di sini tentu dalam
artian rohani, terlepasnya ikatan Atman dengan badan. Meninggalkan alam
keduniawian menuju alam kerohanian. Alam penghalusan atau alam dunia halus.
Adapun cara untuk mencapainya ialah dengan laku.
Dan salah satu jalannya adalah dengan meditasi, yoga atau semadhi. Jadi
meditasi, yoga atau semadhi adalah salah satu jalan untuk mencapai “pelepasan
diri”, dengan cara terus menerus mengekang dan menyingkirkan nafsu angkara dan
menghentikan makartinya jiwa raga
(=kukutaning jiwangga).
Seorang guru dalam
“ngelmu sepuh”, yaitu penuntun kejiwaan, dalam ilmu kuno yang sempurna
mengajarkan kepada kita, bahwasanya di dalam keadaan yang demikian itu, kita
dapat menghayati hal-hal yang tidak dapat kita lakukan dalam keadaan biasa. Pada
keadaan meditasi, yoga atau semadhi, kita akan segera mencapai suat titik,
dimana kita merasa seolah-olah berjalan dengan lenggang dan perlahan-lahan. Di
dalam keadaan yang demikian itu, kia dengan “mata batin” akan melihat
bermacam-macam rupa yang menakutkan, sehingga berdiri bulu kuduk dan merinding
seluruh badan. Jika tidak dapat menguasai keadaan yang tegang ini, maka gagalah
semua meditasi, yoga atau semadhi kita. Karena semua rerupan yang menakutkan itu, adalah merupakan perwujudan dari hawa
nafsu kita sendiri. Jadi bila tidak bisa menguasainya, berarti belum mampu
mengatasi hawa nafsu sendiri.
Selain dari itu, agar
orang dapat menghayati suara Tuhan, maka disamping meditasi, yoga atau semadhi,
diperlukan juga adanya kesucian di dalam tingkah laku. Dalam tatanan yang lebih
jauh dan lebih dalam lagi, maka kita tidak hanya diwajibkan untuk menguasai
hawa nafsu, melainkan harus mampu membunuh atau memusnahkan nafsu angkara itu.
Yang berarti pemusatan semua kemauan dan juga melambangkan pemutusan hubungan
terakhir dengan keduniawian. Sebab menjelang bangkitnya kejiwaan yang sejati
untuk memasuki dunia yang lain, maka “nagas si pelaku meditasi, yoga atau
semadhi akan berhenti sejenak”.
Maka bangkitlah
“kejiwaan sejati”-nya ke dalam dunia gaib yang tak terbatas. Itulah Dunianya
yang di dalam literature Jawa yang disebutkan sebagai “Dunia cemerlang tanpa
bayangan”. Inilah yang dimaksud dengan istilah “Segara tanpa tepi”, artinya
tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. “Tapaking kunntul anglayang”, artinya
mengetahui rahasia kematian, sekaligus tidak tunduk kepada kematian. “Galihing
kangkung”, artinya tidak ada atau sirna, segala kesengsaraan dan segala
keinginan ditiadakan secara sempurna. Sehingga orang mengalami keadaan yang
penuh kedamaian dan kebahagiaan mutlak, yakni suatu keadaan sempurna yang jauh lebih
baik dari keadaan di Dunia ini. “Isining buluh bungbang”, artinya suatu cahaya
yang terang yang suci murni tanpa asal, tanpa akhir dan tanpa awal. Pendek kata
“tan kena kinaya ngapa”- tak dapat diumpamakan seperti apapun. Ia timbul dari
kekosongan, Sunya, Sunyata dan itulah
kebenaran tertinggi. Dan hanya itu yang dapat dijelaskan.
Jikalau orang sudah
sampai sedemikian jauh, maka boleh dikatakan ia telah mencapai kesempurnaan,
dan seorang yang demikian itu dengan tepat dikatakan, bahwa dia telah menjadi
“Manusia Setengah Dewa sakti manderaguna”. Yan
tan wruha samangkana, yadnyan Wesya, Satrya, Brahmana, Dalem, dudu kita
manusia, itu adalah hewan berbadan manusia atau itulah orang Sudra yang
sebenarnya. Yan wruha kita samangkana,
sagenging papanta, Nerakanta Moksa ilang, yan sira ngalekas, away byahpara, den
tepet sira mayoga.
Dalam sastra Kejawen
juga ada disebutkan hal seperti ini, khususnya dalam Serta Aji Pameleng. Kurang
lebih artinya sebagai berikut : “Barang siapa yang memahami ajaran ini, kalau
dia orang Sudra akan diangkat derajatnya menjadi Wesya. Kalau dia Wesya akan
diangkat derajatnya menjadi Satrya. Kalau dia orang Satrya akan diangkat
derajatnya menjadi Brahmana. Dan kalau dia orang Brahmana akan diangkat
derajatnya menjadi Manusia setengah Dewa. Atau kalau dia orang yang
sakit-sakitan akan sembuh. Kalau dia orang yang sengsara akan bahagia”.
Begitu pula sebaliknya
: “Barang siapa yang tidak memahami ajaran ini tidak perduli apakah dia orang
Sudra, Weisya, Ksatria, Brahmana, Dalem dsb, maka dia bukanlah manusia. Dia
adalah binatang yang berbadan manusia. Wujudnya memang manusia tapi berprilaku
sebagaimana layaknya binatang. Orang yang seperti itu hidupnya akan sengsara
sekala dan niskala”. Lihat saja orang yang bisa ngeleyak. Sudah diciptakan
menjadi manusia, malah ingin kelihatan seperti binatang, atau bhutakala. Umpama,
ingin dilihat seperti binatang ayam, anjing, monyet, sapi, kelelawar, garuda
mas dan sebagainya. Atau ingin dilihat seperti celuluk, jaka tunggul, rangda,
dan sebagainya. Orang yang seperti itu, dijamin matinya nanti akan menjadi
hantu. Biar diupacarai dengan cara apapun tetap saja tidak akan merubah
karmanya, sia-sia.
m. Manusia Setengah Dewa
Yan sira weruh ring angganta, weruh ta sira ring Dewa- barang siapa
yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Dewa-karena Bhuta lan Dewa tan madoh ring awak. Ungkapan kuno ini
terkesan biasa-biasa saja, tidak ada apa-apanya, tidak ada yang istimewa.
Karena selama ini kita merasa sudah mengenal diri kita sendiri. Betulkah
demikian? Kalau memang benar berarti anda sudah mengenal Dewa. Tapi, kalau anda
belum mengenal Dewa, berarti anda belum mengenal diri sendiri. Pemahaman kita
selama ini tentang diri sendiri, hanyalah pada segala sesuatu yang berkaitan
dengan badan fisik, termasuk nama yang diberikan orang tua kita. Kita tidak
mengenal diri kita seutuhnya. Kita hanya mengenal lahir, tidak mengenal batin.
Tapi mengapa kita tidak mengenal diri kita secara batin?
Ki Agung Pranoto
menjawab; “karena manusia adalah makhluk ajaib”. Saking ajaibnya, tidak ada
satu pun fak ilmu pengetahuan yang berhasil berdiri sendiri, secara murni dalam
mengurai misteri manusia. Ilmu pengetahuan harus melakukan persekutuan, jika
bermaksud meneliti fenomena ciptaan paling sempurna itu. Manusia, ditinjau dari
filosofi supranatural, sesungguhnya cuma terdiri dari tiga unsur saja. Pikiran,
roh dan jiwa. Memang, ada unsure abstrak lain seperti nyawa. Namun, karena
pengertian nyawa berkait erat dengan organ jantung, maka ia dianggap tidak bisa
disekutukan sebagai unsure supranatural bawaan. Nyawa jadi bagian mutlak
misteri Ketuhanan. Lambang unsur transendental. Tiga unsupr supranatural
tersebut adalah sebentuk zat yang memiliki otonomi penuh. Dalam arti,
dianugerahkan dalam bentuk abstrak, dan bisa berubah atau diubah oleh manusia.
Nyawa tidak bisa diubah sedikit pun. Hanya bisa musnah jika dikehendaki Maha
Pencipta.
n. Otak mengendalikan Otak
Walaupun, pikiran
manusia merupakan hasil kerja organ yang bernama otak, namun kategori daya
kerja pikiran tetap tak memiliki batasan yang jelas. Dimensi pikiran tidak
terukur, karena mampu melampaui kecepatan cahaya dan tidak dapat dihitung oleh
waktu. Di sisi lain, misteri otak masih belum dapat diurai oleh daya pikir
manusia itu sendiri. Penelitian terhadap misteri otak sebagai sentral dari
seluruh daya kerja organ manusia, juga belum sampai pada kesimpulan puncak.
Semakin dibedah, ternyata semakin misterius.
Spesifikasi otak
terdiri dari dua bagian yang berlawanan, otak besar dan otak kecil, lalu otak
besar dibagi lagi jadi otak kanan dan otak kiri, dan ini masih merupakan
misteri tersendiri bagi ilmu pengetahuan. Barangkali, tidak ada yang pernah
berfikir, bahwa otak sesungguhnya dapat dijadikan obyek oleh otak itu sendiri.
Misal, otak memerintah otak untuk mengendalikan organ lain di luar panca indra.
Seperti alur darah, ketukan nafas, refleksi otot dan sebagainya. Selama ini,
mekanisme kerja organ tersebut, dianggap sudah memiliki mekanisme baku.
Otak Cuma disimpulkan
sebagai subyek atas segala bentuk aktivitas organ manusia. Padahal, melalui
olah meditasi, yoga dan semadhi, otak dapat dikendalikan secara supranatural
oleh otak. Otak menjadi subyek sekaligus obyek bagi otak. Dalam khasanah budaya
Jawa, pikiran adalah pancer atau
poros abadi dari seluruh inerja organ manusia. Baik secara fisik maupun non
fisik-supranatural, spiritual, gaib dan sebangsanya dan sejenisnya. Fungsi
pikiran jadi barometer panca indera.
Acapkali orang menyalah
artikan, indera keenam ada pada indera perasa dan disebut kepekaan rasa. Dalam
ilmu biologi, indera perasa sendiri, ada di lidah manusia. Pada hakekatnya,
indera keenam tidak dilahirkan indera perasa. Tapi lahir dari pikiran atau
hasil daya otak. Jadi, disamping berfungsi mengendalikan panca indera, otak
manusia juga menjadi pusat indera lain yang mengandung daya supranatural. Maka
dari itu, otak disebut pancer oleh
ilmu kebatinan Jawa. Atau disebut I Ratu Nyoman Sakti Pangadangan oleh ilmu
Kanda Pat Sari Bali. Atau dianggap Dewa Siwa dalam ilmu kebatinan Kanda Pat
Dewa di Bali. Karena itu, dianggap paling sakti diantara saudara-saudaranya
yang lain.
Maka, dalam pendekatan
yang paling masuk akal dapat disimpulkan, indera keenam dikendalikan oleh
pikiran. Pikiran, ditinjau dari sudut pandangan supranatural, merupakan
cerminan gerak jiwa dan refleksi roh manusia. Selama ini, indera keenam yang
dikelola pikiran, lebih dikenal sebagai penghasil isyarat abstrak atau gaib,
yang sulit diejawantahkan secara fisik dan visual. Termasuk isyarat
mimpi-mimpi, yang notabene hasil
kerja otak kecil.
Pada prinsipnya, konsep
indera keenam adalah bagian penuh mekanisme kerja otak kecil. Dalam olah
meditasi, yoga atau Samadhi, indera keenam dapat dimunculkan jika trjalin
kolaborasi otak kecil dengan poros penyangga tubuh. Dalam pengertian populer,
poros penyangga disebut alur sum-sum tulang belakang. Dari tulang ekor sampai
tengkuk lalu berakhir di otak kecil. Orang yang ingin mendalami olah meditasi,
yoga atau Samadhi, akan sangat bergantung pada poros penyangga tubuhnya. Poros
penyangga difokuskan dan difungsikan sebagai batas antara.
Dalam arti, jadi poros
penghubung, antara energy di pusat Bumi dan titik tertinggi di langit. Ketika
memasuki puncak meditasi, yoga atau Samadhi, tubuh manusia menjelma menjadi
“cakrawala”. Sebentuk wilayah yang tidak bergravitasi, menjadi tujuan akhir
dalam proses bermeditasi, yoga atau Samadhi. Wilayah ini tidak ada di alam
fana, alam khayali atau alam gaib (siluman). Namun ada pada dimensi yang tidak
pernah terpetakan. Baik oleh ilmu pengetahuan, Dunia spiritual, apalagi Dunia
benda.
Ia adalah sebentuk
gugusan supranatural yang mewujud, ketika terjadi loncatan fungsi indera. Dari
panca indera ke indera keenam. Terjadinya pergeseran, pengalihan atau loncatan
fungsi indera ini, sepenuhnya di bawah kendali otak kecil. Peran otak kecil
ditopang tujuh titik meditasi, yoga atau Samadhi, yang biasa disebut dengan
cakra berporos pada tulang belakang, jadi unsure paling penting dalam olah
meditasi, yoga atau Samadhi.
Sebelum melakukan
meditasi, yoga atau Samadhi, seseorang diharuskan menata pikirannya. Membangun
kondisi mental, dengan cara : menutup segala bentuk hawa nafsu Seperti 9 sumber
nafsu dalam filosofi Kejawen yang disebut babahan
howo songo. Sembilan sumber nafsu yang keluar dari 9 lubang dalam tubuh
manusia. Pengelolaan organ fisik seblum bermeditasi, yoga atau samadhi,
dimaksudkan sebagai upaya memudahkan pengenduran urat syaraf dan melancarkan
sirkulasi oksigen dalam darah. Dengan tercapainya kondisi tersebut maka,
seseorang akan semakin mudah melakukan meditasi, yoga atau Samadhi.
o. Jaringan listrik tubuh
Selain melancarkan
peredaran darah dan mengurai simpul syarat tersumbat, meditasi, yoga atau
samadhi, juga bakal membangkitkan jaringan listrik tubuh. Konon, antara darah,
urat syaraf dan kelenjar otot yang malang-melintang di dalam tubuh, dihubungkan
oleh jaringan listrik. Jaringan tersebut lebih bernuansa supranatural.
Keberadaannya, tidak
terlacak oleh teknik foto rontgent. Teknik
fotografi yang pernah berhasil memotret jaringan listrik tubuh adalah, teknik
foografi Kirlian dari Rusia. Jaringan listrik tersebut oleh Dunia ilmu
pengetahuan disebut aura. Disamping mengajak berwisata ke wilayah yang tak
terpetakan, meditasi, yoga atau Samadhi, juga bakal menghidupkan muncratan
listrik tubuh. Sehingga, pelaku meditasi, yoga atau Samadhi, disamping
mendapatkan kedamaian pikiran dan konsentrasi yang lebih tajam, juga bakal
memiliki vitalitas prima. Selain itu, kalau beruntung akan dapat bonus
supranatural dalam bentuk indera keenam.
Dalam pemahaman klasik
Jawa, sering tercatat kiasan-kiasan filosofis seperti ono cahyo mangan cahyo atau cahaya memakan cahaya. Kalimat ini
sering termuat dalam rapal-rapal Jawa kuno (Mataram Hindu), yang bermakna ada
sebentuk siklus zat anti materi di tubuh yang bersifat sangat relatif.
Maksudnya, anti materi dan anti materi, bisa menghasilkan sesuatu yang
menakjubkan. Karena itu kiasan itu berupa cahaya, maka sifatnya tentu saja
teramat abstrak dan bernuansa supranatural.
Cahaya dalam tubuh,
bukan berarti sinar laser atau sinar lampu senter, tapi bunga-bunga cahaya yang
dihasilkan unsur listrik tubuh. Percikan itu dapat terjadi apabila ada
persinggungan, antara prcikan listrik yang satu dengan percikan listrik yang
lainnya. Dalam pengertian sederhana, proses persinggungan tersebut akan mncul,
pada saat sedang dilakukan pemompaan oksigen ke dalam darah. Bukan hanya darah yang
ada di kelenjar otot, tapi juga darah di pori-pori manusia. Baik pori-pori
punggung, perut, tangan, atau kaki.
Diperlukan upaya
kontinyu untuk membangkitkan jaringan listrik tubuh. Bunga-bunga cahaya yang
dihasilkan, akan terkosentrasi sebagai energi. Sebentuk energi yang bisa
dikendalikan untuk mendorong sirkulasi oksigen ke dalam darah, atau ke tempat
lain sesuai dengan keinginan. Darah, tidak cuma digerakkan sesuai jalur lalu
lintasnya saja. Melainkan, juga dipaksa masuk ke pori-pori atau permukaan
kulit. Pemerataan oksigen melalui teknik ini akan menciptkan pancaran tertentu
pada wajah atau tubuh seseorang.
Semua itu dapat
terjadi, jika seseorang sudah mampu melakukan olah meditasi, yoga atau Samadhi,
dan pemusatan pikiran secara benar. Meditasi, yoga atau samadhi, memang
sebentuk ritual olah batin dan pemusatan pikiran. Dalam olah meditasi, yoga
atau Samadhi, daya listrik cenderung diatur berputar seperti rotasi Bumi. Dari
tulang ekor dinaikkan ke puncak kepala, dilanjutkan ke badan bagian depan. Turun,
lalu naik lagi. Ini metode pengolahan nafasnya. Sedang metode supranaturalnya
tetap berpusat di kepala. Pada pokoknya, meditasi, yoga atau Samadhi, merupakan
sebentuk upaya memompa oksigen ke dalam darah, tanpa harus bersusah payah
melakukan gerakan fisik seperti oleh raga atau fitness. Memompa oksigen lewat kekuatan pikiran.
p. Kekuatan pikiran
Memompa oksigen ke
dalam sel-sel darah merah melalui kekuatan pikiran, seolah-olah melakukan
kegiatan yang tidak masuk akal. Memang, bagi kebanyakan orang, organ tubuh
dianggap sudah memiliki mekanisme baku dan mengendalikan dirinya secara
kodrati. Namun sesungguhnya, daya pikiran yang dihasilkan otak besar manusia,
tidak hanya mampu melakukan kegiatan-kegiatan elementer, seperti mengelola
panca indera, misalnya lebih dari itu, pikiran bisa menjadi sumber utama
kinerja organ tubuh yang lain.
Anda menggerakkan jari,
tertarik membaca tulisan ini atau membuat keputusan untuk membeli buku, tentu
karena reaksi berpikir anda. Reaksi ini muncul dari berbagai sebab, diantaranya
melalui indera penglihatan. Jika anda mengerti fungsi darah, fungsi oksigen
dalam tubuh manusia secara baik sekaligus juga melakukan mekanisme kerjanya
dalam keseharian, tidak ada salahnya mula belajar mengatur fungsi oksigen dalam
darah dengan daya pikiran. Seperti juga fungsi organ lain, darah dan oksigen
sangat patuh kepada perintah otak anda.
Misteri dahsyatnya
pikiran manusia, sejak awal sudah ditekankan, sulit untuk dijabarkan. Disamping
tidak adanya kesadaran tentang fungsi otak yang hakiki, manusia sendiri
cenderung memperlakukan otak seperti anak tiri. Dibanding perlakuannya terhadap
organ lain, seperti kaki yang diberi sepatu, rambut yang di creambath seminggu sekali, atau jari
tangan yang dihias cincin pemanis. Sesungguhnya, otak, sama dengan perut, juga
membutuhkan makanan tertentu. Bukan untuk membuat kenyang-seperti selalu kita
lakukan jika lapar, melainkan untuk memperbesar dan memperkuat daya kinerja
otak.
Jenis makanan yang
paling bergizi untuk otak adalah ilmu pengetahuan. Semakin banyak membaca,
sel-sel otak semakin terpacu untuk bekerja. Selain itu, makanan yang berkadar
Omega 3 murni, seperti terkandung pada ikan laut, juga dapat membantu
memaksimalkan daya kerja otak.
q. Pikiran terpusat
Penghayatan fungsi
indera, berkaitan dengan alam sekitar dan diri pribadi manusia, merupakan awal
dari seluruh usaha seseorang untuk membuat pikirannya terpusat. Pemusatan
pikiran adalah suatu kegiatan yang sederhana. Saya yakin. Jika anda menggemari
buku, begitu membaca judulnya, otomatis langsung membayangkan isinya. Pikiran
anda sudah langsung memusat. Lama kelamaan, panca indera anda juga semakin
terlatih mengenali “jiwa” tulisan ini, sehingga terjalin koontak rasa. Semakin
diminati, semakin dinikmati, semakin menghanyutkan.
Dunia meditasi, yoga
atau Samadhi, memang hanya terkesan sejenis olah gerak atau olah nafas. Namun
sesungguhnya, lebih mendalam dan lebih berat dibanding anda melakukan senam
kesegaran jasmani, atau olah tenaga dalam sekalipun. Dalam meditasi, yoga atau
Samadhi, pemusatan pikiran akan membimbing seseorang pada suatu Dunia gerak
yang lebih luas dan bebas. Dalam latihan pemusatan pikiran, sebaiknya
diciptakan sebentuk suasana tenang dan nyaman.
Para praktisi meditasi,
yoga atau samadhi, sering melatih sebelum Matahari menyingsing atau setelah
Dunia terlelap (tengah malam). Pada jam-jam itu, tercipta suasana yang sangat
hening. Suasana hening, sangat membantu pikiran kita untuk melakukan pemusatan
konsentrasi. Dalam keheningan, pikiran akan meusat secara sempurna. Untuk mempertahankan
pemusatan pikiran tersebut, maka anda perlu mengendalikan indera perasa, yakni
lidah. Ia harus ditempelkan ke langit-langit mulut.
Ditempelkannya
permukaan ujung lidah di langit-langit mulut, adalah syarat mutlak dalam
meditasi, yoga atau samadhi. Disamping, cara ini membuat oksigen yang dihirup
tidak bakal lolos lewat saluran eustachius,
lalu Cuma berpusing di rongga mulut. Juga akan menghambat air liur agar
tidak menggenang di permukaan lidah. Keduanya jika dibiarkan, akan mengganggu
konsentrasi.
r. Misteri jiwa
Jika posisi otak
Manusia, sudah berhasil disimpulkan oleh ilmu pengetahuan dan diklaim ada di
bagian tengkorak kepala, maka jiwa Manusia sebagai unsure abstrak-seperti roh,
posisinya belum dapat ditelusur secara tepat. Secara umum, jiwa adalah sebentuk
kondisi yang dihasilkan lewat tumpukan perasaan tertentu. Rasa senang, gembira,
bahagia, akan menghasilkan jiwa yang segar. Rasa sedih, kecewa, cemas, takut
adalah bagian jiwa yang terguncang.
Jiwa berkaitan erat
dengan pikiran. Jika pikiran terganggu, jika pikiran terguncang, jika pikiran
sampai buntu, gara-gara perasaan negative di atas maka muncul kelainan jiwa.
Kalau sampai parah. “Ya masuk rumah sakit Jiwa”. Jiwa adalah pembawaan
seseorang, ketika hidup dalam kandungan ibunya. Transfer kondisi kejiwaan Ibu
hamil kepada bayi di dalam rahimnya, berlangsung sangat cepat. Kondisi kejiwaan
adalah kondisi warisan, sedangkan mentalitas bisa dipengaruhi lingkungan
pergaulan dan pendidikan.
Seorang penakut akan
tetap penakut, jika tidak diberi contoh tentang kejadian yang menghilangkan
rasa takutnya. Konflik rumah tangga ketika bayi ada dalam kandungan, juga
membentuk kejiwaan anak jadi introvert, murung,
lekas putus asa, tidak punya rasa percaya diri dan penggugup. Kondisi kejiwaan,
mustahil terbentuk, jika tidak ada peristiwa yang menghentak. Maksudnya,
seseorang yang ingin memiliki rasa percaya diri, tidak bakal mampu meraihnya
jika kondisi mentalnya terindoktrinasi mentalitas teman, atau mendapat
pendidikan yang sengaja mengkondisikan dirinya agar tetap penakut.
Terapi yang dilakukan
ahli ilmu jiwa, bisa mengatasi persoalan seperti itu dalam batasan tertentu.
Pengubahan kondisi kejiwaan sangat bergantung kepada orang yang ingin mengubah
kondisi kejiwaannya tersebut. Meski sulit ditebak, jiwa itu tempatnya di mana,
namun secara organisatoris, jiwa selalu berkolaborasi dengan otak kecil. Dalam
arti, kondisi jiwalah yang direkam otak kecil sehingga mempengaruhi suasana
hati, pikiran dan relaksasi seseorang.
Jiwa harus selalu dalam
kondisi tenang. Ketenangan jiwa ada di dalam jiwa. Pikiran bisa membantu jiwa
untuk tenang, tapi, jiwa tidak dapat tenang hanya karena bantuan pikiran. Jiwa
yang tenang, adalah jiwa yang hidup dalam tubuh manusia dengan metabolism
normal. Relaksasi dan kontemplasi termasuk dalam teknik penjernihan jiwa. Dalam
kontemplasi, seseorang akan memasuki kondisi pasrah. Karena itu, ia akan lebih
bisa meneropong kondisi kejiwaannya dengan baik. Kepasrahan adalah dasar
relaksasi. Pengenduran urat syaraf dan otot-otot dari kepala, turun ke tulang
bahu lalu ke bawahnya lagi, akan sulit dilakukan tanpa adanya kemauan untuk
pasrah.
Pasrah di sini,
dimaksudkan sebagai upaya untuk mengucilkan perasaan dan kejiwaan kita, tanpa
diikuti bayang-bayang memori atau logika. Pasrah adalah titik paling puncak,
ketika orang mengalami ketidakberdayaan. Rasa takut dan sejenisnya, sebaiknya
diwujudkan menjadi rasa ketidakberdayaan, lalu diejawantahkan jadi bentuk
pasrah. Pasrah adalah kondisi diam namun aktif. Ketika memasuki kondisi pasrah,
gambaran-gambaran masa lalu sering tiba-tiba muncul. Karena itu, dibutuhkan
dukungan konsentrasi untuk mengikat kondisi kejiwaan agar dalam keadaan tetap.
Semakin pasrah, semakin muncul relaksasi.
Inilah yang dinamakan
kenyamanan. Dalam suasana nyaman, konsentrasi masuk ke dalam keheningan. Jiwa
mulai dijernihkan. Aliran darah terasa ringan berputar di jaringan tubuh. Angin
yang mengelus pori-pori, terasa lembut seperti beludru. Jika kondisi ini sudah
terasa, berarti anda sudah melakukan relaksasi secara benar. Selanjutnya, anda
tinggal melakukan kontemplasi menuju pasrah. Semakin larut ke dalam kenyamanan
itu, berarti semakin dekat kepada estafet fungsi jiwa ke fungsi roh. Proses ini
membutuhkan daya spiritual tersendiri.
Kondisi perasaan yang
stabil, sangat dibutuhkan dalam pencapaian puncak meditasi, yoga atau Samadhi.
Musuh utama olah meditasi, yoga atau samadhi adalah rasa marah. Kemarahan
seseorang, akan banyak menguras energi yang dimilikinya. Energi manusia juga
dikuras oleh hawa nafsu dan beban pikiran. Dalam Dunia meditasi, yoga atau
Samadhi, fungsi jiwa menjadi tolok ukur, sejauh mana tingkatan meditasi, yoga
atau Samadhi sudah dicapai seseorang. Anda bisa saja menghirup udara pagi
sebanyak-banyaknya di tepi pantai yang sunyi, tapi belum tentu dapat memberi
makanan kepada jiwa anda. Paru-paru anda, tentu saja, akan jadi lebih baik
dibanding kondisi kemarin. Pikiran juga menjadi jernih untuk beberapa saat. Api
jiwa, belum tentu tumbuh dengan baik, jika cuma diberi udara segar.
Kontemplasi atau
perenungan adalah makanan utama jiwa manusia. Pada beberapa aliran agama sudah
diajarkan soal penyegaran jiwa manusia, baik dengan retret, dzikir, japam atau ritual pengendapan jiwa dalam Buddha dan
Hindu. Pada prinsipnya, apa yang dilakukan dalam meditasi, yoga atau samadhi,
juga tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan dalam agama. Perenungan
diwujudkan sebagai tahapan awal, sebelum seseorang masuk ke dalam meditasi,
yoga atau samadhi yang sesungguhnya.
Tujuan utama perenungan
adalah untuk menciptakan kesunyian. Sunyi bukan berarti kosong. Melainkan
suasana tenang dalam jiwa. Meski di sekitar, banyak suara bising atau kondisi
udara sedang dingin atau panas menyengat, ketenangan jiwa yang terbentuk dalam
perenungan itulah yang menciptakan kesunyian jiwa. Kesunyian ini, ibarat
seseorang yang berdoa tengah malam buta, di pinggir laut yang bergelombang
teratur, dan menerima sebentuk suasana teduh serta syahdu.
Demikian pula dalam
perenungan pribadi, jiwa diarahkan pada sebentuk kondisi yang pasti. Berangkat
dari kesadaran tentang hakekat manusia itu sendiri, lalu hakekat hidup dan
hakekat kerohanian yang semakin matang. Kesunyian jiwa akan terbentuk sendiri
pada proses meditasi, yoga atau samadhi. Ia menjadi energy spiritual bagi
seseorang yang melakukannya. Suasana jiwa yang normal, seperti juga cuaca.
Berubah seiring perjalanan musim. Mengikuti bentuk lingkungan yang ditemui.
Mengalir seperti air. Memenuhi segenap ruang yang ada. Ketika masuk ke suasana
ceria, jiwa ikut ceria. Jika sedih, jiwa berduka. Jika terdesak, jiwa
terguncang.
Sedemikian sensitifnya
kondisi kejiwaan manusia, maka banyak sekali diciptakan kegiatan-kegiatan untuk
menyegarkan jiwa. Semakin seseorang terlalu banyak memakai otaknya untuk
beraktivitas, jiwanya semakin membutuhkan penyegaran. Tidaklah mengherankan,
jika aktivitas meditasi, yoga atau Samadhi, sebagai salah satu cara menyegarkan
jiwa, menjamur mewarnai aktivitas orang-orang modern. Dari kelas atas sampai
bawah. Dari praktek meditasi, yoga atau Samadhi, di hotel mewah sampai di
pinggir pantai atau di puncak gunung atau lembah.
Kegiatan-kegiatan
tradisional seperti di Jawa maupun Bali seperti lelaku tirakat di pantai, gunung, kuburan keramat, sesungguhnya
juga bagian dari meditasi, yoga atau Samadhi. Meski dilakukan dalam kerangka
berpikir primitif. Secara tidak sadar, mereka sudah melakukan penyegaran jiwa.
Melalui kontemplasi dan doa yang dilantunkan. Pada saat ritual itu dilakukan,
mereka sesungguhnya sedang melakukan pengendapan jiwa, seperti dilakukan dengan
meditasi, yoga atau Samadhi. Pengendapan itu menghasilkan jiwa yang segar.
Ada juga yang
beranggapan, tirakat adalah sebentuk
ritual ngangsu kaweruh langsung dari
alam gaib. Padahal yang namanya ngangsu
kaweruh, adalah melaksanakan segala bentuk lelaku yang diwajibkan bagi penganut ilmu gaib. Seperti puasa,
bermantera dan pencarian hakikat ingsun
sejati. Jiwa yang segar dihasilkan oleh ketekunan seseorang berkontemplasi,
introspeksi diri dan merenungi suluruh perbuatannya. Jiwa yang segar dapat
dihasilkan melalui proses penghirupan oksigen secara teratur, sehingga
melancarkan sirkulasi darah di tubuh.
Dalam kesehariannya,
jiwa harus diberi ruang gerak tersendiri, agar selalu bening dan segar.
Kesegaran jiwa akan meningkatkan daya apresiasi, baik artistic maupun
materialistik. Juga melancarkan kinerja organ itu sendiri. Olah meditasi, yoga
atau Samadhi, seni pernafasan dan gerak nurani, akan mengembalikan kondisi
kejiwaan pada keadaan yang paling murni. Jiwa yang berumah di kedamaian hati.
s. Dimensi Roh
Zat yang paling mandiri
di jagad raya ini adalah : roh. Tentu saja roh halus. Manusia, juga bagian dari
roh halus, Cuma diberi seragam berupa jasad atau bentuk fisik. Roh manusia
disebut aura, berwarna putih
keperakan. Ketika seseorang meninggal, rohnya akan keluar lewat ubun-ubun di
kepala. Roh yang tidak bergentayangan, adalah roh yang tinggal di alam baka,
alam penantian, nirwana, bahkan mungkin di sorga atau neraka.
Ketika seseorang
dikirimi roh halus, maka seperti ada angin masuk di sela kuku ibu jari kakinya.
Ini cirri orang yang sdang kena teluh,
tenung, santet, jengges, atau sambaing
dan pelet. Istilah Balina kena bebai, pepasangan, acep-acepan, dan guna-guna. Angin masuk itu rasanya
seperti orang yang menderita asam urat atau berkolesterol tinggi, tapi nekad
makan jeroan kambing. Pokoknya
pegal-pegal menjengkelkan. Gejala Balinya adalah anyang-anyangan, sakit di siksikan,
susah tidur dan sering mimpi buruk. Jika dibiarkan, angin jahat itu akan
naik ke panggul dan selanjutnya numpang hidup di jiwa seseorang. Mengganggu
kinerja roh dan pikiran. Kalau dibiarkan, angin jahat itu akan naik ke panggul
dan selanjutnya numpang hidup di jiwa seseorang. Mengganggu kinerja roh dan
pikiran. Kalau dibiarkan terlalu lama, ya, muncul gangguan jiwa. Gila. Atau
penyakit lainnya seperti kanker, tumor, jantungan, lever dan sebagainya.
Kinerja roh yang paling
mutlak di dalam tubuh manusia adalah membayang-bayangi hati nurani. Ia harus
jadi kaca benggala, bagi proyeksi
sifat Ketuhanan dalam diri manusia. Persahabatan erat antara roh dan hati
nurani akan melahirkan sinyal-sinyal moral yang membimbing perilaku manusia. Ia
akan bekerja, ketika hawa nafsu mulai bergelora. Roh itu abadi. Ia bekerja,
dari sejak diturunkan kepada seseorang, sampai akhir zaman. Tidak ada yang mampu
mencabut roh dari tubuh manusia, kecuali takdir kematian. Dukun santet atau leak pun tidak mampu mencabut roh. Ia hanya mampu merusak organ
tubuh, sehingga berhenti bekerja. Karena berhenti, maka rohnya keluar dari badan.
Meski seseorang mati
kesantet, atau amah leak itu tidak
pernah musnah. Roh itu tidak bisa mempengaruhi roh lain. Kecuali ia dalam
penguasaan roh ketiga. Misal, seorang pemuja siluman yang sudah mempersembahkan
rohnya kepada siluman, maka ia dapat melakukan hal tersebut. Roh siluman akan
membantu dirinya untuk mempengaruhi roh orang lain yang diinginkan. Roh ketiga
itu, membantu si pemuja masuk ke dalam halusinasi, khayalan atau mimpi-mimpi
yang diinginkan. Selanjutnya, terjadi penyekapan roh, sehingga kondisi fisik
dan pikiran orang tersebut terguncang, atau mengikuti keinginan pemakai jasa
roh siluman.
Penyekapan roh memang
mungkin terjadi. Tapi pemusnahan roh tidak mungkin terjadi, sebab roh bersifat
kekal. Roh akan kembali ke roh. Manusia akan kembali menjadi tanah. Atau abu,
kalau mayatnya dikremasi, bila pada dasarnya, jalan roh menuju alam baka adalah
sama. Sebuah jalan panjang menuju kehidupan kekal. Sebuah penantian sampai
akhir zaman. Versi jalan ini, menurut kitab suci berbeda satu dengan lainnya. Jadi
tidak perlu diperdebatkan. Roh tidak dibatasi oleh usia atau keadaan Dunia. Ia
memiliki dimensi yang berlainan, disbanding seluruh alur kehidupan yang ada.
Dimensi roh terletak
pada dimensi antara. Yakni sebuah wilayah tanpa bobot dan tanpa kehidupan.
Antara jagad manusia dengan jagad maha kuasa. Sehingga, arti roh yang tidak
dapat dimusnahkan, mendapat pengesahannya. Roh akan tinggal di sebuah wilayah,
yang menjadi batas antara surga dan Dunia, ketika seorang meninggal Dunia.
Posisi roh, dari sudut pandang Kejawen adalah Sukma sejati. Sukma sejati adalah puncak tertinggi dari tujuan
meditasi, yoga atau samadhi. Roh menjadi muara atas segala aktivitas meditasi,
yoga atau Samadhi yang dilakukan seseorang. Begitu kata Ki Agung Pranoto.
Maka demikianlah, bahwa
di dalam diri manusia tersimpan empat kekuatan gaib yang sangat dahsyat.
Pertama adalah Kanda pat atau sadulur
sejati, kedua pikiran, ketiga jiwa dan keempatnya roh. Maka barang siapa
yang bisa membangkitkan, mengolah semua kekuatan itu, menjadi bentk-bentuk
kesaktian, kawisesan, kamoksan dan
sebagainya, dia adalah Manusia setengah Dewa sakti manderaguna.
4). Kanda Empat Sari
a. Kanda Pat Jawa
Kanda Pat di dalam
ajaran Jawa dikenal dengan istilah “Sedulur papat kelima pancer”. Pancer adalah diri kita. Setiap diri
manusia mempunyai empat saudara. Ketika manusia masih berupa janin didalam
perut ibunya, keempat saudara itu nyata. Kasat mata. Untuk lebih jelasnya
marilah kita simak kutipan Kidungan Jaya Wedha berikut ini: Ana kidung akadang premati among tuwuh ing
kuwasanira nganaken saciptane kakang kawah puniku kang rumeksa ing awak mami
anekaken sedya pan kuwasanipun adhi
ari-ari ika kang mayungi ing laku kuwasaneki anekaken pangarah. Ponang getih
ing rahina wengiangrowangi Allah kang kuwasa andadekaken karsane puser
kuwasanipun nguyu-uyu Sumbawa mami nuruti ing panedha kuwasanireku jangkep
kadang ingsun papat kalimane pancer wus dadi sawiji nunggal sawujudingwang.
Ada sabda tentang
saudara kita yang merawat dengan sungguh-sungguh. Yang memelihara berdasarkan
kekuasaannya. Apa yang dicipta terwujud. Ketuban itu, yang menjaga badan saya.
Yang menyampaikan kehendak, dengan kuasanya. Dinda ari-ari itu, yang memayungi
semua tindakan berdasarkan kekuasaannya, yang menyampaikan tujuan. Sedangkan
darah siang dan malam membantu Allah yang kuasa. Mewujudkan kehendak-Nya. Puser
kekuasaannya, memerhatikan sungguh-sungguh diriku, memenuhi permintaanku.
Kekuasaannya itu. Maka, lengkaplah empat saudara saya, kelimanya sebagai pusat.
Sudah menjadi satu. Manunggal dengan
wujudnya.
Dari kedua bait kidung
diatas, jelas sudah apa yang dinamakan saudara empat. Semuanya merupakan
saudara kandung ketika manusia masih berupa janin. Mereka semua menjaga
pertumbuhan manusia di dalam kandungan ini. Anak yang pertama tentu saja kakak
dari sang janin, yaitu ketuban atau kawah. Ketika seorang ibu melahirkan, yang
pertama kali keluar adalah ketuban. Karena itu disebut saudara tua. Kakang kawah. Dia berfungsi sebagai
penjaga badan sang janin di dalam rahim.
Setelah itu, saudara
sekandung yang lebih muda adalah ari-ari, tembuni
atau plasenta. Pembungkus janin
di dalam rahim. Dinyatakan bahwa ari-ari memayungi tindakan sang janin didalam
perut ibu. Yang menyampaikan tujuan. Begitu bayi lahir, maka ari-ari itu ikut
ke luar. Ia mengantarkan sampai tujuan, yaitu lahir dengan selamat disertai
pengorbanan dirinya.
Berikutnya adalah
darah. Inipun saudara janin. Tanpa adanya darah, janin bukan saja tidak bisa
tumbuh tetapi juga akan mengalami keguguran. Darah disebut membantu Tuhan siang
dan malam, untuk mewujudkan kehendak Tuhan, jangan salah pengertian! Tuhan
sendiri hakekatnya tidak memerlukan bantuan siapapun. Ini dari segi hakekatnya.
Tapi dari segi syarat, segi mekanisme alamnya, kehendak Tuhan untuk
menumbuhkembangkan janin hingga menjadi bayi itu lewat perantaraan darah.
Seolah-olah darah itu nyawa bagi janin.
Saudara yang keempat
adalah pusar (Jawa: puser atau wudel). Dalam bahasa Jawa Kuno, istilah untuk
pusar adalah nabi. Yang dimaksudkan
dengan pusar, tentu saja tali pusar. Sedangkan pusar sendiri sebenarnya
hanyalah bekas menempelnya tali pusar pada perut. Tali pusarlah yang
menghubungkan antara perut bayi dalam rahim dan ari-ari. Ia sebagai alat untuk
menyalurkan makanan dari Ibu ke bayi dalam kandungan. Dengan tali pusar itu
bayi mendapatkan pasokan makanan dari ibunya. Pusar berfungsi untuk memenuhi
permintaan si jabang bayi.
Dalam pandangan budaya
Jawa, pandangan yang telah diterima orang Jawa yang beragama apapun. Yang saya
maksud, orang Jawa yang mengerti pandangan Jawa, meski beragama apapun tetap
mempercayai bahwa dalam hdiup di Dunia ini, saudara empat itu tetap menjaga baik
semasih di kandungan maupun di Dunia nyata. Yang kembali ke anasir-anasir Bumi, air, udara dan api
hanyalah keempat jasadnya. Begitu bayi lahir, jasad saudara empat itu kembali
ke asalnya. Air ketuban dan darah dibersihkan, begitu bayi dilahirkan. Ari-ari
dan potongan tali pusar dipendam atau dihanyutkan di sungai. Jasad yang
terlahir hidup adalah bayinya. Sedangkan secara metafisik saudara empat itu kita tetap menjada kita hingga mati.
Selanjutnya perhatikan kutipian ini : Dialah yang berkuasa atas semua
hamba-Nya. Dan dia mengutus kepada kalian penjaga-penjaga untuk melindungimu.
Dari kutipan tersebut
di atas, jelas sekali dalam kehidupan di ala mini, Tuhan memberikan
penjaga-penjaga kepada setiap orang. Meskipun telah disebutkan bahwa Tuhan itu
mahakuasa atas segala hamba-Nya, tapi ada mekanisme alam yang telah
ditetapkan-Nya. Tuhan tidak bertindak secara langsung. Ada beberapa penjaga
yang dikirimkan kepada setiap orang. Bukan satu penjaga buat seorang. Tapi
beberapa penjaga!
Tentu saja penjaga-penjaga
tersebut tidak terlihat oleh mata jasmani. Karena mereka berupa roh. Kalau toh
ada yang bisa melihat mereka, itu disebabkan yang bersangkutan berjuang keras
untuk dapat melihat mereka. Atau, orang itu berada dalam situasi yang
menyebabkan saudara-saudara rohaninya itu menampakkan diri. Itu pun hanya
dirinya yang bisa melihat. Orang lain disekitarnya tidak akan melihat merka.
Menurut konsep Jawa,
penjaga-penjaga itu adalah saudara gaib kita sendiri! Bukan orang lain. Yang
dalam pandangan agama Hindu di Jawa disebut dengan Dewa atau Bhatara. Tetapi
bagi konsep budaya Timur Tengah, penjaga manusia itu disebut Malaikat. Dari
sudut pandang hakekat, apapun sebutan yang diberikan kepada penjaga-penjaga itu
sama saja.
b. Panugrahan Dalem
Ini adalah ajaran utama,
panugrahan Ida Bhatara Dalem. Yang disebut; sarining
kanda pat tanpa sastra. Banyak sekali gunanya. Bila ditempatkan di dalam
rumah, berguna untuk menjaga rumah dan orang-orang sekeluarga. Segala perbuatan
orang jahat dapat ditolaknya. Segala mara bahaya disingkirkan olehnya. Apabila
kita dapat memahami isi ajaran ini, bisa menjadi sari patinya mantra, juga
mencapai nirwana. Serta dapat
melepaskan derita para leluhur semuanya. Bila untuk menyucikan diri sendiri,
tercapailah adanya bila kita bhakit dan hormat kepada Beliau, dapat memberikan
kesaktian, yang tak dapat terkalahkan oleh segala mantra. Mantra yang berasal
dari seratus lontar, dikalahkan oleh ucapan secakep. Tutur seratus cakep
lontar, ditundukkan oleh satu bentuk saji. Bantern sertus jenis, dikalahkan
oleh satu jenis dulang.
Demikianlah utamanya
sifat dari orang yang memahami ajaran ini. Tetapi jangan dilecehkan dan
disebarluaskan kepada orang yang tidak sepatutnya. Bila dilecehkan musnahlah
segala kegunaannya, dan menjadi bumerang bagi penganutnya. Dan kemudian
menyakiti diri sendiri, seperti; gila, marah-marah, boros, sakit secara
mendadak, sakit lepra, buta serta pendek umurnya. Demikianlah janji Bhatara
Dalem, terhadap mereka yang mengikuti ajaran ini. Bila disiplin mengikuti
ajaran ini, dapatlah dicapai segala yang dicita-citakan dan disayang oleh para
Dewata.
Inilah janji Bhatara
Dalem. Bila bercita-cita menjadi orang bijaksana, dan dicintai oleh sesame
makhluk hidup di Dunia, jangan menyimpang dari tata krama kehidupan ini. Kelak,
apabila telah pandai, hendaknya tetap rendah hati. Jangan lupa belajar hidup
prihatin, mencari nafkah dengan halal, agar selagi hidup beroleh manfaat.
Sekali pun pandai, tetapi bila kurang rajin, akibatnya kurang baik. Lagipula
hendaknya selalu berlatih kecerdasan hati, paham akan sasmita, isyarat, lambang, perubahan air muka, dan lain-lain, ini
diibaratkan mengadu kekuatan diri.
Dalam menuntut ilmu
jangan kepalang tanggung, harus berani mengatasi berbagai rintangan, jangan
berhenti di tengah jalan. Seseorang yang telah menguasai diri sendiri dan
memahami segala macam ilmu, lahir dan batin, disebut jadma luwih atau sujana.
Seterusnya agar
harus dipahami kekotoran tubuh. Jangan besar mulut, jika berbicara jangan sembarangan,
perkataan terhadap sesama jangan curang-bog-bog-membohongi
orang. Jangan pula jail, angkuh, sombong, congkak, dan takabur. Hindarilah
semua itu. Supaya tidak mendapat celaka, jangan sembrono. Barang siapa culas,
akan sengsara, sedang kesulitan. Lagi pula jangan cemas, bimbang dan ragu sebab
barang siapa cemas, bimbang dan ragu, akan dibelenggu iblis, dan setan
gentayangan. Sedang barang siapa angkuh, sombong, iri dengki, akan dihukum
Hyang Widhi, pasti akan rusak batinnya.
Seterusnya jangan gemar tidur dan senggama, apalagi
selingkuh, itu pantang bagi mereka yang menuntut ilmu. Jikalau makan sekedar
sebagai obat pengganjal perut, tidur sebagai obat rasa kantuk saja, sedang
apabila melakukan kewajiban sebagai suami-istri, agar dugapayoga, artinya jangan terlalu sering. Demi kebaikan semuanya.
Jika hanya mengutamakan makan dan tidur saja, hati akan tersendat, dan sulit
mencapai cita-cita.
Di samping itu hendaknya diketahui adanya 4 macam
bhuta, yakni Anggapati, Mrajapati, Banaspati, Banaspati Raja. Adalah merupakan
simbol nafsu. Siang dan malam nafsu-nafsu tersebut berperang memperebutkan
keutamaan. Nafsu putih diserang 3 nafsu lainnya. Jika nafsu putih mau sadar,
mengajak mengurangi makan, tidur dan senggama, agar bisa menekuni ilmu, tetapi
nafsu hitam dibantu merah dan kuning melawan nafsu putih, dan tidak mau diajak
berbuat baik, itulah yang disebut perang siang malam.
Waspadalah dan ketahuilah sifat masing-masing
nafsu, mana diantara sifat itu yang layak diturut. Jauhilah nafsu hitam, merah
dan kuning, kendalikan dengan kuat, dengan sraddha dan bhakti. Itu laku
terpuji. Kembangkanlah nafsu putih agar bersatu dengan empat sukma yang berada di alam gaib.Disitulah
tempatnya hati suci, sebagai sukma luhur,
sukma purba, sukma langgeng, dan sukma
wisesa. Mereka mengendalikan keempat macam nafsu. Nafsu merah memuja sukma langgeng, nafsu hitam memuja sukma purba, sedang nafsu kuning
dikuasai sukma wisesa. Ketiga nafsu
tersebut diperintahkan agar menyamun-menggoda
hidup manusia-hingga hidup selalu menjadi celaka. Nafsu putih suksma luhurlah
pujaannya. Jika nafsu putih sudah dekat dengan Tuhan, terbukalah jalan menuju
kebahagiaan dan kemujuran. Apabila tekun mempelajari ilmu, cita-cita pasti akan
tercapai, mendapat kekuasaan, kebahagiaan dan kemuliaan.
Demikianlah tingkah laku manusia terpuji.
Jadikanlah Bhuta Anggapati, Mrajapati,
Banaspati, dan Banaspati Raja sebagai
prajurit untuk menghadapi musuh. Kuasailah, sebab apabila tidak disadari, akan
mengajak rusuh, mengganggu, mengacau, pasti tubuh akan menjadi rusak. Semua
bhuta itu akan datang mengganggu pada saat melakukan yoga Samadhi atau meditasi. Kelak apabila melihat bayangan berwarna
hitam, berarti Bhuta Banaspati Raja yang
datang menggoda. Jika tampak bayangan warna kuning Bhuta Banaspati yang datang
menggoda. Mereka semua mengajak ke kesesatan.
Barang siapa mendapat Panugrahan Dalem akan melihat
warna putih selebar rambut, itu sukma luhur, cahaya sejati atau Wisnu,
nyata-nyata utusan Tuhan. Maka waspadalah selalu, agar selamat sejahtera. Bila sudah
mendapat Panugrahan Dalem, hendaklah berbudi mulia, berbuatlah kebajikan,
sebatas kemampuan.
c. Ajaran Kanda Pat Sari
Inilah ajaran Kanda Pat
Sari. Kanda = tutur = petuah = cerita = tetingkah = kesaktian = kasidian =
kawisesan. Pat = empat. Dan Sari = utma. Jadi Kanda Pat Sari berarti empat
macam ajaran yang utama tentang kesaktian, kesidian dan kawisesan. Beginilah
ceritanya; pada waktu kita lahir ke Dunia ini, pada saat yang sama lahir pula
Sang Hyang Panca Maha Bhuta, yang lahir bersama-sama dengan Sang Hyang Tiga
Sakti. Beliaulah Sang Hyang Tiga Sakti, amor ring Buwana Agung, kemudian dipuja
oleh semua makhluk di Dunia. Beliau berstana di Pura Dewa, Pura Puseh dan Pura
Dalem.
Sedangkan Sang Hyang
Panca Mahabhuta, menjadi pepatih disegala penjuru. Sebagai pemelihara Dunia.
Dan semuanya maha sakti, tiada terhingga. Bila dipuja, diyakini, dan diresapi,
maka beliau dapat merangsuk ke dalam badan. Dapat member jalan menuju
kebijaksanaan, juga kewibawaan, kesaktian, kesidian, kawisesan, dan kemulyaan.
Inilah adanya beliau : yang paling tua berwujud yeh nyom (air ketuban)
disebut Sang Bhuta Anggapati, menjadi patih di Pura Ulun Suwi, bergelar I Ratu
Ngurah Tangkeb Langit. Ida dadi dewan
Bedugul, dadi dewan sawah, dadi dewan angempu Bumi, dan dewan semua
binatang. Dan di pekarangan rumah beliau berstana di tugu ( yang bertempat di
barat laut), segara tanpa tepi, dengan
bentuk aksaranya “Sang”, berwujud amertha
sanjiwani, rembesannya keluar dalam bentuk keringat. Berguna untuk
menghilangkan segala penderitaan pada badan, termasuk penyakit berat maupun
ringan. Penjelmaan beliau adalah berbentuk langit yang cemerlang, menjadi damuh. Demikianlah saktinya I Ratu
Tangkeb Langit.
Bantennya : ketipat dampulan, dengan ikan telur
bokasem, canang pesucian, segehan kepelan
putih, ikannya bawang jahe. Yang
paling wayahan, berwujud getih (darah), bernama Sang Buta
Mrajapati, menjadi patih di Pura Sada, bergelar I Ratu Wayan Tebeng. Beliau
sebagai dewan alas, dewan Gunung, dewan jalan, dewan Lebuh (pintu pekarangan
rumah). Bila di dalam badan beliau berstana di dalam darah. Sebagai amerta kamandalu, rebesannya menjadi
Bayu. Aksaranya “Bang” disebut tampaking
kuntul ngalayang. Berguna untuk menolak segala perbuatan jahat, baik sekala maupun niskala. Penjelmaannya menjadi api unggun, menjadi gunung, hutan,
jalan dan pohon besar.
Bantennya : ketipat galeng, dengan ikan telur itik, segehan kepelan barak, ikannya bawang dan jahe, canang pesucian. Yang
paling madenan, berwujud ari-ari (plasenta), bernama Sang Bhuta
Banaspati, menjadi patih di Pura Puseh, bergelar I Ratu Made Jelawung. Sebagai
dewan tegalan, dewan perkebunan, dewan panginih-inih. Dan segala yang mau
berbuat jahat/baik di luar atau pun di dalam pekarangan musnah olehnya. Bila di
dalam badan beliau berstana pada daging, dan pada semua lubang di badan.
Aksaranya adalah “Tang”, disebut sebagai galihing
kangkung. Rembesannya berbentuk rambut. Penjelmaan menjadi angin kencang,
menjadi gumatat-gumitit, menjadi
tegalan, perkebunan, dan rumah besar yang bertembok tinggi. Bantennya : ketipat
gangsa, dengan ikan sate gede, canang pesucian, segehan kepelan kuning, ikannya
bawang dan jahe.
Yang paling nyomanan, berwujud lamad (pungsed/puser/pusar). Bernama Sang Buta Banaspati Raja,
menjadi patih di Pura Dalem, bergelar I Ratu Nyoman Sakti Pangadangan. Beliau
sakti tanpa tandingan. Beliau sebagai pemelihara Dunia. Sebagai dewan kuburan,
sebagai dewan sungai, dewan jurang atau pangkung, dewan dete, tonyo, dewan
samar, dewan pantai, dewan semua jenis burung, dewan kekuatan dukun, balyan, pengiwa dan penengen. Beliaulah yang menjadi kekuatan segala mantra. Bila di
dalam badan, beliau bersemayam di dalam urat. Sebagai perwujudan amerta maha tirta, rembesannya menjadi maolah. Aksaranya adalah “Ang” disebut isining buluh bumbang, dapat menolak
segala bahaya. Perwujudannya menjadi lautan, pantai, sungai, jurang pangkung,
kuburan, burung, berwujud manusia seperti kita, bisa berwujud orang tua dengan kampuh poleng.
Bantennya : katipat gong, ikannya telur diguling, pesucian, segean kepelan selem. Ikannya
bawang dan jahe, ditambah rokok, dengan sesari pis bolong 11. Yang lahir ketutan, berwujud iraga (diri kita), disebut Sang Bhuta Dengen. Menjadi patih di Pura
Desa, bergelar I Ratu Ketut Petung. Beliau sebagai Dewatanya Balang Tamak Bale
Agung, sebagai dewan pelangkiran, dewan pasar, dewan tukang, sangging, undagi, pande. Juga sebagai
Dewatanya segala jenis ikan. Bila di badan beliau berstana di tulang dan
sum-sum. Sebagai perwujudan amerta
pawitra, rembesannya menjadi
rasa, aksaranya “Ing”, disebut Lontar tanpa tulis. Beliau sebagai pemelihara
kandungan, dan sebagai pemelihara diri sendiri. Beliau dibenarkan membunuh
musuh yang berniat jahat kepada kita. Penjelmaannya
berwujud kilat, berwujud pasar, bale agung, berwujud ikan, berwujud lelaki
ganteng atau wanita cantik
Bantennya : Ketipat lepet, ikannya telur bebek, canang pesucian, segehan kepelan brumbun,
ikannya bawang dan jahe. Demikianlah sakti beliau Sang Hyang Panca Maha Bhuta.
Bila ingin memiliki kesaktian tersebut, wujudkanlah kekuatannya, masukkanlah di
dalam badan. Supaya cepat menyatu dengan kia. Tidak dibenarkan merokok. Ini
adalah mantra pemujaan beliau : “Ong Ang Ang Ang Ong, Ong Ing Ong Ung Ang Ah Ah
Tang, Ong Kyah Kyah Ong Shah, Ung Rung Reng Rong Wasat, Ong Ong Mang Wyang
Syah”.
Dan ini adalah mantra permohonannya
: “I Ratu Ngurah Tangkeb Langit, I Ratu Wayan Tebeng, I Ratu Made Jelawung, I
Ratu Nyoman Sakti Pangadangan, I Ratu Ketut Petung, aja sira lali asanak ring
ulun, apan tulun tan lali astiti bhakti ring sira, wehan ta ulun panugrahan……
(sakti sidhi ngucap)……. Ong winursita rasyamuka angamet sarining amerta kusuma
ya nama swaha. Jangan dilecehkan, karena mantra ini adalah ciptaan beliau
Bhatara Dalem. Dapat dipergunakan sekehendak hati Tinggal menambahkan kalimat
pada tanda titik-titik tersebut. Mau sakti dalam segala perwujudan. Tidak dapat
ditundukkan dalam segala kewibawaan. Yang jauh dapat dinyatakan dekat, dan yang
dekat dapat dibuat jauh, segala yang ganas menjadi jinak. Begitulah kesaktian
beliau Sang Hyang Panca Maha Bhuta.
d. Tata cara dan upakara
Apabila ingin memiliki
kesaktian Sang Hyang Panca Maha Bhuta. Agar segera menyatu kepada diri kita,
pada hari sabtu kliwon wuku landep, atau hari tumpek landep, buatlah banten
seperti berikut : Bantennya : Rayunan satu pajeg, dengan ikan diolah sampai
matang (ikan babi boleh, ikan ayam boleh, dan ikan itik pun boleh) suci satu soroh, daksina gede satu dengan
sesari 41 uang kepeng, segehan agung satu, penyambleh ayam samululung,
metatabuhan arak berem. Sedangkan untuk Sang Hyang Panca Mahabhuta,
dibuatkan banten sesuai dengan apa yang telah dijelaskan di muka. Ditambah
dengan satu banten prayascita, dan
satu banten byakaon.
Bebanjahan
banten ini hanyalah sebuah contoh dan tidak harus seperti itu. Tergantung
menghadap kemana banten itu akan dihaturkan. Menghadap ke utara sesuai dengan
contoh, atau menghadap ke timur. Jadi tinggal menyesuaikan saja, khususnya
letak-letak banten bagi Sang Hyang Panca Mahabhuta. Banten ini dihaturkan
dihadapan Sanggah Kemulan Taksu. Tapi bila tidak memungkinkan, karena situasi
atau kondisi. Umpamanya tidak enak sama tetangga, atau saudara yang lain, maka
banten ini bisa dihaturkan di bale Bali. Bila tidak bisa juga, maka dapat
dihaturkan di pakarangan rumah.
Setelah banten diatas
lengkap, maka duduklah dengan tenang, kemudian ucapkanlah mantra permohonan
seperti yang telah disebutkan dimuka, ditambah dengan ucapan-ucapan sendiri
sesuai dengan keinginan, dengan menggunakan bahasa Bali, sesuai dengan
permohonannya. Apa kemauannya?
Umpama seperti ini.
Mantra : “Ih I Ratu Ngurah Tangkeb Langit, metu kita saking jagat wetan, ajakan
waduanira, roang sira kabeh, apupul ring pesamuan, manusanta angaturaken;
Katipat dampulan maulam taluh bekasem, canang pesucian, segehan nasi kepelan
putih, be ne bawang jahe. Ih I Ratu Wayan Tebeng, metu kita saking jagat kidul,
ajaken waduanira, roang sira kabeh, apupul ring pesamuan, manusanta
angaturaken; Katipat galeng maulam taluh bebek, canang pesucian, segehan
kepelan barak, be ne bawang jahe. I Ratu Made Jelawung, metu kita saking jagat
kulon, ajakan waduanira, roang sira kabeh, apupul ring pasemuan, manusanta
angaturaken; Katipat gangsa maulam sate gede, canang pesucian, segehan nasi
kepelan kuning, be ne bawang jahe. Ih I Ratu Nyoman Sakti Pangadangan, metu
kita saking jagat lor, ajaken waduanira, roang sira kabeh, apupulring pasemuan,
manusanta angaturaken; Katipat gong maulam taluh bebek maguling, canang
pesucian, segehan nasi kepelan selem, be ne bawang jahe, medaging lanjaran,
mesari 11 kepeng. Ih I Ratu Ketut Patung, metu kita saking jagat madya,
ajakanawaduanira, roang sira kabeh, apupul ring pesamuan, manusanta angaturaken;
Katipat lepet akelan mauling taluh angsa, canang pesucian, segehan kepelan
brumbun, be ne bawang jahe. Ri sampun kita kabeh apupul ring pesamuan, kenak
paduka bhatara amuktisari aturan manusanta. Kenten taler ring wadua nira lan
roang sira mekabehan. Tiosan saking punika wenten malih aturan manusanta mekadi
suci sorohan, daksina gede, rayunan lan pemanisan, rantasan, segehan agung,
muang penyembleh ayam samululung, metabuhan arak berem. Aja sira lali asanak
ring ulun apan ulun tan lali astiti bakti ring sira wehan ulun panugrahan Ong
winursita rasyamuka angamet sarining amerta kusuma ya nama swaha”.
Tentu saja sebelumnya
harus memohon doa restu dulu ring Ida Sang Hyang Tiga Sakti, dan juga Ida
Bhatara Guru, Ida Bhatara Kawitan dan para leluhur, meduluran mengatrang peras
pejati sejangkepnyane. Mantra di atas diucapkan berulang-ulang secara pelan dan
lirih, sambil meresapi dan menghayati setiap katanya. Bila diterima, tidak
berapa lama kita akan merasakan adanya getaran yang berbeda-beda, yang menyelimuti.
Itulah ciri kedatangan Ida Sang Hyang Panca Mahabhuta.
e. Angrasuk Kanda Pat Sari
Setelah kita menerima
ciri-ciri kedatangan beliau (Sang Hyang Panca Mahabhuta), dan beliau pun sudah
dipersilahkan untuk menikmati sesaji yang kita haturkan, maka langkah
selanjutnya adalah memohon agar beliau bisa merangsuk ke dalam badan. Berikut
adalah mantra pengrasukan warisan I
Warga Sari dan I Rangke Sari.
Mantranya : “Ih Ratu
Ngurah Tangkeb Langit, mungguh ta ring kulit. Ratu Wayan Tebeng, mungguh ta
ring getih. Ratu Made Jelawung, mungguh ta ring isi. Ratu Nyoman Sakti
Pengandangan, mungguh ta ring uat. Ratu Ketut Petung, mungguh ta ring jajah.
Aja sira lali asanak ringulun, mapan ulun tan lali astiti bhakti ring sira,
wenang ulun nugrahaken (diisi menurut keperluan) Om, windu sida rasya muka,
angamet sarining merta kesuma nama swaha, om.
Selain itu, ada juga
mantra pengrasukan warisan I Buda
Kecapi. Berikut adalah kutipannya. Mantranya : “Ih, Ratu Ngurah, mungguh ta
sira ring pepusuhan, anerus ring kulitku, rumaksa jiwanku pageh. Ih Ratu Wayan,
mungguh sira ring atinku, anerus ring dagingku, rumaksa bayunku kukuh. Ih, Ratu
made, mungguh sira ring ungsilanku, anerus ring ototku, rumaksa idepku tan
obah. Ih, Ratu Nyoman Sakti, mungguh ta sira ring nyalinku, anerus ring
walungku, rumaksa sabdanku, sakti sidi ngucap. Ih, Ratu Ketut, mungguh ta sira
ring sumsumku, anerus ring tumpuking atinku, rumaksa atmanku pageh”.
Dan bila berkehendak
memohon bantuan atau pertolongan kepada Sang Hyang Panca Mahabhuta, salah satunya
juga bisa. Umpamanya kita memohon hanya kepada Ida I Ratu Nyoman Sakti
Pengadangan saja, bisa. Karena untuk selanjutnya, Beliaulah yang akan memanggil
kakak dan adiknya, untuk ikut merestui permohonan tersebut. Inilah
ciri-cirinya, bahwa beliau telah menyatu pada diri kita : Bila terasa badan
kita besar, dan keluar keringat seketika, itu tandanya, Beliau I Ratu Ngurah
Tangkeb Langit telah menyatu pada diri kita, segala penyakit dan penderitaan
musnahlah adanya.
Bila terasa panas pada
telinga, dan terbelalak rasanya mata, tidak mampu berkedip, itu tandanya beliau
I Ratu Wayan Tebeng, yang menyatu pada diri kita. Segala mara bahaya dan
penyakit ditolak adanya. Bila terkejut dan merasa takut, bulu kuduk rasanya
berdiri, seperti ditiup angin dingin, itu tandanya Beliau I Ratu Made Jelawung,
yang menyatu pada diri kita. Segala penyakit yang berasal dari upas, dan cetik musnah semuanya. Bila berdenyut pada kemaluan, dan hidup
secara tiba-tiba, badan terasa berat, mendadak ingat dan rindu bertemu sesuatu
yang bersifat gaib, itu tandanya Beliau I Ratu Nyoman Sakti Pengadangan, yang
menyatu pada diri kita. Menjadi pemberani, dan tidak takut menghadapi segala
bentuk rintanga.
Bila tiba-tiba kita
menjadi pintar, mampu berbicara banyak, pembicaraan yang halus dan manis, itu
tandanya Beliau I Ratu Ketut Petung, yang datang menyatu pada diri kita. Segala
penderitaan sirna adanya. Sedangkan bila di Bhuana Agung-Alam semesta, Beliau
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : Bila bertemu dengan bau harum, seperti
bunga, kemudian ada suara magledug, seperti bunyi jatuhnya buah kelapa, ada
juga bunyi seperti suara bedeg diinjak-injak, itu semua adalah tanda kedatangan
para pengikut Beliau, I Ratu Nyoman Sakti Pangadangan. Beliau memanggil semua
saudaranya agar mau menyatu pada diri kita.
f. Sakti tanpa Guru
Panugrahan ajaran Dalem adalah
sarinya kautamaan. Beliau sebagai
Dewatanya kesaktian. Beliau adalah sebagai utamaning
kemoksan, dan merupakan keputusan kalepasan.
Bila kita bisa mendapatkan panugrahan
ini, maka jadilah manusia sakti mawisesa,
di dalam alam nyata, menjadi sidhi
ngucap, di alam niskala mendapat
kebahagiaan. Bila berdosa pada waktu menjelma menjadi manusia, dapat diampuni
adanya, oleh panugrahan ini. Jauhlah penderitaan
itu, dan juga dapat melepaskan segala penderitaan semua keturunan dan para
leluhur semua.
Ini agar dapat
diketahui asal usul Beliau Bhatara Dalem. Sebenarnya Beliau adalah perwujudan Amerta, berbentuk sangkaning paran, tatkala Beliau menyepi berwujud Sangkan Paraning Suci, berstana di
tengah lautan disebut Bhatara Wisnu, disini Beliau bergelar Sang Hyang Sunia
Merta. Asalnya Agni bersatu dengan
angin. Dan Beliau sebenarnya adalah perwujudan toya. Sebagai sarinya amerta.
Sebagai sarinya tumuwuh, Beliau
juga berada di dasar Bumi. Beliau juga berstana di Gunung Tapsai, mengendarai
Padma Nglayang, kemudian Beliau disebut Sang Hyang Sunia Merta. Beliau juga
berstana di Puncak Ulun Suwi, berwujud Amerta
Sanjiwani. Selain itu, Beliau juga berstana di Gunung Batur, dan juga di
Puncak Pangelengan, berwujud Gni tanpa
leteh.
Pada saat Beliau berstana di Pura Dalem Balingkang,
inilah pengastawanya : “Ung Ang Ong
Mang Ung”. Kemudian Beliau turun, dan berstana
di Pura Dalem Kahyangan, sebagai keputusan panglepasan berbentuk kawisesan,
dan sakti sakama-kama, inilah pengastawanya : “Angh Angh Maya Swasti”.
Kepada beliaulah memohon kesaktian, memohon amerta,
memohon segala sesuatunya, seperti kebutuhan sandang dan pangan. Patih
Beliau bernama I Ratu Nyoman Sakti Pangandangan. Beliau berwujud Agni Jati.
Beliau bisa maya-maya, bisa tampak bisa menghilang.
Dipuja oleh semua makhluk hidup, dan semua orang sakti. Tidak dapat diatasi
karena Beliau berada paling atas. Tapi, Beliau juga berada di lapisan Bumi
terbawah, dan tiada lagi yang berada lebih dibawah. Perwujudan Beliau adalah
Sang Hyang Ening Jati Tanpa Leteh. Ida Bhatara Dalem sebagai pabresihan, sebagai penglukatan, inilah mantra penglukatan,
anugrah Ida Bhatara Dalem, sarananya air suci-air bersih berisi bunga, dan
tanpa saranapun boleh. Asalkan diucapkan mantra ini. Mantra : “Ong Ah”. Dan,
ada juga yang menggunakan mantra : “Ang Ah”.
Dapat dipakai nglukat leteh, termasuk leteh jagat, nglukat sang pitra, dilebur
segala dosanya, sehingga akhirnya bisa mencapai sorga. Apabila dipakai panglukatan penakit, sehatlah adanya.
Bila manusia dilukat dengan panglukatan diatas, sempurnalah tingkat
kemanusiaannya. Demikianlah adanya panugrahan
ini.
Demikianlah pua Beliau
Bhatara Dalem, jika dimasukkan ke dalam badan, berwujud ideplah Beliau berstana di otak. Tatkala Beliau keluar ke jaba inang, Beliau berwujud Buddhi.
Disebut Sang Hyang Manon. Beliau keluar melalui soca kalih - kedua mata. Beliau bisa berwujud Wisnu Murti, bisa
juga berwujud Bhatari Durga. Beliau sakti tiada tarana, sebagai bentuk kesidian. Maupun kawisesan, sebagai bentuk karahayuan,
sebagai pujaan seisi Dunia, berwujud nirmala.
Bila memuja Ida Bhataa Dalem, tidak dibenarkan pada siang hari, sedapat
mungkin pada malam hari. Lebih bagus lagi pada saat tengah malam. Apalagi
menjelang rerahinan kajeng kliwon, diusahakan
agar bisa tengah malam, pasti mendapat anugrah.
g. Meditasi mantra
Kanda Pat banyak
mengajarkan mantra. Semua kitab Kanda Pat pasti berisi mantra. Mulai mandi
pagi, makan, bepergian, bekerja, hingga kembali pulang dan tidur, semua ada
mantranya. Ada dua hal yang perlu diperhatikan adalah keselamatan. Dengan
mengucapkan suatu mantra tertentu, diharapkan seseorang dapat melindungi
dirinya, dari berbagai gangguan dan selamat. Mantra juga dimaksudkan untuk
membebaskan diri, dari serangan berbagai penyakit. Karena itu, di dalam bahasa
mantra dengan tegas menyatakan bahwa, ini berguna untuk menyelamtkan diri dari
penyakit, semua mata petaka, jin dan setan serta perbuatan orang salah.
Guna-guna pun tidak mau mendekat, segala ilmu hitam takut padanya. Mengapa?
Karena mantra itu, kalau dibaca dengan keyakinan dan penghayatan yang tinggi,
akan, membangkitkan suatu daya gaib, yang bisa disebut kesaktian.
Kesaktian ini kemudian
akan bekerja lewat pikiran. Melalui pikiran, kesaktian itu diarahkan kepada
yang dituju. Yaitu, untuk pencegahan penyakit, pengobatan, tolak bala dan mala
petaka, menolak teluh dan guna-guna, serta segala hal-hal yang
negatif lainnya. Mantra yang diucapkan engan penuh keyakinan, akan membuat
“api” menjadi “air”. Artinya orang yang marah menjadi sadar. Penyakit balik ke
tempatnya. Semua akhirnya menjadi anugrah. Kalau sudah demikian, semua senjata
pun takan mengena. Bahkan, racunpun akan kehilangan daya bisanya. Pohon dan
tanah angker akan menjadi tawar.
Mengapa mantra bisa
mempunyai kesaktian? Karena mantra itu adalah wujud dari kesaktian Sang Hyang
Panca Maha Bhuta. Sekarang perhatikanlah mantra berikut : “Ih, I Ratu Ngurah
Tangkeb Langit dadi angin, I Ratu Wayan Tebeng dadi api, Iratu Made Jelawung dadi
sinar, I Ratu Nyoman Sakti Pangadangan dadi air, I Ratu Ketut Petung dadi Sang
Hyang Panca Mahabhuta, metu ta sira saking adnyana, raksa sriranku rahina lan
wengi, yan ana wong ala paksa, leak mawisesa, upas sasab merana gerubug,
tulaken ta sira ajak lelima. Pomo, pomo, pomo”.
Mantra tersebut di atas
adalah warisan dari Pan Putu Budhiartini. Sesepuh Perguruan Dharma Murthi, yang
berpusat di Lampung. Dari bahasa yang digunakan, jelas sekali mantra tersebut
difungsikan untuk keselamatan. Mantra dibaca bukan untuk menghancurkan musuh
atau lawan. Sifat mantra tidak menghancurkan. Tapi menolak! Karena itu, mantra
biasanya disebut juga “doa tolak bala”. Dengan mantra tidak ada bagian alam
yang dihancurkan. Namun, mala petaka pun ditolak kedatangannya.
Hama dan penyakit itu
tidak dibunuh, tetapi mereka menyingkir. Bukan disingkirkan! Pencuri pun urung,
tidak jadi mencuri. Guna-guna batal, tak jadi ke tempat yang dituju. Bukan
diperangi, tapi daya negatif yang datang itu terpental dengan sendirinya. Dalam
buku “Delapan langkah meditasi menuju kebahagiaan”, seorang Budhis Bhante Henepola Gunaratanan
menyebutkan bahwa, orang yang dipenuhi dengan persahabatan penuh kasih, maka
ketika itu api, racun dan senjata tak melukai orang itu.
Orang seperti itulah
yang disebut sakti, bukan karena dia tidak mempan senjata, atau bisa memukul
orang sampai mental hingga muntah darah, tidak!. Tapi karena dia sudah tidak
tersentuh oleh segala macam mara bahaya itu sendiri yang tidak ingin menyentuh.
Mau mohon keselamatan, mohon pekerjaan, mohon rejeki, mohon pelarisan, mohon
kewibawaan, kawisesan, kesidian, kesaktian
dan sebagainya. Semua bisa! tinggal menambah atau merubah beberapa kata, mantra
pun berubah makna dan fungsinya. Di bawah ini adalah contoh bagaimana
seandainya bila kita hanya memohon salah satu saja dari Ida Sang Hyang Panca
Mahabhuta. Umpamanya Ida I Ratu Ngurah Tangkeb Langit, yang berstana di tugu
pekarangan yang ada di barat laut. Maka buatkanlah banten sebagai berikut :
Bantennya : Ketipat dampul maulam taluh
bokasem, canang pesucian, canang sari, burat wangi, segehan kepelan
putih-kuning, be ne bawang jahe, ditambah garam dan iari bersih dalam
gelas.
Mantranya : “Ong
sinembah ingsun marep ring I Ratu Ngurah Tangkeb Langit, mangda ingsun tan
keneng raja pinulah rauh tangkil, jaga praya ngaturang ketipat dampul, maulam
taluh bokasem, rauh seperetingkahing ipun kabeh, ingsun mangda kalugraha dening
sira Bhatara Mangku Bumi, kada dosang manusa sidhi sakti mandraguna,
katekapingrat, muah kapica rahayu sekala niskala. Ong nama satu ya namah
swaha”.
Persiapan sarana di
atas, persembahkan semua persembahan itu dengan mantra tersebut, boleh ditambah
dengan bahasa sendiri, sesuai keinginan. Bila sudah selesai, ambil tirta dalam
gelas tadi yang telah ditempatkan di tugu. Kemudian percikan di kepala tiga
kali, raup tiga kali, sisanya diminum habis. Mudah-mudahan anugrah keselamatan sekala-niskala.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka diperoleh kesimpulan
sebagai berikut :
1. Ajaran Kanda Pat berasal dari Dewa Siwa.
2. Ajaran Kanda Pat versi Perguruan Seruling Dewata berjumlah 18 dan
ajaran Kanda Pat versi Padepokan Sastra Jendra berjumlah 4.
3. Ajaran Kanda Pat kebanyakan bersifat negatif.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian
dan terbatasnya permasalahan yang timbul dalam penelitian ini maka diajukan
saran sebagai berikut :
1. Diharapkan kepada
lembaga-lembaga yang mengajarkan ilmu kebatinan, untuk melestarikan ajaran
Kanda Pat agar tidak punah.
2. Informasi mengenai
ajaran Kanda Pat perlu disebarluaskan, karena ajarannya membimbing umat manusia
agar selamat dan sejahtera dalam kehidupannya.
DAFTAR
PUSTAKA
Nantra, I Ketut. 2010. Tapak Suci Sembilan Dewa. Surabaya :
Paramita.
Info@serulingdewatabali.com.www.serulingdewatabali.com.
(21-4-2011).